MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Niat Baik Cilla


Arjuna baru saja tiba di pujasera tempatnya biasa bertemu dengan Cilla. Padahal tadi sore ia menolak ajakan Luki untuk bertemu dengan para sahabatnya di café tempat biasa mereka berkumpul. Dalam bayangan Arjuna, ia akan melihat Theo yang datang bersama dengan Cilla. Itu sebabnya ia malas berkumpul dan memilih bersantai di kamar kostnya.


 


Namun tidak disangka sekitar jam setengah enam sore, Cilla mengirim pesan dan mengajaknya makan di pujasera dekat tempat kost Arjuna. Entah mengapa, hatinya susah untuk menolak meskipun sedikit deg deg kan juga kalau-kalau Cilla datang bersama Theo. Tapi gengsi hati Arjuna untuk bertanya dan membatalkan kesediaannya bertemu dengan Cilla.


 


Arjuna berdiri cukup jauh sebelum mendekati meja tempat biasa mereka makan. Ia sampai memicingkan mata, memastikan kalau Cilla datang sendirian tanpa Theo. Diliriknya jam tangan, baru jam enam lewat limabelas menit.


 


Setelah yakin kalau Cilla hanya sendirian, Arjuna berjalan santai mendekati meja dengan posisi Cilla menghadap ke arahnya. Dilihatnya gadis itu tersenyum saat ia semakin dekat, bahkan Cilla juga melambaikan tangannya menyuruh Arjuna lebih cepat. Arjuna sendiri berusaha berekspresi biasa-biasa saja.


 


“Bapak lama banget sih jalannya ! Kayak habis disunat aja,” omel Cilla saat posisi Arjuna sudah berdiri di dekatnya.


 


“Dasar abege kecentilan, sampai cowok yang habis disunat aja kamu jadikan tontonan,” sahut Arjuna dengan wajah ketus.


 


“Ya ampun Pak Arjuna !” Cilla menepuk jidatnya “Saya tuh bukannya suka nontonin cara jalan orang habis sunatan, tapi sering jadi tamu undangan tetangga yang nyunatin anaknya.”


 


“Bohong banget,” cebik Arjuna. “Jaman sekarang mana ada orang-orang yang tinggal di komplek mewah bikin acara pesta sunatan anaknya.”


 


“Haiss Bapak ini… kenapa masalah sunatan jadi diperpanjang, “ Cilla menghela nafasnya dengan wajah kesal. “Omongan saya itu tadi hanya sebagai istilah, perumpaan, mirip dan apapun itu…bukan bermaksud menjadikan masalah sunatan jadi  topik pembicaraan.”


 


Arjuna hanya diam saja dan memesan sate ayam plus lontong kesukaannya dan sebotol air mineral, setelah itu dia langsung duduk di kursi seberang Cilla.


 


“Bapak pesan makan sendiri ? Nggak ada niatan tawarin saya ?” Sindir Cilla sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya di atas meja.


 


“Kamu kan sudah dari tadi di sini, salah sendiri kalau belum pesan,”jawab Arjuna santai sambil mengeluarkan handphone dari saku celana pendeknya.


 


 Cilla menggerutu dan bangun dari kursinya kemudian ia memesan menu yang sama dengan Arjuna tapi sate tanpa kulit.


 


“Bapak beneran nggak lagi PMS kan ?” tanya Cilla setelah kembali duduk. “Soalnya berasa lagi ngomong sama cewek jutek yang lagi pms,” ujar Cilla sambil terkekeh.


 


Arjuna diam saja dan sibuk dengan handphonenya. Ciila kembali menggerutu kesal. Diambilnya handphone Arjuna sebelum pria itu sempat menahannya.


 


“Saya tuh ngajak Bapak kemari untuk makan dan ngobrol, bukannya menjadi tontonan gratis buat mata saya. Lagian wajah Bapak nggak cakep-cakep banget, malah kelihatan jelek banget karena pasang tampang jutek terus.”


 


Arjuna langsung melotot dan berusaha mengambil handphonenya  yang dimasukan Cilla ke dalam kantong kemejanya.


 


“Jangan coba-coba ambil handphone Bapak,” Cilla menepuk-nepuk kantong kemejanya dengan seringai licik. “Kalau sampai nekat, saya akan teriak dan lapor polisi atas pelecehan.”


 


Arjuna mendengus kesal dan membuka segela botol air mineralnya. Lagi-lagi tanpa diduga, Cilla langsung mengambil botol air mineral di tangan Arjuna dan menenggaknya hampir setengah .


 


“Udah kehabisan uang sampai nggak mampu beli air mineral ?” sindir Arjuna dengan wajah kesal.


 


Cilla meletakkan botol air mineral yang sudah berisi setengah dekat Arjuna.


 


“Nggak kena bibir saya sedikitpun,” sahutnya santai. “Jadi nggak ada istilah ciuman tidak langsung kalau Bapak sampai meminum sisanya.”


 


Arjuna mendengus kesal. Ia memang melihat kalau Cilla tidak menyentuh ujung botol air mineral yang sudah sisa setengah itu. Tidak lama pesanan mereka sudah diantar. Cilla memindahkan lima tusuk sate dan sebagian lontong ke piring Arjuna.


 


“Lagi diet ?” ledek Arjuna sambil tersenyum sinis. “Nggak sadar badan kamu butuh asupan lebih bergizi biar nggak kayak kue bantet begitu ?”


 


“Bukan masalah diet, Pak. Habis ini saya mau diajak kencan ke restoran mahal, jadi sayang kalau perut saya sudah kenyang makan sate. Lagipula saya ingat kalau sudah memasuki tanggal tua, jadi Pak Arjuna bisa tetap makan kenyang tanpa perlu mengeluarkan uang lebih,” sahut Cilla santai dan mulai menyantap satenya.


 


“Kalau mau kencan ngapain ajak-ajak saya makan di sini ? Kamu udah ganggu me time saya. Mau pamer kalau sekarang sudah punya pacar kaya ?” gerutu Arjuna dengan wajah kesal.


 


Cilla terbahak dan berusaha menelan sisa potongan kecil sate yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


 


“Sejak kapan pria-pria seperti Bapak menggunakan istilah “me time” ? Lagipula darimana Bapak tahu kalau pacar saya holang  khaya ?” Cilla sengaja memajukan wajahnya dan mengerling meledek Arjuna.


 


“Sejak kamu pamer digandeng cowok berkacamata hitam di sekolah,” ujar Arjun dengan wajah juteknya.


 


“Bapak cemburu ?” Cilla kembali mendekatkan wajahnya sambil tersenyum. “Saya senang banget kalau Bapak sampai bilang cemburu sama saya.”


 


“Mana ada saya cemburu sama kamu dan Theo,” sahut Arjuna sambil memasukan potongan sate ke dalam mulutnya. Dia mendadak sadar kalau sudah kelepasan bicara dengan Cilla mengenai sosok Theo yang sangat dikenalinya.


 


“Kok Bapak tahu itu Kak Theo ?” tanya Cilla sambil senyum-senyum.


 


“Kak Theo ?” Arjuna mengerutkan dahinya. “Sejak kapan kamu panggil teman saya itu dengan sebutan kakak ?”


 


“Sejak Bapak melihat saya digandeng oleh cowok tampan dan mapan bernama Theo itu,” sahut Cilla dengan senyuman yang sengaja dibuat malu-malu dengan wajah tersipu.


 


 


“Kamu memang abege keganjenan ya,” ujar Arjuna dengan mata mulai memerah dan rahangnya sedikit mengeras. “Baru melihat cowok gagah dengan kacamata hitam saja langsung tergoda dan dengan gampangnya jatuh hati pada cowok itu.”


 


Kena kamu Pak Arjuna, batin Cilla dalam hati. Tapi masih gengsi banget bilang kalau Bapak tuh cemburu sama Kak Theo.


 


“Bukan baru kemarin saja saya melihat Kak Theo terlihat tampan dan gagah dan jadi plus plus karena kacamata hitamnya. Tapi sayangnya hati saya sempat dipenuhi dengan Bapak.”


 


“Dan semudah itu kamu berubah ?” Arjuna menatap tajam ke arah Cilla dengan wajah memerah, apalagi melihat Cilla biasa-biasa saja sambil memakan lontong dengan bumbu kacang.


 


“Nggak mudah, Pak,  karena sudah tujuh bulan lebih saya berusaha tanpa perkembangan apapun dan saya tahu kalau semuanya akan berujung sia-sia. Sebagai generasi muda penerus masa depan bangsa, saya harus bisa cepat-cepat move on begitu sadar usaha saya hanya membuang waktu dan sia-sia,” sahut Cilla sambil membalas tatapan Arjuna dengan wajah santai dan senyum yang merekah.


 


“Sekarang kamu mau pamer ?” tanya Arjuna sambil mengalihkan pandangannya ke arah piring sate yang masih tersisa 2 tusuk. Ia mengambil satu tusuk dan mulai menyantapnya lagi untuk menutupi kegundahan hatinya.


 


“Saya nggak pamer, Bapak Arjuna Hartono !  Saya ajak kemari karena ingin tahu bagaimana rencana Bapak besok ? Apa sudah menghubungi Amanda atau mamanya Pak Arjuna dan mengatakan kalau besok Bapak akan datang ?”


 


“Apa urusannya dengan kamu ?” dengus Arjuna masih dengan wajah kesal. “Urusin aja pacar kamu dan nggak usah dipusingin lagi dengan masalah saya.”


 


Cilla melipat kedua tangannya di dada dan menatap Arjuna dengan senyuman tipis.


 


“Saya sudah pernah bilang ke Pak Arjuna, kalau saya tidak akan bosan mengingatkan Bapak untuk selalu bersyukur karena masih memiliki kedua orangtua. Sekalipun papanya bapak begitu galak dan keras sampai membiarkan Bapak jadi anak kost dan bekerja sebagai guru, tetaplah bersyukur, Pak. Karena dengan kemarahan berarti mereka masih memperhatikan Bapak. Dan jangan terlalu egois, masih ada mama dan adik bapak yang harus menerima keras kepalanya dua pria kesayangan mereka. Jangan sampai hidup Bapak penuh dengan penyesalan karena terlalu gengsi dan keras hati.”


 


“Kepo !” gerutu Arjuna lalu meneguk habis minumannya. Cilla menyodorkan botol air mineralnya yang masih baru ke dekat Arjuna.


 


“Saya benar-benar tulus, Pak,” ujarnya pelan dengan wajah sedikit sedih. “Kenapa Pak Arjuna suka nethink sama saya ?”


 


Arjuna tidak menanggapi ucapan Cilla dan pandangannya menoleh ke arah lain. Ia masih sedikit demi sedikit meneguk air mineralnya.


 


“Saya tidak mau bertengkar dengan Theo hanya karena masalah perempuan,” ujar Arjuna dengan suara agak pelan dan tetap tanpa menatap Cilla.


 


“Kak Theo itu sahabat baik Bapak sejak lama. Dia pasti nggak keberatan kalau saya sekedar mengantarkan Bapak pulang ke rumah. Apalagi Kak Theo juga tahu, segencar apapun saya mengejar Bapak, sebanyak apapun kata rayuan yang saya ucapkan untuk Bapak, sudah terbukti kalau Bapak tidak akan pernah tertarik sama saya. Kata Kak Theo saya itu hanya seorang anak bebek di mata Pak Arjuna, jadi tidak mungkin seorang Pak Arjuna yang menyukai angsa akan berubah pikiran menyukai anak bebek seperti saya,” ujar Cilla panjang lebar sambil tertawa.


 


Arjuna menoleh dan menatap Cilla yang masih tertawa. Kenapa ia malah menangkap ada kesedihan saat Cilla mengucapkan kalau dia hanya anak bebek di mata Arjuna.


 


“Besok Amanda menyuruh saya datang sekitar jam 11,” ujar Arjuna dengan suara pelan.


 


 Cilla tersenyum saat mendengar ucapan Arjuna. Pria dengan gengsi setinggi langit ini ogah mengiyakan penawaran Cilla tapi memberitahu tentang waktu kedatangannya ke rumah orangtuanya.


 


“Saya jemput di tempat biasa jam 10,” ujar Cilla dengan wajah ceria.


“Pakai baju yang bikin Bapak ganteng, jadi si om akan melihat kalau Bapak baik-baik saja dan tetap bahagia, meskipun lepas dari semua fasilitas orangtua.” Cilla mengedipkan sebelah matanya.


 


“Saya pulang dulu, Pak,” Cilla beranjak bangun dan menganggukan kepalanya sekilas pada Arjuna. “Saya mau lanjut kencan sama pacar,” ujarnya terkekeh.


 


Arjuna masih terdiam dan membiarkan Cilla meninggalkan meja. Gadis itu membayar pesanan makanan dan minuman untuk mereka berdua,


 


“Cilla ,” panggil Arjuna sambil memutar badannya. “Handphone saya nggak dikembalikan ?” tangannya menengadah meminta milik kepunyaanya yang tadi diambil paksa oleh Cilla.


 


“Oh Iya, maaf saya lupa beneran, Pak,” Cilla tertawa sambil menyerahkan benda pipih yang dikeluarkan dari saku kemejanya kepada Arjuna.


 


“Biar saya yang bayar,” ujar Arjuna sambil mengeluarkan dompetnya.


 


“Sudah saya bayar, giliran Bapak pas gajian nanti. Kalau besok semua berjalan lancar, Bapak harus traktir saya makan enak di tempat mewah. Sekali-sekali gaji Bapak habis separuh untuk berbuat kebaikan pada saya pasti akan besar pahalanya,” ujar Cilla sambil tertawa.


 


Arjuna hanya tersenyum tipis dan membiarkan Cilla berlalu. Hatinya sedikit tercubit saat mendengar kalau Cilla akan melanjutkan acara kencan dengan pacarnya, yang sudah Arjuna pastikan kalau pria yang berhasil mendapatkan hati Cilla adalah Theo, sahabatnya.


 


Arjuna berjalan meninggalkan pujasera. Ia sendiri masih mereka-reka hatinya. Kenapa tadi ia sempat bersikap seperti roller coaster yang naik turun ?


Pura-pura tidak ada apa-apa saat menemui Cilla di pujasera, mendadak kesal saat mendengar Cilla begitu mudah merubah perasaannya, tiba-tiba sedih saat mendengar ucapan Cilla tentang anak bebek dan angsa, hingga akhirnya mau menerima tanpa penolakan sedikitpun tawaran Cilla yang akan mengantarnya besok pulang ke rumah.


 


Arjuna menghela nafas di tengah-tengah langkahnya menuju ke rumah kost. Semoga ia bisa cepat menemukan jawabannya dan memiliki keberanian untuk menerima kenyataannya.