
“Lapar nggak ?” tanya Jovan sebelum keduanya naik ke atas motor milik Jovan.
Dalam hati Amanda bersyukur atas sikap kritis calon kakak iparnya yang langsung bisa membaca isi hatinya, karena diam-diam Amanda memang mulai menaruh hati dengan Jovan.
“Agak lapar,sih,” sahut Amanda sambil mengangguk.
“Makan di pinggiran nggak apa-apa ?” tanya Jovan sambil membantu Amanda yang terlihat sedikit kesulitan memakai helm.
“Nggak apa-apa,” sahut Amanda cepat
“Kasih kabar ke kakak sama nyokap elo dulu, jangan sampai mereka nungguin karena elo pulang kemalaman.”
Amanda menurut dan mengeluarkan handphonenya dari dalam tas selempang.
Ternyata pesan yang dikirim Arjuna tidak dibaca-baca. Amanda senyum-senyum, sepertinya kakaknya sedang asyik pacaran di mobil.
Kalau pesan ke mama Diva tidak perlu menunggu sampai semenit. Sepertinya mama Diva memang sedang menunggu kabar dari putri semata wayangnya itu.
“Van, nyokap suruh ajak elo makan di rumah aja. Nyokap udah masak dan masih cukup buat kasih makan lima orang.”
“Eh gila ! Elo kira daya tampung perut gue setara sama lima orang ? Biar lima orang jatah makan cewek, gue nggak segitu ganas ya. Memang gue cowok apaan ?” gerutu Jovan
“Nggak apa-apa makan banyak yang penting cakepnya nggak hilang,” sahut Amanda sambil tertawa.
“Jangan mancing-mancing, deh.”
“Eh tadi bilang sama Kak Juna mau usaha, sekarang sudah dikasih lampu hijau sama nyokap nggak mau jalan terus ? Masih mau nunggu lampu hijau berikutnya ? Kalau mendadak lampunya konslet terus nggak hijau-hijau gimana ?”
“Kalau nanya satu-satu. Ini bukan lagi belanja di Mangga Dua. Harga grosir lebih murah dari eceran. Tiga pertanyaan tetap aja cara jawabnya satu-satu, sama kayak ngejawab soal latihan dari kakak elo.”
Amanda tergelak. Ternyata bicara dengan Jovan sebalas duabelas seperti bicara dengan Cilla. Selalu ada aja yang meleset-leset dikit.
“Jadi gimana nih ? Nyokap nanyain,” Amanda memperlihatkan teks pesan dari mama Diva.
”Kuy lah… Diundang calon mertua nggak boleh ditolak,” ujar Jovan sambil terkekeh.
“Eh calon mertua darimana !” Amanda memukul bahu Jovan saat keduanya sudah duduk di atas motor. “Belum juga diminta jadi pacar aja,” cebik Amanda.
Jovan tergelak dan mulai menyalakan motornya. Ia masih ragu-ragu untuk menembak Amanda karena baru beberapa kali bertemu adiknya pak guru matematika ini.
“Iya, tunggu gue lulus SMA baru jadi pacar,” ujar Jovan tertawa dan perlahan mengendarai motornyamenuju pintu keluar.
“Jangan suka PHP in orang,” Amanda mencubit pinggang Jovan.
“Eh sakit ! Nanti kalau jatuh berdua, bisa-bisa satu semester jadi mimpi buruk sama kakak elo.”
Amanda tertawa pelan dan mulai bingung harus pegangan dimana karena model motor balap Jovan sulit mencari pegangan di samping.
“Pegangan pinggang gue aja,” ujar Jovan seolah tahu dengan kebingungan Amanda. “Gue nggak bakal baper, kok.”
“Dih siapa juga yang ngarep elo baper. Elo itu model cowok obralan, yang suka menarik perhatian orang, udah gitu demennya PHP in orang.”
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya karena sama-sama memakai helm fullface dan jalanan cukup ramai hingga Jovan butuh konsentrasi untuk mengendarai motornya. Jovan sempat menepi sejenak karena lupa menanyakan posisi rumah Amanda.
Butuh waktu 30 menit karena lalu lintas cukup padat bertepatan dengan jam pulang kantor, ditambah lagi motor Jovan yang lebar hingga kurang gesit untuk selap selip.
“Ayo masuk,” ajak Amanda menepuk bahu Jovan, saat satpam membukakan gerbang untuk mereka.
“Yakin bo-nyok elo kasih ijin gue kemari ?”
“Sepertinya Kak Juna udah telepon mama, kasih tahu gue pulang sama siapa.”
Jovan memarkir motornya dekat dua mobil yang terparkir di halaman. Rumah keluarga Amanda dan Arjuna ternyata bisa dibilang cukup wah.
Seorang pelayan membukakan pintu depan untuk mereka dan ternyata mama Diva juga sudah menunggu mereka.
“Papa mana, Ma ? Kenalin ini…”
“Jovan, ya ?” potong mama Diva sambil tersenyum ramah. “Muridnya Juna, kan ? Tante ingat waktu kamu dan dua teman perempuan datang ke ulangtahun sekaligus pertunangan Juna dan Cilla.”
“Iya benar, Tante.”
“Ya sudah kalian makan dulu biar nggak tambah malam. Tante mau ke kamar dulu, soalnya Om lagi kurang sehat.”
“Papa kenapa, Ma ?” tanya Amanda khawatir.
“Nggak apa-apa, hanya terlalu capek bekerja. Biasa menjelang akhir tahun.”
“Beneran, Ma ?” Mama Diva hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa, Tante. Saya sekalian pamit dulu aja.”
“Terima kasih ya, sudah mengantar Amanda dengan selamat sampai di rumah. Arjuna tadi sudah hubungi Tante kalau Amanda pulang sama kamu.”
“Sama-sama Tante, terima kasih juga sudah boleh makan malam di sini.”
Mama Diva hanya mengangguk sambil tersenyum. Beliau berlalu dari ruang makn, meninggalkan Amanda dan Jovan yang dilayani oleh dua orang pelayan.
“Kan, pasti Kak Juna sudah laporan lebih dulu,” omel Amanda sambil menarik satu kursi meja makan.
“Nggak apa-apa, dong. Pasti kakak elo udah bantu omongin juga, makanya nyokap elo nggak ngomel malah kasih ijin gue makan di sini.”
”Iya juga sih,” ujar Amanda.
Keduanya duduk berhadapan dengan makanan yang sudah dihidangkan oleh para pelayan.
“Elo beneran pernah cinta banget sama Cilla ?” tanya Amanda di sela-sela makan mereka.
“Gue sebetulnya sempat bingung, cinta atau sekedar sayang,” sahut Jovan. “Gue sejak kecil sering berdua sama Cilla apalagi kita juga tetanggaan sebelah. Om Rudi pindah rumah saat tante Sylvia meninggal dunia karena rumah mereka membuat om Rudi selalu teringat akan kenangan tante Sylvia. Kebersamaan itulah yang membuat gue benar-benar dekat dengan Cilla. Bahkan kedua orangtua kami juga sepakat menjodohkan gue sama Cilla.”
“Terus kenapa elo nggak mau ?”
“Kata siapa gue nggak mau ? Hoax itu,” sahut Jovan sambiel terkekeh. “Cuma ada masalah berat antara gue sama Cilla sampai membuat cewek itu memilih untuk menjadi musuh gue selama sembilan tahun. Untung aja sekarang kita sudah balikan lagi.”
“Jadi elo nggak terima kalau akhirnya Cilla malah bertunangan sama kakak gue ? Atau jangan-jangan elo sengaja PHP-in gue hanya untuk membalas Kak Juna ?”
“Eh gue tahu memang cewek suka gosip, tapi terlalu percaya yang namanya berita hoax bisa mmembuat kesehatan elo menurun drastis dan akhirnya jadi bingung mana yang nyata dan mana yang gosip,”
ujar Jovan dengan wajah serius.
“Terus ? Katanya elo mau dijodohin sama Cilla tapi terima-terima aja Cilla dijodohin sama cowok lain. Nggak punya pendirian banget, sih !” gerutu Amanda.
“Nih ya bocil,” Jovan menggeser piringnya yang sudah kosong dan meneguk habis gelas air putihnya sebelum melanjutkan bicara.
“Gue nggak menolak saat orangtua gue mau menjodohkan dengan Cilla, tapi saat itu om Rudi, bokapnya Cilla, menyerahkan keputusan akhirnya di tangan yang bersangkutan. Setelah gue baikan lagi setelah hampir sembilan tahun Cilla ogah berteman sama gue, hati ini udah cukup bahagia. Pas gue tahu kalau ternyata Cilla maunya sama kakak elo, hati gue juga tetap bahagia. Pas mereka bertunangan, gue sedikit sedih karena sudah pasti gue nggak akan bisa sebebas dulu untuk gangguin Cilla, apalagi elo tahu kan gimana kakak elo itu posesif banget. Tapi gue benar-benar bahagia saat melihat Cilla begitu disayangi dan menyayangi kakak lo. Saat itu juga gue sadar kalau sayang gue ke Cilla bukan perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan melainkan lebih kepada kakak pada adiknya.”
“Memangnya ada masalah apa sih antara elo sama Cilla ?”
“Eh elo kira gue pendongeng ?” gerutu Jovan. “Baru juga perut gue berasa kenyang, kebanyakan ngomong nanti lapar lagi. Rugi aahh… soalnya masakan nyokap elo enak banget. Boleh nggak kapan-kapan gue nebeng makan lagi ?”
“Nanti kalau sudah jadi pacar,” omel Amanda dengan wajah kesal.
“Nah itu pintar banget,” Jovan mengangkat jempolnya. “Ceritanya nanti gue kasih tahu kalau sudah jadi pacar,” lanjutnya sambil tergelak.
Jovan melirik jam tangannya, sudah jam sembilan lewat sepuluh.
“Gue balik dulu ya, Cil… eh maaf maksud gue Manda,” Jovan menangkup kedua tangannya di depan wajah sambil tertawa kikuk.
Amanda langsung memasang wajah cemberut untuk menutupi kesedihannya. Pikiran Jovan masih dipenuhi bayangan Cilla, sampai-sampai yang sudah nempel di bibirnya adalah nama calon kakak iparnya.
“Nggak baik cowok datang ke rumah cewek cuma minta makan sampai malam pula,” Jovan beranjak dari kursinya. Ia tahu kalau Amanda kesal karena mulutnya salah mengucap nama.
Amanda mengantarnya sampai ke teras.
“Helm Pak Juna gue titip di sini aja, ya. Biar ada alasan Pak Juna kemari,” Jovan terkekeh dan menyerahkan helm milik Arjuna yang tadi sempat dipakai oleh Amanda.
“Jangan cemberut begtu,” Jovan mengacak-acak rambut Amanda membuat gadis itu tambah cemberut.
“Ngapain sih !” gerutu Amanda.
“Semua yang sempat gue omongin tentang elo bukan hoax, jadi jangan manyun begitu. Gue juga nggak cuma PHP-in elo. Tapi saat ini gue butuh waktu untuk bicara sama bo-nyok dulu, ya. Mereka tuh berharap banget kalau Cilla jadi menantu mereka. Hampir aja mami pingsan saat mendengar kabar Cilla bertunangan. Gue nggak mau elo dimarah-marahin mami saat tahu kalau cewek yang jadi pacar gue adalah calon adik iparnya Cilla. Yang sabar ya, bocil. Semua akan indah pada waktunya,” Jovan tersenyum lebar sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Geli ih denger elo bicara kata-kata bijak begitu. Nggak cocok banget,” cibir Amanda.
Wajahnya sudah sedikit lebih cerah, tidak sesedih sebelumnya karena mengira kalau Jovan hanya PHP.
“Kalau sampai nanti jadi pacar, jangan sampai punya pikiran kalau elo itu penggantinya Cilla, karena antara gue sama Cilla tidak pernah ada hubungan lebih selain sebagai sahabat,” Jovan kembali mengedipkan mata sebelum memakai helmnya.
Posisinya sudah di atas motor dan masih memakai seragam yang belum diganti, hanya dilapisi jaket.
”Gue pulang dulu ya, bocil,” Jovan tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya.
“Hati-hati, ya !” pesan Amanda dengan wajah sedikit kemerahan, efek ucapan Jovan yang bilang kalau ia bukanlah peran penggantinya Cilla.
Jovan hanya tertawa, menutup kaca helmnya dan melajukan motornya sedikit perlahan supaya tidak berisik sampai meninggalkan rumah keluarga Hartono.
Amanda masih berdiri di teras beberapa saat dengan senyuman mengembang di bibirnya. Semoga Jovan semangat dengan usaha meyakinkan orangtuanya dan bukan cuma PHP pada dirinya.