
Arjuna sedikit kecewa saat berpapasan dengan Dono di pintu kelas XII IPS-1 karena sahabatnya memberitahu kalau calon istrinya ijin tidak masuk sekolah hari ini. Kurang sehat begitu info yang Dono berikan.
Hari ketiga Cilla menghindari Arjuna. Semalam Arjuna gagal bertemu Cilla yang kata papi Rudi sudah tidur dan tidak mau diganggu. Bahkan seperti membalas dendam, Arjuna yakin kalau Cilla gantian memblokir nomor Arjuna karena semua pesan yang dikirim hanya centang satu.
Arjuna menghela nafas saat duduk di meja guru dalam kelas XII IPS-1. Matanya sendu menatap bangku kosong yang kehilangan penghuninya di barisan paling belakang dekat jendela.
Ternyata begini perasaan Cilla saat tidak bisa menghubungi Arjuna yang tidak memberi kabar apapun padanya. Gelisah, sedih dan kadang-kadang emosi karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
*
*
Tanpa sepengetahuan Arjuna, bukan tanpa tujuan Cilla tidak masuk sekolah. Dengan alasan ingin membicarakan masalah pernikahan, Cilla ijin pada papi Rudi bahkan mengajak papinya dan kedua calon mertuanya untuk makan siang bersama.
Dan sekarang keempatnya sudah duduk di salah satu restoran yang dipilih oleh Cilla. Bahkan menu makan siang pun sudah tersaji dan disiapkan oleh Cilla.
“Papa pikir kamu akan datang bersama Juna,” ujar papa Arman sambil menikmati makan siangnya.
“Mas Juna masih ada jadwal ngajar, Pa. Minggu depan mulai try out pertama, jadi kemungkinan Mas Juna akan sibuk di minggu ini.”
“Kamu sudah lihat-lihat mau pakaian pengantin seperti apa. Cilla ?” tanya mama Diva sambil menyentuh tangan calon menantunya.
“Belum, Ma,” sahut Cilla sambil tersenyum.
Mama Diva mengerutkan alisnya, untuk kedua kalinya bertemu Cilla, terlihat ada sesuatu yang berbeda dari calon menantunya ini. Biasanya terlihat ceria dan penuh semangat, tapi terakhir kali saat makan siang di rumah, Cilla berubah jadi lebih kalem dan tatapannya terlihat sendu.
“Apa kamu mau ada permintaan khusus sampai mengundang kami kemari ?” tanya papi Rudi saat semuanya telah selesai menikmati makan siang.
Cilla mengangguk sambil tersenyum tipis, Tangannya berada di bawah meja, menggenggam sesuatu yang tersimpan dalam tasnya.
“Ciila minta maaf sebelumnya kalau ternyata permintaan ini mengecewakan Papi, Papa dan Mama,” ujar Cilla dengan suara mulai bergetar.
Ketiga orangtua dihadapannya mengerutkan dahi dan perasaan tidak enak mulai menyelusup di hati mereka.
“Cilla mau membatalkan pernikahan dengan Mas Juna.”
Bagai mendengar petir di siang hari yang terik, ketiga orangtua itu terperangah, tidak percaya dengan ucapan Cilla barusan.
“Kenapa begini, Cilla ?” papi Rudi yang pertama kali bertanya.
“Apa Juna sudah membuat kesalahan fatal sama kamu ?” tanya papa Arman.
“Nggak, nggak ada,” Cilla cepat-cepat menggeleng dan tersenyum. “Setelah Cilla pikir-pikir, Cilla mau fokus belajar dulu dan cari ilmu setinggi-tingginya biar bisa cepat-cepat bantu Papi ngurus perusahaan.”
“Kamu nggak usah mikirin bisnis papi dulu, Cilla. Arjuna sudah bersedia membantu. Papi dan papa kamu…” ucap papi Rudi yang langsung dipotong oleh Cilla.
“Papi nggak usah membuat surat penunjukan Mas Juna sebagai wali untuk Cilla. Cilla pasti bisa menyelesaikan sekolah tepat waktu, bahkan nanti sambil kuliah, Cilla akan belajar membantu Papi mengurus perusahaan. Itu sebabnya Cilla nggak siap untuk menikah sekarang. Cilla akan lebih fokus bantu Papi kalau masih single.”
“Nggak…Mas Juna nggak pernah mengeluh apapun sama Cilla, tapi Cilla juga nggak mau jadi beban untuk Mas Juna. Biar Mas Juna ngurus perusahaan Papa aja dan Cilla yang akan membantu Papi. Lagipula semua usaha Papi udah dijual, kan ?” Cilla menoleh menatap Papi Rudi. “Tinggal hotel milik oma dan sekolah, sisanya Papi buat mendirikan pabrik di Batang, kan ?”
“Kalau Juna nggak cerita apa-apa sama kamu, darimana kamu tahu semua itu ?” dahi papa Arman berkerut.
“Nggak Pa, Mas Juna benar-benar nggak pernah cerita apalagi mengeluh apapun sama Cilla. Darimana Cilla tahu semuanya, sepertinya tidak penting. Mas Juna sangat peduli sama Cilla dan tidak mau membuat Cilla susah, tapi Cilla nggak bisa dan sudah memutuskan nggak mau jadi beban siapapun juga. Cilla sudah biasa kok Pa, Ma, untuk menghadapi semuanya sendirian. Hidup Cilla lebih tenang sendirian daripada menjadi beban orang lain.”
“Papi akan menunda pembangunan pabrik baru kalau memang bisa membuat kamu dan Juna tetap melanjutkan pernikahan ini,” papi Rudi menggenggam tangan putrinya.
“Pabrik itu hanya pemekaran dari pabrik yang Papa punya sekarang, Cilla. Tidak akan menambah beban untuk Arjuna. Sudah ada tenaga-tenaga ahli yang kami siapkan, Posisi yang Arjuna pegang adalah pengambil keputusan akhir. Lagipula masih ada Papa dan Papi kamu yang akan mendampingi Arjuna.”
“Dan mungkin akan lebih baik kalau yang menjadi pendamping hidup Mas Juna adalah wanita yang sepadan dengannya, minimal sudah lulus kuliah dan siap dengan dunia kerja. Cilla masih lama untuk sampai ke sana Papi, Papa. Masih empat sampai lima tahun lagi,” sahut Cilla.
“Tapi Mama yakin kalau yang Arjuna butuhkan adalah kamu, Cilla, bukan perempuan lain yang lebih dewasa dari kamu atau seumur Arjuna. Sebagai ibunya, Mama bisa melihat kalau anak Mama itu sangat mencintai kamu, Cilla,” Mama Diva mulai meneteskan air mata. Firasat keibuannya tidaklah salah, ada sesuatu yang ditahan oleh calon menantunya ini.
“Maafkan Cilla, Ma. Maaf. Cilla tidak mau lagi membebani Mas Juna,” Cilla menggenggam tangan mama Diva dengan mata yang mulai berkabut.
“Paling tidak jangan dibatalkan,” pinta papa Arman, “Cukup ditunda saja. Kamu pikirkan dulu baik-baik dan bicarakan dengan Arjuna dengan kepala dingin. Mungkin semua ini terlalu mendadak untukmu dan Arjuna, jadi tidak ada salahnya jika kita menundanya dulu.”
Cilla mengeluarkan kotak beludru dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke hadapan Papa Arman dan Mama Diva.
“Jangan ditunda, Pa. Kalau ditunda, rasa keterikatan akan tanggungjawab yang harus dipikul oleh Mas Juna tidak akan lepas. Siapa tahu sesudah ni, Mas Juna akan menemukan pasangan yang sepadan dengannya.”
Cilla tersenyum dan berusaha untuk tidak menoleh ke arah mama Diva yang masih terus menangis dan sesekali sesunggukan.
“Tolong penunjukan Mas Juna sebagai wali Cilla dicabut, Pi. Cilla yakin kalau Papi akan selalu bersama Cilla sampai usia Cilla memenuhi syarat untuk mengambil alih perusahaan Papi,” Cilla menatap Papi Rudi yang terdiam dan menghela nafas beberapa kali.
Cilla bangun dari tempat duduknya dan menghampiri mama Diva lalu bersimpuh di depan wanita itu.
“Maafkan Cilla, Ma. Maaf. Cilla bahagia punya calon mertua seperti Mama yang begitu sayang dan perhatian sama Cilla seperti anak kandung sendiri. Maaf kalau Cilla sudah mengecewakan Mama dan Papa.”
Mama Diva memeluk Cilla sambil menangis. Cilla pun tidak mampu lagi menahan air matanya yang ikut mengalir . Satu keputusan besar yang begitu berat Cilla lakukan tapi ia yakin kalau hanya ini yang terbaik untuk semuanya
Kejadian ciuman dan pemblokiran nomor masih bisa dimaafkan selama Arjuna bisa membuktikan kalau kebiasaannya susah membangun komunikasi dengan Cilla bisa dirubah. Tapi masalah permintaan orangtua ?
Setelah mendengar pengakuan Arjuna semalam di café secara diam-diam, Cilla merasakan sedikit kecewa pada Papi dan Papa Arman yang sering mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan anak-anak mereka.
Mungkin bagi Papi, Cilla hanyalah anak abege yang belum waktunya dipusingkan dengan masalah-masalah bisnis karena menuntut tanggungjawab yang berat, dan akhirnya mengalihkan sementara pada calon suaminya tanpa menanyakan lagi apakah Arjuna sanggup atau tidak untuk menerima semua beban itu sendirian ?
Cilla pamit duluan dan meninggalkan restoran dengan motor maticnya sambil menahan air mata yang terus meronta ingin tumpah.
Kalau saja Papi dan Papa mau mendengarkan Arjuna sebelum mengambil keputusan, kalau saja Papi tidak melarang Arjuna untuk melibatkan Cilla, kalau saja semua dibicarakan dulu sebelum direalisasikan, kalau saja ini dan itu.
Cilla menggelengkan kepalanya. Tidak ada gunanya berandai-andai karena semuanya sudah terlanjur terjadi. Tidak perlu ada yang disalahkan, karena keputusan hari ini diambil setelah Cilla mempertimbangkannya masak-masak meski kurang dari duapuluh empat jam yang lalu.