MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Semua Tentang Cinta


“Selamat malam undangan yang berbahagia. Sepertinya status saya sebagai guru tidak ada pamornya lagi di malam ini,” ujar Arjuna sambil melihat ke arah murid-muridnya yang langsung tertawa.


“Namun demi membuktikan sayang saya sebagai guru pada para siswa kelas XII yang sebentar lagi akan meninggalkan masa putih abu-abunya dan untuk murid spesial yang sekarang jadi istri saya, malam ini saya akan mempersembahkan lagu ini untuk Priscilla Darmawan, my wife and my life”


Cilla pun didaulat oleh Arjuna untuk berdiri di sampingnya membuat yang hadir langsung bertepuk tangan riuh.


KARENA KUCINTA KAU


By Once (2020)


Jika ada yang bilang kulupa kau


Jangan kau dengar


Jika ada yang bilang ku tak setia


Jangan kau dengar


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Karena kau yang aku inginkan


Bila ada yang bilang ku tak baik


Jangan kau dengar


Bila ada yang bilang ku berubah


Jangan kau dengar


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Semua itu karena kucinta kau.. Kau


Saat kau ingat aku, ku ingat kau


Saat kau rindu, aku juga rasa


Ku tahu kau s’lalu ingin denganku


Kupastikan yang terbaik yang bisa kulakukan


Tuhan pun tahu kucinta kau


Jika kau tak percaya padaku


Sedihnya aku


Jika kau lebih dengar mereka


Sakit hatiku


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Semua itu karena kucinta kau


Saat kau ingat aku, ku ingat kau


Saat kau rindu, aku juga rasa


Ku tahu kau s’lalu ingin denganku


Kupastikan yang terbaik yang bisa kulakukan


Tuhan pun tahu kucinta kau


“I love you so much Priscilla Darmawan,” ucap Arjuna setelah selesai membawakan lagu itu untuk Cilla. Tidak lupa kecupan hangat di pipi Cilla membuat wajah Istrinya langsung panas dan merona.


Tepukan riuh dan suitan terutama dari para murid membuat Cilla tersipu sekaligus bahagia.


“Nggak mau kasih ciuman balik buat Mas Juna, nih ?” bisik Arjuna sambil senyum-senyum.


“Semua pada lihatin kita. Malu,” sahut Cilla dengan suara pelan.


“Kan kita bintang utamanya malam ini. Kalau pun viral, nggak ada bisa yang menuntut karena kita udah sah jadi suami istri.”


Cilla mendongak menatap Arjuna dan tanpa terduga menarik kerah jas Arjuna dan mencium sekilas bibir mantan gurunya itu.


Cilla langsug menatap ke arah lain saat suasana kembali riuh oleh teriakan dan tepukan tangan teman-teman sekolahnya.


“Jangan iri, good friends,” ujar Arjuna sambil tersenyum menatap murid-muridnya. “Teman kalian ini bukan sedang lagi kasih contoh, jangan ditiru apalagi kalau statusny baru sekedar pacar.”


“Huuuu…”


“Ciuman tadi sebagai ucapan terima kasih dari seorang istri yang terharu dengar suara suaminya yang ternyata bukan cuma pintar rumus matematika tapi juga rumus cinta. Iya kan, sayang ?” Arjuna sengaja meledek Cilla yang masih belum berani menatap ke arah para tamu.


“Nyanyi lagi dong, Pak,” celetuk Didi, salah satu murid sekelas Cilla juga.


“Jangan dong,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan. “Nanti kalau ada produser mau jadikan saya penyanyi, masa saya harus alih profesi lagi, dari guru jadi orang kantoran terus penyanyi. Labil banget kayak kalian anak putih abu-abu. Lagipula repot kalau kebanyakan penggemarnya ciwi-ciwi. Istri saya kalau cemburu susah dirayu,” ujar Arjuna sedikit berbisik di kalimat terakhirnya.


“Kasih bunga biar romantis dong, Pak,” celetuk salah satu murid lainnya.


“Nggak mempan, bunga bank juga ditolak,” sahut Arjuna yang disambut gelak tawa. “Anyway, terima kasih atas kehadiran semuanya di pesta pernikahan kami.”


Sementara teman-teman sekelas Cilla masih membawakan tiga lagu lainnya sebagai kado spesial untuk teman dan guru mereka.


“Mas Juna kok nggak bilang-bilang kalau pintar nya yi,” bisik Cilla saat mereka mulai berjalan kembali ke pelamina “Kan Cilla mau juga sering-sering dengar Mas Juna nyanyi.”


“Nggak nyanyi aja udah banyak penggemar, nanti kalau ketahuan jago nyanyi makin banyak penggemar, Cilla kerepotan. Yakin nggak bakalan cemburu ?” ledek Arjuna sambil terkekeh.


“Huufftt pria over pede,” cebik Cilla sementara Arjuna hanya tertawa.


“Nyanyinya buat Cilla aja, nggak boleh sering-sering nyanyi di depan umum,” ujar Cilla dengan bibir mengerucut.


“Ada yang mulai posesif, nih,” ledek Arjuna.


“Sebagai murid kesayangan guru matematika, Cilla wajib meneladan sikap yang dicontohkan oleh bapak guru Arjuna yang terhormat. Pencemburu dan posesif,”


“Wahh bahagianya dicemburui sama istri yang selama ini jaim dan sok cool,” cibir Arjuna.


“Jangan cuma Cilla yang hanya untuk Mas Juna, tapi Mas Juna juga hanya untuk Cilla !” tegas Cilla dengan mata membesar.


“Deal !” sahut Arjuna sambil tertawa dan mengeratkan genggamannya.


“Sekarang percaya kan kalau Arjuna benar-benar cinta banget sama Cilla,” ujar Yola di tengah-tengah Luna dan Riana yang masih berdiri terpaku mendengar suara Arjuna.


“Ganggu aja,” gerutu Riana dengan wajah kesal.


“Berhenti menginginkan suami orang,” ledek Yola. “Nggak dengar syair yang dinyanyikan Arjuna tadi ? Banyak cinta yang mendekat kumenolak karena kucinta kau ?”


“Sejak kapan elo jadi bodyguard-nya istrinya Arjuna ?” cebik Riana.


“Bukan bodyguard buat Cilla, tapi gue begini sebagai sahabat elo berdua yang nggak mau para sahabatnya jadi cewek jahat dan nggak berperasaan. Tapi semuanya kembali pada elo berdua, terserah mau jadi cewek yang gimana.”


Yola tersenyum dan kali ini ia yang meninggalkan kedua sahabatnya yang entah masih menganggapnya sahabat atau justru pengacau.


Saat Yola sedang sibuk menasehati kedua sahabatnya, Amanda sedang senyum-senyum di samping Jovan.


“Nggak nyangka Kak Juna bisa bersikap romantis gitu sama Cilla.”


“Aku juga bisa kalau kamu mau,” sahut Jovan dengan wajah penuh keyakinan.


“Itu copycat namanya,” cibir Cilla.


“Nggak lah ! Bukan copycat tapi meneladani. Apalagi kan Kak Juna mantan guru aku.”


“Sejak kapan mutusin manggil Kak Juna ?”


“Sejak adiknya resmi dikenalkan sebagai pacar pada orangtuaku,” bisik Jovan sambil mengedipkan matanya sebelah. “Lagipula Kak Juna kan sudah secara resmi bukan lagi guruku.”


“Dih songong,” Amanda mencebik. “Lagipula kayaknya mami kamu belum setuju banget.”


“Jangan khawatir. Mami tuh memang begitu. Nggak mau kelihatan kalau hatinya senang anak tunggalnya udah punya pacar dan move on dari Cilla.”


“Memangnya selama ini mami kamu meragukan anaknya sebagai pria sejati ?” tanya Amanda sambil cekikikan.


“Ya nggak lah,” sahut Jovan dengan wajah cemberut. “Mami tuh masih terpaku pada janjinya sama tante Sylvia. Apalagi sempat melihat aku bersikukuh mendekati Cilla demi sebuah kata maaf karena sudah pernah menyakitinya, jadi mami tuh berpikir kalau aku juga udah cinta banget sama Cilla.”


“Nyesel nih ceritamya ?” cebik Amanda.


“Nggak !” sshut Jovan mantap. “Justru aku sangat berterima kasih pada Kak Juna karena memutuskan untuk bersaing mendapatkan cinta Cilla saat itu. Di situ aku baru benar-benar sadar kalau perasaanku pada Cilla nggak lebih dari sekedar teman dekat. Aku bahkan nggak cemburu atau sakit hati saat tahu Cilla juga mencintai Kak Juna.”


“Dan aku jadi pelarian ?” Amanda kembali mencibir.


“Mau aku lamar sekarang untuk membuktikan kalau kamu bukan pelarian ?” Jovan menatap tajam ke arah Amanda yang langsung menggeleng.


“Nggak… nggak mau nikah cepat-cepat kayak Cilla,” ujar Amanda sambil menggoyangkan telapak tangannya. “Kamu sekolah dulu yang benar, cari uang sendiri, jangan ngandelin kekayaan orangtua doang.”


“Iya sayang, iya,” Jovan mengusap kepala Amanda. “Akan aku penuhi semua persyaratan dan keinginan kamu. Saat aku datang melamar, aku jamin kalau hidupku sudah mampu menjadi suami yang hidup di atas kaki sendiri.”


“Apaan sih,” Amanda tersipu sambil bergerak mundur. Sejak tadi Amanda tahu kalau mami Jovan sedang melihat ke arah mereka karena tatapannya sempat bertemu dengan mami Jovan yang sedang menatap penuh selidik.


Berbeda lagi di meja-meja untuk keluarga, terlihat papi Rudi sedang berbincang dengan Pak Slamet dan Pak Wahyu.


“Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Slamet. Terima kasih karena sudah menerima Arjuna saat itu menjadi guru,” ujar papi sambil tersenyum.


“Jangan begitu Mas Darmawan, Cilla itu sudah saya anggap seperti keponakan sendiri. Kedatangan Arjuna ke sekolah bukan karena saya, tapi sepertinya memang sudah jodohnya Cilla. Bisa-bisanya dia dibawa oleh Dono melamar jadi guru menggantikan Mas Wahyu,” sahut Pak Slamet sambil tertawa pelan.


“Iya sepertinya mereka memang berjodoh sejak kecil,” ujar papi Rudi tersenyum sambil memandang Cilla dan Arjuna yang sedang berbincang sambil tertawa-tawa.


“Pertama melihat mereka berdua di Ambarawa, sudah firasat kalau mereka berjodoh, hanya saja waktu itu Arjuna terlihat masih belum melirik Cilla,” timpal Pak Wahyu sambil tertawa pelan.


“Waktu itu status Arjuna masih pacar mantan anak tiri saya, Mas Wahyu,” sahut papi Rudi.


“Turun ranjang, dong,” ujar Pak Slamet sambil tertawa pelan.


“Anak tiri, bukan anak kandung, jadi jauh-jauh deh dari turun ranjang,” sahut papi Rudi sambil tertawa pelan.


“Saya senang melihat mereka berdua akhirnya sampai menikah,”ujar Pak Wahyu. “Biar waktu itu suka adu mulut, tapi mata mereka menyiratkan cinta yang dalam.”


“Saya titip Cilla pada Mas Wahyu dan Slamet,” ujar papi Rudi dengan tatapan sendu. “Hidup memang di tangan Tuhan, tapi penyakit yang saya alami saat ini sepertinya sulit untuk disembuhkan.”


“Jangan begitu Mas Darmawan,” ujar Pak Slamet. “Harus semangat dan berpikir positif. Siapa tahu dalam waktu dekat ini, Mas Dar akan dapat cucu.”


“Kalau masalah Cilla jangan terlalu dijadikan beban,” ujar Pak Wahyu. “Putrimu itu anak yang mandiri dan kuat. Niatnya membangun sekolah untuk anak-anak jalanan sudah mulai tahap persiapan akhir, jadi Mas Dar harus sehat dan semangat.”


“Amin,” sahut papi Rudi. “Saya memang sudah tenang masalah Cilla. Selain sekarang sudah punya suami, dia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.”


Papi Rudi berusaha tersenyum dengan wajah penuh semangat meski dalam hati kecilnya merasa pesimis dengan penyakitnya. Usaha pengobatan mengalami kendala karena komplikasi di berbagai organ tubuh papi Rudi.


Papi Rudi, Pak Slamet dan Pak Wahyu sama-sama memandangi Arjuna dan Cilla yang turun dari pelaminan untuk menemui langsung para tamu. Meski dengan pikiran yang berbeda, namun ketiga orangtua ini mengharapkan hal yang sama : kebahagiaan untuk Cilla dan Arjuna.