
Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian Luna yang kegep dengan pria lain. Meski malam itu Arjuna sempat sulit memejamkan mata, di pagi hari suasana hatinya justru lebih baik. Ada rasa lega karena akhirnya mendapat kejelasan tentang alasan sikap Luna akhir-akhir ini. Arjuna berharap, hatinya benar-benar bisa membuang wanita itu dalam hidupnya.
Arjuna baru saja berjalan keluar dari kantor guru menuju kelas XII IPS-2 di lantai 3, saat matanya menangkap sosok Cilla ada di dekat lapangan basket bersama dengan Jovan.
Terlihat keduanya sedang adu mulut dan Cilla menepiskan tangan Jovan yang berusaha menahannya.
Arjuna mengerutkan dahinya. Bagaimana kedua anak itu bisa ada di luar kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung ? Arjuna tersenyum, ia yakin kalau Jovan mendapati Cilla sedang bolos pelajaran dan memintanya kembali ke dalam kelas.
Arjuna menggelengkan kepala masih dengan senyuman di bibirnya. Anak satu itu memang sangat labil jiwanya. Perubahan suasana hatinya terutama saat berada di sekolah, sering tidak bisa ditebak.
Arjuna tidak lagi memikirkan tentang Jovan dan Cilla karena langkah kakinya sudah sampai di depan kelas XIi IPS-2.
Jam istirahat semua murid keluar dari kelas, termasuk Cilla, Febi dan Lili. Ketiganya bergegas ke kantin karena merasakan perutnya sudah bersimfoni minta diisi.
Seperti biasa, Cilla dan Febi mencari tempat sementara Lili langsung memesan makanan untuk mereka bertiga. Selalu satu menu untuk bertiga, supaya tidak susah dan lama mengantri.
Cilla sedang mengobrol dengan Febi saat dirinya merasa ada air lengket membasahi rambutnya.
“Uppss sorry nggak sengaja,” Sherly dengan gaya centilnya langsung tersenyum sok manis saat Cilla menoleh melihat pelaku penyiraman rambutnya.
Matanya membelalak sambil berdiri dari bangkunya.
“Eh cabe, elo yakin nggak sengaja ?” Cilla mendekatkan wajahnya ke arah Sherly yang tersenyum sinis.
“Terserah kalau elo nggak percaya,” ujar Sherly dengan wajah yang pura-pura polos. “Ita sama Susan bisa jadi saksinya.” Sherly melirik dua temannya yang langsung mengangguk.
Cilla mengambil tissue yang diberikan oleh Febi.
“Elo pikir gue se-bego itu jadiin komplotan elo sebagai saksi. Lantai kantin ini bersih, mulus, kagak ada lobang apalagi batu kerikil jadi mana ada cerita elo kesandung ?” Suara Cilla meninggi dengan posisi bertolak pinggang.
Jovan yang baru saja masuk ke kantin segera mendekat dan berusaha memisahkan Cilla dan Sherly yang saling mendekat.
“Ada apaan lagi, sih ?” Jovan memberi kode pada Febi dan Susan yang berada di belakang kedua cewek ini supaya membantunya menahan kedua cewek ini jangan sampai adu fisik.
“Elo memang bukan anak bego, tapi nggak punya tata krama,” Sherly tersenyum sinis. “Karena merasa elo anak pemilik sekolah makanya bisa nuduh orang sembarangan ?”
“Mulut elo emang kayak ember sobek,” Cilla berdecih sinis. “Muka boleh cakep, mulut kayak kagak sekolah. Pantes aja cowok-cowok kagak minat kalo udah deket sama elo. Bisanya jual tampang sama bodi doang !”
“Apa lo bilang ?” Sherly mendorong bahu Cilla dengan kasar hingga gadis itu terbentur ujung meja. “Mulut elo yang kagak sekolah ! Kerjaan cuma keluar masuk ruangan BK. Pantas aja bapak lo nggak pernah anggap punya anak. Kelakuan elo cuma bisa bikin malu orangtua !”
Cilla mengepalkan kedua tangannya. Baru ia ingin maju mendekat ke Sherly, namun Jovan menahannya dan menggeleng saat Cilla menatapnya penuh emosi.
“Lepasin gue !” Cilla memberontak saat Jovan menahannya.
Jovan bahkan memberi isyarat pada Denni yang datang ke kantin bersamanya untuk menjauhkan Sherly dari Cilla.
Belum sempat Denni membawa Sherly menjauh, tangan Cilla mengambil mangkok bakso yang baru saja dibawa oleh Lili dan menyiramkannya ke bagian rok Sherly.
“Cilla !” Pekik Jovan sambil melotot.
Sherly yang tersiram kuah panas dengan gaya lebaynya berteriak kepanasan. Cilla tersenyum sinis.
Ita dan Susan dibantu dengan Denni membawa Sherly ke UKS.
“Dasar lebay !” Desis Cilla masih dengan senyuman sinisnya.
“Cilla !” Suara Bu Retno di depan pintu kantin membuat semua anak-anak sedikit menyingkir.
“Baru sebulan di kelas XII, kamu sudah cari masalah lagi !” Tegur Bu Retno yang sekarang berdiri di samping Jovan.
“Bukan saya yang cari masalah, Bu,” protes gadis itu sambil membalas tatapan Bu Retno dengan berani.
Cilla menghela nafasnya. Dia menghentakkan lengannya yang masih dipegang oleh Jovan.
“Jangan sok peduli sama gue. Urus aja noh pacar lo yang suka cari perhatian. Cewek jablai, demennya cari perhatian.”
Cilla berjalan keluar kantin menuju ruang BK sesuai permintaan Bu Retno.
“Gue temenin, Cil,” Febi menyusulnya.
Cilla menghentikan langkahnya dan menggeleng sambil memberi isyarat ke Febi supaya balik ke kantin.
“Tolong cariin gue baju ganti aja ya. Lengket semua.”
Cilla menunjuk kemejanya yang berwarna kemerahan terkena siram minuman Sherly.
Sampai di ujung tangga lantai 2 yang berada persis dekat kantor guru, Arjuna yang sedang menikmati makan siangnya sambil ngobrol dengan Dono, langsung menoleh saat melihat Cilla berjalan sendiri dengan kondisi kemejanya sebagian berwarna merah.
“Paling habis berantem lagi tuh anak,” ujar Dono sambil tertawa pelan.
“Memang sering berantem sama siapa ?”
“Cewek-cewek juga lah, Jun. Mana ada cowok berantem pakai acara siram-siram begitu.”
“Sering ?” Arjuna masih bertanya meski pandangan matanya masih mengikuti Cilla yang melewati lorong depan ruang kepala sekolah.
“Sejak kelas 1,” ujar Dono. “Tapi gue yakin bukan karena dia yang memulai. Anak-anak itu sering mengganggu Cilla terutama karena mereka iri sama tuh bocah.”
“Iri kenapa ?” Arjuna mengangkat sebelah alisnya. Pandangannya sudah beralih menatap Dono.
“Cowok lah, apalagi. Terutama Jovan yang sudah jadi bintang idola sejak kelas 10. Tapi sepertinya fokus Jovan hanya Cilla doang. Padahal secara fisik Sherly dan geng nya jauh lebih unggul, anak-anak orang kaya juga, Bro. Tapi nggak tahu kenapa, Jovan bucinnya cuma sama Cilla.”
Arjuna mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tuh lihat !” Dono menggerakan dagunya ke arah tangga tempat Cilla tadi terlihat. “Cowok bucin itu langsung siapin kemeja baru buat pujaannya. Secara usia dan ganteng, sepertinya Jovan lebih unggul dari elo, Bro.” Dono tergelak.
“Ya elah bambang, bagus lag kalo tuh bocah bisa menerima cinta dari cowok yang seumur sama dia. Bukannya malah baperan sama gurunya,” Arjuna terkekeh.
Dono sengaja diam dan fokus memandangi wajah Arjuna sambil sesekali menyipitkan matanya.
“Jangan aneh-aneh ya !” Arjuna melotot. Seakan bisa membaca pikiran Dono yang akan memprovokasinya soal Cilla.
“Gue udah serahkan tuh bocah buat Theo, “lanjut Arjuna.
“Eh Fergusso, elo kira Cilla itu barang yang bisa elo kasih ke siapa aja ? Tuh bocah juga belum tentu mau sama Theo.”
“Haiiss… tuh anak cuma pengen punya pacar yang dewasa dan mapan. Kebeneran aja ketemunya sama gue yang ganteng begini.” Arjun memegang kedua kerah kemejanya dengan wajah bangga.
“Lama-lama kalau dideketin sama Theo yang isi dompetnya unlimitted juga pasti bisa tergerak hatinya,” sahut Arjuna sambil mencibir.
“Eh Arjuna Hartono, Cilla nggak butuh cowok yang isi dompetnya unlimitted. Uang jajan dia aja kagak habis-habis. Lagian dia bapernya sama elo yang kerjaannya cuma guru bukan pas elo jadi CEO. Jangan samain dia dengan Luna, Jun,” ada nada kecewa di akhir kalimat Dono.
“Ah nggak yakin gue,” Arjuna mencebik. “Semua cewek sama aja, sukanya belanja dan untuk itu butuh duit. Bedanya ada yang langsung bereaksi kayak Luna, ada yang pura-pura jaim dulu kayak tuh bocah,” Arjuna tersenyum sinis.
Dono bangun dari kursinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terserah apa pendapat elo deh, Fergusso. Tapi gue kok merasa kalo elo itu lain di mulut, lain pula di hati.”
Dono langsung meninggalkan Arjuna sambil membawa piring bekas makannya.
Arjuna mendengus kesal. Bisa-bisanya Dono bilang seperti itu kepadanya. Mana ada seorang Arjuna bisa lain di mulut lain pula hatinya.