MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Calon Mahasiswa Baru


Sudah empat hari papi Rudi dirawat di rumah sakit dan selama itu juga Cilla menjaga papi tanpa mau digantikan.


Awalnya papi Rudi pun meminta pulang setelah dua hari dirawat, namun dengan bujukan Cilla yang beralasan keperluan observasi dokter akhirnya papi bersedia tetap tinggal di rumah sakit sampai diijinkan dokter untuk pulang.


Cilla yang biasa ditemani oleh Febi dan Lili di pagi hari dan Arjuna di malam harinya terpaksa harus meminta bantuan om Budi untuk menemani papi pagi ini.


Ketiga sahabat itu harus ke kampus yang menjadi tempat ketiganya melanjutkan pendidikan selepas SMA. Cilla yang awalnya bercita-cita ingin menjadi jurnalis atau psikolog akhirnya harus banting setir mengambil manajemen demi menjalankan tugasnya membantu Arjuna menjalankan usaha kedua orangtua mereka.


Arjuna yang letak kantornya searah dengan kampus Cilla mengantar istrinya itu dulu dengan mobil yang disopiri Bang Dirman. Selama tidur di rumah sakit, Cilla melarang Arjuna membawa mobil sendiri.


“Nanti dari kampus langsung balik ke rumah sakit ?” tanya Arjuna saat mobil sudah melaju di tengah hiruj pikuk pagi kota Jakarta.


“Lili sih ngajak jalan sebentar ke Mal, tapi kayaknya Cilla mau langsung balik, Cilla mau temenin papi aja.”


“Sebentar pergi ke mal nggak apa-apa. Refreshing sama Lili dan Febi. Kalau urusan kerjaan Mas Juna sudah beres nanti Mas Juna jemput biar kita bareng ke rumah sakitnya.”


Cilla diam sejenak dan terlihat sedang memikirkan ucapan Arjuna.


“Kalau sudah beres urusan kampus, Cilla telepon om Budi dulu. Kalau kira-kira kondisi papi aman, Cilla baru pergi ke mal.”


“Ya udah, nanti kabarin Mas Juna aja maunya Cilla gimana,” ujar Arjuna sambil tersenyum. “Dan ingat ya kalau status Cilla udah bukan single lagi biar baru mau masuk kuliah,” tegas Arjuna dengan wajah galaknya.


“Nggak bakalan lupa,” Cilla nyengir kuda sambil memperlihatkan jari manis kanannya. “Cilla tinggal kasih lihat ini.”


“Anak pintar,” Arjuna mencubit kedua pipi Cilla sambil menggoyang-goyangkannya. “Istri siapa sih ini ?”


Cilla meringis lalu mengerucutkan bibirnya.


“Mas Juna kebiasaan, deh, nanti kalau pipi Cilla nggak kenceng lagi gimana ? Kemarin ini dokter Steven juga cubit-cubit.”


“Dokter Steven ?” dahi Arjuna berkerut.


Cilla langsung nyengir kuda dan menatap Arjuna dengan puppy eyes-nya.


“Kapan Cilla ketemu Steven ? Berani dia cubit-cubit pipi Cilla ?” nada Arjuna sudah dalam mode emosi.


“Nggak sengaja ketemu pas hari Minggu di taman rumah sakit,” Cilla masih memasang wajah imutnya tapi tetap tidak membuat wajah Arjuna yang ditekuk berubah sedikitpun.


“Terus kenapa pakai cubit-cubit pipi Cilla segala ?”


“Alasannya sama kayak Mas Juna karena Cilla imut dan menggemaskan,” mata Cilla mengejap sambil tersenyum manis. “Tapi berani jamin Cilla nggak selingkuh.”


Mata Arjuna memicing, menatap Cilla dengan aura sangarnya efek dari cemburu.


“Tawaran dokter Steven meminjamkan saputangannya aja Cilla tolak. Cilla nggak akan lupa sama janji kita. Kalau jauh dari Cilla, Mas Juna juga harus bersikap yang sama ya, jangan coba-coba selingkuh !” tegas Cilla sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Arjuna.


“Kenapa pakai pinjamin saputangan segala ?” ketus Arjuna.


“Cilla habis nangis, jadi mukanya kusut sama air mata. Dokter Steven suruh Cilla cuci muka dan lap nya pakai saputangan.”


“Apa dokter itu nggak tahu sama yang namanya tisu ?”gerutu Arjuna.


“Mas Juna udah dong, ngambeknya jangan kepanjangan. Seriusan deh Cilla nggak selingkuh, niat aja nggak,” Cilla mengangkat tangannya membentuk huruf V.


Arjuna hanya diam dan menghela nafas masih dengan wajah kesal.


“Cilla boleh cium nggak ? Pipi doang,” sahut Cilla dengan hati-hati.


Arjuna diam saja dengan posisi wajah menatap ke depan. Cilla tersenyum tipis dan langsung memberikan kecupan di pipi Arjuna dan hanya sebelah karena Arjuna tidak menyodorkan pipi satunya lagi.


“Jangan kelamaan bete-nya suamiku,” Cilla mengusap pipi Arjuna. “Nanti malam bobo peluknya nggak enak kalau ada aroma kemarahan.”


Arjuna diam saja, pandangannya beralih ke arah samping jendela.


“Cilla turun dulu Mas Juna, wa atau telepon Cilla jangan dicuekkin, ya ! Makasih udah antar Cilla, Bang Dirman. Titip suami kesayangan Cilla,” ujar Cilla sambil terkekeh pada Bang Dirman.


“Aman Non. Pak Boss diantar dengan selamat sampai tujuan,” sahut Bang Dirman yang tertawa dan mengacungkan ibu jarinya sambil menatap Cilla dari spion tengah.


“Sip deh !” Cilla balas mengacungkan jempolnya juga lalu keluar dari mobil.


Mobil pun berlalu saat Cilla sudah memasuki lobby kampus. Cilla mengeluarkan handphonenya, mencoba mengecek kalau-kalau ada pesan dari Febi atau Lili, tapi nihil. Cilla mencoba menghubungi Febi dulu tapi sampai masuk ke kotak suara, panggilannya tidak terjawab. Nasib panggilan ke Lili pun juga sama.


Cilla akhirnya memutuskan duduk di area taman kampus, tidak jauh dari lobby, sambil menyibukkan diri dengan handphonenya.


“Calon mahasiswa ?”


Cilla mendongak dan terlihat seorang cowok yang lumayan tinggi sedang berdri di depannya. Cilla memiringkan tubuhnya melewati tubuh cowok itu dan melihat ada empat orang cowok lain duduk tidak jauh darinya.


“Iya,” Cilla menyahut dengan senyuman tipis.


“Mau urus administrasi ? Sudah tahu letak kantor admin-nya ?”


“Pertanyaan borongan ?” Cilla mengernyit. “Saya lagi nunggu teman dulu.”


“Boleh duduk ?” cowok itu menunjuk ke arah sebelah Cilla yang kosong.


“Nggak ada aturan yang melarang,” sahut Cilla sambil menggeser duduknya hingga ke tepi bangku, supaya posisi duduk mereka tidak berdekatan.


“Jurusan apa ?” tanya cowok itu setelah duduk sebangku dengan Cilla.


Ada suara ledekan dari empat cowok lain yang sedari tadi memang memperhatikan mereka. Cilla yakin kalau keempatnya adalah teman dari cowok di sampingnya.


“Manajemen,” sahut Cilla singkat dan kembali menatap handphonenya, menunggu kabar dari Lili dan Febi yang tidak masuk-masuk.


“Sama dong, gue sekarang semester enam mau ketujuh,” ujar cowok itu.


“Bukannya lagi libur ? Kok pada di kampus ?” Cilla mengerutkan dahinya, menatap sekilas ke cowok di sebelahnya lalu ke arah empat cowok lainnya.


“Hans,” cowok itu mengulurkan tangannya. “Lebih enak kalau ngobrol udah saling kenal nama.”


”Penting banget ?” Cilla kembali mengernyit.


“Sepertinya begitu,” sahut cowok itu sambil terkekeh. “Soalnya gue dan mereka adalah anggota BEM yang bakalan ospek calon mahasiswa baru.”


Cilla membelalak, bisa-bisanya ketemu senior yang bakal memberikan ospek.


Kalau diperhatikan, cowok di depannya cukup tampan dengan kulit putih dan wajah yang nggak mulus banget.


“Eheemm…”


Mata Cilla kembali membelalak saat melihat pria kesayangannya itu sudah berdiri di dekatnya dengan kedua tangan di saku celana bahannya.


“Mas Juna,” panggil Cilla dengan senyuman manis dan melepaskan jabatan tangannya. Namun Cilla mengerutkan dahi saat Hans tidak membiarkan jabatan tangan mereka terlepas.


“Kakak kamu ?” tanya Hans sambil menunjuk ke arah Arjuna dengan gerakan wajahnya.


“Lepasin tangan kamu,” tegas Arjuna dengan posisi semakin dekat. “Saya suaminya dan nggak kasih ijin kamu pegang tangan istri saya lama-lama.”


Hans tercengang dan melepaskan jabatan tangannya. Tapi tidak lama kemudian Hans tertawa menganggap ucapan Arjun sebagai lelucon supaya tidak ada yang mendekati Cilla.


“Alasan klasik sih, tapi cukup meyakinkan,” ujar Hans. “Kakak lo protektif banget, ya ?” Hans terkekeh bertanya di balik telapak tangan yang menempel di wajahnya.


“Ini suami saya, bukan kakak,” Cilla memasang wajah serius dan memperlihatkan jari manisnya. “Suami sah bukan bohongan.”


Cilla bangun dari duduknya dan bergelayut di lengan Arjuna. Hans dan keempat temannya menatap mereka berdua dengan mata menyipit.


“Kenalkan ini suami saya, kakak senior Hans. Mas Juna ini namanya Hans, anggota BEM yang tergabung dalam tim ospek calon mahasiswa baru nantinya.”


Arjuna hanya tersenyum tipis pada Hans yang masih menatapnya tidak percaya. Cilla tertawa pelan lalu mengambil handphonenya yang berbunyi.


“Febi,” ujar Cilla memperlihatkan layar handphonenya pada Arjuna.


“Pamit dulu Kak Hans,” Cilla mengangguk dan masih memegang lengan Arjuna mengajak suaminya ke arah lobby kampus.


“Kok balik ? Dan kok tahu Cilla lagi ada di situ ?” tanya Cilla saat keduanya berjalan sambil bergandenhan tangan.


“Firasat sebagai suami memang nggak pernah salah,” ketus Arjuna dengan wajah cemberut.


“Firasat apaan ? Mas Juna nuduh Cilla selingkuh lagi ?” tanya Cilla dengan nada kesal dan bibirnya ikutan manyun.


“Cilla tuh nggak percaya sama omongan Mas Juna,” ujar Arjuna dengan wajah kesal, mengajak Cilla menepi ke arah taman.


“Tidak semua cowok suka cewek berpenampilan seperti Sherly dan teman-temannya. Selama ini Cilla selalu merasa jadi cewek yang biasa aja dan nggak akan dilirik banyak cowok. Belum seminggu, Cilla sudah membuktikan sendiri kan ? Di rumah sakit didekati Steven dan di kampus sama anak senior.”


“Bukannya biasa kalau senior cari perhatian sama anak baru ?”


Arjuna menghela nafas panjang dan menangkup wajah Cilla.


“Tidak semua cowok melihat kecantikan wanita dari tampilan luarnya, dandanannya, pakaiannya. Tidak semua cowok suka sama cewek yang tinggi dan melenggak lenggok kayak foto model. Banyak cowok yang suka sama cewek imut dan menggemaskan juga kayak Cilla. Yang tampil apa adanya tanpa make up. Dan di mata Mas Juna, Cilla adalah perempuan luar biasa, cantik lahir batin. Istri yang sangat Mas Juna cintai. Mas Juna nggak rela kalau ada cowok lain tertarik sama Cilla apalagi dekat-dekat sama Cilla.”


Arjuna ikut tersenyum saat Cilla mulai menarik kedua ujung bibirnya dengan ekspresi lucu karena kedua tangan Arjuna masih menangkup wajah Cilla.


“Posesif ? Cemburu ?” tanya Cilla


“Udah tahu kan jawabannya ?” tanya Arjuna sambil mencubit kedua pipi Cilla.


“Kita sama dong,” ujar Cilla sambil terkekeh. “Cilla juga nggak suka kalau Mas Juna terlalu dekat sama cewek-cewek apalagi yang kegatelan kayak ulet bulu.”


Arjuna tertawa melihat bibir Cilla yang mengerucut


“Assyyikk Mas Juna udah ketawa lagi,” ujar Cilla sambil tertawa. “Nanti malam bobo peluknya tambah wangi cinta, soalnya suami sayang udah nggak ngambek lagi.”


“Tambah pintar gombal,” cebik Arjuna.


“Kan murid harus selalu mengikuti ajaran gurunya,” sahut Cilla menaik turunkan alisnya.


“Dih kapan juga Mas Juna suka gombal ?”


“Sejak pegang-pegang tangan Cilla di Ambarawa. Modus bilangnya takut Cilla tertabrak padahal memang udah niat mau gandeng tangan Cilla biar berasa pacaran.”


“Mulai over pede deh,” cibir Arjuna. “Waktu itu belum ada rasa sama Cilla, malah sebal soalnya kayak bayangan yang ngukutin terus kemana Mas Juna melangkah.”


“Iya deh, yang cinta banget sama Luna Mia,” sindir Cilla sambil mencebik.


“Pernah cinta doang nggak pakai banget. Kalau sama Priscilla Darmawan baru cinta banget malah cinta mati,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


“Duh melayang deh dirayu sama Pak Guru,” ledek Cilla.


“Duh mesranya, bikin ngiri aja nih,” sindir Lili yang baru saja datang bersama Febi. “Pagi-pagi udah mojok aja, nggak takut ditangkap satpam ?”


“Tinggal kasih lihat surat nikah,” sahut Arjuna santai.


“Mau bikin sekuel cintanya Pak ?” ledek Febi sambil tertawa. “Cintaku di Kampus Biru.”


“Udah nikah Febi, nggak perlu dikejar-kejar lagi cinta istri saya. Perlunya dipupuk aja biar bisa cepat kasih keponakan buat kalian,” sahut Arjuna.


“Iihh Mas Juna apaan sih !” ujar Cilla malu-malu memukul bahu suaminya. Arjuna hanya tertawa.


“Ya udah Mas Juna tinggal dulu. Udah ada Febi dan Lili yang jagain Cilla. Titip istri saya Febi, Lili.”


“Ya ampun Pak Juna, takut amat istrinya diserobot orang. Model Cilla banyak di pasar dekat sekolah kok, Pak,” ledek Lili sambil cekikikan.


“Nggak nemu di pasar, udah saya cari-cari. Cuma satu-satunya dan adanya di SMA Guna Bangsa,” sahut Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya pada Cilla.


“Udah sana pergi ke kantor !” Cilla mendorong Arjuna yang masih tertawa-tawa. “Cari uang yang banyak, suami, biar istri bisa sering-sering shopping sama ke salon.”


Arjuna hanya geleng-geleng kepala. Baru beberapa langkah, Arjuna berhenti membuat Cilla menautkan alisnya.


“Lupa belum dapat vitamin dari Cilla,” Arjuna yang sudah berbalik langsung mendekati Cilla dan mengecup bibir istrinya di depan Febi dan Lili membuat wajah Cilla langsung merona. Kedua sahabat Cilla sepertinya sudah biasa melihat Arjuna yang suka nyosor di depan mereka


“Ya ampun Pak Juna !” pekik Lili sambil menutup wajah dengan sebelah tangannya.


Arjuna hanya tertawa dan berjalan meninggalkan tiga mantan muridnya itu.


Ciuman tadi sengaja Arjuna lakukan setelah mempertimbangkannya masak-masak. Saat ia berbalik hendak meninggalkan Cilla, Arjuna sempat menangkap Hans dan dua orang temannya sedang menatap ke arah mereka.


Hanya ingin membuat Hans yakin kalau Arjuna dan Cilla adalah suami istri, sengaja Arjuna berbalik dan mengecup bibir Cilla dengan posisi yang sudah pasti terlihat oleh ketiga cowok tadi.


Masih belum percaya juga kalo Cilla istri gue ? batin Arjuna sambil melirik Hans dan temannya yang tampak tercengang saat melihat Arjuna mengecup bibir Cilla.