
“Nggak nyesel nih nolak kesempatan kedua ?” bisik Cilla sambil menyenggol lengan Theo.
“Apaan sih kamu, Cil ? Aku nggak minat lagi sama Yola, apalagi sempat bekas suami kamu,” sahut Theo sambil mencibir dan tertawa meledek Cilla.
“Bekas apanya ? Kapan Mas Juna pernah pacaran sama Kak Yola ?”
Cilla melirik suaminya yang sedang berbicara serius dengan Lucky. Sepertinya kedua pria itu membahas soal pekerjaan.
“Bekas dicipok,” sahut Theo sambil terkekeh. “Nggak ingat waktu kamu ngambek gara-gara mergoki Yola lagi nyosor Arjuna ?”
“Udah basi, udah lewat. Lagian kejadiannya juga sebelum kita menikah. Memangnya Kak Theo juga nggak pernah disosor sama cewek lain ?”
Theo diam saja sambil meneguk minuman yang dipegangnya.
“Jangan digedein tuh gengsi, penyesalan itu selalu adanya di belakang dan biasanya nggak bisa diulang,” sindir Cilla sambil
”Om Erwin kasih bocoran dong soal mantan pacar Kak Theo atau cewek-cewek yang diuber Kak Theo waktu sekolah,” ujar Cilla saat Erwin bergabung dengan mereka.
Erwin melirik Theo yang masih melotot menatapnya.
”Selain Yola kayaknya Theo nggak ada lagi, kalau suami kamu tuh banyak yang nempel-nempel,” sahut Erwin sambil tertawa pelan.
“Tuh salah satu mantan pacarnya,” Theo menggerakan dagu menunjuk ke arah tiga wanita.
“Yang mana ?” tanya Cilla dengan gerakan mata mengikuti gerakan Theo.
“Ya ampun !” Erwin menepuk jidatnya. “Susan, ya ? Gue kok bisa lupa. Kayaknya pindah pas SMA, ya ?”
“Yang mana ?” Cilla megulang pertanyaannya tanpa mengalihkan tatapannya.
“Yang rambutnya disanggul gitu,” sahut Theo.
“Pantas dari tadi ngelirik-ngelirik ke arah Mas Juna dan Om Lucky,” gerutu Cilla.
“Tambah cakep aja si Susan,” gumam Erwin tanpa sadar ikut melihat ketiga wanita itu.
“Ma**us lo, Jun,” ujar Theo sambik tertawa pelan saat melihat Cilla berjalan menghampiri suaminya.
“Cilla kenapa ?” tanya Arjuna saat melihat raut wajah istrinya cemberut.
”Jadi selain Luna, Mas Juna punya pacar lain ? Cinta pertama ?” tanya Cilla dengan nada ketus.
Arjuna mengerutkan dahi lalu melirik Theo dan Erwin yang sedang tertawa.
”Maksud Cilla gimana ?”
Lucky yang sempat ikutan bingung menatap Theo dan Erwin yang langsung memberi isyarat ke arah 3 wanita tadi.
“Susan,” celetuk Lucky.
“Dia cinta pertama Mas Juna ?” ketus Cilla dengan wajah ditekuk.
“Ya ampun, Cilla, Mas Juna aja udah lupa sama dia. Lagian nggak bisa dibilang pacaran, habis jadian kurang dari 48 jam udah putus lagi. Cinta monyet,” ujar Arjuna tertawa.
“Monyet darimana,” gerutu Cilla. “Kalau monyet-monyetan nggak bakalan dia melirik Mas Juna sambil senyum-senyum.”
Arjuna masih belum sadar kalau sedang diperhatikan karena posisi berdirinya membelakangi ketiga wanita itu.
“Tuh,” Lucky memberi isyarat ada Arjuna hingga pria itu menoleh.
Cilla ikut menoleh dan melihat kalau wanita bernama Susan itu sedang senyum-senyum menatap Arjuna dengan wajah malu-malu dan salah satu temannya malah melambaikan tangan meski hanya di depan dada.
“Mas Juna tuh beneran nggak ingat soal Susan. Nggak ada memori apa-apa.”
Cilla hanya diam dengan wajah masih ditekuk. Entah kenapa emosinya mendadak ingin meledak tidak seperti biasanya yang siap menghadapi para mantan penggemar Arjuna.
Memikirkan kalau Susan itu cinta pertama Arjuna, rasanya hati Cilla jadi tidak karuan.
“Kita makan buah atau puding lagi, ya,” Arjuna berusaha membujuk Cilla.
“Cilla mau ke toilet dulu, awas aja malah samperin para ulat bulu !”
“Mas Juna temani ke toiletnya. Mas Juna juga mau pipis.”
Tanpa menunggu jawaban Cilla, Arjuna menggandeng tangan istrinya menuju kamar kecil yang berada di luar ruangan.
“Awas lo, Yo !” ancam Arjuna saat melewati Theo dengan nada berbisik namun tatapannya menusuk.
Theo dan Erwin hanya tertawa, begitu juga dengan Lucky yang ikut menggabungkan diri.
Cilla masih di dalam toilet saat mendengar suara tiga wanita berbincang di luar pintu hingga ia urung keluar dan duduk kembali di atas tutup kloset.
“Gila San, Arjuna makin keren aja, beda banget sama pas jaman sekolah. Penampilannya udah nggak urakan, kelihatan seperti pria mapan yang mempesona, bikin mata susah kedip,” ujar wanita itu sambil tertawa.
“Tapi gue dengar kalau Juna udah menikah,” suara lembut itu tertangkap telinga Cilla dan ia yakin kalau itu adalah suara Susan.
“Isu nya sih dijodohin, biasa urusan bisnis. Tapi kelihatannya Juna datang sendirian, nggak bawa istrinya.”
“Cari kesempatan dong buat cuci mata,” suara wanita lain yang berbeda lain ikut buka suara.
“Terus cewek kecil yang tadi sama mereka itu bukan istrinya Juna ?” suara kalem Susan kembali terdengar.
“Kayaknya bukan soalnya nggak kelihatan seperti seleranya Arjuna. Gue malah duga kalau tuh cewek pacarnya Theo soalnya dari tadi dirangkul-rangkul dan nempel sama Theo.”
“Udah tempel lagi Juna nya, San. Dulu kan kalian masih kekecilan buat tahu cinta terus elo pakai acara pindah SMA segala jadi nggak bisa lanjut sama Juna.”
“Pastiin dulu lah soal istrinya Juna,” sahut Susan. “Nanti gue dibilang pelakor lagi.”
“Yang namanya orang dijodohin pasti terpaksa, San, jadi selalu ada celah.”
Cilla mengepalkan kedua tangannya. Sejak tadi cewek yang pertama ngomong itu memang provokator.
Cilla membuka pintu toilet saat suara ketiga wanita itu perlahan menjauh. Dengan wajah masih ditekuk, Cilla menarik nafas beberapa kali sambil mencuci tangannya.
Sampai di depan pintu kamar mandi, Cilla batal keluar dan bersembunyi di balik tembok karena melihat ketiga wanita itu menghampiri Arjuna yang pasti sedang menunggunya.
Terdengar dua wanita teman Susan aktif bertanya pada Arjuna sedangkan Susan sendiri hanya melirik Arjuna dengan wajah malu-malu membuat Cilla ingin muntah.
Tidak lama kedua temannya sengaja meninggalkan Susan berdua dengan Arjuna.
“Apa kabarnya ?” Susan masih menatap Arjuna dengan wajah tersipu membuat Cilla langsung mencibir.
“Baik,” Arjuna menjawab sopan sambil tersenyum kaku tapi matanya melihat ke arah pintu kamar kecil.
“Sudah lama nggak ketemu,” Susan kembali bersuara.
“Iya, sudah lama.”
“Aku dengar kamu…”
“Cilla ?” suara Yola membuat Arjuna langsung mengernyit.
Arjuna melihat Yola baru saja hendak masuk ke toilet. Mendengar nama istrinya disebut, tanpa bicara apa-apa Arjuna melewati Susan, menuju ke depan pintu kamar kecil.
“Kamu ngapain di sini ?” tanya Yola dengan alis terangkat.
Cilla tersenyum kikuk, merasa ulahnya mengintip Arjuna tertangkap basah apalagi saat sudut matanya melihat Arjuna berjalan mendekat.
“Eh… tadi sudah pipis, tapi sekarang berasa kayak pengen pipis lagi,” Cilla menyahut dengan salah tingkah.
“Sayang, Cilla nggak apa-apa ?” Arjuna langsung memegang bahu Cilla dengan wajah khawatir.
Cilla melirik Arjuna lalu melihat wanita bernama Susan itu menyusul mendekati Arjuna.
Cilla menghela nafas dengan wajah kesal lalu menepis tangan Arjuna di bahunya lalu berjalan meninggalkan Arjuna, Yola dan Susan yang berdiri di depan pintu kamar kecil.
“Cilla istri gue bukan pacarnya Theo,” tegas Arjuna dengan tatapan tajam menoleh ke Susan yang langsung terkejut.
Arjuna pun berlalu meninggalkan Susan dan Yola untuk menyusul Cilla.
“Makanya jadi orang jangan sotoy,” cebik Yola sambil berjalan masuk ke dalam toilet.
Susan yang masih diliputi rasa kaget masih terpaku di tempatnya.
Selesai cuci tangan, Yola langsung keluar dari toilet sambil mengecek handphonenya hingga tidak memperhatikan kalau seorang sedang berjalan menuju toilet pria.
Bugh !
Yola mengusap keningnya dan bersiap mengomeli pria yang menabraknya. Begitu kepalanya mendongak, Yola hanya bisa membelalakan mata dan mulutnya terkunci.
“Sengaja ?” sindir pria itu dengan senyum mengejek.
”Darimana sengaja ? Jadi manusia kegeer-an banget ! Bukannya situ yang sengaja mau nabrak ?”
Theo hanya mendengus kesal dan hendak melanjutkan langkahnya menuju toilet tapi Yola keburu menahan lengannya.
“Udah lewat sepuluh tahun lebih ternyata elo masih belum berubah, masih jadi cowok emosian dan ngeselin. Kenapa juga elo masih marah sama gue hanya karena gue menolak pernyataan cinta elo.”
“Udah basi, nggak ada yang perlu dibahas,” sahut Theo dengan nada ketus.
“Kalau memang udah basi, kenapa elo masih marah banget sama gue ? Kecuali elo masih punya perasaan yang sama buat gue.”
Mata Theo langsung membulat menatap Yola yang tersenyum mengejek. Tanpa bicara panjang lebar, Theo menghentakkan tangannya hingga pegangan Yola terlepas.
Yola hanya tersenyum tipis saat menatap Theo yang menghilang di balik tembok menuju kamar kecil khusus pria.
Arjuna mengedarkan pandangannya mencari Cilla yang ternyata masih cukup gesit melesat meninggalkannya.
Matanya langsung menangkap sosok istri kecilnya sekaligus Glen yang sedang berjalan mendekati Cilla.
Arjuna mempercepat langkahnya yang sudah pasti akan kedahuluan Glen karena posisi pria itu tinggal 3 langkah dari Cilla.
Arjuna tercengang saat melihat Cilla menanggapi Glen, tidak mencoba menghindar seperti sebelumnya.
Arjuna menghela nafas untuk meredam emosinya yang langsung naik hingga ke ubun-ubun karena kalau ikutan marah, bisa-bisa Cilla malah lari ke Glen.
Dari arah samping, Arjuna langsung meraih tangan Cilla yang sedang memegang garpu menusuk buah melon.
“Manis buahnya, kamu makan juga, ya.”
Sebelum Cilla sempat menolak, Arjuna kembali menusuk sepotong melon dan menyuapi Cilla yang langsung membuka mulutnya.
“Mau ambil buah juga, Glen ?” Arjuna berbasa basi dengan nada malas.
“Kita balik ke sana, Sayang,” Arjuna mengambil alih piring yang dipegang Cilla dan tangan lainnya menggandeng jemari Cilla mengajaknya kembali bergabung dengan para sahabatnya.
Terlihat Pius sudah bergabung juga tapi hanya sendirian.
“Loh Jun, Susannya mana ?” Kedua wanita kepo itu menyapa Arjuna saat pria itu lewat di depan mereka.
Terlihat keduanya melirik tangan Arjuna yang sedang menggenggam jemari Cilla.
“Nggak tahu,” sahut Arjuna datar dan hendak meneruskan langkahnya.
“Dia bukan Amanda, kan ?” tanya salah satu wanita itu, bukan si provokator.
“Dia istri gue, calon ibu anak gue,” Arjuna berhenti dan bicara tegas dengan kedua wanita kepo di depannya yang langsung tercengang mendengar ucapan Arjuna.
Begitu agak jauh, Cilla menghentakkan tangan Arjuna hingga genggaman mereka terlepas.
Arjuna terkejut dan menoleh menatap istrinya dengan dahi berkerut.
“Cilla masih kesal banget sama Mas Juna. Kalau Susan itu pacar Mas Juna sebelum Luna berarti dia itu cinta pertama Mas Juna. Biasanya pria itu nggak bakal bisa melupakan cinta pertamanya. Cilla kesal sama Mas Juna !”
Cilla berniat meninggalkan Arjuna namun ditahan oleh Arjuna.
“Mau kemana ?”
“Mau ikut acara lempar bunga pengantin,” ketus Cilla.
Saat itu MC memanggil para tamu yang masih single untuk berkumpul di depan panggung mengikuti acara lempar bunga pengantin.
“Cilla sayang, itu kan khusus buat yang single alias jomblo.”
“Siapa tahu aja ada yang masih mau sama ibu hamil yang masih muda.”
“Nggak boleh !” tegas Arjuna sambil menarik Cilla ke dalam pelukannya.
Cilla masih cemberut dan gerakan licin seperti belut, Cilla berhasil melepaskan diri, menghampiri para sahabat Arjuna.
Ternyata, para sahabat Arjuna sudah bergabung di depan panggung bahkan Theo ikut juga setelah dipaksa Lucky dan Erwin.
Cilla langsung menyelinap di antara pria-pria tampan itu. Hatinya masih panas karena mendapati wanita bernama Susan itu masih mencuri-curi pandang menatap Arjuna.
Untung saja Luna dan Riana tidak datang malam ini karena sedang berada di luar negeri, kalau tidak hati Cilla pasti lebih panas dari air mendidih.
Arjuna menerobos Lucky dan Theo lalu menarik Cilla menepi dan memeluknya dengan posesif.
“Mas Juna nggak mau Cilla kedorong-dorong lalu jatuh.”
Cilla hanya melengos dan bibirnya mengerucut.
“Kalau lagi cemburu begini, anak bebek Mas Juna makin menggemaskan,” ledek Arjuna sambil terkekeh.
”Apaan sih !”
“Mas Juna mau bilang kalau Susan bukan cinta pertama Mas Juna biarpun dia pacar pertama. Lagian jadian aja kurang dari 48 jam. Cinta pertama Mas Juna tuh gadis cengeng yang sukanya dipeluk dan digendong Mas Juna waktu kecil.”
“Bohong banget,” Cilla mencebik dengan bibir masih mengerucut.
“Akan Mas Juna buktikan biar seluruh tamu di sini bisa melihat kesungguhan Mas Juna.”
Tanpa permisi Arjuna langsung menarik pinggang Cilla dan tangan lainnya menarik tenguk Cilla lalu mencium bibir istrinya itu dengan posesif.
“Sepertinya ada yang langsung jadian sebelum menerima lemparan bunga,” komentar MC yang melihat adegan ciuman pasangan suami istri itu.
Tanpa mempedulikan tatapan orang, Arjuna masih ******* bibir Cilla membuat para tamu yang berdiri dekat panggung tercengang dan sebagian kasak kusuk.
Di panggung Boni langsung memutar bola matanya sebal dan Mimi senyum-senyum. Mereka bintang utama malam ini kenapa jadi Arjuna dan Cilla yang jadi perhatian.
Susan dan kedua temannya sampai menutup mulut karena kaget sekaligus tidak percaya.
“Dia istri saya,” ujar Arjuna setelah melepaskan ciuamannya menanggapi perkataan MC sekaligus mengumumkan di depan umum.
Cilla sendiri langsung menyembunyikan wajahnya di dada Arjuna yang terlihat sumringah.
“Kelakuan,” gerutu Theo.
Mama Diva, papa Arman, tante Siska dan om Rio yang diundang juga malam itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Anakmu tuh, Pa, sejak sama Cilla sukanya bikin sensasi dimana-mana,” bisik mama Diva.
“Anakmu juga, Ma. Kan kita bikinnya sama-sama,” sahut papa Arman sambil terkekeh membuat mama Diva menghela nafas sambil geleng-geleng.