
Cilla sedang bermain dengan Sean di kamar saat Arjuna masuk.
“Kok anak papi belum tidur ?”
“Bobo di cini,” Sean yang sudah tidur terlentang memukul-mukul ranjang dengan kedua tangannya.
Arjuna langsung menghampiri Sean yang sedang lucu-lucunya, mengangkat bocah itu lalu menciumi perutnya hingga Sean tertawa kegelian.
“Papi cetop, geli, cetop papi.”
Arjuna kembali merebahkan Sean di atas ranjang dan menghujaninya dengan ciuman lalu membiarkan Sean membalasnya dan akhirnya duduk di atas perut Arjuna.
“Siapa yang telepon ? Kok lama banget ?”
Cilla yang sempat ke kamar mandi sudah kembali lagi bersama Sean dan Arjuna.
“Habis video call sama papa dan Om Raymond, membahas soal Tante Sofia. Menurut Om Ray, secara medis kondisi Tante Sofia sulit diobati karena kankernya sudah menyebar ke organ vital. Kalau memungkinkan akan dipindahkan ke rumah sakitnya Om Raymond.”
“Sean, ayo bobo ! Dari tadi sudah nguap terus.”
“Mau bobo cama papi mami di sini.”
“Katanya jagoan apalagi sebentar lagi mau dipanggil kakak nih.”
Bocah yang tadinya sudah terlentang di samping Arjuna langsung bangun dan mendekati perut Cilla.
“Dedek, mau ditemenin bobo cama kakak malam ini ya ?”
Arjuna langsung tertawa saat Sean berbicara di depan perut Cilla dengan mimik yang lucu.
“Ndak mau,” sahut Arjuna dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
“Kakak kan udah punya kamar sendiri, jadi malam ini bobo di sana,” lanjut Arjuna masih dengan suara yang sama.
Bukannya menurut, Sean malah kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memeluk paha Cilla yang masih dalam posisi duduk lalu memejamkan matanya.
Cilla tertawa pelan dan menatap Arjuna, memohon agar suaminya mengijinkan Sean tidur bersama mereka.
“Sini jagoan, tidur diketekin papi aja !” Arjuna meraih putranya hingga berbalik dan langsung membalikkan Sean ke arahnya.
“Maaciih papi.”
Tanpa protes, Sean malah menyusupkan wajahnya di bawah ketiak Arjuna dan sengaja mengusel-uselkan wajahnya membuat Arjuna terkekeh.
”Persis kayak maminya,” ujar Arjuna saat Sean sudah tertidur dalam pelukannya.
“Suka dusel-dusel di ketek papinya.”
“Itu kan peletnya Mas Juna,” sahut Cilla sambil terkekeh.
Ia pun mematikan semua lampu dan menyisakan lampu kecil lalu ikut merebahkan diri dengan Sean di tengah mereka.
“Jadi kita akan membantu pengobatan Tante Sofia ?”
“Sayang, semua terserah sama Cilla. Bukannya Cilla minta Mas Juna mencari tahu lewat Om Raymond ? Kalau memang Cilla ragu atau berubah pikiran tidak masalah. Mas Juna akan minta timnya Om Raymond menghentikan komunikasi dengan dokter yang menangani Tante Sofia.”
“Cilla mau banget membantu tapi rencananya setelah Luna minta langsung pada Cilla. Sebelum ini, Luna kan minta bantuannya sama Mas Juna jadi Cilla nggak mau Luna berpikir kalau bantuan ini diberikan atas inisiatif Mas Juna. Bukan masalah cemburu buta tapi firasat Cilla agak jelek karena sejak awal kenapa dia nggak mendatangi Cilla tapi Mas Juna, padahal kalau mau dilihat sejarahnya, yang pernah jadi anak tirinya Tante Sofia kan Cilla bukan Mas Juna.”
“Mas Juna ngerti dan setuju dengan pemikiran Cilla. Kalau pun dia kehilangan nomor Cilla, cukup wa Mas Juna dan minta nomor handphone Cilla bukannya datang ke kantor dan cari masalah. Cilla tenang aja, Om Raymond dan Papa nggak akan mengambil tindakan sebelum Mas Juna bilang oke.”
Cilal tersenyum dan mendekati Arjuna lalu mencium pipi suaminya. Tangannya terulur memeluk Sean yang sudah pulas tertidur sambil memeluk Arjuna.
“Kangen juga nih sama bocil yang bawel dan mulai nakal ini. Apa kira-kira Sean mirip sama Mas Juna waktu kecil ?”
“Kalau soal itu kamu harus tanya sama mama yang lebih tahu,” sahut Arjuna sambil mengangkat kepalanya mencium kening Cilla, lalu turun ke mata, pipi dan betah di bibir Cilla.
“Mas Juna ih, nanti kalau Sean bangun gimana ?”
“Pakai gaya kilat aja, anak bebeknya Mas Juna.”
“Besok pagi aja.”
Cilla memutar bola matanya dan tidak bisa menolak saat Arjuna sudah menaruh 2 guling di kiri dan kanan Sean, sesudah itu ia langsung menggendong Cilla dan membawanya ke sofa.
“Nggak usah pakai suara,” bisik Arjuna yang lanjut menciumi leher Cilla.
Kalau sudah begini, mana bisa Cilla menolak. Arjuna selalu tahu titik lemahnya yang membuat Cilla serasa terbang melayang hingga langit ketujuh.
*****
Sudah sepuluh menit Luna duduk berhadapan dengan Cilla. Akhirnya tadi pagi Luna mengirimkan pesan, mengajak Cilla untuk bertemu.
Cilla sudah bertanya di awal mereka berjumpa tapi gengsi Luna membuatnya belum mau bicara hingga Cilla mendiamkannya dan fokus dengan handphonenya.
“Kondisi mama semakin memburuk.”
Cilla mendongak, menatap Luna dengan wajah datar. Terlihat Luna berjuang mati-matian untuk menekan ego dan gengsinya.
“Lalu ?”
“Harus segera dioperasi atau keadaannya akan terus tidak stabil.”
“Ooohhh”
“Hanya oooh doang ?” suara Luna meninggi.
“Terus aku harus bagaimana ? Barusan hanya pemberitahuan soal kondisi mama Mbak Luna kan ?”
Luna menggerutu dengan wajah kesal dan meneguk minumannya hingga habis setengah gelas.
“Ada lagi yang mau dibahas ?”
Luna menoleh, menatap Cilla dengan mata melotot, emosinya makin tersulut hingga ia menggebrak meja membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
“Kamu benar-benar anak tidak tahu diri ! Bertahun-tahun mama merawatmu meski bukan anak kandungnya dan sekarang saat mama sakit, kamu hanya bertanya apa lagi yang mau dibahas ?”
Cilla tertawa mengejek dan wajahnya terlihat biasa saja, tidak peduli dengan penilaian orang.
”Kebiasaan klasik yang belum berubah,” decih Cilla sambil tersenyum sinis. “Cari dukungan dengan teriak-teriak seperti ini, apa mbak pikir saya akan terpengaruh ?”
Wajah Luna memerah, ia melirik kanan kiri dan sebagian orang masih menatap ke arahnya. Entah kenapa Luna merasa orang-orang justru tengah menghakiminya bukan Cilla.
“Saya tidak pernah lupa dengan kebaikan yang pernah saya terima sekecil apapun. Masalahnya saya tidak tahu kebaikan Tante Gina yang mana yang perlu saya ingat ? Mengasuh saya ? Bik Mina dan Pak Trimo adalah orangtua sambung saya, bukan Tante Sofia. Malah yang tersisa dalam ingatan saya adalah fitnah Mbak Luna yang meninggalkan jejak luka di bahu saya.”
Luna terdiam, tidak berani marah-marah seperti tadi. Cilla mungkin tidak menunjukkan emosi yang berlebihan tapi gadis kecil yang sering mengalah itu sudah berubah menjadi wanita pemberani, tegas dan kharismanya membuat orang segan.
Cilla menunggu beberapa menit tapi Luna masih juga tidak mau membahas tujuannya minta bertemu dengan Cilla. Bukan karena gila hormat Cilla enggan menawarkan bantuan terlebih dahulu tapi sikap Luna yang bertahan dengan gengsinya membuat Cilla harus menyusun strategi.
“Kalau memang tidak ada yang mau dibahas lagi, aku pamit dulu.”
“Tunggu !”
Cilla urung berdiri, baru menggeser mundur kursinya.
“Aku mau minta bantuanmu untuk membiayai pengobatan mama, aku mohon.”
Suara Luna terdengar sayup-sayup, selain pelan, posisi kepalanya juga setengah menunduk tapi Cilla masih menghargai keberaniannya.
“Aku harus membahasnya dulu dengan suami dan mertuaku. Secepatnya akan aku kabari.”
Cilla beranjak bangun dan menganggukan kepala sebelum meninggalkan Luna. Sampai di dalam mobilnya, Cilla langsung menghubungi Arjuna.
“Akhirnya Luna ngomong juga. Tuh mulut kayak bawa barbel 50 kg, berat banget bilang butuh bantuan. Cilla udah otw pulang, Mas Juna.”
Arjuna tertawa membayangkan wajah Cilla yang menggemaskan, wajah cemberut dan bibirnya mengerucut seperti anak bebek.
“Ya udah nanti malam cerita lagi sambil bobo bobo peluk tanpa Sean.”
“Ogah, semalam aja bilangnya short time baby tapi kenyataannya jadi all night.”
Arjuna kembali tergelak, memang susah menolak pesona anak bebeknya kalau sudah di atas ranjang.