MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Para Sahabat Kepo


“Kamu mau kemana ?” tanya Arjuna saat Cilla melepaskan genggamannya dan berjalan ke sisi yang berbeda dengan Arjuna.


“Mau duduk,” jawab Cilla santai.


“Tempat kita di sana,” Arjuna menunjuk dua bangku kosong yang posisinya berada di tengah-tengah.


Cilla menggeleng dan menunjuk ke bangku kosong yang ada di sebelah Jovan.


“Kamu sengaja mancing emosi lagi ?” suara Arjuna mulai sedikit berubah.


“Cilla mau sapa tante Diva dan om Arman dulu. Lagipula ada Pak Slamet dan Pak Wahyu. Kangen, udah lama nggak ketemu sama Pak Wahyu.”


Arjuna menghela nafas dan wajahnya terlihat sedikit kecewa.


“Kamu masih marah sama aku ?” tanyanya sendu.


Cilla tersenyum. Arjuna terlihat seperti anak kecil yang takut ditinggal mamanya di tengah keramaian.


“Kalau masih marah, nggak akan Cilla datang kemari biar dipaksa sama Amanda, Kak Theo bahkan papi dan tante Siska,” sahutnya sambil tertawa pelan.


“Memangnya kalau mereka nggak bujukin, kamu nggak akan datang kemari ?” Arjuna masih memasang wajah sedih karena ternyata Cilla datang bukan karena keinginannya sendiri.


“Sepertinya begitu,” sahut Cilla sambil terkekeh.


Tanpa berlama-lama menunggu respon Arjuna Selanjutnya, Cilla memilih meninggalkan Arjuna dan menghampiri mama Diva, menyapanya sambil memberi cipika cipiki. Sesudahnya Cilla menghampiri papa Arman yang duduk di sebelah papi Rudi.


Tidak lupa Cilla juga menyapa Pak Wahyu yang selama ini sudah dianggap seperti opanya sendiri.


“Bapak tambah keren aja biar sudah pensiun,” canda Cilla sambil memberikan jempol pada mantan guru matematika kesayangannya.


“Tapi masih belum bisa mengalahkan Arjuna, yang hanya dalam beberapa bulan sudah bisa buat anak SMA jatuh cinta padanya,” balas Pak Wahyu sambil tertawa.


“Ralat, Pak,” protes Cilla. “Yang jatuh cinta bukan saya aja, tapi Pak Arjuna kena tertipu pesona saya,” lanjut Cilla sambil terkekeh.


Pak Wahyu dan Pak Slamet hanya tertawa. Mereka adalah dua guru yang dipercaya oleh papi Rudi untuk menjadi orangtua Cilla di sekolah, apalagi sejak dokter memberikan vonis sakit kanker yang diderita papi Rudi sudah sulit disembuhkan.


“Yakin mau duduk di sebelah gue ?” tanya Jovan saat Cilla menarik kursi kosong yang ada di sebelahnya.


“Memangnya ada aturan gue nggak boleh duduk di sini ? Atau jangan-jangan ada yang cemburu ?” Cilla melirik ke arah Amanda yang sedang sibuk mengambil lauk.


Posisi duduk mereka berlima ada di ujung meja berdekatan dengan deretan orangtua dan guru. Cilla dan Jovan bersebelahan, sementara di seberang mereka ada Amanda, Febi dan Lili.


“Perlu bantuan ?” bisik Cilla pelan pada Jovan.


“Apanya ?” Jovan menoleh dengan alis menaut.


Lili sejak tadi memperhatikan Cilla yang berbicara sambil senyum-senyum pada Jovan. Ada perasaan sedih di hatinya, karena sampai saat ini mantan ketos itu tidak pernah bisa memberinya perhatian lebih dari sekedar teman satu sekolah, sangat berbeda saat cowok itu berbicara dengan Cilla atau Amanda.


“PDKT sama Amanda,” ledek Cilla masih berbisik sambil cekikikan.


”Elo nggak sadar dengan pesona gue ? Kayaknya cuma elo doang yang menyia-nyiakan kesempatan jadi pacar gue,” ujar Jovan dengan wajah pongah.


“Diihh anda pe-de sekali ferguso,” cebik Cilla. “Cowok model elo banyak di pasaran. Masuk barang obralan pula,” lanjut Cilla sambil tergelak.


“Eh rese ! Dasar bucinnya Arjuna,”gantian Jovan mencebik. “Sekali kena panah langsung melehoy dan gelap mata. Nggak pakai jual mahal, hati langsung diobral.”


“Iri bilang boss,” sahut Cilla sambil mencibir.


Mereka pun mulai menikmati sajian makanan dan minuman yang sudah terhidang di depan mereka.


“Feb, gimana ceritanya elo bertiga bisa sampai di sini bareng sama Pak Wahyu dan Pak Slamet ?” tanya Cilla yang sejak tadi penasaran dengan kehadiran tiga temannya.


“Amanda yang undang kita,” Lili yang menyahut.


“Ooo oke…. Terus kalian bareng sama Pak Wahyu dan Pak Slamet ?”


“Nggak,” Febi yang menyahut. “Sama sopir grab.”


“Eh s**lan, sejak kapan gue jadi sopir grab elo berdua ya !” omel Jovan sambil melotot.


Febi yang memang jarang tertawa hanya mencibir ke arah Jovan yang mengomel, sedangkan Cilla tertawa melihat wajah Jovan.


“Sopir grab paling ganteng, ketos tampan,” rayu Lili dengan mata mengerjap.


“Tuh udah dikasih pujian, nggak boleh jutek lagi,” Cilla menyenggol bahu Jovan. “Nanti gantengnya luntur.”


“Cil, Amanda itu beneran adiknya Pak Arjuna ?” Lili bertanya dengan suara berbisik sambil melirik sekilas ke arah Amanda yang sedang menghampiri mama Diva.


“Nama lengkapnya Amanda Hartono, jadi menurut elo gimana ?” Cilla balik bertanya.


“Pantes aja mukanya mirip sama Pak Arjuna,” ujar Febi.


“Terus kok dia nggak sekolah di tempat kakaknya mengajar ?” tanya Lili kembali.


“Pak Arjuna itu guru nyasar ke SMA Guna Bangsa, kalau sekolahnya Amanda itu almamaternya Pak Arjuna.”


Lili mengangguk-angguk dan Febi hanya diam saja.


“Kalian kepo banget sih pengen tahu asal usul Amanda,” celetuk Jovan.


“Biasalah kan harus mengetahui kekuatan lawan,” Febi yang menyahut sambil tertawa pelan. “Biar gimana Amanda itu kan rivalnya Lili.”


“Cari cowok lain aja, Li,” ujar Cilla memprovokasi sahabatnya. “Tuh banyak cowok-cowok mapan yang masih jomblo. Kalau mau bisa gue kenalin. Kecuali yang duduk di sebelah cewek, sisanya itu masih jomblo.”


“Termasuk kakak sepupu elo ?” tanya Lili dengan semangat.


Wajah Lili langsung berubah, membuat Jovan menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


Dasar abege labil, dikasih cowok-cowok mateng (mapan dan ganteng) langsung melupakan cintanya yang terabaikan.


“Thankyou,” bisik Jovan pada Cilla.


Cilla menoleh sambil menautkan alisnya bingung dengan ucapan terima kasih Jovan.


“Thankyou sudah bisa mengalihkan perasaannya yang maksa banget sama gue,” ujar Jovan sambil tertawa pelan. Tentu saja ucapannya tidak akan terdengar Lili bahkan Febi.


Cilla balas tersenyum sambil memberikan jempolnya.


“Udah bisik-bisiknya ?” tegur suara ketus Arjuna yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.


“Bukan salah saya, Pak,” Jovan menoleh, mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum. “Cilla yang maunya duduk dekat-dekat saya.”


“Dasar cowok tidak bertanggungjawab !” omel Cilla sambil memukul bahu Jovan. Terlihat cowok itu meringis sambil mengusap bekas pukulan Cilla.


“Memangnya kamu diapain sampai Jovan harus bertanggungjawab ?” tanya Arjuna dengan mode galaknya, persis seperti saat mengajar di depan kelas.


Lili dan Febi seperti biasa langsung saling melempar pandangan dan tertawa pelan. Ternyata nggak di kelas saja Arjuna bisa bersikap galak pada Cilla.


“Nggak parah sih….” sahut Cilla sambil melirik Jovan. “Cuma disuruh-suruh doang.”


“Eh siapa yang nyuruh-myuruh elo, ya ?” omel Jovan sambil melotot ke arah Cilla.


“Jovan ini…” belum sempat Cilla meneruskan ucapannya, tangan Jovan langsung membekap mulutnya.


Reflek Arjuna langsung menepuk tangan Jovan.


“Dilarang sembarangan menyentuh pacar orang,” omel Arjuna sambil melotot ke arah Jovan.


“Bukan maksud menyentuh, Pak, tapi mencegah Cilla mengucapkan gosip yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Kan maksud saya baik, biar pacar bapak yang jahil ini tidak menambah catatan dosanya,” sahut Jovan dengan nada santai.


Bukannya marah, Cilla malah tertawa sambil menjulurkan lidah meledek Jovan.


“Pindah duduknya sekarang !” Arjuna langsung memegang tangan Cilla dan memberi isyarat supaya gadis itu bangun dan mengikutinya.


“Tapi saya belum selesai makan, Mas,” ujar Cilla menunjuk ke piringnya.


”Mas ?” Febi dan Lili spontan mengulang ucapan Cilla. Keduanya saling berpandangan dan tergelak.


Jovan akhirnya ikutan tertawa karena tidak menduga kalau Cilla sudah memanggil guru mereka itu dengan sebutan Mas.


Tawa ketiganya membuat yang lainnya, para sahabat, guru dan orangtua Arjuna menoleh ke arah mereka.


“Jadi melehoy hati abang dengar adek manggil Mas sama guru galak dan jutek se-Guna Bangsa,” ledek Jovan dengan gaya alay yang sengaja dibuat-buat.


Cilla yang memang sempat merasa aneh dengan panggilannya untuk Arjuna tersipu malu dengan wajah sedikit merona, tapi akhirnya ia ikut tertawa juga.


Arjuna sendiri ? Mukanya juga memerah tapi bukan karena malu-malu seperti Cilla melainkan emosi jiwa karena ditertawakan murid-muridnya.


“Memangnya ada masalah kalau pacar saya ini memanggil begitu ?” omel Arjuna sambil menatap tajam ke arah murid-muridnya satu persatu.


“Nggak ada sih, Pak. Cuma cara Cilla ngucapin itu lho,” ujar Lili.


“Memangnya ada masalah apa dengan cara gue mengucapkannya ?” tanya Cilla dengan alis menaut.


“Cara elo ngucapinnya kedengaran aneh dan nggak rela begitu,” ledek Jovan.


Cilla sudah bergerak ingin memukul bahu Jovan lagi namun ditahan oleh Arjuna. Malah satu tangannya sengaja merangkul pinggang Cilla.


“Biarkan para jones ini meledek kita, sayang. Sepertinya mereka iri sama kamu,” ujar Arjuna sambil menatap Cilla dengan mesra.


Ketiganya langsung terdiam dan menatap Cilla dan Febi. Bahkan Jovan terlihat langsung mencebik.


“Iihh Bapak nyumpahin kita jones ? Wajar banget kalau kita belum punya pacar, umur kita aja baru belasan, memangnya…” omel Lili namun tidak sampai selesai karena Febi menyikutnya.


“Bukan nyumpahin, tapi kenyataan,” jawab Arjuna santai


Cilla kembali tergelak sambil menjulurkan lidah pada para sahabatnya.


Arjuna menarik lengan Cilla setelah menganggukan kepalanya sekilas sambil tersenyum pada ketiga muridnya dan Cilla sendiri melambaikan tangannya.


“Dasar bucin Arjuna !” gerutu Jovan.


Cilla mengerutkan dahi saat Arjuna malah membawanya menuju pintu keluar, bukan pindah tempat duduk.


“Kita mau kemana, Mas ?” tanya Cilla dengan posisi badan mendekat ke arah Arjuna yang sedang menggandengnya.


“Ada yang mau dibicarakan sama papa dan papi kamu,” sahut Arjuna tanpa menoleh, menuju salah satu meja dimana ada papa Arman, papi Rudi dan mama Diva di sana.


Rupanya karena terlalu asyik berbincang dengan ketiga sahabatnya, Cilla sampai tidak menyadari kalau Arjuna sempat keluar dengan kedua ayah mereka dan akhirnya mama Diva ikut keluar ruangan juga.


“Mau bicara soal apa, Mas ?”


Meski sudah bisa menebak-nebak topik yang akan dibicarakan, tapi masih ada rasa deg-deg kan di hati Cilla. Apalagi membayangkan ia akan ditanya-tanya oleh para orangtua.


“Aku akan menikahimu sekarang,” ujar Arjuna santai sambil tersenyum namun tanpa menoleh ke arah Cilla.


Mata Cilla langsung membelalak. Menikah ? Bahkan KTP saja ia belum punya, sekarang sudah disuruh menikah.


Cilla menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah panik. Otaknya langsung berpikir jawaban apa yang akan dia berikan, sementara Arjuna hanya senyum-senyum sendiri saat meirik ke arah Cilla.