
Arjuna menggoyangkan telapak kakinya yang sempat ditendang oleh Cilla. Baru kali ini kekesalan gadis itu diungkapkan dengan balasan fisik.
“Maklum Cilla itu menguasai aikido, Pak. Jadi tendangannya pasti di titik yang pas,” Jovan terkekeh.
“Lagian kamu juga kenapa musti paksa Cilla buat jadi pacar kamu. Kayak nggak ada cewek lain yang lebih cantik.”
“Tak bisa pindah ke lain hati, Pak,” ujar Jovan sambil tersenyum. “Kenal udah dari masih dalam perut dan besar sama-sama.”
“Lebay,” Arjuna mencebik.
“Beneran Pak,” Jovan mengangkat dua jarinya berbentuk V. “Kedua mami kami itu sahabat sejak SMA, ketemu lagi setelah menikah dan tidak sengaja jadi tetangga pula. Makanya saya bilang kenal sejak masih dalam perut.”
“Terus kenapa sampai Cilla begitu sebal sama kamu, malah saya lihat kalau Cilla agak benci sama kamu.”
“Bapak perhatian banget sama Cilla,” Jovan menoleh dan menyipitkan matanya. “Bapak naksir sama Cilla ?”
“Haiiss jangan nethink dong ! Gini-gini saya sudah punya calon istri. Lebih cantik pula dari Cilla dan dewasa, nggak pecicilan kayak tuh bocah.” Arjuna tertawa meski dalam hatinya menangis. Bisa-bisanya ia lancar berdusta soal calon istri. Pacar saja sudah putus hampir sebulan yang lalu.
“Eh biar bocah, Cilla calon pacar saya, Pak. Malah mami saya mendukung kalau Cilla jadi istri saya.”
Arjuna terkekeh dan mencibir.
“Kamu bilang sudah 9 tahun berusaha mendapatkan maaf darinya. Memangnya kamu salah apa sampai Cilla malah terlihat membenci kamu, sampai bilang kamu ketos sinting ?”
“Bapak mau tahu apa mau tahu banget ?”
“Hadeuh Jovan, apa untungnya saya mau tahu banget urusan kamu sama Cilla. Saya penasaran karena selama ini belum pernah melihat Cilla melakukan tindakan fisik, sekesal apapun hatinya sama saya.”
“Sama Bapak ?” Jovan langsung merubah posisi duduknya miring menghadap ke arah Arjuna.
Merasa telah salah bicara, Arjuna langsung berpikir keras untuk mengalihkan pikiran Jovan.
“Iya, sama saya,” jawab Arjuna berusaha untuk tidak terlihat gugup. “Kamu kan tahu sendiri kan sejak saya pertama datang ke sekolah ini untuk wawancara, Cilla sudah ngajak saya berantem aja.”
Jovan masih mengerutkan dahinya dan ekspresi wajahnya masih menunjukan rasa tidak percaya.
“Kenapa saya punya firasat kalau Pak Arjuna tahu banyak soal Cilla.”
“Jangan over thinking, saya nggak banyak tahu soal Cilla. Lagipula yang naksir berat sama dia tuh justru teman saya.”
“Kok bisa teman Bapak sampai kenal Cilla ? Om-om ?”
“Mana bisa saya dan teman-teman saya dikategorikan om-om ! Umur kita saja cuma beda 8 tahun, sewindu doang Jovan. Nggak lihat apa muka saya baby face begini,” Arjuna mengomel dengan wajah kesal.
“Terus gimana caranya Cilla.bisa sampai bertemu dengan teman Pak Arjuna ?”
“Eh Jovan, kamu tuh terkenal dengan julukan ketos tampan dan pintar. Masa masalah Cilla ketemu teman saya aja perlu dijabarkan ? Jaman now Jovan, jaman now. Mal udah kayak pasar Inpres ada dimana-mana. Memangnya kamu bisa memantau tiap hari, tiap jam sampai tiap detik kegiatan Cilla ? Kalau namanya jodoh, mau di halte busway aja juga bisa ketemu.” Wajah Arjuna terlihat bertambah kesal menghadapi ke-kepoan Jovan.
“Teman Bapak cakep ? Kaya ? Cakepan mana sama saya ?” Jovan bertanya dengan wajah serius membuat Arjuna langsung terpingkal.
“Pertanyaan kamu alay banget sih, Van. Kalau soal kaya jangan dibilang, apalagi sudah seusia saya, pekerjaan dan jabatan juga sudah mapan. Kalau masalah cakep ?” Arjuna seolah berpikir sambil memegang dagunya.
“Cakepan saya kan, Pak ?” Jovan berkata sambil membusungkan dadanya.
“Tetap cakepan saya sih,” jawab Arjuna dengan santai. “Dan kalau dibandingkan sama kamu, tetap cakepan saya,” Arjuna kembali terpingkal.
Jovan langsung menekuk wajahnya dan cemberut.
“Kalau dibandingkan sama Bapak ya cakepan saya lah, udah gitu dari segi umur masih mudaan saya, terlihat lebih segar,” Jovan berkata sambil tersenyum mengejek Arjuna.
“Tapi fakta bebricara kalau Cilla lebih suka bicara dengan saya, berdebat dengan saya dan mungkin…”
Arjuna sengaja melirik Jovan yang terlihat menunggu lanjutan kalimatnya. Bahkan kepala Jovan tanpa sadar ikut maju ke depan, menunggu dengan wajah tidak sabaran.
“Sepertinya Cilla lebih nyaman kalau di dekat saya daripada kamu,” lanjut Arjuna dengan suara dibuat berwibawa, tapi akhirnya tidak tahan juga ia tergelak. Apalagi melihat ekspresi Jovan yang tadinya serius sekarang kembali cemberut.
“Pokoknya saya akan berjuang mendapatkan kembali hati Cilla,” tegas Jovan sambil mengangkat tangannya yang terkepal, memberi semangat pada dirinya.
“Saya juga akan berjuang membuat Cilla bisa jadian sama sahabat saya,” Arjuna pun mengangkat tangan memberi semangat pada dirinya.
“Jadi kita sama2 berjuang demi mendapatkan Cilla ?” Jovan memicingkan matanya.
Arjuna mengangguk mantap dan kembali menggerakan tangannya memberi semangat.
“Saya nggak akan mengalah biarpun sahabat Bapak lebih tua dan mapan dari saya,” ujar Jovan penuh semangat.
“Nggak ada yang nyuruh kamu ngalah,” Arjuna tertawa meledek.
“Tapi masalah kemarahan Cilla yang nggak hilang-hilang itu sebetulnya soal apa ?” Arjuna mengernyit.
“Bapak mau mencuri start dari saya ?”
Arjuna langsung menggeleng. “Saya ini selalu bersaing dengan gentle. Justru saya merasa nggak enak kalau teman saya mendapat poin plus duluan karena situasinya dengan Cilla baik-baik saja, sementara kamu masih dalam kondisi dibenci sama Cilla. Jadi di sini saya ingin menjadi wasit yang adil buat kamu dan sahabat saya.”
Arjuna mengeluarkan jurus sepak rayunya dengan gaya yang elegan layaknya seorang guru TK membujuk muridnya yang menangis.
Jovan terlihat berpikir dan wajahnya sesekali berkerut. Arjuna meletakkan tangannya di atas bangku semen dengan posisi ke belakang. Dia menoleh ke lain arah sambil tersenyum tipis. Berharap rayuannya berhasil membuat Jovan bercerita masalah yang ada di antara mereka berdua.
“Masalah ini hanya saya dan Cilla yang tahu,” Jovan menghela nafas. “Bahkan Febi dan Lili tidak pernah tahu karena Cilla tidak pernah bercerita.”
“Kamu tahu darimana ?” Arjuna mengangkat sebelah alisnya.
“Febi dan Lili pernah bertanya langsung pada saya, bahkan lebih dari sekali. Itu pun karena mood Cilla mendadak buruk setelah bertengkar dengan saya.”
Jovan kembali menghela nafasnya.
Arjuna merubah posisi duduknya lebih tegak. Ia melipat kedua tangannya di depan dada menunggu Jovan mulai bercerita.
“Om Darmawan pernah menikah kembali saat Cilla baru saja naik ke kelas 3. Seorang janda dengan satu putrinya yang sudah kelas 11. Tapi menurut mami, pernikahan itu dilakukan di luar negeri dan belum dapat pengesahan secara hukum di Indonesia. Kalau istilahnya semacam kawin siri, Pak.
Sebetulnya tujuan Om Darmawan kembali menikah adalah memberikan Cilla seorang ibu yang bisa memperhatikannya. Ditambah lagi dengan anak tirinya yang sudah lebih dewasa, om Darmawan berharap Cilla akan lebih disayang dan diperhatikan. Tapi ternyata, istri kedua dan anaknya itu persis seperti gambaran ibu tiri dalam film Cinderella. Baik pada Cilla hanya di depan papinya. Mereka tergiur pada kekayaan om Darmawan.
Saya sempat melihat Cilla diperlakukan seperti pembantu saat Mia, kakak tiri Cilla, mengajak teman-temannya datang ke rumah om Darmawan. Semua pembantu diancam oleh Tante Sofi kalau berani mengadu pada om Darmawan. Masalahnya bukan ancaman dipecat dari pekerjaan, tapi Cilla-lah yang jadi tameng para pelayan di rumah.
Singkat cerita sampai suatu hari, Cilla datang ingin bermain ke rumah saya yang hanya berjarak dua rumah dari kediamannya. Saat saya keluar, terlihat Kak Mia sudah tergeletak di aspal dengan tangan dan kaki berlumuran darah. Namun saat itu Kak Mia masih sadar dan motor yang katanya menyerempet Kak Mia sudah kabur. Cilla sendiri sedang berjongkok tidak jauh dari Kak Mia terjatuh. Tante Sofi langsung membawanya ke rumah sakit dan om Darmawan menyusul ke sana.
Ternyata Kak Mia mengadu pada om Darmawan kalau Cilla yang mendorongnya sambil berkata kalau ia berharap Kak Mia hilang dari kehidupannya. Cilla membantah, namun Kak Mia lebih pandai meyakinkan om Darmawan apalagi pakai bumbu airmata. Bahkan Tante Sofi ikut bicara kalau ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Cilla mendorong Kak Mia saat ada motor meintas.
Mendengar Cilla yang terus membantah penjelasan ibu dan kakak tirinya yang menangis tersedu-sedu, reflek om Darmawawan menampar Cilla yang saat itu hampir berusia 8 tahun, di depan semua yang ada di ruangan, termasuk saya, papi dan mami.
Tidak ada rasa belaskasihan dari om Darmawan meskipun papi berusaha menenangkan dan mami saya sampai memohon. Cilla bahkan sampai jatuh tersungkur akibat tamparan om Darmawan yang sangat kuat. Hukuman Cilla tidak berhenti di situ saja. Ia digendong paksa oleh papinya dan dibawa pulang. Saya hanya mendengar kalau Cilla kembali dihukum di rumah, dan saat ia mencoba menghindar, kakinya tersandung karpet hingga tubuhnya jatuh menimpa meja yang ada di ruang tamu. Badannya terluka karena pecahan kaca, bahkan ujung besi penyangga meja merobek bahunya. Namun yang menyakitkan bagi Cilla, om Darmawan hanya menyuruh Bik Mina dan Pak Trimo yang mengurusnya, sementara om Darmawan kembali ke rumah sakit menemui Mia dan Tante Sofi. Bahkan menurut cerita papi, saat di rumah sakit, om Darmawan sampai berlutut minta maaf karena telah gagal mendidik Cilla, anak kandungnya sendiri, sampai berniat menyingkirkan Mia dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh anak usia hampir 8 tahun.”
Jovan berhenti sejenak. Kesedihan terpancar di matanya bila mengingat kejadian hari itu.
Arjuna pun sampai bergidik mendengarnya.
“Lalu apa hubungannya dengan kebencian yang Cilla pupuk sama kamu ?”
Jovan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Dua hari kemudian, Kak Mia yang hanya mengalami lecet luar sudah kembali ke rumah. Saya dan mami yang sedang menjenguk Cilla bertemu dengan mereka termasuk om Darmawan yang khusus menjemput anak tiri dan istrinya.
Meski keadaan Cilla masih cukup lemah, om Darmawan kembali memanggil Cilla dan memaksanya untuk minta maaf pada kakak tirinya. Cilla masih membantah dan meminta bantuan saya untuk meyakinkan mereka tentang kejadian yang sebenarnya. Saat itu saya malah mengatakan bahwa saya melihat Cilla mendorong Kak Mia. Saya… “ suara Jovan tercekat. Arjun menepuk-nepuk bahu muridnya.
“Saya bahkan memaksa Cilla untuk meminta maaf dan mengatakan kalau perbuatan Cilla memang salah. Saat itu saya berpikir kalau dengan minta maaf Cilla bisa terhindar dari hukuman om Darmawan, maka akan lebih baik daripada membantahnya. Ternyata pemikiran saya bukan hanya membuat Cilla kecewa tapi sangat melukai hatinya dan memutus persahabatan kami.”
“Apa ibu dan kakak tirinya masih ada ? Bukannya Cilla bilang dia hanya sendiri di rumah ?”
“Empat bulan kemudian om Darmawan menceraikannya. Untung saja belum ada pengesahan secara negara, makanya proses perceraian mereka berjalan cepat dan mudah.”
“Kenapa akhirnya Pak Darmawan sampai menceraikan istri keduanya ?”
“Papi dan mami adalah sahabat terdekat om Darmwan dan Tante Sylvia, maminya Cilla. Om Darmawan mengaku kalau ia sangat menyesal dengan segala perbuatannya pada Cilla. Dan atas saran papi, diam-diam om Darmawan memasang cctv di banyak bagian di rumah. Dari situlah ketahuan perbuatan istri dan anak tirinya. Penyesalan om Darmawan semakin besar terhadap Cilla. Hati gadis kecil itu sudah sangat terluka. Untung saja ada Bik Mina dan Pak Trimo yang selalu menjaganya seperti anak mereka sendiri.”
“Dimana keberadaan istri dan anak tiri Pak Darmawan sekarang ini ?” Arjuna mengerutkan dahinya.
“Atas kebaikan om Darmawan, ia tetap menyekolahkan anak tirinya sampai selesai kuliah dan sebagai gantinya mereka harus menjauhi kehidupan Cilla. Semua itu dilegalitaskan dengan perjanjian di hadapan notaris. Dan sekarang, saya tidak tahu keberadaan mereka.”
Tidak lama kemudian bel tanda istirahat kedua berbunyi. Arjuna pun bangun dari duduknya dan mengibaskan celananya yang sedikit berpasir..
“Saya akan berbicara baik-baik dengan Cilla supaya ia mau berbesar hati memaafkanmu,” Arjuna tersenyum sambil menepuk bahu Jovan.
“Terima kasih, Pak. Saya lega bisa berbagi dengan Bapak. Tapi tolong jangan kecewakan kepercayaan saya.”
Arjuna hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia pun melangkah perlahan meninggalkan Jovan.
“Pak Arjuna !” Panggilan Jovan menghentikan langkahnya dan Arjuna berbalik sejenak.
“Ada apa lagi ?” Terlihat Jovan berlari kecil mendekatinya.
“Kenapa saya punya feeling kalau yang mengejar Cilla bukan sahabat Bapak.”
“Terus siapa ? Maksud kamu saya ngada-ngada ?” tanya Arjuna sambil tergelak.
“Bukan !” Jawab Jovan. “Tapi Bapak !”
Arjuna tercengang dan menghentikan tawanya.
“Saya ?” Arjuna menunjuk dirinya sambil tersenyum tipis.
“Ya, naluri saya mengatakan kalau Bapak yang menaruh hati pada Cilla.”
Arjuna tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu bukan orang pertama yang bilang begitu. Tapi saya yang merasakan, bukan pandangan orang.
Bagi saya, Cilla hanya seperti adik. Kebetulan adik saya memang seusia kalian, dan saat ini agak sulit bagi saya untuk menemuinya. Itulah yang menbuat saya menganggap Cilla sebagai pengganti adik saya.”
“Tapi, Pak…”
“Fighting, Bro!” Arjuna tersenyum sambil mengangkat kepalan tangannya. “Saya akan menjadi teman seperjuangan yang akan membuat kamu dan sahabat saya bersaing secara sehat.” Arjuna kembali menepuk-nepuk bahu Jovan lalu meninggalkannya.