MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Jangan Menyerah


Arjuna tidak tega mengeksekusi ancamannya dan membiarkan Cilla fokus belajar menghadapi PAS.


Terlihat Cilla berusaha keras untuk mendapatkan hasil terbaik di SMA ini.


Hingga akhirnya tiba hari terakhir PAS di minggu ini. Sisa satu perjuangan lagi yang akan berlangsung 3 hari juga di minggu depan.


Wajah-wajah letih namun tetap penuh semangat mewarnai suasana anak kelas XII yang baru saja bubar sekolah. Untuk sementara mereka melupakan masalah Cilla dan Arjuna yang sempat bikin heboh di hari Jumat lalu.


Tapi kehadiran Arjuna di depan ruangan Pak Slamet membuat para siswa kasak kusuk. Apalagi meihat penampilan Arjuna yang begitu berbeda dibandingkan saat pria itu berstatus guru di SMA Guna Bangsa.


“Cil, laki lo tuh,” Febi menyenggol bahu Cilla yang sedang berbincang dengan Jovan di tangga dari lantai 3.


Cilla mengedarkan pandangannya dan matanya langsung menatap sosok Arjuna yang sedang tersenyum menatapnya.


“Kok tumben ?” gumam Cilla, bertanya pada dirinya sendiri.


“Mau menunjukkan eksistensinya sebagai suami sejati elo,” ledek Lili sambil terkikik.


“Fixed mau menunjukkan kalau Pak Juna benar-benar suami elo,” timpal Jovan.


Keempatnya melangkah menuju ruangan Pak Slamet karena tangga yang mereka pergunakan bukan yang dekat ruang guru melainkan tangga di sisi lainnya.


“Kok nggak bilang kalau mau jemput ?” Cilla mengernyit menatap wajah Arjuna yang terlihat serius. Sapaan ketiga sahabatnya juga hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman tipis.


“Saya jalan dulu, Pak,” Arjuna langsung pamit pada Pak Slamet yang baru saja keluar dari ruangannya.


“Hati-hati,” Pak Slamet tersenyum sambil mengangguk pada keduanya.


Cilla mengangguk pada Pak Slamet saat Arjuna langsung menggandeng tangannya dan membawanya turun sambil pamit pada ketiga sahabat Cilla.


Banyak mata memandang mereka berdua dan beberapa murid yang berpapasan tetap menyapa Arjuna sebagai guru mereka.


“Ada apa sih Mas Juna ? Kok kayaknya serius banget ?” tanya Cilla sambil menautkan alisnya saat mereka sudah ada di dalam mobil.


“Kita mau ke rumah sakit,” sahut Arjuna sambil perlahan mengemudikan mobil meninggalkan halaman sekolah Guna Bangsa.


“Papi kenapa lagi ?” wajah Cilla berubah tegang. Begitu mendengar kata rumah sakit, pikiran buruk tentang kondisi papi langsung membuat Cilla khawatir.


“Jangan tegang begitu,” Arjuna menggenggam jemari Cilla dengan sebelah tangannya.


“Rencananya dokter ingn memberikan terapi radiasi untuk mengurangi konsumsi obat-obatan yang berbahaya untuk ginjal papi, tapi sepertinya harus ditunda dulu. Hari ini dokter memutuskan untuk melakukan cuci darah untuk masalah ginjal papi.”


“Apa mungkin papi menerima donor ginjal lagi ?”


“Mas Juna juga kurang paham soal itu, nanti kita tanya dokter ya. Yang penting Cilla harus bisa memberi semangat untuk papi supaya mau meneruskan semua pengobatan yang diusahakan oleh para dokter.”


“Iya,” Cilla mengangguk pelan. “Mas Juna akan temani Cilla terus, kan ?”


Arjuna tersenyum dan mengusap kepala istrinya.


“Selalu, selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan untuk Mas Juna.”


Cilla bergeser dan menyenderkan kepalanya pada lengan Arjuna untuk membantu menenangkan hatinya.


40 menit lamanya Arjuna membawa mobil hingga sampai di parkiran rumah sakit Pratama.


Keduanya bergandengan tangan menuju lantai 3, tempat cuci darah dilakukan. Terlihat Cilla menghela nafas beberapa kali dan Arjuna mengusap-usap punggung istrinya supaya lebih tenang.


Tidak lama dokter Handoyo keluar dari lift, berjalan menuju Cilla dan Arjuna. Keduanya diajak masuk ke dalam satu ruangan yang hanya dilengkapi dengan 1 meja lengkap dengan tiga kursi dan satu sofa panjang, tanpa lemari atau perabotan lainnya.


Dokter Handoyo mulai membuka satu berkas yang tadi dibawanya dan membentangnya di atas meja.


“Kondisi Pak Rudi saat ini cukup stabil hanya saja sepertinya sulit untuk meneruskan proses kemoterapi dengan obat-obatan. Ada kerusakan yang cukup parah pada ginjalnya dan terdeksi kalau bibit kankernya mulai merambah ke ke sana. Meski belum ganas, tapi agak sulit untuk pengobatannya. Selain terapi radiasi, kami akan coba terapi sel T reseptor antigen chimeric dengan cara mengambil sel T yang fungsinya melawan kuman dalam tubuh manusia, merekayasanya untuk melawan kanker dan memasukannya kembali ke dalam tubuh penderita.”


“Apa tidak mungkin papi menerima donor ginjal lagi, Dok ?”


“Sepertinya sulit karena terus terang penurunan kesehatan Pak Rudi dalam seminggu terakhir ini sedikit lebih cepat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Belum bisa saya pastikan pemicunya. Akan lebih baik kalau Pak Rudi dibuat senang dan bahagia secara emosional agar rasa sakitnya yang semakin meningkat bisa berkurang.”


“Bukannya masih ada cara lain dengan transplantasi sumsum tulang, Dok ?” tanya Arjuna.


“Agak sulit karena komplikasi kankernya sudah menyebar cukup luas, jadi sedikit beresiko kalau melakukan tindakan operasi. Dikhawatirkan obat-obatan yang perlu dikonsumsi sebelum dan sesudah operasi tidak mampu diterima dengan baik mengingat ada penurunan fungsi beberapa organnya.”


“Apa kami bisa bertemu papi, Dok ?” tanya Cilla.


“Boleh saja, tapi akan lebih baik kalau setelah proses selesai. Sepertinya tidak akan lama lagi dan kalau memang tidak ada gejala lainnya, Pak Rudi boleh langsung pulang. Hanya saja dalam 1-2 hari ke depan sebaiknya banyak beristirahat.”


Arjuna mengangguk dan merengkuh Cilla dalam pelukannya. Terlihat istrinya sedikit rapuh saat mendengar penjelasan dokter.


”Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup manusia meskipun secara medis pengobatan Pak Rudi agak sulit karena adanya komplikasi.”


Arjuna pun mengajak Cilla bangun bersamaan dengan dokter Handoyo yang bangun dari kursinya.


“Maaf saya harus mengecek beberapa pasien lainnya. Saya akan datang lagi untuk memastikan kondisi Pak Rudi setelah proses cuci darah selesai.”


“Terima kasih, Dok,” Cilla menganggukan kepalanya bersamaan dengan Arjuna.


Sekitar jam 5 sore, Arjuna dan Cilla tiba di rumah bersama papi Rudi yang diperbolehkan langsung pulang oleh dokter.


”Papi mau langsung istirahat aja,” ujar papi Rudi saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


“Nggak boleh langsung tidur. Papi harus makan malam biar sedikit. Kan ada Cilla sama Juna yang kepingin makan malam sama papi.”


Papi tersenyum melihat sikap manja Cilla yang bergelayut di lengannya. Papi yakin kalau Cilla sama seperti dirinya yang berusaha kelihatan baik-baik saja.


”Ya udah, Papi mandi dan kita makan malam sama-sama,” papi Rudi mengusap kepala Cilla dengan penuh sayang.


Arjuna hanya memperhatikan keduanya dan mengiringi langkah Cilla ke kamar mereka di lantai dua setelah papi Rudi masuk ke kamarnya.


Cilla langsung duduk di sofa saat mereka sudah berada di kamar. Arjuna meraih Cilla ke dalam pelukannya.


”Menangislah kalau mau menangis, jangan ditahan-tahan lagi.” Arjuna mengusap-usap punggung Cilla. “Ada Mas Juna di sini yang akan menjadi tempat bersandar untuk Cilla.”


Cilla pun membalas pelukan Arjuna dan perlahan mulai terdengar isakan halus.


“Apa masih boleh Cilla memaksa Tuhan supaya memberikan kesembuhan untuk papi ?”


“Kalau memaksa tentu saja tidak boleh. Manusia boleh berharap dalam pintanya, tapi tidak boleh memaksakan keinginannya yang harus terjadi karena apa yang baik dalam pikiran manusia belum tentu yang terbaik untuk hidupnya.”


“Cilla ingin punya waktu lebih lama lagi sama papi. Apalagi saat ini Cilla baru merasakan bagaimana memiliki orangtua yang sesungguhnya.”


“Berdoalah dan memohon yang terbaik untuk papi,” ujar Arjuna melerai pelukannya. “Udah lebih lega ?”


“Iya,” Cilla menyelusupkan kembali wajahnya ke dada bidang Arjuna. “Terima kasih karena ada untuk Cilla.”


Arjuna kembali merenggangkan pelukannya dan mengambil tempat tisu yang ada di meja dekat Cilla. Dibersihkannya wajah Cilla yang basah bekas air mata.


“Sekarang Cilla mandi biar segar dan semangat lagi. Kan mau makan malam sama papi. Mas Juna harus bereskan sedikit pekerjaan kantor.”


Tanpa terduga Cilla menarik kemeja Arjuna dan lngsung mencium bibir suaminya saat wajah mereka begitu dekat.


Arjuna sempat tercengang mendapat ciuman panas mendadak dari Cilla namun dibalasnya dengan penuh cinta. Arjuna bisa merasakan ada emosi yang ingin Cilla salurkan dalam ciumannya.


Cilla pun melepaskan ciumannya setelah nafasnya mulai tersengal.


”Apa Cilla seperti istri gampangan ?” Cilla tersipu dengan wajah mulai merona.


“Nggak ! Mana ada istri yang berinisiatif mencium suaminya lebih dulu dianggap sebagai istri gampangan. Suami aneh yang punya pikiran seperti itu. Yang ada malah membahagiakan karena suami dapat hadiah mendadak yang bikin nagih,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


“Beneran ?” tanya Cilla masih dengan wajah malu-malu.


Arjuna tertawa dan menangkup wajah Cilla dengan gemas.


“Sering-sering kasih Mas Juna hadiah yang satu ini. Dengan senang hati Mas Juna menerimanya.”


Arjuna mendekati wajah Cilla namun leher istrinya yang menjadi targetnya.


“Mas Juna stop !” Cilla menahan bahu suaminya. “Yang ini aja masih ada sisanya. Bikin repot, soalnya banyak yang tanya kenapa leher Cilla dikasih plester sampai dua lagi,” gerutu Cilla dengan bibir cemberut.


“Memangnya semua orang pada nanya ke Cilla ?” tanya Arjuna sambil tertawa.


“Ya nggak, tapi dari tatapannya Cilla tahu kalau mereka pasti berpikir yang nggak-nggak. Jovan aja langsung nebak dan habis itu Cilla langsung diketawain dan diledek sama Febi dan Lili.”


“Mereka pasti iri sama Cilla,” Arjuna menjawil hidung Cilla. “Udah umurnya lebih kecil dari mereka tapi nikah duluan, dapat suami ganteng idaman para wanita, disayang pula sama suami.”


“Dasar narsis dan mesum,” cebik Cilla. “Awas aja kalau sadar ganteng malah tepe-tepe terus !” Cilla melotot menatap Arjuna yang masih tertawa.


“Nggak tepe-tepe, kok. Itu aja udah diuber penggemar.”


“Nyebelin !” Cilla memukul bahu Arjuna lalu beranjak bangun dari sofa untuk bersiap-siap mandi.


Arjuna menarik lengan Cilla hingga gadis itu jatuh ke pangkuan Arjuna yang langsung memeluk pinggangnya.


“Cilla.”


“Hmmm.” Sebelah tangan Cilla melingkar di leher Arjuna supaya tidak terjatuh.


“Jangan sampai putus asa apalagi menyerah. Cilla udah nggak lagi sendirian, ada Mas Juna di sisi Cilla. Seorang suami atau istri adalah separuh nafas hidup pasangannya, jadi jangan pernah ragu untuk berbagi. Karena semakin lama, perasaan suami istri akan menyatu, meski tidak saling cerita, tapi dengan sendirinya mereka akan saling merasakan satu sama lain.”


“Iya dan Cilla bahagia karena Mas Juna yang diberikan untuk Cilla sebagai suami.”


“Me too,” Arjuna tersenyum lalu mencium bibir Cilla lama dan penuh cinta tanpa **********.


“Cilla mandi dulu, nggak enak masih pakai seragam begini.”


“Iya bikin Mas Juna jadi berasa banget nikah sama anak kecil,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


“Jadi nyesel ? Kalau mau batal mumpung Cilla masih belum buka segel nih,” mata Cilla memicing menatap Arjuna.


“Nggak cukup tanda ini dan ini ?” Arjuna menunjuk totol di leher Cilla. “‘Mau ditambah tanda kepemilkannya dengan tulisan Arjuna ?”


“Nggak ada, ya !” Cilla bergegeas bangun danmemgambil pakaian ganti lanjut ke kamar mandi.


Arjuna hanya tertawa melihat Cilla masih menggerutu sendiri dengan wajah cemberutnya.