
Cilla sengaja menatap Arjuna yang duduk di meja guru depan kelas. Hatinya masih dongkol karena sejak papi Rudi memberikan syarat dan ketentuan untuk menjadi pacar Cilla, Arjuna menghentikan semua komunikasi padanya.
Sudah masuk hari keempat, jangankan menelepon, kirim pesan pun tidak dilakukannya, bahkan selama di sekolah, Arjuna justru menghindarinya.
Bukan karena Cilla tidak tahu apa yang dibicarakan papi pada kekasih barunya itu. Cilla berharap Arjuna akan membicarakan padanya dan membahas langkah apa yang akan dilakukan Arjuna untuk mendapatkan restu kedua orangtua mereka, bukan malah mengabaikannya dan memikirkan solusinya sendirian.
Arjuna sendiri pura-pura tidak tahu kalau sejak tadi Cilla memandangi dirinya. Di saat teman-temannya sibuk mengerjakan soal latihan, Cilla malah bertopang dagu dan matanya mengkuti semua pergerakan Arjuna.
Sempat mereka bersitatap, pandangan Arjuna terlihat tajam dan sinis memandang Cilla.
“Kamu sudah selesai mengerjakan, Cilla ?” dengan nada sedikit ketus Arjuna menegur Cilla yang sedari tadi tidak terlihat menggerakan alat tulisnya.
“Belum,” sahut Cilla datar tanpa mengalihkan tatapannya.
Lili dan Febi yang duduk di depan gadis itu melirik ke belakang. Mereka tahu kalau ada yang tidak beres dengan Cilla dan Arjuna.
Yang membuat mereka bingung, baru saja di hari Sabtu Cilla membanggakan tentang hubungannya dengan Arjuna, siapa sangka di hari Senin, wajah gadis itu terlihat jutek dan cenderung melow. Dan sekarang di hari Rabu seperti perang terbuka.
“Terus kenapa bengong begitu ? Memangnya kertas kamu bisa disulap langsung terisi jawaban ?” nada suara Arjuna sedikit membentak dengan mata melotot.
“Lagi menganggumi ketampanan Bapak, tapi sayangnya sejak hari Senin muka bapak tuh jutek banget. Tapi tetap saja buat saya susah konsentrasi mengerjakan soal,” jawab Cilla santai.
Sontak konsentrasi teman-temannya langsung buyar. Mereka bersuit-suit dan berkomentar yang mengundang keramaian, belum lagi sahutan dari para murid cowok yang akhirnya mengundang gelak tawa.
Wajah Arjuna langsung memerah, bukan karena merasa tersanjung tapi emosinya melonjak naik 5 tingkat.
“Jadi kamu bukan cuma pintar matematika tetapi juga merayu pria-pria dewasa ?” sahut Arjuna dengan senyuman mengejek.
“Maksud Bapak apa ?” Cilla berdiri dari bangkunya dan menatap tajam ke arah Arjuna. Suaranya yang agak menggelegar, membuat teman-temannya terdiam mendadak.
“Bukannya kamu baru saja merayu saya di depan teman-temanmu ?” sahut Arjuna masih dengan senyuman mengejek.
Cilla menghela nafas kesal. Dia mendorong kursinya dengan kasar hingga membentur tembok karena ia memang duduk paling belakang.
Cilla langsung berjalan menghampiri Arjuna yangberdiri di samping meja guru. Suasana kelas berubah menjadi tegang. Terutama Lili dan Febi, yang tahu kalau hubungan keduanya lebih dari sekedar guru dan murid.
Cilla menempelkan kertas latihan soal ke dada Arjuna dengan kasar. Matanya sudah berkaca-kaca, tetapi Arjuna yang sudah terbakar emosi membalas tatapan pacar kecilnya tanpa rasa iba.
“Karena Bapak sudah bisa melihat kemampuan saya, jadi saya tidak perlu lagi mengerjakan latihan soal ini.”
Tanpa permisi Cilla langsung keluar kelas. Hatinya kembali terluka karena tanpa sadar lagi-lagi Arjuna menganggapnya gadis penggoda pria.
Jovan yang kebetulan melihat ke arah pintu kelas yang terbuka melihat Cilla melintas. Hatinya mendadak tidak enak. Tanpa pikir dua kali, Jovan langsung ijin ke toilet pada Bu Lasti, guru Kimia yang sedang mengajar.
Ia pun bergegas mengejar Cilla yang sudah menghilang di tangga. Jovan yakin kalau tujuan Cilla sekarang adalah halaman belakang.
Sampai di sana, hati Jovan terenyuh. Sahabatnya ini tidak menangis sesunggukan seperti kebanyakan teman perempuan yang Jovan kenal. Derai air mata membasahi wajah mungilnya, tapi Cilla selalu menahan diri agar jangan sampai sesunggukkan.
“Jangan meper ke baju,” Jovan menyodorkan saputangan miliknya.
“Ngapain elo ke sini ?” Cilla balik bertanya dengan nada ketus menoleh dan menatap Jovan.
“Naluri laki-laki gue memanggil kalau ada cewek yang lagi butuh sandaran dan teman curhat,” sahut Jovan sambil terkekeh dan duduk di sebelah Cilla.
Jovan kembali menyodorkan saputangannya yang sedari tadi diabaikan Cilla.
“Jangan sampai tuh air mata sama ingus masuk ke mulut, nanti mendadak darah tinggi elo naik,” ledek Jovan.
“Apa hubungannya air mata sama ingus dengan darah tinggi ?” Cilla mencibir namun tangannya menerima saputangan Jovan.
“Kan elo sendiri yang bilang kalau air mata sama ingus itu asin. Nggak ingat dulu pas elo mewek gara-gara gue pergi ke taman bermain tapi nggak ngajak elo ?” sahut Jovan sambil tertawa.
“Ingat,” sahut Cilla pelan. ia menghapus air mata dan mengeluarkan ingusnya di saputangan Jovan.
“Kenapa lagi sama pacar elo ? Hari Sabtu lalu baru sombong pamer kalau sekarang udah punya pacar, guru sekolah pula. Kok hari ini malah mewek begini ?” Jovan yang terbiasa memperlakukan Cilla seperti seorang kakak, membelai rambut Cilla dengan penuh rasa sayang.
“Tangan lo dikondisikan,” tegur Cilla sambil melotot. “Nanti kalau elo baper, gue nggak bisa membalasnya.”
Jovan tergelak dan menjauhkan tangannya dari Cilla.
“Sorry. Udah kebiasaan sejak kita masih unyu-unyu, ngebujuk elo udah kayak adik gue aja.”
“Makanya minta nyokap elo bikin adik lagi,” Cilla mencibir.
“Diihh kasihan lah kalau sekarang. Lagian bisa-bisa orang kira bukan adik tapi anak gue,” Jovan tertawa.
“Haiiss maunya punya anak cepat-cepat. Duit aja masih nadah dari orangtua.”
“Kalau produksi anaknya bareng elo, pasti dengan senang hati papi mami mendukung gue.”
Cilla memukul bahu Jovan sambil melotot.
“Elo kira gue ini pabrik snack ? Nyalain mesin, produksi jalan ?”
“Mau dicoba ?” Lirik Jovan sambil menaik turunkan alisnya.
“Diihh ketos sinting, untung aja udah pensiun,” Cilla mencebik sementara Jovan hanya tergelak.
“Iya gue sinting banget gara-gara diabaikan sama elo selama sembilan tahun. Cinta gue digantung,” Jovan sengaja memasang wajah sedih sambil menatap Cilla.
“Butuh waktu lah,” Jovan tersenyum tipis. “Elo kira gampang menghapus rasa atau kebiasaan yang udah nempel bertahun-tahun.”
“Buka mata, buka hati elo dong… Modal tampang ada, kantong sampai luber dan isinya nggak berseri, otak encer kayak adonan terigu kebanyakan air, tinggal kedipin mata cewek langsung melehoy. Tuh Sherly sama Lili udah ngiler tiap kali ngeliat elo lewat.”
“Eh si**lan lo ! Elo kira gue adonan donat ? Bisa bikin orang ngiler tiap kali lihat.”
Cilla tertawa melihat wajah Jovan yang cemberut. Tidak ada yang berubah dari sahabatnya ini. Cenderung ekspresif dan jauh dari kata jaim meski sebagai ketos tampan banyak yang mencari-cari perhatiannya.
“Nah gitu dong, ketawa lagi. Udah tahu muka elo pas-pas an, badan pendek lagi, kalo lagi cemberut makin jelek aja,” ledek Jovan sambil tertawa.
“Jovan !” Pekik Cilla sambil memukuli bahu cowok itu.
Jovan bangun dan menghindar sambil terbahak. Cilla mengejarnya dan berusaha memukul bahu sahabat kecilnya itu.
“Oooo… jadi keluar dari kelas malah asyik pacaran di sini ?” suara Arjuna menghentikan aksi kejar-kejaran mereka.
Terlihat Arjuna berdiri sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap Cilla serta Jovan bergantian.
“Bukannya pacaran, Pak,” sahut Jovan sambil nyengir kuda. “Lagi menghibur jodoh orang yang diabaikan sama pacarnya.”
“Jovan iihh !” tegur Cilla dengan wajah kesal.
Arjuna hanya diam saja dengan wajah dingin dan tatapan yang menusuk. Kali ini pandangannya hanya fokus pada Cilla.
“Kalau begitu saya kembalikan Cilla dalam keadaan utuh, Pak,” ledek Jovan sambil melirik ke arah Cilla. “Jangan dibuat nangis lagi, nanti kalau kabur dari Pak Arjuna, terperangkap jaring cowok lain malah susah lepasnya,” lanjut Jovan sambil terkekeh.
Ketos tampan itu pun membungkukkan badannya sedikit saat melewati Arjuna yang masih memasang wajah perang.
Cilla ingin mencegah Jovan supaya tidak meninggalkannya hanya berdua dengan guru matematika yang sedang dalam mode menyebalkan.
Cilla menghela nafas dan melangkah hendak meninggalkan Arjuna. Ia melirik, mencoba mencari jalur yang agak jauh dari jangkauan Arjuna, tapi sepertinya tidak ada. Posisi Arjuna berdiri adalah titik yang harus dilewati menuju jalan setapak ke area sekolah.
“Mau kemana lagi ?” Tanya Arjuna masih dengan suara ketus dan wajah menyebalkan.
Cilla berdiri di depan guru matematika itu sambil membalas tatapan Arjuna yang belum juga bersahabat.
“Mau mencari mangsa baru,” sahut Cilla dengan ketus. “Bukannya tadi Bapak bilang kalau saya ini cewek yang pintar menggoda pria-pria dewasa.”
Cilla melengos dan hendak melewati Arjuna, tapi tangan kekar itu menahan lengannya.
“Hanya aku yang boleh kamu goda. Lagipula status kamu masih pacarku,” tegas Arjuna dengan nada dingin.
“Pacar ?” Cilla tertawa sinis. “Mana ada pacar yang mengatakan kekasihnya penggoda pria-pria dewasa di depan umum,” tegas Cilla.
Cilla berusaha melepaskan tangan Arjuna, tapi tidak berhasil karena Arjuna justru semakin kuat memegang lengannya.
“Maaf,” ucap Arjuna sambil menghela nafas. Suaranya sudah mulai melunak.
“Sepertinya mulut bapak gampang menghina orang dan gampang juga minta maaf. Apa bapak pikir dengan kata maaf seperti ini bisa merubah pandangan orang tentang saya ? Dulu di depan Dimas, sekarang di depan teman-teman sekelas saya.”
“Aku sedang tegang menunggu waktu ketemuan dengan papa hari Jumat malam nanti,” ujar Arjuna dengan nada yang sudah kembali tenang.
“Kalau bapak masih menganggap saya pacar, seharusnya bapak berbagi masalah dengan saya, bukannya menghindar apalagi mengabaikan saya.”
“Aku tidak mau membuat kamu terbebani karena minggu depan akan menghadapi ulangan umum.”
“Lalu dengan cara seperti ini, bapak sudah membuat hati saya lebih baik ?” tanya Cilla sambil menatap Arjuna yang malah menoleh ke arah lain.
“Biarkan ini jadi urusanku, Cilla. Kamu fokus saja pada sekolahmu dan pada ulangan umum yang sudah dekat. Aku akan menyelesaikannya,” ujar Arjuna sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa ? Kenapa harus jadi tanggungjawab bapak sendiri ? Kenapa saya tidak boleh terlibat atau minimal tahu apa rencana Pak Arjuna ?”
Arjuna mengusap wajahnya sendiri. Hatinya benar-benar kacau menghadapi masalah ini. Bahkan saat tahu Luna berselingkuh, pikirannya tidak serumit ini.
“Tolong beri aku waktu Cilla,” ujar Arjuna dengan nada yang dibuat pelan dan sabar.
“Setidaknya bagilah masalah dengan saya kalau memang bapak masih menganggap saya pacar,” ujar Cilla penuh penekanan.
“Berhenti memanggilku bapak kalau di luar urusan sekolah,” ujar Arjuna dengan penuh penekanan pula. Ia masih berusaha meredam emosinya.
“Bukankah ini yang bapak inginkan ? Membiarkan saya menjauh sampai bapak menemukan jalan keluarnya ?” tanya Cilla sambil tersenyum sinis.
“Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, Cilla !” bentak Arjuna. Cilla tercengang mendengarnya dan mundur beberapa langkah.
“Masalah ini tidak semudah yang kamu pikirkan. Sadarlah kalau usiamu masih belum bisa mengerti kalau semuanya harus dipikirkan matang-matang sebelum bertindak. Jangan terlalu naif,” ujar Arjuna dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
Cilla tersenyum getir sambil menatap Arjuna dengan wajah kecewa.
“Baik, saya mengerti sekarang. Itu sebabnya Pak Arjuna takut menghadapi anak perempuan yang akan dijodohkan dengan bapak. Dalam pikiran Pak Arjuna, umur sangat menentukan tindakan seseorang Usia begitu penting untuk menggambarkan kematangan seseorang.”
“Cilla, aku…” Arjuna mencoba menggapai Cilla yang menjauh.
“Terima kasih atas penjelasan bapak hari ini. Saya semakin yakin kalau Pak Arjuna pada akhirnya akan melakukan hal yang sama sekali lagi. Kabur dari kenyataan kalau jodoh Pak Arjuna hanya seorang anak kecil yang terlalu naif untuk diajak bicara. Terima kasih karena Pak Arjuna sudah jujur pada saya.”
Cilla kembali tersenyum getir dan bergegas meninggalkan Arjuna. Pria itu menjambak rambutnya sendiri. Ingin berteriak kesal karena emosi sering membuat mulutnya mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang yang dicintainya.
Arjuna menghela nafas panjang. Kenapa hidup percintaannya jadi begini kacau dan selalu terlibat masalah dengan anak SMA.