
“Kenapa ?” tanya Arjuna perlahan saat mobil mulai meninggalkan halaman rumah Cilla. “Masa mau kencan sama calon suami, muka ditekuk kayak begitu ?”
“Lagi kesel sama papi,” gerutu Cilla.
“Papi melarang kamu pacaran ?” goda Arjuna sambil tertawa pelan. “Langsung disuruh cepat-cepat menikah aja ?”
“Iih Mas Juna, orang lagi bete malah diajak bercanda,” omel Cilla dengan mulut mengerucut.
“Sorry. Habis muka kamu bikin gemes, belum lagi tuh bibir memang pantas dipanggil anak bebek kesayangannya Arjuna,” Juna mencubit pelan pipi Cilla dengan sebelah tangannya.
“Papi tuh mau ajak Cilla ke Singapura. Tadinya mau berangkat besok pagi, langsung Cilla tolak,” gadis yang hampir tujuhbelas ini mulai buka suara mengeluarkan kekesalan hatinya.
“Kenapa ditolak ? Biasanya anak-anak senang diajak liburan sama orangtuanya apalagi ke luar negeri,” ujar Arjuna sambil meraih satu jemari Cilla dan digenggamnya sejenak kemudian ia kembali fokus menyetir.
“Besok kan kita mau kencan naik motor. Cilla nggak mau sampai batal. Terus kalau Cilla pergi ke Singapura, nanti ketemu Mas Juna nya gimana ? Kan mumpung libur sekolah, jadi bisa lebih sering-sering ketemu tapi nggak dalam situasi belajar di kelas.”
Arjuna ingin tertawa, tapi bisa runyam rencana kencannya hari ini karena Cilla pasti tambah ngambek, bukan hanya dengan papi Rudi tapi juga dengan dirinya.
“Kamu lupa kalau Mas Juna harus kerja juga di perusahaan papa mulai hari Senin nanti ? Mas Juna malah bersyukur karena papi mengajak Cilla mengisi liburan dengan jalan-jalan, karena kali ini Mas Juna nggak bisa menemani liburan.”
Cilla terdiam sejenak, wajahnya perlahan mulai tenang dan bibirnya tidak lagi cemberut.
“Dua tahun bekerja di perusahaan papa, biasanya menjelang akhir tahun ini pekerjaan justru menumpuk apalagi detik-detik terakhir sebelum pergantian tahun. Dalam bahasa akuntansi biasanya disebut tutup buku tahunan. Dan sepertinya kali ini bukan cuma karena menjelang akhir tahun papa minta Mas Juna membantu, tapi ada masalah lain yang membutuhkan bantuan Mas Juna.” Tangan Arjuna mengusap kepala Cilla dengan lembut.
“Sibuk banget ?” Cilla menoleh ke arah calon suaminya.
“Biasanya akan sering lembur dan pulang malam. Kalau Cilla pergi sama papi, Mas Juna tenang karena Cilla nggak akan bosan di rumah. Lagipula sudah lama banget kan nggak jalan-jalan sama papi ?”
“Kak Theo sama tante Siska ikut juga, kalau om Rio katanya akan menyusul setelah pekerjaannya senggang. Semoga aja kali ini Cilla nggak ditinggal sama kak Theo dan tante Siska seperti terakhir liburan ke Jepang.”
“Sepertinya kali ini akan sangat berkesan,” ujar Arjuna tertawa pelan. “Apa kamu nggak melihat kalau sikap papi sudah berubah ? Mas Juna memang tidak terlalu mengenal papi sebelumnya, tapi kalau dari cerita kamu, papi sekarang lebih banyak meluangkan waktu untuk kamu dan lebih perhatian.”
“Iya, sih,” Cilla mengangguk menyetujui ucapan Arjuna.
“Jadi nikmatilah liburan kamu sama papi dan keluarga mami juga. Tapi ingat ya !” Arjuna menoleh dengan tatapan tegas. “Jangan gampang terprovokasi sama omongan Theo, apalagi kalau ada gejala suruh kamu selingkuh.”
“Mas Juna juga,” sahut Cilla dengan suara penuh penekanan. “Lembur beneran, bukan belok di tikungan lain. Awas aja kalau Cilla tahu, bukan hanya batal tapi juga Cilla buat Mas Juna di blacklist sama cewek-cewek.”
“Duuhh ternyata calon istrinya Arjuna posesif juga nih,” ledek Arjuna sambil menoel dagu Cilla.
“Jadi maunya Cilla masa bodoh aja ? Kalau Mas Juna main-main di tikungan, Cilla tinggal cari belokan lain di jalanan depan.”
Arjuna tergelak mendengar ucapan Cilla, seperti biasa istilah Cilla suka sedikit aneh dan bikin orang tersenyum.
“Kenapa harus cari belokan dan bukan terus aja ?” ledek Arjuna.
“Biasanya suka banyak cowok-cowok cakep yang mangkal di kiri dan kanan. Jadi rugi kalau ketemu persimpangan lebih memilih jalan terus, padahal mau belok kiri atau kanan, sama-sama banyak cowok cakep yang sembunyi di sana.”
“Mas Juna kasih palang biar kamu nggak bisa belok kiri atau kanan,” seloroh Arjuna sambil tertawa pelan.
“Kalau Mas Juna nggak macam-macam pas ketemu tikungan, Cilla juga nggak berniat belok kiri atau kanan,” sahut Cilla dengan suara sedikit jutek.
“Nggak ada niat kok buat cari-cari tikungan, apalagi calon istrinya udah muda, imut dan bisa bikin ketawa terus.”
“Memangnya Cilla pelawak ?” gerutu Cilla kembali dengan bibir mengerucut.
Arjuna tertawa dan mulai membelokan mobilnya ke salah satu restoran yang terlihat sedikit elit. Cilla menautkan alisnya karena tidak terpikir kalau Arjuna akan membawanya ke tempat seperti ini.
“Tadinya Mas Juna mau ajak Cilla makan di restoran atau café yang kekinian, tapi berhubung kondisi kita di sekolah masih guru dan murid, jadi lebih baik cari tempat aman yang kemungkinan kecil didatangi teman kamu. Mas Juna sudah membahasnya sama Pak Slamet dan papi tadi siang di sekolah. Akan lebih baik kalau hubungan kita jangan diketahui orang dulu sampai kamu selesai ujian, supaya kamu tetap bisa bersekolah dengan tenang.”
Cilla terdiam dan menatap Arjuna yang sudah mematikan mesin mobilnya dan memutar posisi duduknya menghadap Cilla, lalu menangkup wajah gadis itu.
“Nggak apa-apa ya, kali ini kencannya ala-ala orang dewasa ?” tanya Arjuna sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa,” Cilla balas tersenyum sambil mengangguk. Arjuna makin sengaja menangkup wajah Cilla sampai bibir gadis itu mengerucut.
“Bahagianya punya calon istri yang pengertian,” Arjuna mengecup sekilas bibir Cilla yang sejak tadi membuatnya gemas.
Kali ini Cilla tidak marah, hanya saja wajahnya langsung merona. Arjuna tertawa dan membuka pintu mobilnya, lalu bergegas menuju sisi Cilla dan membukakan pintu untuk calon istrinya.
“Untuk Cilla nggak saltum malam ini,” bisiknya.
“Saltum ?” Arjuna menautkan alisnya dengan wajah bingung.
“Salah kostum Pak Arjuna,” tegas Cilla sambil terkekeh. Arjuna ikut tertawa. Entah ia yang kurang update atau Cilla yang terlalu banyak punya catatan kata-kata nyeleneh.
Cilla sempat tercengang saat pelayan mengantar mereka ke salah satu meja yang sudah dipesan oleh Arjuna.
Tidak semua pengunjung restoran adalah pasangan, beberapa meja ada juga yang ditempati oleh keluarga, tapi sebagian besar memang hanya berdua.
“Mas Juna sengaja nggak mau yang terlalu formal. Kita berdua bukan tipe orang yang suka dengan suasana terlalu formal. Dan semoga kamu suka dengan makanan di sini.”
Keduanya memesan makanan dan minuman dengan bantuan saran dari pelayan yang memberi masukan tentang makanan favorit di restoran mereka.
“Mas Juna pernah mengajak Kak Mia kemari ?” tanya Cilla setelah pelayan meninggalkan mereka.
“Kok kamu jadi mikir Luna ?’ Arjuna mengerutkan dahinya.
“Nggak, hanya saja seperti sudah pernah ke tempat ini sebelumnya. Dan Cilla yakin kalau pun pernah nggak mungkin sama Lima Pandawa.”
Arjuna tertawa melihat ekspresi wajah Cilla yang bercampur antara rasa ingin tahu tetapi khawatir kalau sampai jawaban Arjuna sesuai dengan pemikirannya.
“Mas Juna belum pernah kemari sama siapapun. Ini yang pertama dengan calon istri Mas Juna.”
“Kok tahu tempat ini ? Bagus dan memang cocok untuk tempat kencan,” sahut Cilla dengan wajah lega sambil tertawa pelan.
“Kamu tahu mbah google kan ? Mas Juna carinya di sana,” sahut Arjuna sambil tertawa. “Mas Juna cari tahu bagaimana pacaran ala abege.”
Cilla mengangkat alisnya sebelah namun dan langsung ikut tertawa.
“Tadinya mau ajak ke café yang sering menjadi pikihan untuk kencan ala abege, tapi mengingat resiko bertemu dengan siswa Guna Bangsa, makanya Mas Juna cari yang lebih dewasa sedikit.”
“Cilla suka banget,” wajah gadis itu berbinar dan pandangannya sempat beredar. “Tidak terlalu formal tapi tetap romantis.”
“Dan sekarang udah nggak kesel lagi sama papi, kan ?” ujar Arjuna sambil tersenyum.
“Udah nggak,” Cilla menggeleng. “Apa yang Mas Juna bilang memang benar. Kalau liburan hanya di rumah dan tidak bisa gangguin calon suami, bisa-bisa tiap hari Cilla gabut di rumah. Dan semoga saja kali ini Cilla nggak ditinggal sama papi, disuruh liburan hanya sama tante Siska dan Kak Theo,” ujar Cilla tersenyum tipis.
“Percaya sama Mas Juna, kali ini papi nggak akan membiarkan Cilla jauh-jauh dari papi,” Arjuna mengusap pipi Cilla sebelah dengan senyuman yang membuat jantung Cilla kembali berdebar tidak karuan.
“Kamu kenapa ?” tanya Arjuna dengan wajah khawatir saat melihat Cilla memegang dadanya.
“Masih berasa deg deg kan banget kalau dikasih senyuman di depan mata seperti ini sama Mas Juna. Padahal sudah jadi calon suami, kenapa rasanya jantung mau copot seperti waktu kita liburan di Ambarawa ?”
Wajah Cilla yang terlihat serius membuat Arjuna tidak mampu menahan tawanya, tapi bukan tawa mengejek melainkan dengan pancaran bahagia.
“Mau dibagi rahasia ?” Arjuna mencondongkan badannya ke arah Cilla dan suaranya dibuat seperti berbisik.
“Rahasia apa ?” mata Cilla menyipit memperhatikan wajah Arjuna dan tanpa sadar tubuhnya juga dicondongkan ke arah Arjuna hingga posisi wajah mereka lebih dekat.
“Sebetulnya Mas Juna juga sering berdebar kalau dekat-dekat Cilla apalagi pas kita pelukan di Lawang Sewu. Bukan hanya berdebar saat itu, tapi bikin Mas Juna nggak bsia tidur,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan.
“Bohong !” cebik Cilla. “Buktinya wajahnya sumringah pas terima telepon dari Kak Mia. Cilla kan lihat Mas Juna pas lagi teleponan di dekat lobby hotel.”
“Senang doang, tapi nggak berdebar seperti waktu ngomong sama kamu,” sahut Arjuna dengan wajah serius.
“Gombal,” cebik Cilla namun dalam hati senang juga digombali oleh Arjuna.
“Kalau gombal, mana mau Mas Juna pergi makan ke Simpang Lima terus dipermalukan di café. Itu semua alasan aja supaya bisa lebih lama sama kamu.”
Cilla hanya tertawa pelan namun wajahnya sekarang berubah merona membuat Arjuna ikut tertawa dan mencubit gemas sebelah pipi Cilla.
“Anak bebek kesayangan Arjuna selalu bikin hati ini berdebar kalau dekat-dekat dan mata susah terpejam kalau jauh-jauh apalagi lama nggak ketemu.”
Arjuna tertawa saat melihat Cilla tersipu. Bisa juga gadis galak yang cerewet ini tersipu malu-malu meong saat diberikan kata-kata cinta.