
Jam 11.15 bel berbunyi dan hampir semua anak menarik nafas lega karena ujian terakhir bisa terlewati.
Cilla bergegas turun, sudah pamit dengan Febi dan Lili kalau hari ini ia pulang duluan. Ajakan Lili jalan-jalan ke mal ditolaknya karena sudah ada janji dengan seseorang.
“Mau kemana tuh anak ? Kok buru-buru banget ?” Jovan menghampiri Febi dan Lili yang masih berdiri dekat tangga di lantai 3.
“Nggak bilang, cuma pamit mau pulang duluan, ada perlu,” sahut Febi sambil mengangkat kedua bahunya.
“Gue juga,” Jovan melewati Febi dan Lili sambil melambaikan tangan. “Mau dating, mumpung ujian beres, Amanda juga libur.”
Febi dan Lili saling memandang dan tersenyum.
“Nasib kita berdua masih jomblo,” ujar Lili sambil tertawa. Febi mengangguk dan membiarkan Lili merangkul lengannya.
**
Cilla bergegas turun dari ojol karena tidak ingin Bang Dirman berbohong pada Arjuna. Tujuan Cilla bukan ke mal, melainkan salah satu cafe.
”Cilla !” panggilan itu membuat pandangan Cilla langsung menuju ke sumber suara dengan posisinya masih di depan pintu masuk cafe.
“Maaf kalau saya telat,” ujar Cilla sambil menarik kursi di seberang wanita itu.
”Nggak apa-apa, gue juga baru sampai, kok. Ngobrolnya santai aja, nggak usah terlalu formal. Biar gue seumuran sama Arjuna, nggak masalah ngomongnya gue elo aja.”
Cilla mengangguk sambil tersenyum dan menerima buku menu yang disodorkan pelayan.
“Pesan apa aja, gue yang traktir. Bulan ini gue dapat gaji pertama setelah resmi di kick sama Om Arman,” ujar Yola sambil tertawa.
Lagi-lagi Cilla hanya tersenyum dan memesan satu minuman serta snack.
“Sebelumnya gue minta maaf, Cil. Sorry gue pernah nyosor Arjuna padahal tahu dia udah punya elo,” Yola mengulurkan tangannya.
“Nggak usah pakai salaman begini,” ujar Cilla sambil menggeleng. “Lagipula kejadiannya sudah lewat dan Kak Yola sudah menerima konsekuensinya dari papa.”
“Sekalian gue mau kasih selamat buat pernikahan elo sama Arjuna.”
Akhirnya Cilla menerima uluran tangan Yola dan menjabatnya.
“Thanks Kak Yola.”
“Apa Luna tahu kalau elo udah married sama Arjuna ?” Cilla mengangkat kedua bahunya.
”Gue ini sahabatnya Luna, teman satu geng malah pas SMA. Kita masih suka ketemu dan merebut Arjuna dari elo adalah salah satu tantangan dari Luna.”
“Maksudnya ?”
“Elo adik tirinya Luna, kan ?”
“Udah berlalu. Papi dan tante Sofi hanya menikah siri kurang dari setahun. Hanya karena kasihan, papi masih membiayai sekolah Kak Luna atau Mia sampai tamat kuliah.”
“Sebetulnya Luna nggak benar-benar suka apalagi cinta sama Arjuna, dari dulu sampai mereka pacaran. Berhubung Arjuna sudah jadi CEO dan punya dompet tebal akhirnya Luna mau pas dibujuk sama Mimi. Dan sekarang bukan karena cinta dia berusaha cari gara-gara, tapi iri sama elo Cil. Dia selalu berpikir kalau elo itu penyebab dia gagal jadi anak angkatnya om Darmawan dan sekarang malah elo udah membuat Arjuna total melupakan dia.”
“Bukan saya yang menyebabkan Mas Juna berpaling dari dia, tapi Kak Luna sendiri. Mas Juna ketemu langsung sama Kak Luna dan selingkuhannya.”
“Iya gue tahu banget. Luna itu cuma manfaatin uangnya Juna sama seperti tante Sofi manfaatin bokap elo.”
Cilla terdiam dan menikmati snack serta minuman pesanannya.
“Cil, gue memang pernah suka sama Arjuna karena saat SMA Arjuna kelihatan macho dengan gaya anak bandelnya. Saat kemarin gue nyosor di kantor, gue sadar kalau perasaan gue hanya kagum dan bukan cinta sama Arjuna. Sorry banget, Cil. Gue benar-benar menyesal menerima tantangan Luna untuk merebut Juna dari elo,” Yola tersenyum sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Apa ada tantangan lainnya yang ditawarkan oleh Luna ?” tanya Cilla dengan senyuman agak sinis.
“Masih ada Riana, Cil. Di antara kita bertiga, Riana yang sedikit obses sama Arjuna. Karena segan sama Luna akhirnya Riana mengalah, tapi setelah tahu gimana perasaan Luna sebenarnya, tanpa ditantang gue yakin kalau Riana akan mengejar Arjuna.”
“Apa Riana itu nggak tahu kalau Mas Juna udah nikah sama saya ?”
“Lalu apa hubungan Kak Yola sama Sherly ? Dan gimana Sherly bisa dapetin foto-foto saya dan Mas Juna terutama yang di Semarang. Setahu saya foto-foto itu hanya ada di grup teman-teman dekatnya Mas Juna.”
“Sorry Cil, soal foto yang di Semarang sepertinya Sherly dapat dari handphone gue. Foto itu sendiri gue sengaja kirim dari handphonenya Arjuna pas masih jadi asisten dia. Gue sempat kasih lihat Luna dan Riana saat mengkonfirmasi sama Luna apa dia kenal elo sebagai pacar barunya Arjuna. Saat itulah Luna cerita soal elo yang berstatus mantan adik tirinya plus bumbu-bumbu kebencian dia sama elo. Sorry Cil, gue benar-benar nggak tahu kalau Sherly bakal buka-buka handphone gue.”
“Jadi Sherly tahu kalau Kak Yola pernah kerja jadi asistennya Mas Juna ?”
“Iya. Nyokap gue tuh pernah membanggakan kerjaan gue di perusahaan om Arman saat kami lagi kumpul keluarga, tapi Sherly nggak tahu kalau Arjuna, anaknya om Arman, adalah guru matematikanya. Pas gue dikeluarin dari perusahaan, Sherly baru tahu soal Arjuna. Dia mulai ngorek-ngorek soal Arjuna dan elo. Mungkin karena gue nggak banyak berbagi info makanya Sherly nekat buka-buka handphone gue. Karma banget, ya,” Yola tertawa pelan.
“Gue nyolong foto dari handphone Arjuna dan Sherly gantian nyolong foto yang sama dari handphone gue.”
“Apa Kak Yola tahu rencana Riana ? Dengan cara apa dia bakal merebut Mas Juna ?” mata Cilla menyipit dan menggeser piring makannya yang sudah kosong.
”Dari antara kita bertiga, Riana itu yang paling kaya dan paling cantik juga. Cantik asli bukan oplas kayak Luna. Jadi ada kemungkinan dia akan mendekati Arjuna lewat jalur kerjasama antar perusahaan. Bokapnya punya usaha yang cukup maju.”
Cilla mengaduk minumannya lalu menatap Yola.
“Kenapa Kak Yola mendadak berubah haluan jadi membantu saya ? Apa nggak takut dikucilkan sama sahabat-sahabat Kak Yola ?”
“Sama Luna dan Riana maksud elo ?” Cilla mengangguk sambil menyeruput minumannya.
“Kejadian gue dikeluarin dari perusahaan om Arman dengan referensi yang buruk, membuat gue sadar kalau kebanggaan dan over pede yang selama ini gue miliki begitu mudah dipatahkan dan membuat gue jatuh di titik yang rendah. Bahkan orangtua gue merasa malu dengan perbuatan gue, Cil,” Yola tertawa getir.
“Setelah gue berhenti kerja, orangtua gue juga berhenti membantu. Gue benar-benar harus memulai semuanya dari titik nol dan ternyata nggak gampang. Meski demikian gue bersyukur karena masih bisa sadar sebelum terjerumus lebih dalam dan apa yang dilakukan sama bo-nyok bukanlah suatu hukuman tapi pelajaran supaya ke depannya gue nggak boleh sombong. Apa yang gue punya dan gue banggakan selama ini masih pemberian orangtua, dan gue lupa banget soal itu.”
“Belum terlambat untuk berubah, Kak. Pasti ada jalan untuk semua niat yang baik.”
“Gue nggak nyalahin kalau saat ini elo masih ragu dengan sikap gue, Cil. Beneran, gue bisa ngerti banget. Biar waktu yang membuktikan niat baik dan penyesalan gue, Cil. Hanya satu pesan gue, jangan pernah menyerah apalagi sama cewek-cewek model Riana. Bukan karena elo sama tajirnya dengan mereka, tapi elo itu spesial buat Arjuna. Kelihatan banget kalau Arjuna memang sayang sama elo dan jangan biarkan cinta kalian diusik oleh Riana dan yang lainnya. Kalian berdua sama-sama rentan. Elo masih muda, manis dan dari keluarga tajir, pasti banyak cowok-cowok lain yang nggak akan keberatan menjadi suami pengganti Arjuna. Begitu juga dengan Arjuna, cowok ganteng dan mapan. Apalagi sekarang Arjuna benar-benar kelihatan sebagai pria matang dan berkantong tebal yang jadi incaran banyak perempuan.”
“Maaf kalau saya masih perlu meyakinkan diri dengan semua ini,” ujar Cilla sambil tersenyum tipis.
”Nggak apa-apa, Cil. Memaafkan itu mudah, yang sulit melupakannya,”sahut Yola sambil tertawa pelan.
“Terima kasih sudah diingatkan soal Riana,” Cilla masih tersenyum tipis.
“Kalau suatu saat Riana benar-benar menyusahkan elo, jangan ragu kasih tahu ke gue. Boleh simpan nomor gue ?”
Cilla mengambil handphone dari tas sekolahnya dan mulai mengetik nomor yang disebutkan oleh Yola.
“Gue udah cukup lama berteman dengan Luna dan Riana, setidaknya gue bisa menebak kira-kira langkah apa yang akan mereka lakukan untuk mengeksekusi rencana mereka.”
“Thanks atas tawarannya Kak Yola.”
“Setelah banyak mendengar cerita tante Diva dan bertemu elo langsung begini, gue ngerti kenapa elo begitu spesial buat Arjuna. Sepertinya bukan karena elo masih muda tapi .sikap elo yang apa adanya membuat Arjuna lebih nyaman dan bahagia bisa jadi dirinya sendiri dan nggak perlu jaim.
Tante Diva aja bisa bilang kalau kamu wanita yang spesial banget karena membuat Arjuna penuh semangat dan bahagia setiap harinya.”
Cilla mengernyit membuat Yola tertawa.
“Jangan nethink dulu,” Yola mengangkat telapak tangannya sebelah. “Biar bagaimana nyokap dan tante Diva sudah bersahabat lama, kayak gue sama Riana dan Luna. Sepertinya masalah gue nggak cukup membuat persahabatan mereka selesai begitu aja.”
“Bukan nethink tapi waspada,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
“Setuju, Cil. Elo dan Arjuna memang harus sama-sama waspada.”
Yola tertawa dan mengangkat tangannya mengajak Cilla melakukan tos. Awalnya Cilla terlihat ragu, tapi melihat tatapan Yola yang terlihat tulis, Cilla menerima ajakan Yola. Keduanya sama-sama tertawa.
“Jadi mal-nya pindah ke sini ?” suara berat Arjuna menghentikan tawa Cilla dan Yola.
Cilla langsung menoleh, sedikit terkejut menatap Arjuna yang sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di dada.
Sepertinya cafe yang dipilih Yola sudah cukup jauh dari tempat yang biasa didatangi Arjuna hingga kemungkinan kecil mereka bertemu.
Cilla hanya nyengir kuda menanggapi ekspresi wajah Arjuna yang terlihat kesal dan sangar.