MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ngambeknya Cilla


“Kamu jadi ambil pesanan, Manda ?” Arjuna yang salah tingkah menoleh pada adiknya.


 


Kedatangan mereka ke café ini  karena Amanda memaksa Arjuna untuk ikut menemaninya,  dengan alasan ingin mengambil pesanan kue untuk mama Diva.  Padahal seingat Arjuna, ia sempat melihat dus kue di dalam kulkas


 


Saat mereka turun dari mobil, tanpa sengaja, Arjuna yang sudah hafal betul dengan sosok Luna, melihat mantan kekasihnya itu sedang duduk dengan raut wajah tidak bersahabat sedang berbincang. Setelah posisinya lebih dekat ke depan café yang semuanya kaca, Arjuna melihat Cilla yang menjadi lawan bicara Luna.


 


Perasaannya yang langsung tidak enak, membuat Arjuna bergegas mendahului Amanda masuk ke dalam dan mendekati meja yang ditempati Luna dan Cilla. Ia sempat mendengar ucapan Luna yang mengatai Cilla sebagai anak pembawa sial. Saat itu tanpa sadar, Arjuna langsung mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal dengan penghinaan Luna pada Cilla.


 


“Eh iya… sebentar aku ke sana dulu, Kak,” Amanda pun jadi gugup karena sebetulnya ia belum memesan kue di café ini.


 


Kalau sampai tidak ada stok, terbongkar sudah sandiwara Amanda yang memang sengaja ingin mempertemukan Arjuna dengan Cilla, hingga ada alasan untuk memaksa Cilla ikut ke rumah. Tapi siapa sangka, rencana Amanda sedikit berantakan karena kehadiran Luna.


 


“Kamu nggak apa-apa, Cilla ?” tanya Arjuna dengan susah payah mencoba bersikap biasa saja.


 


“Kenapa Bapak tadi sembarangan mencium saya ?” Mata Cilla melotot menatap Arjuna. “Bapak sudah seenaknya mengambil ciuman pertama saya !” omelnya kembali.


 


“Ngg.. ngg.. Nggak ada maksud apa-apa. Biar tadi kelihatan lebih meyakinkan Luna kalau kita itu memang pacaran dan kamu itu calon istri saya yang dipilih papa. Luna sudah tahu soal rencana papa yang buat saya pergi. Jadi biar dia yakin kalau penjelasan saya waktu di telepon bukan pura-pura.”


 


Deg


 


Dada Cilla kembali bergemuruh. Apa benar Arjuna sudah tahu sandiwara yang dilakoninya bersama Amanda dan kedua orangtua Arjuna ?


 


“Maksud Bapak saya ini angsa yang mau dijodohkan dengan Bapak ?”


 


“Tentu saja bukan,” jawab Arjuna cepat sambil tertawa kikuk. “Kayaknya papa nggak akan pilih gadis model kamu untuk jadi istri saya,” ujar Arjuna masih sambil tertawa pelan.


 


“Dasar laki-laki egois, songong, nyebelin !” Cilla yang sempat lega mendengar jawaban Arjuna mendadak emosi tingkat tinggi dan mendorong tubuh Arjuna sampai terhuyung ke belakang. Matanya mulai basah dengan tetesan air mata.


 


“Jadi hanya untuk terlihat meyakinkan di depan mantan pacar, Bapak seenaknya mencium-cium saya ?” Cilla mendekati wajah Arjuna. “Bapak pikir saya perempuan yang gampang diperlakukan seenaknya karena saya menyukai Bapak ?’ Cilla memukul-mukul dada Arjuna.


 


Pria itu terdiam dan membiarkan Cilla melampiaskan kemarahannya dengan deraian air mata.


 


“Saya benci sama Pak Arjuna ! Karena saya cuma anak bebek yang jelek, bukan berarti saya tidak punya harga diri. Saya benci sama Pak Arjuna !” Cilla kembali mendorong tubuh Arjuna, dan berjalan melewati Arjuna sampai melupakan handphone miliknya yang masih ada di atas meja.


 


“Cilla !” panggil Arjuna namun tetap berdiri di tempatnya.


 


Amanda yang melihat dari jauh jadi gemas dibuatnya.


 


“Kak Juna !” teriaknya cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. “Kejar  buruan !”


 


Arjuna yang terlihat bingung akhirnya mengangguk dan segera berlari menyusul Cilla yang sudah sampai di samping mobilnya. Terlihat gadis itu mengacak-acak tasnya mencari kunci mobil.


 


“Cilla !” panggil Arjuna perlahan. Posisi Cilla masih memunggungi dirinya.


 


Gadis itu masih mencari-cari kunci mobil, hingga akhirnya karena terlalu kesal, Cilla meluruhkan tubuhnya di samping mobil sambil terisak.


 


Arjuna semakin mendekat. Digendongnya tubuh mungil itu dari samping dan didudukan di atas kap mesin dekat sisi pengemudi.


 


Cilla masih terisak sambil menunduk. Perlahan Arjuna merapikan beberapa helai rambut yang berantakan dan lengket karena siraman minuman cokelat tadi. Diangkatnya ujung dagu Cilla dan perlahan punggung tangan Arjuna menghapus air mata yang ada di pipi gadis itu.


 


Cilla membuang muka ke samping meskipun tangan Arjuna masih mengusap pipinya. Arjuna kembali melihat luka yang sama di mata gadis itu. Manik matanya yang masih basah tidak mampu menutupi gambaran hatinya saat ini.


 


Arjuna membawa Cilla ke dalam pelukannya dan membelai rambutnya dengan penuh rasa sayang.


 


“Maafkan saya Cilla, maaf. Tadi saya begitu marah saat mendengar kalimat-kalimat Luna yang sangat menyakitimu. Bukan hanya marah mendengarnya, tapi juga sakit.”


 


Arjuna melerai pelukannya dan menangkup wajah Cilla sambil tersenyum.


 


 


“Jangan nangis begitu. Muka kamu udah jelek tambah jelek,” ledek Arjuna sambil tertawa pelan.


 


Maksud hati ingin bercanda, tapi suasana hati Cilla yang sedang buruk karena bertemu Mia Luna dan dianggap hanya pelaku sandiwara oleh Arjuna, membuat ledekan Arjuna seperti hinaan untuknya.


 


“Saya memang anak bebek jelek !” Cilla kembali mendorong Arjuna cukup keras hingga terhuyung ke belakang.


 


“Nggak usah terus-terusan mengingatkan kalau saya ini cuma anak bebek jelek !” seruan Cilla yang lumayan keras itu membuat Arjuna terkejut dan menyadari kalau saat ini tidak mungkin mengajak Cilla bercanda seperti biasanya.


 


“Maaf.. Maaf Cilla,” Arjuna berusaha mendekat tapi Cilla sudah turun dari atas kap mobil dan mengeluarkan kunci mobil yang ternyata ada di saku roknya.


 


 


Arjuna kembali membawa Cilla ke dalam pelukannya dengan posisi berdiri dekat pintu pengemudi. Gadis itu meronta, namun Arjuna tetap mendekapnya semakin erat.


 


“Mulai sekarang, saya tidak akan membiarkan kamu disakiti oleh siapapun. Mulai sekarang, bagilah beban hidup kamu sama saya supaya tidak semakin menyakiti hidupmu.”


 


“Nggak mau !” Cilla langsung menggeleng. Gadis ini sudah tidak lagi meronta ingin melepaskan diri meskipun tangannya tidak membalas pelukan Arjuna. Wajahnya masih menempel di dada Arjuna.


 


“Kenapa ?” Arjuna mengerutkan dahi tanpa melerai pelukannya.


 


“Bapak bukan siapa-siapa saya dan saya juga bukan siapa-siapanya Pak Arjuna. Nama saya Cilla bukan Amanda. Saya masih kesal karena Bapak sembarangan mengambil ciuman pertama saya. Lagipula saya tidak mau berubah jadi angsa hanya untuk menyenangkan hati Bapak. Saya mau tetap menjadi diri sendiri biarpun saya ini anak bebek yang jelek,” sahut Cilla dengan bibir mengerucut.


 


Ingin rasanya Arjuna terbahak. Mulut Cilla  mengomel panjang lebar dan menolak tawaran Arjuna,  tapi kepalanya masih tetap bersender di dada Arjuna tanpa berusaha menjauh. Dasar anak remaja labil, batin Arjuna sambil tersenyum.


 


“Kalau begitu mau saya kembalikan lagi ciuman pertama kamu yang tadi sudah saya ambil ?” Arjuna melerai pelukannya dan mendekati wajahnya ke arah Cilla. Gadis itu berusaha menjauh tapi tubuhnya terbentur mobil.



Wajah Cilla langsung memerah dan ia hanya bisa menoleh ke samping menghindari tatapan Arjuna yang posisi mukanya begitu dekat dengan wajah Cilla. Bahkan Cilla bisa merasakan setiap hembusan nafas Arjuna.


 


“Gimana ? Saya nggak keberatan,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


 


Bagaikan sudah terjepit dalam perangkap musuh, Cilla hanya terdiam dengan wajah semakin memerah dan terasa panas. Tiba-tiba terlintas ide jahil di kepalanya.


 


Ia meraih lengan kemeja Arjuna dan mengusapkan hidungnya yang masih basah oleh ingus karena habis menangis. Perbuatannya itu membuat Arjuna terkejut dan cepat-cepat menjauh.


 


“Kamu jorok banget sih !” gerutu Arjuna sambil melihat lengan kanan kemejanya basah. Mukanya mengernyit antara jijik dan kesal.


 


“Makanya jangan main gampang dan sembarangan cium-cium anak gadis,” Cilla mencibir sambil terbahak. Ia mengambil tisu dari dalam tas dan membersihkan sisa ingus yang masih ada di sekitar hidungnya.


 


“Awa kamu, ya !” Ancam Arjuna . Cilla hanya menjulurkan lidahnya.


 


Cilla berbalik dan membuka pintu mobilnya.


 


“Mau kemana ?” Arjuna menahan pintu yang baru terbuka namun Cilla belum sempat masuk.


 


“Pulang !” sahutnya ketus.


 


“Nggak ada niat menawarkan mengantar pulang ? Saya dan Amanda tidak bawa mobil, tadi hanya diantar oleh sopir,”  ujar Arjuna masih dalam posisi menahan pintu.


 


“Datangnya nggak sama saya, kan ? Kenapa jadi tanggungjawab saya harus mengantar Bapak dan Manda pulang ?” Cilla menatap Arjuna dengan malas,


 


Tidak lama suara lantang Amanda memanggil namanya dan melambaikan handphone Cilla yang  tertinggal di meja café.


 


“Sepertinya kamu harus mengantarkan kami pulang, apalagi Amanda sudah berbaik hati membawakan handphone kamu yang ketinggalan,” ledek Arjuna sambil tertawa. Cilla hanya mendengus kesal.


 


“Anterin gue pulang ya,” ujar Amanda saat sudah di dekatnya. “Gue bawa kue buat mama. Sopir tadi nggak bisa nunggu soalnya harus ke tempat lain disuruh papa.”


 


Amanda mengulurkan handphone Cilla yang masih ada dipegangnya. Cilla menghela nafas, kalau sudah begini, mana mungkin hatinya tega untuk bilang nggak mau. Dengan tatapan kesal, Cilla  melirik Arjuna yang masih berdiri di sampingnya.


 


“Gue nggak masalah kalau nganter elo doang, tapi nggak mau antar guru matematika gue yang rese ini,” Cilla menunjuk Arjuna dengan dagunya.


 


Arjuna terlihat masa bodoh dan langsung mengambil kunci mobil yang ada di tangan Cilla sebelum gadis itu sempat menahannya. Arjuna  memberi isyarat supaya Cilla menggeser badannya dan  membiarkan Arjuna yang duduk di kursi pengemudi. Amanda tersenyum sambil memandang kakaknya yang mengedipkan sebelah matanya.


 


“Saya sudah satu paket dengan Amanda.  Mana bisa kamu mengantar adik saya dan membiarkan kakaknya ditinggal. Pasti Amanda juga nggak akan rela.”


 


Cilla memukul perut Arjuna tanpa tenaga penuh. Arjuna  meringis sambil memegang perutnya. Sementara Cilla hanya tersenyum mengejek dan memutar ke belakang mobil. Ia pun membuka pintu dan duduk di kursi penumpang belakang.


 


Dengan terpaksa Arjuna masuk ke kursi pengemudi. Ia sempat mengusap-usap perutnya yang masih merasakan bekas pukulan Cila. Protesnya tidak didengar oleh kedua gadis SMA itu yang memilih duduk di kursi balakang.


 


“Beneran pada tega nggak ada yang mau duduk di depan ?” bujuk Arjuna saat mobil mulai meninggalkan café.


 


Cilla hanya diam dan menoleh ke samping jendela. Amanda melotot menatap Arjuna lewat spion tengah. Pria itu hanya memasang wajah cemberut sambil melajukan mobil menuju ke rumah orangtuanya.