MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Nasehat Para Sahabat


Sudah dua hari Cilla menghilang dari kehidupan Arjuna, bahkan handphonenya dalam keadaan mati.


Tidak satu pun sahabatnya mengetahui keberadaan Cilla yang sudah tidak bisa dihubungi sejak Sabtu pagi. Arjuna pun datang ke rumahnya untuk mencari tahu keberadaan calon istrinya yang ternyata pergi membawa tas pakaian.


”Bibik nggak tahu kemana, Den. Tadi pagi sudah pamit pada Tuan akan menginap di rumah temannya karena ada tugas sekolah. Bibik lupa menanyakan akan menginap di rumah siapa.”


Arjuna keluar dengan langkah gontai. Febi, Lili dan Jovan yang sempat ditemuinya di cafe pun tidak tahu menahu soal kepergian Cilla yang pamit menginap sampai hari Minggu.


Akhirnya Arjuna menerima ajakan para sahabatnya untuk berkumpul di Minggu sore di salah satu cafe. Tiga sahabat baiknya termasuk Boni yang datang tanpa Mimi.


“Kok wajah lo lesu begitu, Jun ? Bukannya tinggal menghitung hari aja resmi status berubah jadi suami ?” Ledek Luki sambil tertawa.


“Iya Jun, jangan bilang elo lemes gara-gara keluar peraturan dilarang sekamar sampai Cilla umur 18 tahun,” timpal Boni ikut tertawa. Berdua dengan Luki mereka melakukan tos.


Hanya Theo yang bersikap datar, bahkan menatap Arjuna dengan tajam.


“Buat kesalahan apalagi lo sampai Cilla sembunyi ?” tanya Theo dengan nada galak.


Luki dan Boni langsung menghentikan tawanya dan menatap Arjuna dengan wajah serius.


“Haiiss Jun, elo apain lagi tuh bocil ?” Boni menautkan kedua alisnya.


Arjuna menghela nafas dan menatap sahabatnya satu persatu lalu tersenyum getir.


“Gue kepergok lagi dicium Yola di ruangan kerja,” lirih Arjuna.


“What ? Yola ? Yola yang mana lagi ?” mata Boni membelalak seakan tidak percaya dengan ucapan Arjuna.


“Jangan bilang Yolanda yang pernah ngejar-ngerjar elo pas kita SMA ?” tanya Luki.


Kedua sahabatnya tercengang saat Arjuna mengangguk.


“Gimana ceritanya tuh cewek bisa nyasar ke kantor lo, Jun ?” tanya Luki. Arjuna pun menceritakannya secara singkat di depan ketiga sahabatnya.


“Udah tahu kelakuan tuh cewek agresif nya tingkat dewa, sampai dulu aja elo musti kabur-kaburan. Kenapa pas dia jadi sekretaris di situ elo diam aja ?” nada suara Boni terdengar penuh penyesalan.


“Uji nyali,” sindir Theo dengan senyum mengejek. “Mumpung statusnya belum suami orang, Juna mau coba-coba sama cewek agre model Yola.”


”Demi apapun gue nggak punya niat begitu, Yo.”


“Ogeb !” sindir Theo kembali masih dengan wajah sinis.


“Nomor Cilla yang ada di handphone gue sampai diblokir sama Yola, dan gue baru sadar setelah hari kedua,” ujar Arjuna sambil menarik nafas panjang.


“Ya ampun Juna !” Luki mengernyit sambil geleng-geleng kepala. “Memangnya nggak setiap hari elo telepon-teleponan atau minimal saling kirim pesan sama Cilla ?”


Lagi-lagi kedua sahabat Arjuna tercengang saat pria itu kembali menggeleng. Theo mendengus kesal dan tersenyum sinis pada Arjuna.


“Elo juga gila Jun !” maki Boni. “Gue aja yang udah pacaran sama Mimi sampai hampir jamuran tetap kirim-kiriman pesan tiap hari. Biar kata cuma sekedar ucapan selamat pagi atau selamat malam. Nah elo, pacaran baru, masih anget-angetnya, malah bentaran lagi mau disahkan, bisa-bisanya santai nggak dengar kabar dari calon istri sampai dua hari.”


“Elo benar-benar kelewatan, Jun !” Luki ikut emosi. “Sebenarnya elo serius anggap Cilla itu calon istri atau karena terpaksa terima dia demi bisa balik kerja di perusahaan bokap ?”


Nada-nada sinis dan kesal mulai terdengar dari ucapan-ucapan para sahabatnya. Theo memilih sedikit berkomentar, menahan emosinya yang hampir meledak. Lagi-lagi Arjuna menyakiti hati sepupunya dengan kelakuan yang sangat to**lol di mata Theo.


“Gue serius lah Luk !” sahut Arjuna dengan wajah tegas. “Gue memutuskan menjadikan Cilla pacar gue sebelum tahu kalau dia itu cewek yang mau dijodohin sama bokap.”


“Iya elo pilih dia karena Cilla masih terlalu polos, gampang dibohongin dan sifatnya yang apa adanya gampang dikadalin,” cebik Theo lalu tertawa sinis.


“Gue nggak pernah berniat mempermainkan Cilla, Yo !” tukas Arjuna dengan tatapan tidak suka. “Gue sungguh-sungguh mencintai sepupu elo itu.”


“O-G-E-B !” ucap Boni penuh penekanan. “Elo adalah sahabat paling ogeb dan nggak bersyukur yang gue kenal. Lepas dari Luna, elo dikasih gadis belia yang mencintai elo lebih dari dirinya sendiri, tapi justru elo memperlakukannya tidak lebih baik dari perlakuan elo ke Luna.”


Arjuna menunduk dan memainkan embun di gelasnya dengan senyuman getir.


“Kenapa lo masih bawa kebiasaan nggak peduli sama pacar lo sendiri ? Apa lupa sama janji lo di Singapur kalau elo akan belajar merubah kebiasaan jelek itu ? Belum juga sampai sebulan masalah itu lewat Jun, dengan gampangnya elo lupa dan mengulangya kembali,” ucap Theo dengan nada marah.


”Belakangan ini gue suka merasa nggak percaya diri, takut menjalani masa depan gue sama Cilla. Tanggungjawab gue bukan lagi sekedar anak papa, tapi menantu papi Rudi dan suaminya Cilla.”


“Elo itu laki-laki, Jun, udah matang juga, bukan anak abege !” maki Theo. “Apa waktu memutuskan untuk melamar Cilla, elo nggak mikirin dulu semuanya ?Apa karena elo nggak mau anak kecil itu lepas dari tangan lo makanya elo dengan gampangnya mengiyakan semua ?”


“Sabar Bro,” Luki menahan tubuh Theo yang mulai condong ke arah Arjuna. Untung saja posisi keduanya dibatasi oleh meja.


“Hari itu gue meeting sama papa dan papi yang ternyata datang sama pengacaranya,” Arjuna mulai bercerita. “Papi sudah menyiapkan semua surat-surat menjadikan gue wali Cilla sampai dia berumur 21 tahun dan berhak menduduki posisi yang ada di beberapa perusahaan milik papi. Gue benar-benar nggak nyangka akan secepat itu.”


“Kenapa sampai harus nunjuk elo sebagai wali ?” Luki mengerutkan dahinya.


Arjuna mendongak dan menatap ke arah Theo yang ternyata memberi isyarat untuk tidak menceritakan soal alasan sebenarnya, yaitu sakitnya papi Rudi.


“Mungkin mencegah hal-hal yang nggak diinginkan, Luk. Mertua gue kan suka traveling ngurus usahanya, jadi sepertinya semua tindakan untuk antisipasi aja,” sahut Juna berbohong.


“Terus kan status elo sekedar wali kalau sampai terjadi sesuatu, kenapa harus khawatir ? Tinggal berdoa supaya kondisi mertua lo sehat selalu,” ujar Luki.


“Beberapa perusahaan mertua gue udah dijual, hanya tinggal sekolah yang akan diwariskan sepernuhnya untuk Cilla dan hotel milik keluarga mertua yang akhirnya diserahkan untuk dikelola oleh operatoe hotel ternama. Mertua gue hanya berperan sebagai pemegang saham dan komisaris. Semua penjualan usahanya dilebur di perusahaan papa untuk membuka pabrik baru yang lagi gue urus di Batang. Jujur, gue nggak pengalaman ngurus proyek pendirian pabrik baru begitu. Pas masuk ke perusahaan papa, kondisinya kan udah berjalan, tugas gue cuma mengembangkan doang. Nah yang di Batang ini memang merupakan pemekaran dari usaha yang udah gue jalanin sekarang, tapi membayangkan mengurus dua pabrik besar sekaligus, gue berasa oleng juga. Dan biarpun hotel-hotel milik keluarganya Cilla udah diserahkan pengelolaannya sama tenaga profesional, namanya pemegang saham utama, gue tetap harus memantau perkembangannya.”


Arjuna menghela nafas dan menjeda ceritanya sambil meneguk air minum pesanannya.


“Dan mertua gue minta supaya Cilla jangan dilibatkan dulu sampai usianya matang, minimal setelah dia lulus kuliah. Itu sebabnya gue nggak mau banyak cerita sama Cilla. Dia sempat ketakutan karena masih harus mikirin sekolah dan nggak bisa bantuin gue. Sebenarnya gue sendiri takut, Bro. Belum lagi tugas sebagai suami yang ditunjuk juga sebagai walinya Cilla. Gue kehilangan rasa percaya diri setelah sembilan bulan terbiasa hanya bekerja jadi guru. Gue nggak yakin sama diri sendiri kalau mampu menjalankan semuanya bersamaan. Tapi bukan berarti gue nggak mau menikahi Cilla. Gue nggak mau kehilangan dia, tapi apa gue bisa jadi anak, menantu sekaligus suami kalau sampai status gue berubah jadi suaminya Cilla ?”


“Jadi maksudnya elo mau menunda pernikahan lo sama Cilla ?” tanya Theo. Nada suaranya masih terdengar tegas tspi sudah tidak seemosi tadi.


“Jun,” Boni menepuk bahu sahabatnya. “Bokapnya Cilla sudah menunjuk elo secara hukum sebagai wali anaknya kalau sampai terjadi sesuatu sama dirinya. Jadi sekarang atau nanti elo menikahi Cilla, tanggungjawab elo tidak akan berubah, kan ? Malah dengan status suami, posisi elo akan semakin baik di mata hukum. Apa yang elo takutin ? Tidak bisa memenuhi nafkah lahir istri ? Udah pasti nggak mungkin karena gue yakin bokap elo nggak akan membiarkan hidup lo melarat seperti waktu awal menjadi guru karena sudah ada Cilla sebagai istri yang harus elo nafkahi. Terus masalah nafkah batin ? Takut karena istri elo masih muda banget ? Semua proses suami istri berjalan secara alami tanpa perlu sekolah khusus sampai harus lulus dan mengantongi ijazah. Lagian gue lihat, Cilla bukan cewek yang penuntut. Seharusnya elo akan lebih takut kalau calon istri elo model cewek kayak Luna, yang nggak bisa puas hanya dengan satu lelaki aja.”


“Juna takut tidak bisa memuaskan Cilla soalnya udah kecapean sama urusan kerjaan, Bon,” ledek Luki sambil terkekeh.


“Mungkin,” Arjuna tertawa getir. “Cilla itu memang masih muda banget. Anak yang polos, manja, suka ngambek dan membutuhkan perhatian lebih. Gue takut saat kepala pusing karena kerjaan, bukan saja nggak bisa memberikan apa yang diinginkan Cilla tapi gue malah bentak-bentak dia.”


“Itu karena elo nggak percaya sama Cilla,” Theo tersenyum sinis. “Elo nggak yakin kalau calon istri lo itu bisa diajak tukar pikiran dan dikasih pengertian soal keruwetan yang sedang elo hadapi sekarang, besok dan di masa depan.”


“Tapi kenyataan kalau Cilla memang masih anak-anak banget, Theo,” protes Arjuna. “Pas di Singapura kemarin gue baru benar-benar melihat sisi kekanakan Cilla yang masih begitu kuat. Manja, suka ngambek, senang diperhatikan.”


“Nah bener kan ? Elo itu nggak percaya sama kemampuan calon istri lo sendiri,” sindir Theo dengan wajah sinis. “Apa elo lupa kalau bertahun-tahun Cilla sudah ditempa untuk menjadi gadis yang kuat dan mandiri karena kondisi keluarganya ? Bahkan sekalipun dibuat terluka begitu dalam, dia masih bisa tumbuh menjadi gadis yang pemberani dan peduli pada orang lain. Dia tidak pernah menunjukan kepahitan yang dia rasakan dalam pertumbuhannya menjadi gadis remaja. Kalaupun sekarang dia manja, suka ngambek dan suka merengek sama elo, itu karena dia menganggap elo adalah orang yang spesial dalam hidupnya. Orang yang akan menerima dia apa adanya dan membuatnya nyaman. Apa elo mau kalau dia mengeluarkan sisi kekanakannya itu sama Jovan ? Cowok yang udah bertahun-tahun jadi sahabatnya, yang setia menunggu 9 tahun untuk mendapatkan maaf dari Cilla ?”


“Eh beneran tuh cowok nungguin Cilla sampai 9 tahun ?” Luki menatap Theo yang mengangguk mengiyakan.


“Mereka cuma temenan doang,” sahut Arjuna dengan nada ketus.


“Jun, Jun,” Boni terbahak. “Baru dengar Theo menyebut nama Jovan aja elo udah kayak cacing kepanasan. Bisa bayangin nggak gimana perasaan Cilla pas ngeliat elo dicipok sama Yola ?”


“Iya gue tahu, gue salah. Saking kagetnya gue sampai nggak bisa apa-apa, cuma diam doang sambil melotot. Kalau Tino nggak teriak, gue masih bengong aja,” ucap Arjuna sambil mengusap tengkuknya.


“Jun, hubungan cewek cowok itu harus berjalan dua arah baru bisa berhasil. Itu sebabnya kenapa gue sama Mimi masih bisa bertahan sampai hari ini. Cilla mungkin masih anak-anak dari sisi usia, tapi di mata gue sama Mimi, Cilla itu nggak sepenuhnya anak-anak, justru Mimi bilang Cilla itu terlihat lebih dewasa dari usianya. Kita aja cowok-cowok yang bertindak pakai logika masih membutuhkan dan bahagia kalau diperhatikan apalagi cewek yang ngadepin sesuatu itu pakai hati dulu, perasaan dulu baru logika. Gue aja berasa ada yang kurang kalau sehari nggak dapat pesan atau telepon dari Mimi biar kata kita udsh lama pacaran. Itu kebutuhan penting Jun, bentuk komunikasi antar pasangan.”


“Cilla ?” Luki mengerutkan dahi dan menyebut nama calon istri Arjuna saat melihat seorang perempuan baru saja berdiri di salah satu meja di belakang Arjuna dan Boni yang duduk bersebelahan.


Arjuna langsung menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berjalan cepat di dekat pintu cafe.


Arjuna langsung bangun dan meraih handphonenya di atas meja saat matanya membenarkan pandangan Luki.


“Mau kemana ?” Theo mencegah Luki yang bergerak hendak bangun.


“Bantuin Juna nguber Cilla,” ujar Luki.


“Nggak usah ! Biar Juna yang menyelesaikan sendiri masalahnya. Kita ada di sini atas permintaan Cilla yang mau dengar langsung pengakuan Juna tentang perasaannya pada Cilla.”


“Maksud lo, ini semua ?” Boni mengangkat kedua alisnya sambil menatap Theo. Pria itu mengangguk.


“Arjuna terlalu pengecut untuk bicara terus terang. Tugas kita hanya membantu Cilla mendengar kejujuran Arjuna, sisanya tergantung gimana keberanian Arjuna buat mengambil langkah.”


Luki dan Boni terdiam di kursi mereka. Tidak menyangka kalau ini semua sudsh diatur oleh Theo dan Cilla.