MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Minggu Tenang


Dua minggu berlalu sejak masalah Susan dan Glen terungkap, hidup Arjuna dan Cilla lebih tenang.


Keduanya bisa fokus dengan aktivitas masing-masing tanpa terganggu dengan urusan Glen dan kiriman foto dari Susan yang tujuannya merusak rumah tangga Cilla dan Arjuna.


“Masih berlanjut masalah pelakor dan pebinornya ?” ledek Luki yang baru saja masuk ruang kerja Arjuna bersama Tino dan Theo.


“Udah,” sahut Arjuna yang beranjak dari kursi kerjanya, bergabung dengan ketiga pria itu duduk di sofa.


“Arjuna lagi susun skenario mau bikin season ke-2 nya,” ledek Tino sambil terkekeh.


“Jadi beneran Susan yang kirimin foto-foto Cilla ke nomor elo ?” tanya Luki.


“Yups ! Dan dia ngaku tanpa harus dipaksa. Dasar perempuan, kena kedipan mata langsung isi otaknya keluar semua,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


“Glen gimana ? Masih berani ganggu Cilla ?” suara galak Theo membuat Arjuna langsung menoleh menatap sepupu istrinya yang gampang emosi.


”Kenapa nggak elo pindahin Cilla ke kampus lain, Jun ? Cari yang bebas dari orang-orang yang kenal sama elo berdua,” ujar Luki.


“Cilla nggak mau. Cilla bilang orang model kayak Glen nggak akan berhenti hanya karena Cilla pindah kampus. Glen ngomong begitu juga sama Cilla. Kemana pun Cilla menghindar, dia pasti bisa ketemuin,” sahut Arjuna.


“Elo harus menempatkan orang yang bisa menjaga Cilla di kampus, Jun ! Ngawasin Cilla terus-terusan kalau perlu sampai ke WC juga diikutin !” tegas Theo.


“Cilla nya nggak mau, dia bilang bisa jaga diri dan ada teman-temannya yang bakal membantu. Apalagi Cilla merasa dia bisa bela diri.”


“Jangan dengerin Cilla dong, Jun ! Elo kan suaminya, udah seharusnya Cilla nurut sama elo, masa elo yang nurutin apa maunya dia,” ujar Theo dengan wajah emosi.


”Bukan nggak mau, Theo, tahu sendiri kan gimana sifat sepupu elo itu. Cilla itu terbiasa mandiri dan butuh kepercayaan penuh, kalau dikekang dengan cara begitu bisa-bisa rumahtangga gue nggak tenang.”


Theo menggerutu kesal, karena apa yang dikatakan Arjuna memang betul, Cilla adalah perempuan yang keras kepala kalau berkaitan dengan keamanan dirinya sendiri.


“Elo nggak ada kasus apa-apa sama Glen kan, Jun ?” tanya Tino.


“Maksud elo ?” dahi Arjuna berkerut.


“Sikap Glen ini lebih dari obsesi, Jun. Agak pschyo menurut gue. Scary, man ! Secara keseluruhan gue lihat lebih ke masalah dendam prinadi sama elo dan dia menggunakan Cilla sebagai titik lemah elo.”


“Bukannya elo sempat dekat sama dia, Jun ? Kalian kan satu tim basket pas SMA ?” tanya Theo dengan alis menaut.


“Sejauh yang gue ingat sih begitu, berebutan cewek juga nggak. Pas jaman-jaman gue suka sama Luna, Glen suka sama yang lain. Dia bilang Luna bukan tipenya.”


“Elo yakin hubungan kalian mulus sampai lulus, Jun ?” tanya Tino berusaha meyakinkan.


Arjuna terdiam dan berusaha mengingat-ingat masa SMA nya. Selain dengan Theo, Luki dan Boni, Arjuna sempat dekat dengan Glen karena sama-sama satu tim basket sekolah mereka.


“Glen mulai menarik diri dari tim basket di awal jelas 12 padahal masih ada 1 pertandingan akbar yang harus diikuti sebelum siswa kelas 12 berhenti menjadi tim inti. Glen bilang dia lagi fokus dengan masalah keluarga dan persiapan PTN,” ujar Arjuna sambil mengingat tahun terakhirnya di SMA.


“Nggak ada yang cari tahu masalah keluarganya apa an ?” tanya Tino.


“Gue nggak sedekat itu sama Glen, No. Waktu SMA besties gue ya Theo, Luki sama Boni.”


“Geli besties,” Luki mencebik.


“BFF kalau begitu Bro, bukan besties,” ralat Tino sambil tertawa.


“Glen sedikit minder karena secara ekonomi keluarganya termasuk di bawah rata-rata,” ujar Arjuna.


“Ya udah, yang penting urusan Glen dan Susan vs Arjuna dan Cilla udah selesai. Sekarang waktunya membahas masalah pabrik yang akan diresmikan bulan depan,” ujar Luki menyudahi pembicaraan.


”Jadi pabrik udah siap untuk mulai beroperasi bulan depan ?” Arjuna menegaskan pada Luki.


“Laporan Dimas secara teknis mesin udah bisa beroperasi, untuk yang lainnya gimana, Ki ?” tanya Theo.


Luki menjelaskan secara garis besar persiapan operasional pabrik dan rencana peresmiannya.


Arjuna tersenyum tipis membahas soal pabrik di Batang, kenangan Papi Rudi melintas dalam ingatan Arjuna.


Mertua Arjuna itu menjual hampir 90% asetnya untuk dilebur menjadi satu pabrik baru di bawah bendera PT Indopangan demi putri tunggalnya Cilla.


Papi Rudi ingin Arjuna fokus pada satu bidang usaha supaya tetap memiliki waktu untuk istri dan anak-anaknya.


Arjuna kembali tersenyum tipis. Perjalanan hidup mertuanya tidaklah mudah tapi putrinya tumbuh menjadi gadis kuat yang mandiri dan istri yang sempurna di mata Arjuna


*****


“Gue dengar elo ada masalah sama Pak Glen ?” tanya Febi saat ketiga besties ini sedang santai di cafe yang ada dekat kampus.


“Ternyata gue cukup populer di kampus, ya ?” Cilla tertawa pelan sambil menikmati fettucini pesanannya.


”Bukan elo yang populer, tapi Pak Glen yang terkenal dodol !” Lili mencebik sambil melempar tisu ke arah Cilla.


“Dosen paling tampan yang masih single,” lanjut Lili.


“Terus elo tahu darimana kalau gue ada masalah ?”


“Adik ipar elo lah, siapa lagi sumbernya,” sahut Febi.


“Haiiss penyiar radio juga tuh anak. Bisa-bisanya langsung siaran kemana-mana, sampai masalah kakak iparnya aja langsung jadi trending topik,” Cilla cekikikan.


“Bukannya Pak Glen itu temannya Pak Juna ? Seingat gue elo pernah cerita ketemu dia pertama kali pas lagi kabur ke Semarang ?” tanya Febi menautkan alisnya.


“Nggak usah nyebut kabur napa, sih ?” Cilla cemberut. “Bukan kabur tapi menenangkan diri gara-gara suami ditempelin ulat bulu.”


“Dasar bocil demennya kabur-kaburan kalau berantem sama suami,” ledek Lili.


“Untung aja suami elo udah dewasa, istri ngambek masih dicariin sampai ke Semarang,” timpal Febi sambil tertawa.


”Duh amit-amit deh,” Lili mengetuk-ngetuk meja.


“Terus lanjut masalah Glen,” ujar Febi sambil merubah posisi duduknya menghadap ke arah Cilla.


Cilla pun menceritakan kembali pertemuannya dengan Glen di Semarang, lalu bertemu kembali di pernikahan Boni dan Mimi.


Yang tidak terduga adalah pertemuan kembali di kampus dengan status Glen sebagai dosennya.


“Kalian kenal Ibu Susan ?” tanya Cilla menatap kedua sahabatnya bergantian.


Febi menganngguk sementara Lili menggeleng.


“Dosen jurusan akuntansi, Li. Elo mah fokusnya sama Pak Glen doang padahal udah punya Dimas,” ejek Febi.


“Buat cuci mata doang, Feb. Gue masih setia sama Dimas. Lagian cari calon suami yang pasti-pasti aja. Pak Glen menarik untuk dipandang doang, secara pribadi gue nggak tertarik untuk jadiin pacar.”


“Serius amat sih ibu satu ini. Memangnya Pak Glen ada minat jadiin elo pacarnya ?” ledek Cilla sambil tertawa.


Cilla pun melanjutkan ceritanya soal Susan yang merupakan mantan pacar 48 jam Arjuna saat masih SMP. Bagaimana dosen Akuntansi itu mengirimkan foto kegiatan Cilla di kampus terutama dengan Hans dan Glen.


”Ya ampun Cilla, hidup elo sama Pak Juna ruwet banget, sih. Baru keluar rumah sebentar udah digangguin aja sama buaya dan ulet keket.”


“Maklum holang kaya, Li. Udah gitu modal muka juga udah ada. Nggak ingat kalau Pak Juna memang punya banyak penggemar dari dulu ?”


“Kalau Pak Juna dimaklumi, cakepnya memang bikin ciwi-ciwi pada melehoy dan klepek-klepek. Kalo emaknya Sean, sejak kapan punya penggemar ?”


“Asem lo !” Cilla mengomel sambil mencebik.


Febi mengamati Cilla dari ujung rambut sampai ke kaki yang terlihat.


“Elo sih memang terlihat lebih menarik, Cil,” ujar Febi sambil memegang ujung dagunya. “Lebih berisi dan cakepan.”


Cilla mencibir pada Febi dengan wajah ditekuk. Sisa minumannya langsung ditenggak habis.


“Jadi beneran prinsip jaman sekarang kalau janda dan duda lebih menggoda daripada perawan sama perjaka,” ujar Lili sambil tertawa.


“Dasar teman somplak, masa doain gue sama Mas Juna jadi duda sama janda. Mereka berdua aja yang kurang kerjaan, demennya cari pacar yang menguji adrenalin.


Udah terang-terangan gue bilang kalau gue ini udah nikah dan punya anak, bukannya mundur malah makin agre.”


“Gimana kalau Febi aja yang gantiin elo ? Tinggal pilih Feb mau Pak Glen apa Hans,” ledek Lili melirik sahabatnya.


“Eh elo kira film action perlu peran pengganti ?” Febi melotot melihat Cilla dan Lili yang tergelak sampai bertos ria.


“Kayaknya elo cocok juga sama Hans, Feb,” ujar Cilla di sela-sela tawanya.


“Eh kita lagi membahas skandal elo di kampus, kenapa jadi gue yang ketiban buntutnya. Ogah banget kalau disuruh pacaran sama cowok bekas penggemar elo.”


“Nyindir ?” Lili langsung melirik tajam.


“Besties sih besties, masa pacar gue harus mantan penggemar Cilla juga,” sindir Febi melirik Lili.


“Asem lo Feb !” Lili mengomel sambil melotot.


“Terus update nya gimana sekarang ?” tanya Lili.


“Sementara kondisi aman setelah Mas Juna menemui dua orang itu, maksud gue Pak Glen dan Ibu Susan. Kalau Hans, gue udah jarang ketemu.”


Ketiganya sudah selesai makan dan membayar pesanan mereka.


“Loh itu bukannya Amanda sama Jovan ?” tanya Cilla dengan mata menyipit saat mereka sampai di luar cafe.


Di parkiran terlihat Jovan dan Amanda sedang duduk di dalam mobil dengan posisi Amanda menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Kayaknya lagi berantem,” ujar Febi.


“Kayaknya hubungan mereka lagi berada di ujung tanduk,” ujar Lili dengan dahi berkerut.


“Jangan sotoy, deh !” Cilla menyenggol bahu Lili. “Amanda nggak cerita apa-apa soal Jovan.”


Ketiganya masih terpaku dengan tatapan masih fokus ke arah mobil Jovan hingga tidak sadar saat Amanda turun dari mobil.


“Kalian ngapain ada di sini ?” ketus Amanda.


Ketiga besties saling bertukar pandang dan akhirnya Cilla yang menjawab.


“Habis makan, Manda. Ini kan cafe, masa habis nonton film.”


“Elo bawa mobil ?” tanya Amanda menatap Cilla.


“Nggak, dijemput Bang Dirman. Kenapa ?”


“Gue ikut pulang ke rumah elo,” ujar Amanda sambil menutup pintu mobil dengan cukup keras membuat Jovan yang baru saja turun terlonjak kaget.


“Bukannya ada Jovan ?” Lili , si cewek sedikit lemot itu malah bertanya dengan wajah polos.


Febi langsung menyikut lengan Lili yang langsung sadar dan tertawa canggung.


Cilla mengiyakan permintaan adik iparnya biar Jovan lebih tenang karena Amanda yang sedang emosi tidak pulang sendirian.


Tanpa berpamitan dan wajah ditekuk, Amanda langsung berjalan menuju mobil yang disopiri Bang Dirman.


Cilla memberi isyarat pada teman kecilnya dan setelah berpamitan pada Lili dan Febi, Cilla menyusul Amanda yang sudah duduk di kursi penumpang belakang.