MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bahagia itu Sederhana


Dengan telaten Arjuna menyuapi Cilla yang akhirnya bisa tenang dan harus dibujuk untuk menghabiskan sarapannya. Bukan sekedar untuk pemulihan tubuh Cilla tapi juga pertumbuhan dedek bayi yang ada dalam rahim Cilla.


“Selamat pagi, cantik,” sapa dokter Wanda saat pintu kamar Cilla dibuka seorang perawat.


“Loh tante kok jadinya ke sini ? Saya sudah rencana mau bawa Cilla ke poli selesai sarapan,” sahut Arjuna yang tidak menyangka kalau dokter obgyn senior di rumah sakit Pratama yang datang menemui Cilla.


“Nggak apa-apa, kakinya Cilla kan juga masih agak sakit dan ada waktu juga sebelum praktek pagi,” ujar dokter Wanda dengan wajah penuh senyumannya.


“Memangnya Mas Juna udah janjian sama dokter Wanda ?” Cilla bertanya sambil mengernyit.


“Bukan Mas Juna yang buat janji, tapi mama. Kemarin sebelum pulang, mama kasih tahu kalau kita akan bertemu dengan tante Wanda.”


Cilla hanya diam saja dan terkejut saat Arjuna mengangkat tubuhnya, memindahkan Cilla ke atas tempat tidur.


Di samping ranjang, dua orang perawat sedang mempersiapkan alat USG.


“Senang ya langsung dikasih rejeki anak.”


Dokter Wanda tercengang saat melihat Cilla menggeleng dengan wajah lesu. Arjuna yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.


“Loh kenapa ? Anak itu rejeki dari Tuhan untuk pasangan suami istri. Cilla kenapa nggak bahagia ?”


“Cilla takut soalnya masih kecil, dokter, makanya Cilla minta obat pencegah kehamilan sama dokter sebelum di unboxing sama Mas Juna.”


Dokter Wanda tertawa dan dua orang perawat yang ada di situ senyum-senyum sambil melirik Arjuna yang membuang muka ke arah lain dengan wajah memerah karena malu mendengar ucapan Cilla yang apa adanya.


“Cilla memang punya rencana dan berusaha untuk menunda kehamilan, tapi kalau Tuhan punya kehendak lain, maka Cilla nggak bisa menolaknya. Diterima dengan rasa syukur dan bahagia.”


“Bukankah pil KB bisa membuat Cilla tidak hamil dulu, dokter ?”


“Setiap obat buatan manusia pasti memiliki tingkat keberhasilan dan kegagalan, begitu juga dengan pil penunda kehamilan. Secara medis keberhasilan pil KB menempati urutan pertama, tapi tetap masih ada 0,3% tingkat kegagalannya. Kamu bisa baca-baca di internet. 9 dari 100 wanita tetap hamil meskipun sudah mengkonsumsi pil penunda kehamilan.


Ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya pasien tidak mengkonsumsi pil itu di waktu yang sama bahkan mungkin pernah lupa.”


“Iya benar, dokter. Cilla minumnya nggak teratur, kadang pagi, siang atau sebelum tidur. Malah pas kita honeymoon, Cilla sepertinya lupa sampai 2x minum.”


“Nah itu dia yang membuat Cilla tetap hamil meski sudah mengkonsumsi obat penunda kehamilan. Keenakan kelonan sama suami ya, sampai lupa minum obatnya. Habis kelihatan banget sih kalau suami sayang banget sama kamu.”


“Tapi Cilla masih suka ragu dengan cinta saya, Tante,” sahut Arjuna sambil tertawa, mendekati Cilla dan menggenggam tangan istri kecilnya.


“Dengar sendiri kata Tante Wanda, kan ? Orang lain bisa melihat cinta Mas Juna buat Cilla, masa Cilla masih suka ragu ?”


“Tapi Cilla masih takut, dokter. Cilla takut karena merasa masih kecil.”


“Kalau Cilla masih kecil sudah pasti nggak boleh menikah sama orangtua, kan ? Di kampung-kampung, bahkan ada perempuan usia 15 tahun sudah menikah dan hamil dan mereka baik-baik saja, melahirkan normal malah hanya dibantu bidan bukan bedah caesar. Percaya saja pada yang memberikan Cilla dan Arjuna berkat anak ini, Dia juga yang akan menjaga Cilla selama kehamilan sampai melahirkan nanti.”


“Mas Juna beneran nggak tinggalin Cilla kalau sampai Cilla ngidam atau ngerepotin, ya ?”


Cilla menatap Arjuna dengan wajah memelas membuat Arjuna tersenyum, mengangguk dan mencium kening Cilla.


“Kalau Mas Juna kamu macam-macam, lapor aja sama mertua kamu, Cilla. Mertua kamu tuh sayang banget sama kamu. Pasti mereka nggak akan keberatan menghukum anaknya kalau sampai Arjun membuat kamu kenapa- napa,” ledek Dokter Wanda sambil tertawa.


“Tuh, kamu dengar sendiri ucapan Tante Wanda, kan ? Bukan cuma papa mama yang akan menghukum aku, sudah pasti ketiga sahabat kamu dan Theo pasti akan menjadi malaikat pelindungmu.”


“Sekarang kita periksa kondisi baby-nya ya,” ujar dokter Wanda yang diangguki oleh Cilla.


Kedua perawat tadi membantu menyiapkan alat USG dan mempersiapkan Cilla.


“Itu dedek bayinya, dok ?” tanya Cilla dengan alis menaut. “Kok kecil banget.”


“Iya karena usianya masih 5 minggu. Karena itu Cilla harus menjaganya dengan sangat hati-hati, ya. Bukan hanya tidak boleh terlalu lelah fisik tapi juga pikiran. Hati Cilla harus lebih banyak senangnya supaya emosi dan pertumbuhan otak bayi bisa berkembang baik.”


“Kalau nggak boleh capek fisik berarti Mas Juna nggak boleh ngajak main anak koala ya, dok ?”


“Anak koala ?” Dokter Wanda mengerutkan dahi. “Mainan apa lagi ?”


“Maksud Cilla hubungan suami istri, Tante,” ujar Arjuna menjawab kebingungan dokter Wanda.


“Wah saya baru dengar nih gaya anak koala,” ujar dokter Wanda sambil tertawa. Kedua perawat yang membantu kembali senyum-senyum.


“Sebetulnya tidak ada larangan tertulis soal hubungan suami istri. Kasihan para suami kalau disuruh puasa sampai istri melewati masa nifas. Yang penting hati-hati saja dan jangan sampai membuat ibu kesakitan.”


“Tuh Cilla dengar langsung dari mulut Tante Wanda, kan ? Nggak boleh nolak suami,” ledek Arjuna membuat wajah Cilla merona.


“Memangnya Mas Juna bisa nurut kalau Cilla nolak ? Pasti maksa juga kan ?”


“Habis Cilla nolaknya di mulut doang, giliran udah kena setrum malah susah lepas,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


Dokter Wanda tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat suami istri beda usia di depannya yang tidak malu-malu seperti pasangan muda umumnya.


“Sebulan lagi Cilla periksa kembali perkembangan janinnya, ya. Tante tunggu. Jangan takut dan khawatir lagi. Lihat kebahagiaan orang-orang di sekitar yang sangat menyayangi Cilla dan siap mendampingi dsn membantu Cilla, ya ?”


“Terima kasih Tante Wanda,” Cilla tersenyum dan merubah panggilannya pada dokter Wanda.


“Tante yakin kamu pasti akan menjadi mama muda yang hebat,” dokter Wanda mengacungkan jempolnya pada Cilla.


“Terima kasih sudah datang kemari, Tante,” Arjuna mengangtar dokter Wanda sampai di pintu kamar.


“Jangan mudah marah menghadapi istrimu, Jun. Usianya masih belia, jadi kemungkinan emosinya belum stabil ditambah hormon bumil yang suka beru bah-rubah. Kelihatan banget kalau Cilla itu nurut dan bergantung sama kamu, makanya kamu harus jadi suami yang dibutuhkan Cilla.”


“Terima kasih atas nasehatnya, Tante. Saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Cilla.”


Dokter Wanda tersenyum sambil menganggukan kepalanya dan berlalu dari kamar Cilla.


“Jadi Cilla batal kuliah nih ?” Bibir Cilla mengerucut membuat Arjuna langsung mencium bibir Cilla dengan gemas dan akhirnya larut dalam ciuman mesra.


“Batal tahun ini aja, tahun depan tetap kuliah. Mas Juna udah chat Bastian, nanti akan dibicarakan dengan pihak kampus. Dia marah-marah karena dengar Cilla hamil,” Arjun tertawa.


“Om Bastian pasti merasa tersaingi. Udah Mas Juna punya istri lebih muda, sekarang langsung dikasih anak juga,” timpal Cilla ikut tertawa.


“Makanya Cilla nggak boleh sedih lagi, ya ?” Arjuna membelai pipi Cilla yang mengangguk-angguk.


Tidak tahan melihat wajah Cilla yang menggemaskan, Arjuna langsung menangkup wajah Cilla dan memberikan ciuman mesra yang langsung dibalas oleh Cilla


“Ya ampun Juna !” pekik Theo dengan suara nyaring. “Sarapan elo masih kurang ? Pagi-pagi udah mau makan Cilla aja,” gerutu Theo.


“Namanya juga bahagia, Theo,” suara Tante Siska mengikutinya dari belakang disusul dengan mama Diva.


“Makanya kamu cepat cari pacar dong, Theo, terus jangan kelamaan langsung ajak nikah. Nunda terus nanti keburu Arjuna punya 3 anak,” mama Diva ikut menimpali.


“Beeuuhhh Kak Theo tunggu Mas Juna mau mantu kali, Ma,” ledek Cilla.


“Eh bocil, doain yang benar ya !” Theo melotot. “Nggak ada acara drama nih pas tahu kami hamil ?”


“Dih drama apaan ?” Cilla mencibir. “Bahagia banget lah tahu Cilla hamil. Terbukti tembakan Mas Juna memang jitu.”


Arjuna tersenyum dan mengusap kepala Cilla yang seolah lupa dengan ketakuatannya sampai nangis segala begitu tahu hamil.


“Untung elo cepat balik, Jun. Pusing gue dengar si bocil merengek terus sama orang-orang gara-gara nggak bisa hubungin elo dan elo juga bisa-bisanya nggak hubungin istri bawel elo.”


“Ya nggak usah didengar,” Cilla menjulurkan lidahnya pada Theo.


“Jadi aman nih soal hamil menghamili ?” ledek Tante Siska melirik Cilla dan Arjuna.


“Coba tanya langsung sama bumil dan mama mudanya, Tan,” sahut Arjuna sambil tertawa dan merangkul Arjuna.


“Aman dan senang banget dong Tante,” Cilla merangkul pinggang Arjuna. “Apalagi punya suami yang udah siap jadi papi siaga.”


“Mama dan papa senang kalau Cilla bahagia dan siap jadi mami,” mama Diva mendekat dan langsung memeluk menantunya.


“Jangan sungkan minta bantuan mama atau tante kamu, ya,” mama Diva mengusap pipi Cilla yang langsung balas merangkul mama Diva.


“Terima kasih Mama,” Cilla mempererat pelukan dan meneteskan airmatanya.


“Sayang, jangan menangis dong. Ibu hamil harus sering bahagia biar baby-nya ikutan happy juga,” ujar mama Diva merenggangkan pelukannya dan mengusap airmata Cilla dengan tisu.


“Mama senang banget sebentar lagi dipanggil oma, nih,” ledek mama Diva sambil tertawa.


“Kalau Tante tetap dipanggil tante aja dong,” celetuk Tante Siska.


“Dih Mami sok muda deh,” cebik Theo.


“Sekarang bumilnya makan dulu, ya,” Tante Siska mengeluarkan kotak-kotak makanan yang dibawa oleh mama Diva. “Udah dimasukkin nih sama mertua tersayang.”


“Kakinya masih sakit nggak, sayang ?” tanya mama Diva


“Sedikit, Ma. Udah datang obatnya dari Jepang,” Cill melirik Arjuna. “Besok mau pulang aja, istirahatnya di rumah aja.”


“Pulang ke rumah mama dulu, ya ?” pinta mama Diva. “Mama mau juga ngurus menantu yang lagi sakit dan hamil.”


“Boleh, Ma.”


“Kalau begitu Mama ambilin makan biar kamu sarapan lagi,” mama Diva bergegas kembali ke sofa dimana makanan yang dibawanya disiapkan di sana.


“Eh nggak usah, Ma. Cilla makan di sofa aja.”


Cilla melirik Arjuna dan memberi isyarat untuk menggendongnya.


“Dasar manja,” sindir Theo sambil mencebik.


”Dari tadi sinis melulu, sih,” gerutu Cilla. “Udah kayak cewek lagi pms aja.”


“Dia iri sama Mas Juna, sayang,” ledek Arjuna.


Theo kembali mencebik menanggapi ucapan Arjuna.


“Mas Juna, Cilla bahagia banget,” bisik Cilla di telinga Arjuna. “Ternyata kehamilan Cilla bisa membuat banyak orang bahagia. Apalagi mama, kelihatan banget rasa bahagianya.”


“Kalau bahagianya Mas Juna nggak kelihatan ?” tanya Arjuna sambil menatap mata Cilla penuh cinta.


“Kelihatan banget,” Cilla mencium pipi Arjuna sambil tertawa.


“Dasar pasangan bucin,” omel Theo sambil berjalan mendekati sofa.


“Iri bilang boss,” ledek Arjuna sambil tertawa bersama Cilla.


Tante Siska geleng-geleng kepala dengan sikap jutek anak tunggalnya. Mama Diva ikut tertawa dan menyodorkan piring makan yang sudah lengkap dengan lauk untuk Cilla yang memilih makan berdua dengan Arjuna.


Ternyata bahagia itu sederhana.


Mas Juna benar, begitu banyak orang yang menyayangi dan peduli dengan Cilla. Semoga kamu sehat-sehat di perut mami sampai lahir ke dunia, baby.


Tanpa sadar Cilla mengusap perutnya sendiri dengan bibir tersenyum membuat Arjuna memberikan kecupan hangat di pipi Cilla.