
Sidang pembacaan keputusan kasus Glen baru saja berakhir. Mantan dosen itu dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun 8 bulan dipotong masa tahanan.
“Pak Glen,” sapa Cilla yang menemuinya di belakang ruang sidang tanpa Arjuna dan pengacara.
”Terima kasih sudah menyukai saya, tapi maaf tidak semua perempuan mudah jatuh cinta pada pria tampan,” Gaby tersenyum sambil mengulurkan tangan yang tidak ditanggapi Glen sama sekali.
“Masalah kita memang berbeda tapi saya tahu bagaimana rasanya begitu banyak ketidakadilan dalam hidup ini. Tapi itulah dunia, bukan hanya saya atau Pak Glen saja yang merasakan, bahkan orang yang terlihat hebat dan sukses pasti pernah merasakannya. Jangan lagi memupuk dendam yang salah alamat karena bukannya memuaskan hati malah akan menghancurkan hidup kita. Sehebat apapun manusia menyembunyikannya, kebenaran akan muncul pada waktunya.”
Glen bergeming, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya membuat Cilla hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum tipis.
“Saya yakin kalau Pak Glen akan mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya setelah selesai menjalani masa tahanan dan saya harap bila Tuhan mempertemukan kita kembali, Pak Glen bisa menerima kalau Mas Arjuna, suami saya, tidak pernah berpikir untuk merusak hidup Pak Glen. Saya permisi dulu.”
Cilla melewati pintu yang dijaga oleh 2 orang petugas dari lapas. Usai ia keluar, kedua pria itu masuk ke dalam, siap membawa Glen kembali ke tempatnya ditahan.
“Sudah selesai ?” tanya Arjuna yang menyambutnya dengan senyuman di area parkiran mobil.
“Sudah tapi reaksinya sama seperti waktu Mas Juna menemuinya, hanya diam dan wajahnya juga biasa aja.”
“Dia itu keras kepala dan sekarang dia pasti malu karena pikiran negatifnya tidak terbukti jadi tidak ada kalimat yang perlu diucapkan pada kita.”
Cilla mengangguk sambil menghela nafas. Arjuna menarik Cilla ke dalam pelukannya.
“Jangan terlalu banyak berpikir macam-macam supaya debay di perut Cilla nggak ikut khawatir.”
“Cilla lagi mikir mau makan siang dimana, kok. Kayaknya debay yang ini doyan makan dibandingkan Sean.”
Arjuna tertawa dan membukakan pintu mobil untuk istrinya lalu ia masuk ke kursi pengemudi.
“Jadi sekarang mau makan apa ?”
“Seafood.”
“Siap anak bebek kesayangan Mas Juna.”
Cilla tertawa dan menyandarkan kepalanya sekilas di bahu Arjuna.
“Papi kamu memang paling pintar merayu, dek,” ujar Cilla sambil mengusap perutnya.
***
Dengan wajah panik, Luna beberapa kali menekan tombol lift yang tidak bergerak.
“Sabar Nona, masih ada orang yang mau masuk,” ujar salah satu pengunjung yang berdiri di belakangnya.
Terlalu kaget mendengar kondisi mama Sofia yang mendadak drop, Luna yang sedang bekerja di restoran sampai lupa mengganti baju kerjanya.
“Maaf. Mama saya sedang kritis di ruang ICU,” sahut Luna dengan senyuman tipis.
Sampai depan ruang ICU dokter baru saja keluar dan langsung menemui Luna.
“Bagaimana keadaan mama saya, Dok ?”
“Akan lebih baik kalau operasi bisa segera dilakukan. Memang tidak akan membuat Ibu Sofia sembuh, tapi kondisinya akan jauh lebih stabil dan tidak perlu dirawat di ruang ICU.”
“Lalu sekarang bagaimana, Dok ?”
“Sudah stabil kembali tapi jangan dibesuk dulu, saya baru saja memberikan obat penenang biar beliau bisa beristirahat.”
Luna mengangguk dan duduk lemas di depan ruang ICU setelah dokter pergi meninggalkannya. Luna mengambil handphonenya, hanya 1 nama yang selalu muncul di benaknya saat menghadapi kesulitan seperti ini : Arjuna. Sayangnya pria itu sudah memblokir nomornya.
Luna membuka galeri foto dan melihat beberapa foto dengan Arjuna yang masih disimpannya. Ingat Arjuna, ingat masa-masa hidupnya yang berkelimpahan dan karir yang bagus, dikelilingi banyak pria yang memberinya segala kemewahan.
Sekarang dirinya hanya seorang wanita hamil yang harus bekerja di 2 tempat supaya bisa makan, membayar kontrakan dan kelak menghidupi anak yang akan lahir dari rahimnya beberapa bulan lagi.
Kesempatannya sudah lewat, Luna tidak pernah memanfaatkan anugerah yang diterimanya dengan baik. Mulai dari sekolah yang tidak selesai, kehidupan mewah yang diberikan oleh papi Rudi dan terakhir kehilangan Arjuna sebagai kekasihnya.
Luna beranjak bangun sambil menghela nafas, sepertinya hanya Cilla jalan keluarnya saat ini.
“Raja ?”
Pria yang tadi menabrak Luna tidak jauh dari lift membelalakan matanya, tidak menyangka akan bertemu istri sirinya di rumah sakit.
”Maaf saya terburu-buru.”
Tidak ada sapaan, pria itu meninggalkan Luna menuju kamar operasi yang letaknya tidak jauh dari ruang ICU.
Luna hanya menatap Raja menghilang, tidak berniat menyusulnya, bisa-bisa ia kembali dipermalukan di depan umum.
Luna kembali menekan tombol lift yang tidak lama kemudian terbuka. Matanya membola karena berpapasan dengan istri Raja yang hendak keluar dari lift.
Luna buru-buru masuk ke dalam lift namun tangan wanita itu menahannya.
”Mau kemana kamu ? Jangan bilang kamu mengawasi kami.”
“Maaf, anda salah orang,” Luna berusaha melepaskan tangan wanita itu namun ia malah menarik Luna keluar dari lift dengan cukup kasar.
“Mbak mau ngapain ?” Luna masih berusaha melepaskan tangan wanita itu yang menyeretnya ke arah kamar operasi.
“Pasti kamu mencari celah untuk mencelakai keliarga saya setelah gagal mendapatkan suami saya kan ?”
“Jangan asal tuduh ! Saya sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Mas Raja sejak Mbak mengusir saya.”
“Jangan bohong !”
Wanita itu menghempaskan Luna dengan kasar hingga ia terjatuh di lantai. Luna meringis dan memegang perutnya.
“Awas saja kalau saya menemukan bukti kecelakaan anak saya ada kaitannya dengan kamu !”
Luna yang lemas berusaha bangun sambil sesekali meringis. Hati kecil Raja ingin membantunya karena biar bagaimana pun anak yang ada di dalam perut Luna adalah anaknya juga.
“Dan kalau terbukti saya tidak melakukannya, maka Mbak akan saya tuntut atas fitnah.”
“Berani kamu mengancam saya ?” wanita bernama Shinta itu mendekati Luna yang bersandar pada dinding.
“Bukan mengancam, hanya menuntut hak saya. Mbak sudah mempermalukan saya di depan umum.”
Luna menegakkan posisi berdirinya dan matanya melotot membalas tatapan Shinta.
“Tapi kamu tidak malu merebut suami orang,” sinis Shinta dengan senyuman menghina.
“Saya tidak pernah merebut Mas Raja. Saya tahu kalau selama ini Mbak sangat ketat mengawasi Mas Raja sebagai boneka berstatus suami. Saya bisa berpacaran dan akhirnya menikah dengan Mas Raja selama berbulan-bulan bukan karena Mbak Shinta lengah mengawasi Mas Raja tapi sibuk mencari pria lain yang bisa menggantikan Mas Raja, sayangnya mbak gagal dan terpaksa harus kembali memilih Mas Raja.”
“Beraninya kamu memfitnah saya !”
Luna menahan tangan Shinta yang sudah terangkat hendak menamparnya.
“Jangan lagi menyentuh saya dengan cara seperti itu atau saya akan buat mbak menyesal.”
“Ma, sudah, jangan diteruskan. Jodi sedang berjuang di dalam, lebih baik kita fokus berdoa semoga semuanya baik-baik saja.”
Raja mendekati Shinta dan memegang kedua bahunya, mengajak wanita itu menjauhi Luna.
“Kamu mau menenangkan aku atau melindungi dia ?” bentak Shinta.
“Aku mau menenangkan dan melindungimu. Terlalu banyak CCTV di sini dan Luna dengan mudah akan menuntutmu kalau kamu tidak bisa mengendalikan emosimu.”
Shinta melirik ke sudut-sudut langit-langit dan apa yang dikatakan suaminya memang benar.
“Sekali lagi kita bertemu, jangan harap kamu bisa bebas begitu saja !”
Luna hanya tersenyum sinis dan tidak peduli dengan tatapan Raja yang terlihat sendu. Luna tidak tahu apakah kesedihan itu karena anaknya sedang di kamar operasi atau kasihan melihat kondisi Luna yang terlihat wanita yang tersia-siakan.