
“Cilla !” Arjuna langsung menerobos masuk dan mencari istrinya yang duduk di atas karpet bersandar pada sofa.
“Mas Juna.”
Cilla yang sempat berdebar saat mendengar suara gaduh di depan pintu langsung tersenyum dan menghambur ke dalam pelukan suaminya. Arjuna pun balas memeluknya erat-erat.
”Cilla kenapa ?” dahi Arjuna berkerut saat istrinya melepaskan pelukan dan menjaga jarak.
“Cilla belum mandi dari kemarin.”
Arjuna tertawa pelan dan kembali menarik Cilla ke dalam pelukannya.
“Nggak bau kok, kecuali rambutnya bau masakan,” ledek Arjuna sambil terkekeh membuat Cilla ingin melepaskan pelukannya lagi namun ditahan Arjuna.
“Tapi Mas Juna nggak masalah,” lanjut Arjuna.
Cilla pun kembali memeluk suaminya, menumpahkan rasa takut yang sempat memenuhi pikiran dan membuatnya cemas.
Dua orang polisi berpakaian biasa pun masuk dan menghampiri Arjuna dan Cilla.
“Perlu bantuan medis, Bu ?” tanya salah seorang.
“Tidak perlu, saya tidak diapa-apakan, hanya tidak diijinkan keluar dari tempat ini,” sahut Cilla setelah melerai pelukannya.
“Untuk sementara Bapak dan Ibu boleh pulang. Besok tolong datang ke kantor untuk memberikan keterangan pada kami,” ujar yang lainnya.
“Dan Glen ?” tanya Cilla.
“Akan kami tahan dengan kasus penculikan.”
Cila menghela nafas dan menurut saat Arjuna membawanya keluar apartemen. Tas tangan Cilla yang ada di atas sofa tidak lupa dibawa oleh Arjuna.
Ternyata bukan hanya Arjuna yang datang dalam penyergapan itu, ada Theo, Tino dan Luki ikut juga bersama 5 orang polisi berpakaian dinas.
Glen sudah diborgol dan tatapan penuh kebencian dan senyuman sinis masih terlihat di wajahnya saat berpapasan dengan Arjuna yang menggandeng Cilla.
“Urusan kita belum usai Arjuna Hartono,” desis Glen.
Arjuna mengabaikan ucapan Glen namun Cilla berhenti dan membalikkan badannya.
“Berhentilah untuk memelihara dendam, Pak karena tanpa sadar rasa dendam itu sudah menghancurkan hidup Bapak. Lihatlah borgol yang membelenggu tangan Pak Glen. Borgol itu memastikan kalau Bapak akan kehilangan banyak hal mulai saat ini. Karir, kehidupan dan terutama kesempatan untuk membahagiakan orangtua.”
Glen terdiam dan membuang muka. Ucapan Cilla cukup menyentil hati kecilnya. Rasa dendam itu memang membuat Glen lupa dengan konsekuensi yang harus dijalani.
Cilla menghela nafas dan memeluk lengan Arjuna membiarkan pihak berwajib mengurus sisanya.
“Kamu nggak apa-apa kan ?” tanya Theo begitu Cilla sampai di dekatnya.
“Selain nggak mandi dari kemarin pagi, Cilla baik-baik aja.”
Theo langsung mendekap adik sepupunya dan kali ini Arjuna tidak keberataan seperti biasanya. Arjuna bisa merasakan bagaimana Theo sebagai satu-satunya kakak sepupu, begitu cemas memikirkan Cilla.
“Istirahat dan tenangkan pikiranmu.”
Theo mengusap kepala Cilla sambil tersenyum.
“Tenang aja, ada pelukan Mas Juna yang pasti bikin Cilla tenang,” sahut Cilla yang bergelayut manja pada lengan suaminya.
Arjuna tersenyum bangga melirik Theo yang langsung mencebik. Luki dan Tino geleng-geleng kepala, kedua teman mereka suka lupa pada situasi dan kondisi kalau berdebat soal posisi mereka bagi Cilla.
***
Arjuna tersenyum saat melihat Cilla tertidur pulas. Tidak tega membangunkan istrinya yang terlihat lelah, Arjuna memutuskan untuk menggendong Cilla namun baru sampai di teras, perempuan mungil itu membuka matanya.
“Cilla turun aja, Mas Juna.”
“Nggak apa-apa, Mas Juna masih kuat gendong sampai ke kamar.”
“Tapi Cilla mau jalan aja.”
”Mami.”
Bukannya mereda, isak tangis Sean malah makin kencang dan tangannya terulur minta digendong maminya. Cilla bergegas mendekati dan mengabaikan aturannya yang harus bersih dulu sebelum menggendong Sean. Hatinya sudah sangat rindu pada putra tunggalnya itu.
Sean langsung memeluk erat leher Cilla membuat gadis mungil itu sedikit sesak namun masih bisa bernafas. Satu tangan Cilla mengusap-usap punggung Sean.
“Sean kangen sama mami, ya ?” Bocah itu mengangguk-angguk di ceruk leher maminya membuat Cilla terkekeh kegelian.
Arjuna pun meminta keduanya naik ke lantai dua, ia ingin Cilla membersihkan diri dulu tapi tahu kalau Sean tidak akan mau jauh dari maminya.
Setelah Arjuna berhasil membujuk Sean, Cilla bergegas ke kamar mandi, tidak tahan karena badannya sudah lengket apalagi sempat masak di apartemen Glen.
Rasanya Arjuna ingin tertawa melihat Sean berusaha menahan kantuk dengan posisi duduk di atas ranjang. Meski usianya belum genap 2 tahun, Arjuna yakin kalau putranya itu ikut merasakan bagaimana perasaan Arjuna yang gelisah saat Cilla tidak pulang ke rumah semalam.
Begitu Cilla keluar dari kamar mandi, wajahnya langsung berbinar dan mulutnya berceloteh memanggil Cilla. Sean sempat bercanda dan bermanja pada maminya namun tidak buruh waktu lama Sean pun tertidur dalam gendongan Cilla.
“Beneran Glen nggak berbuat kurang ajar sama Cilla ?” tanya Arjuna saat keduanya sudah berbaring di atss ranjang dengan posisi berpelukan.
“Beneran !” Cilla mengangkat jarinya membentuk huruf V.
“Sepertinya jiwanya memang terganggu. Kadang normal, nanti bisa melow lalu marah-marah. Kemarin dia bilang Cilla mengingatkannya pada Gina yang pintar memasak.”
“Cilla dipaksa masak untuk dia ?” Cilla mengangguk dalam dekapan Arjuna.
“Beneran Cilla nggak diapa-apain, kan ?”
Cilla melepaskan diri dari pelukan Arjuna dan mengangkat badannya dengan kepala ditopang lengannya.
“Glen nggak menyentuh Cilla sama sekali pas di apartemen. Waktu Cilla baru sadar di atas tempat tidur, pakaian Cilla masih lengkap dan utuh.”
“Tapi dia gendong-gendong Cilla pas lagi pingsan,” gerutu Arjuna dengan wajah kesal.
“Kalau itu Cilla beneran nggak tahu, kan namanya juga lagi pingsan.”
“Apa jaminannya dia nggak cium-cium atau pegang Cilla ?”
“Mas Juna ngeselin banget deh ! Cilla kan juga udah mandi, keramas dan sabunan sampai 2 kali supaya bersih dari jejak Glen. Lagian mana ada orang pingsan tahu apa yang terjadi sama dirinya.”
Cilla terpancing juga emosinya, ia menjauh dari Arjuna bahkan tidur dengan posisi memunggungi suaminya itu. Air matanya menetes. Sebetulnya ia sendiri takut membayangkan apa yang Glen lakukan saat dia pingsan sampai bisa di atas tempat tidur, tapi Cilla berusaha menepisnya sulaya tidak menjadi mimpi buruk.
Arjuna menghela nafas beberapa kali untuk meredam rasa cemburunya yang terkadang sulit ditahan. Tidak ingin memperpanjang rasa kesal Cilla, Arjuna mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
“Maaf kalau Mas Juna cemburu. Membayangkan Glen begitu terobsesi sama Cilla membuat Mas Juna jadi berpikiran yang aneh-aneh.”
“Makanya jangan dibayangin,” omel Cilla sambil menghapus air matanya.
”Cilla takut kalau disuruh memikirkan apa yang teejadi saat Cilla pingsan. Tapi selama sadar, Cilla tahu bagaimana harus menjaga diri dari orang setengah gila kayak Glen.”
“Iya maafin Mas Juna. Sekarang jangan dikasih punggung dong, Mas Juna kangen banget.”
Cilla yang sama rindunya dengan Arjuna akhirnya berbalik badan dan kembali menyusupkan kepalanya di dalam pelukan Arjuna, tidak ingin suaminya melihat kalau dia sempat menangis.
“Bukan Cilla ingin menutupi dari Mas Juna…”
“Iya Mas Juna mengerti. Maaf karena Mas Juna masih suka nggak bisa menahan cemburu.”
“Nggak apa-apa, Cilla senang kalau Mas Juna lagi cemburu asal jangan berlebihan.”
Cilla melerai pelukannya dan tersenyum menatap Arjuna. Pria itu ikut tersenyum lalu mencium kening Cilla.
“Sekarang bobo, ya.” Cilla mengangguk dan mendusel-duselkan wajahnya di ketiak Arjuna membuat pria itu tertawa kegelian.
Tidak lama Arjuna mendengar dengkuran halus dari bibir istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas.
“Mas Juna tidak akan membiarkan Glen lepas begitu saja,” gumam Arjuna sambil mencium pelipis Cilla.