
“Yakin nggak mau diantar sampai depan gerbang ?” Arjuna memastikan lagi sebelum Cilla turun dari mobilnya.
Tidak ada bulan madu setelah pernikahan Cilla dan Arjuna. Senin pagi keduanya mulai beraktivitas seperti biasa. Sejak resmi keluar dari SMA Guna Bangsa, Arjuna kembali rutin ke kantor.
“Iya, cukup sampai di sini aja,” Cilla meyakinkan suaminya. “Sherly sedang cari masalah soal urusan Mas Juna berhenti jadi guru. Kalau semua ujian sudah beres, dengan senang hati Cilla mau diantar Mas Juna sampai ke parkiran. Sekalian pamer biar cewek-cewek pada patah hati.”
“Duh sombongnya anak pemilik sekolah,” Arjuna tertawa sambil mengacak poni Cilla.
“Yang penting nggak merugikan orang lain,” jawab Cilla sambil tertawa.
Arjuna menahannya sebelum tangan Cilla membuka pintu mobil.
“Ini kartu ATM untuk keperluan Cilla kalau mau belanja-belanja bahan makanan. Kemarin kan peralatan masak dan bahan makanan sudah kita beli, kalau ada yang kurang pakai uang ini aja. Sekalian buat uang jajan Cilla. Mas Juna sudah minta papi stop transferin uang bulanan buat Cilla.”
“Duuhh senangnya punya suami pengertian,” Cilla menoel dagu Arjuna sambil tertawa.
“Sudah dipuaskan perutnya sama masakan istri, suami yang baik perlu memberikan apresiasi. Apalagi kalau istri sudah bisa memuaskan yang lainya,” ledek Arjuna sambil tertawa.
“Tunggu sebentar lagi, Sayang,” Cilla mengedipkan sebelah matanya.
“Ternyata baru 24 jam istriku sudah pintar merayu dan membalas ciuman suaminya,” gantian Arjuna mengedipkan sebelah matanya.
“Mas Juna iiihh… Bikin malu aja,” wajah Cilla langsung merona saat diingatkan soal kemajuannya membalas ciuman Arjuna.
“Udah sana turun, nanti terlambat,” Arjuna membelai kepala Cilla dengan penuh rasa sayang.
“Semangat cari uangnya, suamiku,” Cilla mengangkat kepalan tangannya memberi semangat.
“Belajar yang rajin, istriku,” balas Arjuna meledek Cilla. “Biar bisa cepat memberikan kehangatan di malam-malam panjang untuk suami tersayang.”
“Nggak ada hubungannya !” Cilla mencibir dan kembali tangannya batal membuka pintu karwna Arjuna langsung menariknya dan memberikan ciuman di bibir Cilla.
“Jangan lupa kiss kiss nya sebelum turun,” tegas Arjuna. Cilla kembali tersipu dan mengangguk.
Tanpa bicara apa-apa lagi Cilla langsung bergegas turun membuat Arjuna tertawa di dalam mobilnya. Istri kecilnya masih malu-malu kalau diberi ciuman di bibir.
Arjuna masih rnenunggu di mobilnya, mengawasi Cilla yang masih perlu berjalan kaki sejauh 200 meter menuju gerbang sekolah Guna Bangsa.
Arjuna tersenyum mengingat pagi ini Cilla menyiapkan sarapan nasi goreng untuknya.
Masakan sederhana tapi rasanya membuat Arjuna ketagihan. Ternyata istri kecilnya memang wanita yang mandiri. Di dalam kesendiriannya, Cilla banyak belajar dengan para pelayan di rumahnya terutama Bik Mina.
Dengan penuh semangat Cilla bercerita kalau ia mengisi waktu luangnya dengan belajar memasak, memcuci dan setrika baju termasuk juga membersihkan rumah
Tidak ada dalam benak Arjuna menyuruh istrinya menjadi wanita serba bisa, tapi ternyata Cilla sudah membekali dirinya dengan berbagai ketrampilan dan kemampuan layaknya seorang istri.
Arjuna membunyikan klakson saat mobilnya melewati Cilla yang hampir sampai di gerbang utama. Cilla hanya menoleh dan tersenyum tanpa berani melambaikan tangan.
Di kejauhan, baik Cilla maupun Arjuna tidak sadar kalau sedari tadi mereka jadi pusat perhatian dewi jadi-jadian SMA Guna Bangsa.
Cilla baru saja tiba di depan gerbang gedung SMA saat suara cempreng Lili memanggil namanya.
“Apa kabar pengantin baru ?” Lili langsung merangkul Cilla dari belakang.
“Lili !” Cilla langsung melotot. “Sekalian pinjam toa dan teriak di lapangan.”
“Dasar corong !” omel Febi yang tadi jalan bersama Lili.
“Selamat pagi calon kakak ipar,” suara Jovan ikut bergabung dengan ketiga cewek itu.
“Ini lagi satu,” Febi menyikut perut Jovan membuat cowok itu meringis.
“Ada apa lagi sih ?” suara Jovan berubah pelan. Matanya langsung melirik ke kiri dan kanan.
“Elo berdua lagi nanya apa kasih pengumuman,” omel Febi sambil melotot ke arah Jovan dan Lili. “Jangan cari perhatian dulu soal Pak Juna dan Cilla sampai ujian sekolah selesai.”
“Oke boss !” Jovan mengangkat tangan dan menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.
“Jadi gimana malam pertamanya ?” bisik Jovan sangat pelan di telinga Cilla.
Cilla bergidik geli dan langsung melotot menatap sahabat kecilnya itu.
“Kepo banget sih jadi cowok !” gerutu Cilla. “Tanya langsung sama calon kakak ipar lo kalau berani.”
“Ya ampun Mak, mana gue berani. Pasti laki elo takut lah berbagi pengalaman sama gue. Kalau ilmunya patut ditiru, dia pasti takut gue mempraktekan sama adiknya.”
“Kayak udah fixed elo bakalan jadi sama adiknya Pak Juna,” ejek Febi sambil mencebik.
“Diusahakan jadi,” sahut Jovan penuh rasa percaya diri.
“Eh Ferguso,” Lili menepuk bahu mantan ketos itu. “Hidup, mati, rejeki, jodoh itu udah ada yang ngatur. Segigih apapun elo berusaha, kalau memang bukanbagian elo nggak bakal bisa dapat. Tuh contohnya udah ada di depan mata,” Lili melirik ke arah Cilla.
“Ya didoain aja pelit amat, sih !” gerutu Jovan. “Siapa tahu kalau banyak yang doain, harapan gue bisa terwujud.”
“Dalam mimpi,” celetuk Febi sambil tertawa. Lili mengangguk dan langsung mengajak Febi tos.
“Dasar cewek-cewek bar bar, nggak ada kasihan-kasihannya sama nasib teman sendiri.”
“Memangnya elo pernah kasihan sama gue yang ngejar cinta elo sampai 3 tahun ?” ujar Lkli dengan tatapan sinis.
“Eh tralala trilili, elo kira gue nggak mengalami nasib yang sama ? Lebih lamaan gue nungguin Cilla. Sembilan tahun, Sis. Untungnya di penghujung jalan gue sadar kalau perasaan gue bukan cinta.”
“Cowok obses,” ledek Febi.
“Bukan cinta bukan obses,” Jovan memasang wajah serius. “Tapi rasa bersalah doang.”
“Diihh sok bijaksana bijaksini banget,” Cilla ikut mencibir sambil cekikikan.
Sampai di lantai 3 langkah mereka terhenti oleh Sherly, Merry dan Susan. Ketiganya seperti sudah menunggu mereka dengan posisi tatapan sinis dan tangan ketiganya melipat di depan dada.
Cilla menahan Febi yang hendak duluan membuka jalan. Sesuai dugaannya kalau Sherly tidak akan puas dengan kejadian hampir sebulan lalu.
Jovan urung ke kelasnya. Ia berdiri di ujung tangga memperhatikan apa yang akan dilakukan Sherly pada sahabatnya.
“Permisi,” ujar Cilla sopan saat berusaha melewati ketiga dewi jadi-jadian itu.
“Sombong untuk apa ?” Cilla menautkan kedua alisnya.
Meski ia tahu topik yang jadi sumber kekesalan Sherly tapi bagi Cilla tidak penting untuk memperpanjang masalah.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Biasanya kesombongan akan membuat orang semakin mudah jatuh.”
Merry dan Susan menepi, membiarkan Cilla lewat karena bel tanda masuk berbunyi.
“Masih nggak puas tuh cewek soal Pak Juna ?” tanya Lili saat ketiganya sudah duduk di dalam kelas.
“Iya dan sepertinya masalah nggak akan berhenti sampai di sini,” ujar Cilla sambil menarik nafas panjang.
“Jangan khawatir, akan banyak yang jadi pendukung elo di sini. Udah pasti kita bertiga nggak akan membiarkah tuh lampir mengusik elo,” ujar Lili.
“Udah mau lulus aja pakai cari masalah,” gerutu Febi.
Cilla mengambil handphonenya yang bergetar di saku rok seragamnya.
Terlihat ada pesan masuk dari Jovan ke nomor pribadinya, bukan di grup.
Jovan : Elo nggak apa-apa, Cil ?
Cilla : Belum puas tuh dewi jadi-jadian soal Pak Juna.
Jovan : Elo nggak mau omongin masalah ini sama Pak Slamet dulu ? Beliau kan tahu banget masalah elo sama Pak Juna dari awal.
Cilla : Baru ancaman, belum ada buktinya. Guru dah masuk.
Cilla pun meletakan handphonenya di dalam tas dan memusatkan perhatiannya pada Dono yang akan memberikan pengayaan untuk persiapan ujian sekolah dua minggu lagi.
Tapi keinginan tidak sesuai harapan. Ucapan Sherly merasuki pikiran Cilla hingga membuyarkan fokusnya pada pelajaran pagi ini.
Bukan karena takut menghadapi Sherly dan mamanya yang nyinyirnya melebihi nenek lampir, tapi khawatir kalau sampai masalah ini membuat papi Rudi harus turun tangan.
Huufftt… Cilla menarik nafas panjang. Rasanya kalau lagi galau begini, kehadiran Arjuna akan berarti buat kasih semangat lagi. Sayangnya guru tampan yang berstatus suaminya itu tidak ada lagi di sekolah ini, berdiri di depan kelas, sekedar untuk jadi pemandangan indah yang selalu memberi warna dalam hari-hari Cilla di penghujung perjuangannya saat SMA.
Mas Juna, Culla kangen banget dan butuh Mas Juna sekarang, batin Cilla.
Terlalu asyik dengan lamunannya, Cilla nggak sadar kalau Dono sudah berdiri di sampingnya. Padahal sejak tadi Lili sudah memanggil-manggil Cilla ingin memberitahu kalau sahabatnya itu diperhatikan Dono.
“Badan kamu di kelas, tapi pikiranmu nggak di sini. Untung nggak keisi sama yang lain. Kamu masih Priscilla, kan ?”
Spontan ucapan Dono mengundang tawa teman-teman sekelas Cilla membuat wajah gadis itu langsung merona.
Cilla sengaja memasang wajah polos dan matanya mengerjap-ngerjap.
“Apa saya kenal anda ?” tanya Cilla dengan suara dibuat seimut mungkin.
“I know you, you know me too,” sahut Dono menanggapi gaya Cilla yang membalas ledekannya.
Cilla berdiri dan mengibaskan rambutnya yang panjangnya sepunggung.
“Saya terdampar dimana ? Anda siapa ?” Cilla mengernyit dengan cara bicara yang dibuat-buat membuat Dono geleng-geleng kepala.
Kegilaan anak bebek Arjuna ternyata belum berubah meski statusnya sudah menikah.
“Harap maklum kalau Cilla rada-rada begini, Pak,” Aron menarik garis di dahinya. “Baru berasa ditinggalin Pak Juna tuh, Pak.”
“Iya Pak, patah hati ditinggalkan Pak Juna begitu saja,” timpal Nico yang langsung melakukan tos dengan Aron.
“Jangan menyebarkan isu, nanti Pak Juna tersedak karena diomongin sama kalian,” tegur Dono dengan wajah santai, bahkan senyuman tersungging di bibirnya.
“Beneran, Pak. Gara-gara jatuh ke dalam pelukan Pak Juna, jiwa jomblonya meronta-ronta jadi susah move on,” Nino ikutan buka suara.
“Eh ketua kelas kurang akhlak, jiwa jomblo gue nggak meronta-ronta karena gue udah nggak jomblo lagi.”
Cilla melewati Dono dan mendekati Nino beserta cowok-cowok paling jahil di kelas sambil bertolak pinggang.
“Cie cie yang udah punya pacar,” ledek Aron. “PJ nya dong Cil, PJ.”
“Jangan-jangan elo langsung dilamar beneran sama Pak Juna, Cil,” Mira ikutan buka suara.
“Emang penting banget siapa pacar gue ?” Cilla memutar bola matanya karena tidak sanggup menatap balik ke arah teman-temannya yang sebagian masih tertawa meledeknya.
“Yang penting jangan lupa undang kita-kita kalau sampai jadian sama Pak Juna,” Dodi, wakil ketua kelas yang pendiam ikut buka suara memancing komentar murid-murid lainnya.
“Setuju banget.”
“Setuju.”
Febi akhirnya berdiri di depan kursinya.
“Beneran nih elo semua setuju kalau Pak Juna jadian sama Cilla ?” tanya Febi dengan suara yang bisa didengar oleh teman-teman sekelas.
Dono sendiri diam-diam menelpon Arjuna dan membiarkan sahabatnya ikut mendengarkan yang terjadi di kelas XII IPS-1.
“Setuju lah ! Daripada ijazah ditahan sama anak pemilik sekolah,” kelakar Aron yang memancing kembali gelak tawa siswa yang lainnya.
“Eh sejak kapan ya gue memanfaatkan status untuk bikin susah elo pada,” Cilla kini berdiri di depan Aron sambil melotot.
“Sejak hatiku terpanah rumus matematika,” celetuk Nayla.
Cilla melengos kesal, semua teman-temannya kompak banget menjodohkan dirinya dengan Arjuna yang memang sudah resmi jadi suami istri.
Mau membantah tidak mungkin juga karena kenyataannya hubungan Cilla dan Arjuna bukan hanya sekedar ceritla guru dan murid yang saling jatuh cinta.
Dono memberikan handphonenya pada Cilla yang sudah kembali duduk di bangkunya.
“Jangan cemberut sayang,” Cilla membelalak saat mendengar suara yang keluar dari handphone Dono. “Semua akan diundang saat kita buat pesta nanti.”
Cilla melongo dan mendongak menatap Dono yang senyum-senyum menatap muridnya itu.
Bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi membuat suasana riuh di kelas perlahan berkurang. Lili dan Febi hanya bisa menautkan alis saat melihat Cilla malah merebahkan kepalanya di atas meja.