MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kedatangan Amanda


Sudah sepuluh menit Amanda menunggu Cilla di kantin SMA Guna Bangsa. Siang ini ia memang ingin menemui Cilla karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Namun lima pesan dikirim oleh Amanda sudah centang dua, tetapi belum ada satu pun yang dibaca oleh Cilla.


 


“Ngapain elo di sini ?”


 


Amanda mendongak dan menatap cowok kepo yang berdiri di depannya. Hari ini Jovan tidak sendirian, ada Anto dan Lino yang ikut di belakangnya.


 


“Kenapa ? Memangnya ada larangan anak sekolah lain nggak boleh makan di kantin sini ?” Amanda balik bertanya dengan mata memicing.


 


“Iya,” sahut Jovan. “Apalagi kalau model cewek jutek kayak elo, bisa-bisa malah memancing emosi dan keributan di sini.”


 


“Soalnya ada elo yang bikin hati gue kesel terus,” sahut Amanda sambil mencebik.


 


“Mau ketemu Cilla atau kakak elo ?’


 


Amanda langsung melotot. Tatapannya memberi isyarat supaya Jovan jangan sampai kelepasan kalau ia adalah adiknya Arjuna.


 


“Yang pasti nggak ketemu elo,” sahut Amanda.


 


“Kakak ?” Anto yang sempat mendengar pertanyaan Jovan mendekati posisi Jovan dan Amanda. “Memangnya kakak elo kelas berapa ?”


 


“Kelas XII IPS-1,” sahut Amanda sambil tersenyum, membuat Jovan malah mencebik.


 


“Siapa ?” Lino yang penasaran ikut buka suara.


 


“Cilla,” sahut Amanda cepat-cepat saat dilihatnya Jovan sudah menggerakan mulutnya ingin bicara. “Kakak angkat,” sambungnya lagi saat melihat kedua teman Jovan terlihat bingung.


 


“Bukannya gue yang jadi kakak elo,” ujar Jovan sambil senyum-senyum. “Kakak ketemu gede. Kemarin kan elo udah setuju dengan status kita.”


 


“Apanya ?” Amanda langsung melotot menatap Jovan dengan ekspresi kesal.


 


“Eh beneran elo udah move on dari Cilla ?” ledek Lino.


 


“Jangan lupa pajak jadiannya, Bro,” timpal Anto sambil tertawa dan menepuk bahu Jovan.


 


“Jadi elo pacarnya Jovan ?” Lili yang belum lama masuk kantin langsung mendekat dan menatap Amanda yang diakui sebagai pacar oleh Jovan.


 


“Eh… sejak kapan ?” Amanda terlihat bingung harus memberikan jawaban apa. Apalagi melihat wajah Lili yang begitu galak menatapnya.


 


“Iya, ini pacar gue. Kenalannya lewat Cilla,” Jovan langsung duduk di samping Amanda dan merangkul bahu gadis itu.


 


Amanda yang paling tidak suka disentuh sembarangan oleh cowok langsung menyikut perut Jovan sampai cowok itu meringis.


 


“Jangan dengerin omongan cowok kepo ini,” dengusnya kesal sambil melotot ke Jovan.


 


Terihat Lili menarik nafas lega meski belum bisa tersenyum. Febi ikut menghela nafas tapi bukan karena perasaan lega seperti Lili saat mendengar Amanda membantah ucapan Jovan , melainkan karena menyayangkan sikap Lili yang terlalu obsesi pada mantan ketos tampan itu.


Sudah sering Febi menasehati supaya jangan terlalu berharap pada Jovan yang terang-terangan mengakui kalau mencintai Cilla sejak lama.


 


“Elo Amanda ya ?” Febi maju melewati Lili dan mendekati Amanda.


 


Amanda memicingkan mata karena merasa belum pernah bertemu dengan Febi sebelumnya, tapi siswi SMA Guna Bangsa ini mengetahui namanya.


 


“Kenalin gue Febi, gue teman satu kelas sekaligus sahabatnya Cilla,” Febi mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Amanda.


 


“Amanda,” balas gadis itu sambil tersenyum manis. “Gue sahabatnya Cilla juga, tapi dari lain sekolah.”


 


“Dan ini Lili, sahabat Cilla juga,” Febi menarik tangan Lili untuk diperkenalkan dengan Amanda. Keduanya pun bersalaman.


 


“Dih Febi sentimen, masa Lili doang yang dikenalin. Kita berdua apa kurang gede buat dikenalin juga sama cewek manis ini,” gerutu Anto sambil melirik Febi.


 


“Eh, itu ada teman elo yang udah kenal sama Amanda. Kenapa juga harus gue yang kepo kenalin elo berdua sama Amanda,” sahut Febi dengan nada ketus.


 


“Yaelah kayak anak TK aja sih, mau kenalan sama cewek aja harus dikenalin segala,” ujar Jovan sambil geleng-geleng kepala. “Tinggal ulurin  tangan, sebutin nama elo dan tanya nama nih cewek.”


 


Jovan pun memberikan contoh dengan mengulurkan tangannya namun diabaikan oleh Amanda dan disambung dengan gelak tawa keeempat orang lainnya yang berdiri dekat mereka.


 


“Gue laporin sama….hmmm..hmm…” Amanda langsung membekap mulut Jovan sebelum cowok kepo itu mengucapkan nama Arjuna.


 


 


Jovan melirik ke arah Amanda yang masih melotot ke arahnya. Ia memberi isyarat supaya Amanda melepaskan tangannya dari mulut Jovan. Cowok itu sempat menggerutu dengan wajah masam saat Amanda sudah melepasnya, tetapi Amanda hanya tertawa pelan dan mencebik pada Jovan.


 


Lili kembali memicingkan matanya memperhatikan interaksi Jovan dan Amanda. Firasatnya mengatakan kalau keduanya lebih dari sekedar sahabat. Febi yang melihat situasi Lili langsung mendekati Amanda dan Jovan yang sedang berdebat, hingga menjadi tontotan Anto dan Lino yang tertawa-tawa.


 


“Amanda, gue sampai lupa. Tadi Cilla minta tolong gue temuin elo dan titip pesan supaya tunggu sebentar, soalnya Cilla tadi dipanggil Pak Arjuna.”


 


“Pak Arjuna ?” Jovan dan Amanda mengulang nama itu dengan nada penuh tanya. Amanda langsung menyenggol Jovan dan memberi isyarat kembali supaya tidak membahas soal hubungannya dengan Arjuna.


 


“Wah biasanya bakalan lama kalau sudah dipanggil sama Pak Arjuna,” ujar Jovan sambil terkekeh.


 


“Memangnya mereka ngapain sampai harus lama ?” Amanda dengan polosnya malah mengajukan pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh Febi, Lili maupun Jovan.


 


“Lagi bikin soal untuk ujian sekolah,” seloroh Lino sambil tertawa. “Soalnya Cilla memang jago matematika, jadi Pak Arjuna membutuhkan bantuan biar cepat selesai menyusun soal ujian sekolah.”


 


“Plus diskusi yang lain, Bro,” timpal Anto. “Diskusi masa depan,” lanjutny sambil tertawa.


 


“Memangnya mereka ada hubungan apa ?” Jovan mengerutkan dahi, pura-pura tidak tahu kalau Cilla berpacaran dengan Pak Arjuna.


 


“Hubungan guru sama murid dong… Kenapa ? Elo  takut ditikung sama Pak Arjuna ? Bukannya sudah punya adik ketemu gede ? ” ledek Lino sambil tertawa dan melirik ke arah Amanda.


 


Hampir semua siswa kelas XII tahu kalau Jovan sudah lama mengejar Cilla tapi diabaikan oleh gadis itu. Banyak yang menjadikannya bahan gibah, kisah cinta ketos tampan dan anak pemilik sekolah.


 


Terlihat Amanda, Jovan, Febi dan Lili menarik nafas lega. Mereka sudah diwanti-wanti untuk tidak membocorkan masalah hubungan Arjuna dengan Cilla, karena status keduanya sebagai guru dan murid di sekolah SMA Guna Bangsa.


 


“Sambil nunggu Cilla, ikutan kita makan dulu, mau ?” ajak Febi pada Amanda.


 


Amanda berpikir sejenak dan tidak lama ia mengangguk. Perutnya memang mulai lapar, dan sepertinya Cilla tidak akan datang dalam waktu dekat.


 


Akhirnya mereka berenam makan di satu meja. Amanda yang  sudah menangkap tatapan Lili terlihat tidak suka padanya karena Jovan, memilih duduk di sebelah Febi berhadapan dengan Anto. Seolah saling mengerti, Febi dan Amanda membiarkan Lili duduk berhadapan dengan Jovan.


 


Hati Lili langsung bahagia dan matanya berbinar saat bisa duduk berseberangan dengan Jovan, namun mantan ketos itu justru terlihat tidak nyaman meski masih menanggapi ucapan Lili dengan candaan. Febi yang melihat kondisi ini menjadi semakin yakin harus bicara lagi dengan sahabatnya supaya jangan sampai perasaannya menjadi obsesi bukan lagi cinta.


 


“Elo kenal sama Pak Arjuna ?” pertanyaan Anto pada Amanda membuat gadis itu hampir saja menyemburkan minuman yang baru diteguknya.


 


Jovan terlihat cukup tegang karena baru ia sendiri yang tahu kalau Amanda adalah adik kandung Arjuna, sementara sejak tadi, gadis itu memintanya untuk merahasiakan tentang statusnya.


 


“Siapa Pak Arjuna ?’ Amanda menautkan alis dan memasang wajah bingung sambil membalas tatapan Anto.


 


“Guru matematika di SMA sini,” sahut Lino sambil ikut memperhatikan Amanda.


 


“Memangnya penting banget kalau gue kenal atau nggak kenal sama guru matematika kalian ?” tanya Amanda.


 


“Ya nggak juga sih,” sahut Anto sambil tertawa pelan. “Hanya saja sekilas wajah elo mirip sama Pak Arjuna.”


 


Febi dan Lili yang juga belum tahu kalau Amanda adalah adik kandung Arjuna akhirnya ikut menoleh dan memperhatikan wajah Amanda. Apa yang diucapkan oleh Anto memang benar, ada bagian dari wajah Amanda yang membuatnya terlihat mirip dengan Arjuna, hanya saja ia versi perempuannya.


 


“Atau jangan-jangan elo adiknya Pak Arjuna ?” Lili yang menyipitkan matanya langsung spontan mengucapkan apa yang ada di pikirannya.


 


“Udah dibilang dia masih saudaranya Cilla,” Jovan yang menyahut duluan untuk mengalihkan perhatian teman-temannya yang fokus menatap Amanda.


 


“Setahu gue, Cilla nggak punya sepupu perempuan. Adanya Kak Theo, dan kalau nggak salah dia nggak punya adik perempuan,” ujar Lili dengan dahi berkerut.


 


Amanda tersenyum kikuk. Sebetulnya tidak ada masalah kalau pun ia mengaku sebagai adiknya Arjuna. Toh ia sendiri bukan siswi di SMA Guna Bangsa. Tapi rasanya ia belum siap, karena sesudah pengakuan sebagai adiknya Arjuna, akan ada pertanyaan-pertanyaan lain sebagai kelanjutannya.


 


Bukan tidak mungkin para siswa akan mencari data mereka lewat jaringan media sosial. Dan pertanyaan seputar kenapa Arjuna menjadi guru bukan penerus usaha keluarga, kenapa Arjuna memilih kost daripada tinggal di rumah mereka yang cukup mewah, dan seabrek pertanyaan lainnya pasti akan mengikuti informasi yang Amanda ungkapkan.


 


“Kalau begitu kalian harus ketemuin gue sama yang namanya Pak Arjuna, supaya gue bisa melihat sejauh mana gue mirip sama dia. Jangan-jangan wajah kita berdua terlalu pasaran makanya kalian bilang mirip,” sahut Amanda sambil tertawa.


 


Sesudah itu, Jovan mengalihkan pembicaraan untuk membahas hal lain supaya teman-temannya tidak fokus dengan topik Amanda yang memang mirip dengan guru matematika mereka.