
“Kita kemana, Pak ?” tanya Nano saat mobil mulai perlahan meninggalkan lobby hotel.
“Ke arah Simpang Lima dulu aja,” sahut Arjuna sambil menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang belakang.
Tino hanya diam, membiarkan Arjuna sibuk mencari tahu keberadaan Cilla yang masih belum bisa dihubungi.
Arjuna sudah meminta bantuan Jovan dan Dimas, tapi semuanya menjawab tidak tahu. Bahkan Amanda bilang kalau papa baru akan mencari Cilla sebentar lagi.
Arjuna melirik jam tangannya. Hampir jam 9 malam. Pikiran Arjuna dipenuhi dengan Cilla hingga rasanya tidak nyaman pergi ke suatu tempat, akhirnya Arjuna meminta Nano kembali ke hotel setelah sekali berputar di sekitar Simpang Lima.
“Jam berapa besok berangkat ke Jogja, No ?” tanya Arjuna saat keduanya ada di dalam lift menuju kamar mereka.
“Pertemuannya diundur ke lusa pagi, Jun. Terserah elo mau jalan besok atau lusa pagi ke Jogja-nya ?”
“Kok bisa ?” Arjuna mengerutkan dahi saat mendengar perubahan rencana. “Papa nggak kasih kabar apa-apa ke gue ?” Terdengar Arjuna sedikit kesal dengan info yang disampaikan Tino.
”Mungkin om Arman juga belum tahu. Gue baru dapat kabar tadi pas makan malam.”
“Gue udah janji sama Cilla nggak lama-lama ninggalin dia. Tapi nih anak kemana juga seharian ini ? Handphonenya masih belum aktif juga.”
Arjuna menghela nafas. Perasaannya campur aduk nggak karuan tidak mendapat kabar dari Cilla. Arjuna teringat kebiasaannya juga pernah seperti ini, suka lupa memberi kabar pada Cilla saat tugas keluar kota atau sibuk dengan pekerjaan di kantor.
“Ternyata begini rasanya kalau nggak bertukar kabar sama orang yang kita sayang,” gumam Arjuna namun masih bisa didengar Tino.
“Sabar Bro, gue yakin kalau Cilla bukan model cewek yang suka balas dendam. Mungkin dia lagi ada keperluan.”
“Gue nggak bisa minta tolong Bastian untuk lacak keberadaannya kalau kondisi handphone Cilla mati. Lupa minta Bastian aktifin fitur baru mereka yang bisa melacak keberadaan orang meski handphonenya mati atau susah sinyal.”
“Wuuiihh canggih juga,” decak Tino.
“Pakai chip, Bro. Nanti sampai Jakarta, gue bakal minta handphone Cilla dipasangin chip pelacak. Bukan karena gue curigaan sama Cilla, tapi buat pencegahan aja. Elo tahu sendiri gimana dunia bisnis. Biar Cilla bisa bela diri, kalau udah dibius tetap nggak bisa apa-apa. Apalagi gue lihat Luna nggak ada matinya. Gagal lewat Riana, sekarang dia masuk lewat adik tirinya. Gue cuma khawatir kalau mereka nekad berbuat sesuatu sama Cilla.”
“Iya, kayaknya mantan elo itu nggak terima banget kalau Cilla jadi istri elo sekarang. Kelihatan kalau dia tuh nggak terima Cilla bisa lebih unggul dari dia.”
“Susah kalau orang suka merendahkan orang lain dan menganggap dirinya superior. Pas orang yang dianggap rendah mendapatkan apa yang mereka inginkan, berasa harga diri mereka diinjak-injak. Padahal Cilla nggak pernah merebut gue dari Luna. Tahu kalau Luna itu Mia, mantan kakak tirinya aja baru belakangan.”
“Mau ngopi dulu di cafe. ?” tawar Tino saat mobil berhenti di lobby hotel.
“Boleh, kita ngobrol dulu sebentar sambil gue nunggu kabar dari Cilla.”
Keduanya langsung jalan menuju cafe hotel dan duduk di meja yang ada di area outdoor. Tidak lama seorang karyawan hotel menghampiri meja Arjuna dan Tino.
Ternyata kamar Arjuna ditukar dengan kamar lainnya karena di awal Arjuna sempat meminta kamar dengan satu ranjang besar. Saat mereka check in yang tersedia justru kamar dengan 2 tempat tidur.
Arjuna akhirnya menyetujui dan memberi ijin pada petugas hotel untuk memindahkan barang miliknya. Toh tidak ada barang berharga yang perlu dikhawatirkan.
Baru saja pesanan kopi mereka diantar pelayan, notifikasi pesan handphone Arjuna berbunyi.
Wajah pria tampan itu terlihat sumringah meski sempat mengernyit saat melihat waktu di handphone menunjukan pukul 9.30 malam.
Cilla : sorry tadi Cilla kehabisan baterai handphone. Semalam habis vc sama Mas Juna lupa di-charge. Udah gitu lupa bawa powerbank jadi nggak bisa nge-charge.
Arjuna : memangnya Cilla tadi kemana ? Kok mama dan papa nggak ada yang tahu Cilla kemana.
Cilla : ada urusan penting, tapi bukan selingkuh kok 😛😛😋 Mas Juna tenang aja.
Arjuna : iya Mas Juna percaya, tapi kemana ? Ini udah di rumah atau masih di luar ?
Cilla : masih di luar, sebentar lagi juga balik kok. Mas Juna masih meeting sama klien ?
Arjuna : lagi ngopi sama Tino di cafe hotel. Cilla sebenarnya kemana, sih ? Jangan bikin Mas Juna khawatir, deh.
Cilla : nggak usah khawatir, santai aja Pak Juna 😀😀😀 Cilla lagi belajar gimana caranya menyenangkan suami.
Arjuna : jangan macam-macam, ya ! Jangan coba-coba belajar jadi pintar urusan ranjang sama orang lain, apalagi sama laki-laki !
Cilla : cie…,cie… Mulai mode cemburu lagi nih ceritanya. Jangan khawatir, Cilla bakal berguru sama pakarnya dan ditanggung pasti bikin suami bahagia.
Arjuna langsung menekan panggilan ke nomor Cilla namun anak bebek kesayangannya menolak panggilan vc dari Juna.
Cilla : wa dulu aja, lagi nggak memungkinkan untuk vc 😁😁
Arjuna : memangnya lagi dimana, sih ? Mas Juna nggak boleh tahu ? Jangan macam-macam deh ! Nggak pergi sama si Hans itu, kan ?
Cilla : nggak, Cilla nggak sama Hans
Arjuna : terus siapa yang nemenin ? Jovan tadi bilang ke Mas Juna kalau Febi dan Lili lagi keluar kota sama keluarganya. Dimas juga lagi ada acara kampus. Cilla siapa yang nemenin ? Bang Dirman juga nggak nganterin. Jangan bilang kalau lagi naik motor.
Cilla : wuuiihhh dapat infonya lengkap banget, ya 😀😀 Bahagia banget nih di khawatirin sama suami tersayang.
Arjuna : pulang sekarang ! Ini udah malam, Mas Juna nggak kasih ijin pulang malam-‘malam !
Cilla : nggak bisa pulang sekarang, lagi nungguin orang, belum balik-balik nih. Padahal meetingnya udah selesai dari tadi, tapi masih belum balik juga.
Arjuna : ketemu sama siapa, sih ! Pokoknya Mas Juna mau telepon sekarang !
Tanpa menunggu jawaban dari Cilla, Arjuna kembali menekan nomor Cilla dan melakukan panggilan biasa, bukan vc seperti sebelumnya.
Arjuna mengomel karena Cilla kembali menolak panggilan telepon Arjuna.
“Sebenarnya ada dimana sih nih anak !” omel Arjuna dengan wajah kesal dan membanting handphonenya ke atas meja.
“Sabar Bro, percaya dulu sama Cilla.”
“Ini udah malam, No. Masih aja suka pergi naik motor sendirian kemana-mana, bikin orang khawatir aja.” Arjuna masih mengomel dan menghabiskan kopinya.
“Bukannya sejak kenal sama elo memang tuh bocil suka naik motor kemana-mana ? Elo sendiri kan pernah ketemu dia malam-malam di tempat makan yang elo bilang.”
“Iya tapi itu dulu pas belum jadi istri gue,” omel Arjuna sambil bangun dari kursinya.
“Mau kemana ?” Tino mengerutkan dahinya.
Arjuna melambaikan tangan dan meminta pelayan supaya memasukan bon minuman ke dalam tagihan kamar.
“Gue balik kamar dulu. Mau minta Bastian lacak dimana Cilla berada.”
Tino menghela nafas dan mengikuti langkah Arjuna menuju lift. Arjuna mengeluarkan kunci kamarnya dan melihat nomor kamarnya yang baru.
Sampai di lantai yang dituju, Arjuna mengernyit.
“Pindah kamarnya kok lumayan jauh. Jadi beda arah sama elo,” ujar Arjuna saat melihat petunjuk kamar.
Kalau sebelumnya berdua dengan Tino ke arah kiri dari pintu lift, sekarang Arjuna harus ke arah kanan.
“Nggak apa-apa yang penting kan masih satu lantai,”’ujar Tino sambil menepuk-nepuk bahu Arjuna.
Arjuna hanya mengangguk dan berjalan ke sisi yang berlawanan dengan Tino. Hatinya masih kesal karena Cilla menolak terus panggilan telepon darinya.
Arjuna membuka pintu dan memasukan kartu ke slot yang tersedia untuk menghidupkan penerangan.
Matanya langsung membelalak dan degup jantungnya tidak karuan saat melihat sosok wanita yang duduk di atas ranjangnya.
Hatinya yang terbakar emosi karena masalah Cilla menjadi bimbang. Mau mengusir wanita ini keluar atau membiarkannya tetap tinggal di kamarnya.
“Apa kabarnya Pak Arjuna Hartono,” sapa wanita itu dengan senyuman yang sangat manis.
Arjuna membuang mukanya, mencoba bertanya-tanya pilihan hatinya sendiri. Arjuna pun menghela nafas panjang.
“Mau ngapain kamu di sini ?” tanya Arjuna dengan ketus.
Wanita tadi hanya tertawa melihat ekspresi wajah Arjuna yang masih ditekuk karena dalam mode emosi tingkat dewa.