
Wajah Cilla masih cemberut saat keluar dari lift, apalagi langkahnya tidak bisa selincah biasanya. Masih ada rasa nyeri dan tidak nyaman yang membuat Cilla tidak bisa bergegas menghampiri dua orang yang ingin ditemuinya sejak pagi tadi.
Misinya yang sudah tersusun dalam otaknya gagal dijalankan karena nyatanya permintaan short time Arjuna berujung sampai 1 jam dan membuat keduanya tertidur kembali hingga jam 10 baru terbangun.
”Jangan cemberut gitu dong, sayang. Mas Juna hanya ingin membahagiakan istri yang menikmati pelayanan suaminya.”
Sudah sejak tadi Arjuna membujuk Cilla yang mulai ngambek karena mendapati waktu sarapan di restoran hotel telah berakhir.
“Mas Juna bilangnya kan short time, tapi akhirnya 1 jam sampai kita berdua kecapekan dan ketiduran,” gerutu Cilla dengan muka ditekuk namun tidak menolak saat Arjuna meraih tangannya supaya berpegangan pada lengan Arjuna.
Tino yang duduk di lobby hotel terlihat senyum-senyum melihat langkah Cilla yang terlihat lamban, tidak seperti biasanya.
Semalam saat berpisah dengan Arjuna seteah keluar lift, Tino sempat bingung membaca pesan yang dikirim oleh Cilla.
Malam Om Tino
Besok nggak usah bangunin Mas Juna pagi-pagi. Biar Cilla aja yang jadi morning call-nya Mas Juna.
Ternyata istri kecil boss-nya itu bukan sekedar menjadi morning call via telepon yang biasa dilakukan petugas hotel atas permintaan tamu, tapi sudah bisa dipastikan morning call pagi ini membangunkan sisi lain yang membuat Arjuna terlihat cerah dan bersemangat.
“Dimana orangnya ?” tanya Cilla tanpa basa basi saat sudah berdiri dekat Tino.
Nada ketus Cilla membuat Tino malah menahan senyuman. Sebagai pria dewasa yang punya pengalaman dengan wanita, Tino bisa menebak penyebab kekesalan Cilla pagi ini.
“Arah jam 12 persis di belakangku. Sepertinya mereka sedang menunggu jemputan,” sahut Tino.
Cilla langsung melongok ke belakang badan Tino dan wajahnya sedikit cerah saat melihat kedua orang yang ingin ditemuinya masih duduk dan berbincang di sofa lain yang ada di lobby.
“Mau kemana ?” Arjuna menahan lengan Cilla saat istrinya itu melepaskan tangannya dari lengan Arjuna dan berniat jalan sendirian.
“Mas Juna tunggu sini aja, nanti kalau Cilla kasih kode baru nyusul. Kalau mau pindah ke sofa yang lebih dekat dengan mereka juga boleh.”
Arjuna mengerutkan dahi dan ingin protes apalagi saat melihat Cilla menghela nafas untuk mengatur emosi dan sempat berhenti setelah dua langkah. Namun tidak ingin membuat Cilla emosi sepanjang hari ini dan membuatnya gagal mengulang kenikmatan semalam, akhirnya Arjuna urung mencegah Cilla dan mengajak Tino pindah ke sofa lain setelah Cilla sudah hampir mendekat ke Luna dan Rafael.
“Jadi semalam berhasil jebol gawang ?” ledek Tino sambil terkekeh.
“Penting banget apa elo tahu urusan pribadi boss elo ?” Arjuna menjawab tanpa menoleh, matanya fokus menatap Cilla yang sudah mulai bicara dengan Rafael dan Luna.
“Nggak,” Tino masih terkekeh. “Hanya untuk memastikan kalau merah-merah di leher elo bukan sekedar pemanasan doang. Tapi melihat jalannya Cilla pagi ini yang nggak selincah biasanya, gue berani taruhan kalau elo akhirnya udah nggak perjaka lagi.”
“Kepo ! Awas aja perhatiin istri gue terus !” Arjuna menoleh dan menatap Tino dengan tatapan galaknya yang membuat Tino malah makin tertawa.
“Gimana ? Enak kan ? Apalagi istri masih muda begitu, udah pasti bikin perjaka tua ini…”
“Bisa diam lo ? Atau mau gue langsung suruh siapin surat PHK ? Kepo banget sih !” Arjuna kembali mengomeli Tino yang tetap tertawa.
Arjuna mengerutkan dahi saat melihat Rafael yang sudah berdiri berhadapan dengan Cilla nampak tertawa-tawa.
Arjuna menggeram kesal sambil mengepalkan tangannya. Meskipun hanya dari samping, Arjuna bisa melihat bagaimana Rafael menatap Cilla dengan tatapan terpesona. Sebagai sesama lelaki, Arjuna bisa menangkap makna yang tersirat dari cara Rafael menatap Cilla.
Tidak lama Cilla menoleh ke arah Arjuna yang sedang duduk menatap ke arahnya dan memanggil suaminya itu dengan lambaian tangan.
“Pagi menjelang siang Pak Arjuna,” Rafael mengulurkan tangan hendak menyalami Arjuna.
Sekilas Arjuna melirik ke arah Luna yang masih duduk di sofa. Wajah mantan kekasihnya itu terlihat kesal.
“Adik anda sangat mengesankan. Ternyata Priscilla dan Pak Theo yang bertanggungjawab mengurus hotel.”
Luna langsung tertawa mendengar ucapan Rafael sementara Arjuna langsung menautkan alisnya dan menunjukkan rasa tidak sukanya.
“Cilla ini istri saya, bukan adik saya,” protes Arjuna dengan nada kesal yang langsung ditangkap oleh Rafael.
“Are you sure ? Nona Priscilla ini istri anda ?”
”Iya, Mas Juna ini suami saya,” Cilla yang menyahut sambil merangkul lengan Arjuna dan tersenyum menatap Arjuna yang terlihat cemberut.
“Ooo maaf,” Rafael menatap Arjuna dengan tatapan sedikit merasa bersalah. “Priscilla terlihat imut seperti anak SMA.”
“Istri saya memang masih muda, baru 17 tahun,” sahut Arjuna dengan nada penuh rasa bangga. “Tapi bisa dipastikan kalau usia tidak menjamin kalau Priscilla belum pantas menikah.”
Cilla langsung tersipu mendengar pujian Arjuna. Reaksi cemburu Arjuna cukup mendukung rencananya.
“Rafael ini asli orang Surabaya, Mas Juna. Rencananya mau membangun Hotel Prisma kelas premier di sana,” ujar Cilla memperkenalkan siapa Rafael sesungguhnya.
Arjuna tampak kaget dan menatap Cilla dengan tatapan bingung dan dahi berkerut. Dalam pikiran Arjuna, Rafael ini adalah saudara tiri Luna yang asli orang Malaysia.
“Iya beneran kalau Rafael ini asli Indonesia, arek Suroboyo,” ujar Cilla sambil mengangguk. “Tadi Cilla sudah pastikan kalau Rafael ini kenal baik dengan om Budi.”
“Memangnya saya ada tampang blasteran, Pak Arjuna ?” tanya Rafael sambil tertawa. “Papi dan mami saya asli Surabaya.”
“Tapi kemarin Pak Rafael lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia,” tutur Arjuna dengan wajah masih sedikit bingung.
“Ah masalah bahasa yang buat anda mengira saya bukan orang Indonesia ?” Rafael tertawa. “Saya sendiri diberitahu oleh Luna kalau anda adalah teman sekolahnya yang suka menilai lawan bisnis anda dari kefasihannya berbicara bahasa asing.”
“Heh ?” Arjuna mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Luna yang pura-pura sibuk dengan handphonenya.
Luna langsung mendongak dan menatap Cilla dengan mata melotot. Terlihat raut kemarahan terpancar di wajah Luna.
“Apa urusanmu dengan Adrian ?” tanya Luna yang langsung berdiri dan mendorong satu bahu Cilla dengan kasar.
“Jangan bersikap kasar pada istri saya !” bentak Arjun dengan emosi yang masih bisa tertahan membuat Luna langsung membelalak.
Terlihat Arjuna begitu protektif menjaga Cilla yang langsung ditarik mendekat dan dirangkulnya.
“Tidak apa-apa, sayang,” ujar Cilla lembut sambil mengusap-usap lengan Arjuna. “Sepertinya Luna hanya terkejut mendengar Cilla menyebut nama yang akrab di telinganya.
“Cilla beneran nggak apa-apa ?” dengan wajah khawatir Arjuna menangkup wajah Cilla yang langsung mengangguk sambil tersenyum.
Terlihat Luna berdecih dan mencebik sementara Rafael masih mengernyit dengan wajah penuh tanda tanya.
“Aku tidak ada urusan apapun dengan Adrian. Hanya ingin memastikan kalau kalian sudah putus baik-baik, jangan sampai perceraian Adrian dengan istrinya membuat kamu dianggap sebagai pelakor dan akhirnya merepotkan om Budi untuk menutupi masalahnya.”
“Siapa Adrian, Luna ?” Rafael yang sejak tadi mendengarkan menyentuh bahu Luna dan menatap wanita itu dengan dahi berkerut.
“Dia mantan kekasihku,” sahut Luna cepat dengan wajah penuh sandiwara.
“Kami putus setelah aku tahu kalau dia adalah pria beristri,” raut wajah Luna yang dibuat sedih seolah dirinya adalah korban membuat Arjuna ingin muntah dan Cilla sendiri menyeringai licik
Apalagi melihat Luna langsung mendekati Rafael dan memegang lengan pria itu.
“Terakhir kali bertemu Cilla saat aku masih jalan dengan Adrian sekitar dua tahun yang lalu,” ujar Luna dengan wajah kepura-puraannya. “Jadi Cilla tahunya aku masih berpacaran dengan Adrian.”
Arjuna tercengang begitu juga dengan Tino yang kembali pindah posisi duduk semakin dekat dengan keempat orang yang sedang berbincang itu.
Sepertinya Luna memang terbiasa melakukan kebohongan pada pria-pria mangsanya dan Arjuna pernah menjadi salah satunya.
“Ooo jadi Rafael sudah lama jalan dengan Luna ?” tanya Cilla dengan wajah penuh kemenangan.
“Sekitar setahun lalu saya memutuskan jalan dengan Luna,” Rafael merangkul bahu Luna dan mengusapnya dengan maksud menenangkan wanita di sampingnya yang masih memasang wajah sedih.
“Ooo begitu,” Cilla mengangguk-angguk. “Kalau begitu sayang sekali anda tidak ikut datang ke pesta pernikahan kami sekitar sebulan yang lalu sekalian kita bisa berkenalan dan menjajaki lebih jauh soal kerjasama dengan Hotel Prisma.”
“Kamu sedang ada pekerjaan di Singapura waktu itu, honey,” Luna langsung bicara cepat saat melihat Rafael hendak bertanya kembali pada Cilla.
”Tuan Rafael, sebagai pemilik Hotel Prisma saya tidak pernah menutup kerjasama dengan pihak manapun selama saling menguntungkan dan bisa berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, saya paling anti dipusingkan dengan masalah skandal cinta. Jadi tolong pastikan kalau kehidupan percintaan anda baik-baik saja supaya tidak membuat Grup Hotel Prisma terseret dalam gosip-gosip yang tidak penting soal pihak ketiga dan skandal cinta lainnya. Jadi sebaiknya anda memastikan dulu urusan percintaan anda dalam jalur yang benar. Dan saya akan membantu anda supaya tidak membuang-buang waktu berharga anda. Bukankah begitu Pak Adrian ?”
Rafael menautkan alis saat mendengar Cilla menyebut nama lain di akhir ucapannya, tapi Cilla hanya tersenyum dan mengangguk pada seorang pria berkacamata hitam yang duduk tidak jauh dari Tino.
Luna tersentak saat pria berkacamata itu berjalan memutar dan mendekati mereka.
“Apa kabarnya Luna Mia ?”
“Adrian !” mata Luna langsung membelalak.
Cilla mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan sebuah foto pada Rafael yang sudah melepaskan rangkulannya dari bahu Luna.
“Ini adalah foto yang diambil oleh teman suami saya saat mereka bertemu di mal. Perlu diketahui kalau saat itu status Luna adalah kekasih suami saya, wanita yang sudah hampir dilamar oleh Mas Arjuna. Dan silakan lihat tanggal yang tertera di foto ini, belum sampai satu tahun yang lalu. Pria yang ada di foto ini adalah Tuan Adrian,” Cilla menoleh sambil mengangguk sekilas pada Adrian yang menatapnya sambil tersenyum.
“Seharusnya urusan cinta adalah masalah pribadi anda Tuan Rafael, bukan hak saya untuk ikut campur di dalamnya. Tapi karena kekasih anda adalah Luna Mia, wanita yang dikenal oleh publik sebagai mantan kakak tiri saya, maka penting bagi saya untuk mengklarifikasi masalah ini. Saya tidak ingin kerumitan ini menjadi skandal yang merusak reputasi dan nama baik Hotel Prisma yang sudah dibangun secara turun temurun oleh keluarga Darmawan. Jadi tolong anda mengerti.”
Arjuna menatap Cilla dengan perasaan kagum. Ternyata istrinya ini bukan sekedar ingin menemui Luna dan melabraknya habis-habisan di depan umum seperti kebanyakan yang viral di medsos tentang keributan antara istri dan pelakor.
Apa yang dilakukan Cilla sangat elegan dan tidak terduga sama sekali. Bahkan Tino yang hanya menjadi pentonton ikut dibuat kagum sampai berdecak berkali-kali mengikuti proses pengusiran ulat bulu ini.
“Maaf saya harus pamit dulu karena suami saya masih ada pekerjaan lain,” Cilla berpamitan dengan menganggukan kepala pada ketiga orang di depannya. Tangannya sejak tadi masih merangkul lengan Arjuna.
Arjuna sendiri masih hanyut dalam rasa kagumnya hingga tidak berkata apa-apa hanya menganggukan kepala.
“Oh iya,” Cilla behenti sebentar lalu membalikkan kembali badannya hingga berhadapan dengan Rafael, Adrian dan Luna.
“Jangan anda bertengkar saling menyalahkan Tuan Rafael dan Tuan Adrian, karena sama seperti suami saya, anda berdua hanyalah korban dari keserakahan satu orang wanita.
Dan ke depannya belajarlah untuk menghargai dengan milik anda sendiri, Tuan Adrian. Bukankah istri anda adalah pilihan anda sendiri, bukan paksaan dari siapapun ? Para pria mapan seperti kalian ibarat pohon buah yang subur dan berbuah lebat hingga menarik para ulat bulu untuk menempel dan hidup melekat di pohon itu. Sepertinya tidak penting karena para ulat bulu hanya memakan daun-daun di pohon, tapi siapa yang tahu kalau sudah terlalu banyak daun yang dimakan, pohon akhirnya berubah jadi jelek lalu tidak menarik lagi dan akhirnya tidak menghasilkan buah karena ditinggalkan pemilik yang merawatnya ?”
Cilla tersenyum dan sambil merangkul lengan Arjuna mengajak suaminya itu menjauh.
“Apa perlu cara yang sama saya menjatuhkan anda, Tante Riana ?” Cilla berhenti di depan seorang wa iya yang duduk sedikit jauh di sisi kanan Luna.
Sama seperti Adrian, wanita ini menggunakan kacamata hitam yang sangat gelap dan berukuran cukup besar.
”Ke depannya saya tidak akan tinggal diam jika anda masih sibuk mengganggu suami saya,” tegas Cilla masih menatap tajam ke arah wanita yang mendongak tanpa melepas kacamata hitamnya.
Arjuna makin dibuat bingung dengan kehadiran Riana yang ada di hotel yang sama.
“Dengan mantan kakak tiri saja saya tega melakukan hal yang tidak terduga apalagi dengan anda yang bukan siapa-siapa. Hotel Prisma tidak akan langsung bangkrut kalau tidak bekerjasama dengan Eka Rama.”
Cilla tersenyum sinis dan kembali menarik lengan Arjuna yang masih terbengong mengikuti drama Cilla.
“Ceritanya nanti aja, sekarang Cilla lapar,” ujar Cilla saat melirik Arjuna yang menatapnya penuh tanda tanya.