MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Cinta yang Saling Melengkapi


“Mas Juna minta maaf. Sungguh bukan karena masalah Riana yang bikin Mas Juna kesal, tapi karena tidak ada yang memberitahu Mas Juna soal ini, termasuk om Budi dan Theo.”


“Iya Cilla ngerti.”


“Om Eka pernah menemui Mas Juna secara pribadi membahas soal hotel, saat itu papi mulai keluar masuk rumah sakit. Om Eka banyak membagi ilmunya soal perhotelan layaknya pengusaha yang berpengalaman. Mas Juna berpikir kalau om Eka tulus apalagi sempat ada pembicaraan juga kalau om Eka tidak akan menempatkan Riana dalam kerjasama hotel. Awalnya memang begitu, om Eka terjun langsung dalam beberapa kali rapat penjajakan kerjasama. Pernah papi ikut sekali dalam pertemuan dengan om Eka. Mas Juna berpikir om Eka benar-benar tulus karena cukup lama Riana tidak ikut campur dan mengganggu Mas Juna. Hingga terakhir waktu papi di rumah sakit, Riana mulai menghubungi kembali tapi itu pun lewat Tino. Seharusnya yang datang ke kantor hari itu adalah Reynaldi, orang kepercayaan om Eka yang menangani bisnis hotel. Entah bagaimana Riana yang datang, Mas Juna juga nggak mau banyak tanya biar Riana nggak salah kaprah. Makanya Mas Juna ajak Tino ikut ke dalam ruangan dan tidak kasih keluar meski Riana sudah memintanya.”


“Kenapa Mas Juna nggak pernah cerita sama Cilla kalau diam-diam om Eka menemui Mas Juna ? Pasti semua itu karena permintaan Riana. Om Eka itu manjain Riana banget.”


“Karena Mas Juna berpikir om Eka itu temannya papi dan hanya berniat berbagi ilmu. Dan masalah Riana sepertinya yang Cilla bilang itu benar banget. Dan Mas Juna nggak nyangka kalau om Eka nggak benar-benar tulus membantu Mas Juna.”


“Sepertinya papi tahu ada maksud tersembunyi dari sikap om Eka yang memaksa ingin bekerjasama dengan Hotel Prisma, makanya papi memutuskan untuk mengalihkan masalah hotel menjadi tanggungjawab Kak Theo biar Mas Juna nggak diatur-atur sama om Eka apalagi Riana. Selain itu supaya beban tugas Mas Juna berkurang.”


“Iya, awalnya Mas Juna berpikir kalau perubahan itu karena papi nggak percaya dengan kemampuan Mas Juna sampai membuat Mas Juna kecewa. Tapi setelah Theo dan om Budi menjelaskan detilnya pada Mas Juna, Mas Juna baru mengerti. Papi bukan nggak percaya sama Mas Juna tapi nggak percaya pada om Eka. Mas Juna minta maaf ya melimpahkan semua rasa marah dan kecewa sama Cilla,” Arjuna mengusap kepala Cilla dengan penuh cinta.


Cilla hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak lama, mobil yang dibawa Arjuna masuk ke dalam halaman rumah dan ternyata Bang Dirman sudah sampai duluan.


“Mas Juna hanya perlu ingat kalau hubungan cinta itu bisa berjalan dengan baik bukan karena kita sama-sama sempurna, tapi karena kita banyak kekurangan hingga membutuhkan teman hidup untuk menjadi pelengkapnya. Jangan berusaha menjadi suami yang sempurna untuk Cilla karena yang Cilla harapkan adalah suami yang membutuhkan Cilla karena ketidaksempurnaannya. Tugas Mas Juna bukan hanya menjaga dan mencintai Cilla sebagai tanggungjawab semata tapi karena Cilla adalah bagian dari diri Mas Juna, separuh hidup Mas Juna.”


“Iya, Cilla benar. Terkadang Mas Juna hanya terpaku pada janji Mas Juna pada papi untuk selalu menyayangi dan menjaga Cilla,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


Cilla ikut tertawa dan membalas genggaman Arjuna yang menuntunnya ke kamar mereka.


“Cilla mau bersih-bersih dulu soalnya habis naik motor,” ujar Cilla saat keduanya sudah di dalam kamar.


“Mas Juna rebahan dulu, ya.”


Cilla mengangguk dan mengambil pakaian tidur lalu masuk ke kamar mandi.


Limabelas menit kemudian, Cilla keluar dari kamar mandi dan melihat Arjuna sudah tertidur pulas di ranjang dengan posisi menelungkup. Cilla mematikan lampu besar dan membiarkan lampu kecil di samping ranjangnya menyala.


Lili : kemana aja, Bocil, udah bikin suami kebakaran jenggot.


Febi : Wooiii inget udah jadi istri, jangan suka kabur-kaburan. Kalau ada masalah diberesin bukan melarikan diri.


Jovan : Cilla jangan kelamaan perginya, gue sama Amanda bisa pusing kalau ditanya sama mertua elo.


Cilla tersenyum membaca pesan di grupnya.


Cilla : Gue kagak kabur, cuma cari minuman manis doang. Ini udah bobo cantik lagi di sebelah Mas Juna.


Lili : Bagus deh… Kalau baca-baca novel dan dengar petuah orangtua, masalah suami istri paling ampuh diselesaikan di ranjang 🤭🤭😂🤣🤣


Jovan : Boleh dicoba tuh, Cil. Siapa tahu Pak Juna nggak gampang sensi dan baper.


Febi : kayaknya Cilla belum di-unboxing 🤣🤣🤣


Jovan : ya ampun Cilla 😱😱 Elo udah berapa lama nikah sama Pak Juna ? Untung punya suami yang dewasa dan pengertian.


Lili : udah sana kasih full service biar segala ketegangan dan kecemasan Pak Juna tersalurkan. Mumpung masih libur panjang.


Cilla : penting banget membahas soal unboxing ? Lagian apa hubungannya dengan libur panjang ?


Lili : kata orang cewek bakal ada masalah jalan waktu pertama kali unboxing 🤭🤭


Febi : Sotoy apa pengalaman pribadi


Lili : eh gue masih ting tong ya... Cowok aja belum punya, gimana mau uji coba.


Jovan : dasar cewek G-I-L-A !!! Elo kira mobil pakai test drive segala ?


Cilla : udah tidur, gue dah ngantuk. Bye.


Lili : cie… cie… kayaknya ada yang mau langsung praktek malam ini nih.


Cilla sudah meletakkan handphone di nakas dan memandang Arjuna yang tampak kelelahan. wajah Arjuna juga sedikit tirus hingga tulang pipinya terihat lebih menonjol.


Sepertinya Cilla kurang memperhatikan Arjuna akhir-akhir ini karena pikirannya dipenuhi dengan masalah papi. Cilla mengusap pipi Arjuna, membuat pria itu membuka matanya yang kelihatan cukup berat karena terlalu mengantuk.


“Sini bobo peluk sama Mas Juna,” Arjuna tidur terlentang dan memberikan salah satu lengannya untuk menjadi bantalan Cilla.


Cilla pun naik ke ranjang dan tidur memeluk Arjuna. Hati Cilla merasa tenang setelah beberapa hari ini tidur berjauhan.


“Kangen,” ujar Arjuna dengan suara pelan dan mata terpejam. Tangannya yang lain mengusap-usap punggung Cilla.


“Mas Juna kurusan, ya ?”


“Nggak tahu, nggak timbang.”


“Capek banget sama kerjaan ya ?”


“Nggak sama sekali.”


“Kalau malam ini…” Cilla mengerutkan dahi dan tidak jadi meneruskan kalimatnya karena suara dengkuran Arjuna tertangkap telinganya.


Selama menikah, belum pernah mendengar Arjuna mendengkur cukup keras seperti sekarang ini.


“Mas Juna pasti capek banget, ya,” Cilla kembali mengusap wajah Arjuna. “Makanya gampang emosi, sensi dan baper. Maaf Cilla masih kurang peka melihat kebutuhan Mas Juna. Jovan bilang tadi Cilla beruntung banget punya suami kayak Mas Juna yang dewasa dan pengertian, nggak menuntut hak Mas Juna dan setia menunggu karena Cilla belum siap.”


Cilla meneteskan air mata sambil terus mengusap wajah Arjuna dari ujung rambut sampai ke dagunya.


“Maaf,” lirih Cilla sambil mencium pipi Arjuna cukup lama.


Arjuna hanya menggeliat sebentar namun tidak membuka matanya. Dengkurannya sudah tidak sekeras tadi tapi masih terdengar dengkuran halus dalam tidur Arjuna.


Cilla duduk di atas ranjang sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Terlihat Arjuna sudah bangun dan sedang memasukan pakaian ke dalam koper kecil.


“Mas Juna mau kemana ?” tanya Cilla dengan nada khawatir.


Cilla segera menyibakkan selimut dan bergegas menghampiri Arjuna. Suami tampannya itu terlihat sudah mandi. Wangi aroma sabun membuat Cilla ingin memeluknya.


“Mas Juna lagi siapin baju buat ke Batang besok. Kalau Cilla mau menginap di rumah mama nggak masalah, besok pagi biar Bastian jemput Mas Juna di sana.”


“Jadi Cilla nginap di rumah mama selama Mas Juna pergi ?”


“Terserah Cilla aja, yang penting Cilla nyaman.”


“Boleh peluk ?” tanya Cilla saat Arjuna selesai menutup tasnya. Arjuna berbalik dan merentangkan tangannya. Cilla tersenyum lalu berhambur ke pelukan Arjuna.


“Jangan lama-lama perginya.”


“Nggak, paling lama 3 hari. Bastian juga nggak mau lama-lama tinggalin istrinya yang lagi hamil besar.”


“Kalau nanti Cilla hamil, Mas Juna kayak gitu juga ?”


“Udah pasti,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


“Mau buat dedek bayi ?” tanya Cilla sambil mengerjapkan matanya.


“Malam pertama aja belum jadi-jadi,” Arjuna tertawa. “Lagipula Cilla kan maunya nanti pas tingkat dua, jadi program dedek bayinya nggak apa-apa ditunda tahun depan.”


“Kalau malam pertamanya ?” wajah Cilla terihat malu-malu.


“Sudah siap beneran nih ?” Arjuna menoel hidung Cilla sambil tertawa.


”Kan dari waktu itu juga udah siap, cuma ada aja gangguannya.”


“Mas Juna akan atur waktu sekalian kita bulan madu. Cilla maunya kemana ? Nanti Mas Juna aturin waktunya.”


“Beneran ? Serius ?” tanya Cilla bersemangat.


“Iya beneran,” Arjuna mengangguk dengan senyumannya.


“Cilla ikut aja kemana Mas Juna ajak. Udah lama Cilla nggak liburan selain ke Semarang dan sekitarnya. Jadi selain pulau Jawa, Cilla mau aja. Ke Bali aja Cilla belum pernah.”


“Ya udah, Mas Juna akan aturin secepatnya, ya.” Arjuna menangkup wajah Cilla, hendak mencium bibir mungil Cilla namun gadis itu menghindar.


”Belum mandi, nanti aja kalau Cilla udah wangi,” Cilla berusaha melepaskan pelukan Arjuna.


”Tetap wangi kok biar belum mandi,” goda Arjuna yang malah menarik Cilla dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya, lalu mengecup bibir Cilla sekilas.


“Mas Juna,”pekik Cilla saat Arjuna mendusel-dusel wajahnya ke ceruk leher Cilla. “Kumis Mas Juna tajam.”


“Mana ? Nggak ada kok,” Arjun mengusap dagunya.


”Bulu-bulu halus yang baru tumbuh jadi tajam,” gerutu Cilla.


Arjuna malah kembali sengaja menghujani Cilla hingga istrinya itu terkekeh kegelian.


“Kalau nggak ingat papa minta kita datang sebelum makan siang, udah Mas Juna eksekusi malam pertama kita.”


“Kan namanya malam pertama, masa dieksekusinya pagi-pagi begini ?” Cilla melepaskan pelukan Arjuna dan segera menjauh.


“Memangnya ada aturan tertulis ?” ledek Arjuna mengikuti Cilla. “Atau mau nanti malam aja ?”


Cilla hanya terdiam dengan wajah mulai memerah karena malu.


“Gimana ?” Arjuna memeluk Cilla dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Cilla.


“Nggak mau kalau di rumah mama,” tolak Cilla.


”Kenapa ?”


“Nanti kalau Cilla menjerit kesakitan terus pada dengar kan Cilla malu.”


Arjuna langsung terbahak dan mengacak rambut Cilla dengan wajah gemas.


“Kata siapa kalau malam pertama perempuannya harus menjerit ? Kan bisa pelan-pelan,” tanya Arjuna di sela tawanya.


“Nggak tau ah…”


Dengan terburu-buru Cilla membawa pakaian ganti menuju kamar mandi, namun karena terlali tergesa, penutup dadanya terjatuh dekat kaki Arjuna.


“Mau mancing-mancing Mas Juna nih ?” Arjuna mengambil pakaian dalam Cilla sambil tertawa.


Cilla langsung melotot dan menarik miliknya dari tangan Arjuna lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


”Jangan lupa dikunci, takutnya Mas Juna nggak bisa nahan diri terus nerobos masuk.”


“Guru mesum,” cebik Cilla sebelum menutup pintu dan menguncinya.


Arjuna tergelak melihat tingkah Cilla yang masih terlihat malu-malu meski mereka sudah menikah lebih dari dua bulan.


Sepertinya rencana bulan madu adalah pilihan terbaik saat ini untuk mengeratkan hubungannya dengan Cilla setelah melewati banyak hal di awal pernikahan mereka.