
Cilla sedang duduk termenung sendiri saat pintu ruangan terbuka. Matanya berbinar saat melihat papi Rudi berdiri di sana.
“Kamu benar-benar mengingatkan Papi pada mamimu,” papi Rudi memegang kedua bahu Cilla dengan mata berembun.
“Rasanya tidak percaya melihatmu dalam balutan pakaian pengantin seperti ini.”
Cilla tersenyum, berusaha menahan gejolak hatinya yang juga merasa terharu. Meskipun papi berusaha kelihatan baik-baik saja, Cilla tahu kalau kesehatan papi sedikit menurun.
Dokter Raymond meminta papi Rudi mulai menjalani kemoterapi sejak minggu lalu, namun dengan alasan ingin fokus dengan persiapan pernikahan Cilla dan Arjuna sampai beres, papi menundanya hingga minggu depan.
”Terima kasih karena Papi ada di sini untuk Cilla.”
“Tidak perlu memaksakan diri menjadi dewasa saat menyandang istri Arjuna nanti. Tetap menjadi diri sendiri dan belajar menjadi istri yang baik. Papi percaya kalau Arjuna akan menjadi suami yang baik dan pengertian.”
Cilla mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasih karena Papi sudah mempercayakan Mas Juna sebagai suami Cilla.”
Papi membelai wajah putrinya dengan penuh rasa sayang. Sebagian rasa khawatirnya akan berkurang karena putrinya sudah memiliki pendamping hidup.
“Cilla !” Febi dan Lili yang baru saja selesai berdandan tergesa masuk tanpa mengetuk pintu.
“Eh maaf, Om,” ujar Febi dengan wajah tidak enak.
“Maaf Om,” Lili ikut menimpali.
Papi Rudi berbalik dan tersenyum.
“Nggak apa-apa. Om juga sudah selesai ngobrol sama Cilla. Apa sudah waktunya ?”
“Iya, Om. WO sudah meminta Om dan Cilla bersiap-siap,” ujar Lili.
Papi Rudi menekuk tangannya dan memberi isyarat agar Cilla berpegangan padanya. Dengan wajah penuh senyuman, Cilla mengangguk dan menggandeng lengan papi Rudi.
Debaran jantung Cilla semakin tidak karuan, berharap jangan sampai memerlukan CPR karena detaknya semakin kencang.
Apalagi saat pintu ruangan dibuka dan di ujung sana, terlihat pria tampan yang selalu saja membuatnya terpesona dan tidak karuan.
Arjuna pun tersenyum. Meski wajah calon istrinya masih tertutup kain tile tipis, namun hati Arjuna merasakan aura cinta yang terpancar dari tatapan calon istrinya.
“Papi percayakan Cilla pada Juna,” bisik papi saat menyerahkan Cilla untuk melaksanakan prosesi pernikahan mereka.
”Terima kasih karena Papi percaya sama Juna. Juna janji tidak akan pernah mengecewakan Papi.”
Arjuna melepaskan genggaman Cilla yang tadi disatukan oleh papi Rudi dan langsung memeluk mertuanya penuh rasa sayang.
Semua yang hadir tidak menduga dengan tindakan Arjuna dan merasa terharu.
Papi Rudi tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung calon menantunya.
“Jangan biarkan anak Papi menunggu kelamaan, bisa-bisa protesnya nggak selesai sampai nanti malam,” kelakar Papi sambil melepaskan pelukan Arjuna.
“Paham banget soal itu. Pi,” sahut Arjuna sambil tertawa.
”Sudah siap, Sayang ?” tanya Arjuna saat meraih tangan Cilla dan meletakan pada lengannya.
“Memang masih boleh bilang nggak siap ?” Cilla balas bertanya sambil berbisik.
”Nggak boleh,” tegas Arjuna.
“Udah tahu nggak boleh pakai nanya,” gerutu Cilla.
Jovan dan Theo hanya melengos melihat pasangan bebek ini masih sempat-sempatnya berdebat di depan altar.
Suasana haru menyelimuti ruangan saat Arjuna dan Cilla mengucapkan janji setia mereka dan akhirnya disahkan oleh pemuka agama.
Wajah keduanya langsung merona saat kedua bibir mereka menempel karena para sahabat Arjuna dan Cilla langsung bersuit-suit.
Malu tapi sekaligus bahagia. Arjuna menatap Cilla dengan tatapan penuh cinta saat kedua jemari mereka menyatu dengan cincin yang sudah terpasang di jari manis.
Tidak ada yang mampu menahan air mata saat pasangan baru itu melakukan sungkeman pada kedua orangtua. Kali ini posisi mami Sylvia digantikan oleh tante Siska.
Febi yang biasanya tegar pun tidak bisa menahan air mata bahagianya, begitu juga dengan Jovan yang tidak bisa lagi menahan harunya. Tidak ada sakit hati atau penyesalan dalam hati Jovan. Ia benar-benar bahagia melihat Cilla berdampingan dengan Arjuna.
Tidak ada pesta mewah setelah Arjuna dan Cilla mengikat janji suci. Hanya acara makan sederhana bersama keluarga dan orang-orang terdekat yang hampir semuanya sudah hadir saat pemberkatan tadi.
Dari sekolah selain Pak Slamet dan Dono, Arjuna memutuskan untuk mengundang Bu Retno. Setidaknya guru BP itu akan semakin yakin kalau hubungan Cilla dan Arjuna bukan sekedar cinta lokasi, tapi keinginan dua keluarga yang sudah mengenal sejak lama.
“Jangan lupa hutang belum dibayar, Jun,” ledek Erwin saat genk pria-pria mapan itu bersama pasangan mereka memberikan ucapan selamat sekaligus akan foto bersama.
“Hutang apa lagi ?” Mimi mengernyit.
“Hutang siraman, Yang,” sahut Boni. “Harus dibayar lunas soalnya Juna sendiri tuh yang nantangin.”
“Nggak masalah,” jawab Arjuna dengan wajah sumringah. “Yang penting gue duluan daripada elo,” cebik Arjuna.
“Dih gitu aja bangga,” Boni balas mencebik.
“Pelan-pelan nanti malam Jun. Ingat kalau istri lo itu ibarat buah baru matang,” ujar Luki pelan dan langsung ditanggapi dengan gelak tawa yang lainnya.
“Eh nggak ada acara lagi ya nanti malam !” protes Cilla yang belum menangkap maksud omongan Luki. “Ini aja udah capek. Rasanya pengen ketemu bantal dan lurusin badan.”
“Yaahh Jun, malang nian nasib elo,” ledek Theo.
“Memangnya Om-om mau bikin acara apa lagi nanti malam ?” kedua alis Cilla menaut.
“Udah nggak usah didenger para om-om jones itu,” ujar Arjuna sambil merangkul bahu Cilla.
“Maper Cil, maper,” sahut Erwin sambil terkikik. “Malam pertama.”
Wajah Cilla langsung merona mendengar kata itu. Tidak ada bayangan tentang malam pertama karena dalam pikiran Cilla justru ingin menikmati masa pacaran yang aman setelah jadi istri Arjuna.
Cilla langsung meninggalkan Arjuna dan para sahabatnya, menghampiri meja Febi, Lili, Jovan, Dimas dan Tami, adiknya Dimas.
“Yah kabur, Jun,” ledek Dono. “Alamat nanti malam cuma belajar rumus matematika doang buat persiapan ujian sekolah.”
“Elo kira gue guru les privatnya Cilla ?” sahut Arjuna sedikit sewot.
“Ya harus privat kalau soal malam pertama, Jun.” ujar Pius. “Memangnya elo rela membiarkan Theo atau Luki yang kasih pelajaran buat Cilla ?”
“Nggak !” jawab Arjuna cepat dengan wajah juteknya.
“Ingat ya Jun, status udah suami. Jangan sering-sering bikin istri kecil elo kesal terus kabur-kaburan lagi. Nggak ada bantuan dan jangan mengharapkan pembelaan,” ujar Theo dengan wajah tegas.
“Iya kakak sepupu,” ledek Arjuna sambik tertawa. “Berasa aneh banget bisa jadi saudaraan sama elo.”
“Apalagi gue, Jun. Nggak pernah mimpi punya saudara kayak elo !” gerutu Theo dengan wajah yang tidak kalah sebal.
Cilla menyapa semuanya dan ikut ngobrol sebentar sebelum akhirnya mengajak Amanda untuk ikut bergabung dengan Jovan, Febi, Lili, Dimas dan adiknya Tami.
“Tami, maacciihh banget yaa udah mau datang,” Cilla menghampiri adik Dimas itu lalu menyapa dengan cipika cipiki.
“Udah kenalan belum sama calon kakak ipar ?” ledek Cilla sambil melirik Dimas dan Lili yang duduknya ternyata bersebelahan.
Sahabat absurdnya itu langsung memasang wajah tersipu-sipu membuat Cilla langsung tergelak dan Febi geleng-geleng kepala sambil mencibir.
“Cilla !” Dimas langsung melotot. “Mau gue buat suami elo ngamuk-ngamuk sekarang juga ?” ancamnya.
“Ampun, Bang. Ampun,” Cilla berakting wajah memelas dengan tangan menangkup di depan wajah memohon pada Dimas.
“Wooiii pengantin lebay !” omel Jovan dengan wajah sebal.
“Eh penggemar laknat !” Cilla balas mengomel dengan kedua tangan di pinggang. “Bukannya berterima kasih sama calon kakak ipar yang udah susah payah bawa pacarnya kemari, malah dikatain pengantin lebay !”
Jovan berdiri di depan kursinya dan langsung membungkuk ke arah Cilla.
“Maaf calon kakak ipar.”
“Nah gitu, dong !”
Yang lainnya langsung ngakak melihat kelakukan Jovan yang pura-pura imut dengan mata mengerjap.
“Apa perlu gue kenalin mertua gue sama bo-nyok elo ?” tanya Cilla pelan sambil menutup mulutnya sebelah dengan telapak tangannya.
“Awas lo !” Jovan langsung melotot. “Elo tahu sendiri gimana mami kalau merasa dipaksa. Bisa gagal total rayuan gombal gue.”
“Cemen !” ujar Cilla sambil terkikik.
“Untung gue udah nggak suka lagi sama elo,” timpal Lili sambil mencibir.
Amanda sedikit tercengang mendengar ucapan Lili. Sahabat kakak iparnya yang satu itu kadang memang terlalu jujur dan apa adanya.
“Dimas macho kok, Li,” ledek Cilla sambil melirik ke arah Dimas.
“Iya Kak Lili. Kak Dimas ini pria tangguh lahir batin, kok. Sebelum aku pasang kaki palsu, Kak Dimas suka gendong aku kalau mau tidur atau ke kamar mandi,” ujar Tami.
Adik satu-satunya Dimas ini adalah korban tabrak lari saat keduanya masih hidup sebagai anak jalanan dan yatim piatu. Kaki kirinya harus diamputasi karena rusak parah. Setelah dokter yang mengobati Tami memberikan lampu hijau untuk memasang kaki palsu, papi Rudi langsung menyuruh dokter menjalankan prosesnya, hingga sekarang Tami berjalan dengan satu kaki palsu.
“Tuh Li, udah dapar dukungan dari calon adik ipar,” ledek Cilla.
Dimas menoleh ke arah adiknya dengan mulut ngedumel dan wajah sebal, tapi Tami mengabaikannya dan ikut tertawa bersama Cilla.
Bagi Tami, sudah waktunya kakaknya memikirkan kehidupan pribadinya. Apalagi perempuan yang menyukai kakaknya adalah teman baik Cilla. Bagi Tami sendiri, bertemu dengan papi Rudi dan mengenal Cilla yang begitu rendah hati adalah berkat yang luar biasa.
“Kakak kamu anti banget sama aku, Tam,” ujar Lili dengan wajah terlihat sedih. “Capek juga kalau ditolak terus, soalnya udah keseringan aku yang nguber-nguber cowok.”
“Lagian elonya juga yang maksa,” sindir Febi sambil mencibir.
Lili hanya diam dan mulutnya cemberut, membuat Dimas tanpa sadar melirik Lili yang tidak mengoceh seperti biasanya dan fokus dengan hidangan yang ada di depannya.
Cilla sempat berpindah ke meja lain, menyapa keluarga Jovan, Febi dan Lili yang duduk di satu meja. Mereka tidak menyangka kalau Cilla akan menikah di usia muda.
Terlihat mami Jovan sedikit sedih mendapat kenyataan kalau Cilla menikah dengan pria lain. Padahal saat masih bertetangga, mami Sylvia sudah seperti saudara baginya dan sepakat menjodohkan kedua anak mereka.
“Cilla sorry sebentar,” Mimi menghampiri Cilla dan menarik lengan pengantin baru itu.
Kru video dan film yang ikut bergerak ke arah belakang restoran, menarik perhatian undangan yang sudah mulai selesai menikmati hidangan.
Cilla mengernyit tapi menurut pada Mimi. Para sahabatnya ikut mengejar, begitu juga dengan para orangtua Cilla dan Arjuna.
Mata Cilla tercengang saat mendapati suaminya sedang dipegangi oleh para sahabatnya. Arjuna hanya mengenakan kemeja dan celana panjangnya sementara jasnya ada di tangan Wiwik.
Cilla mendekat. Kru foto dan video sudah bersiap di posisi yang sangat strategis.
“Cilla, nggak ada niat bantuin Mas Juna ?” dengan wajah memelas Arjuna memohon pada istrinya yang malah melipat kedua tangannya di depan dada.
“Katanya pria sejati. Jadi buktikan malam ini kalau Mas Juna pria yang menepati janji,” ujar Cilla dengan wajah santai, tanpa niat ingin meminta suaminya dilepaskan.
“Kalau Mas Juna bau amis malam ini gimana ?” Arjuna melirik ke arah kolam ikan di sampingnya.
“Bisa tidur di sofa,” sahut Cilla santai.
“Duh teganya istriku,” ujar Arjuna dengan wajah lesu.
Tanpa mengulur waktu lagi, Luki, Theo, Erwin dan Boni langsung mengangkat Arjuna dan melemparkannya ke dalam kolam ikan. Mereka sudah ijin dengan pemilik restoran.
Tidak dalam, tapi sedikit berlumut dan memang bau amis. Semua tertawa termasuk Cilla .
Ternyata eksekusi rencana ini bukannya tanpa persiapan, termasuk baju ganti untuk Arjuna.
“Sayang, kamu tega banget ya sama suami,” keluh Arjuna sambil mengusap wajahnya. Dia sudah berdiri dan berjalan ke tepi kolam.
“Setidaknya Mas Juna sudah membuktikan kalau Mas Juna adalah pria sejati,” Cilla mengerjap-ngerjapkan matanya meledek Arjuna.
“Bantuin dong,” Arjuna mengulurkan tangannya.
“Dasar manja !” gerutu Cilla sambil mengulurkan tangannya.
Namun bukannya keluar dari kolam, Arjuna justru menarik istrinya masuk ke dalam kolam, membuat yang lainnya sempat tercengang dan akhirnya tertawa.
Cilla beranjak bangun dan berdiri di dalam kolam yang kedalamannya hanya 60cm.
“Mas Juna iihhh,” Cilla memukul bahu suaminya dengan wajah kesal.
Arjuna tertawa lalu memeluk istrinya yang langsung melepaskan kembali pelukan mereka.
“Tadi kan kita sudah mengikat janji untuk setia satu sama lain dalam susah dan senang serta untung dan malang. Jadi nggak ada salahnya kita sama-sama bau amis malam ini. Istrku.”
“Gombal !” wajah Cilla masih ditekuk dan bibirnya makin mengerucut.
Arjuna tersenyum dan langsung menarik tengkuk Cilla, memberi ciuman hangat untuk istrinya di depan umum membuat mata Cilla membelalak dan yang melihat kembali tercengang.
“Untung aja udah sah,” gerutu papa Arman.
“Iya; anakmu itu suka banget nyosor anakku,” sahut papi Rudi.
Keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala namun akhirnya tertawa bersama. Keistimewaan kedua anak mereka memang suka melakukan hal tidak terduga.
“Hutang gue lunas, Bro !“ pekik Arjuna sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Wajahnya terlihat sumringah sementara Cilla hanya tersipu malu sekaligus bahagia.
Mimi dan Wiwik saling berpandangan. Mereka tidak mempersiapkan pakaian ganti untuk Cilla yang ikutan nyebur ke dalam kolam.