
Kelas pagi baru saja selesai di jam 10.30. Cilla menyusuri koridor bersama Dita, Fino dan Hilda menuju kantin.
Sesudah ini masih ada kelas lagi yang dimulai sekitar jam 1 dan berakhir di jam 3 sore.
“Elo kelihatan anti banget sama Pak Glen ?” tanya Dita yang berjalan di samping Cilla.
“Bad story,” sahut Cilla tersenyum tipis.
“Terus kakak senior tampan apa kabarnya ?” ledek Hilda yang mendengar pertanyaan Dita.
“Nggak tahu,” Cilla mengangkat kedua bahunya. “Silakan aja kalau minat.”
“Ternyata pepatah istri orang lebih menggoda ada betulnya, ya,” ledek Fino.
“Itu mah kaum prianya aja yang kurang kreatif dan sukanya tantangan yang menguji adrenalin,” cibir Hilda.
“Iya padahal secara statistik penduduk dunia lebih banyak wanita daripada pria, jadi untuk apa merebut milik orang lain,” timpal Dita.
“Udah sih nggak usah bahas cowok-cowok kurang kreatif,” Cilla berbalik badan dan berjalan mundur.
“Lebih baik kita mikirin gimana menghadapi ujian tengah semester.”
Bruk !
Cilla terkejut saat tubuhnya menabrak seseorang. Ia membalikkan badan dan matanya langsung membola saat melihat sosok yang ada di depannya.
“Susan,” desis Cilla.
“Apa kamu bilang ?” seorang perempuan yang berdiri di samping Susan langsung membentak Cilla dengan mata melotot.
“Eh maaf Bu Susan maksud saya,” ujar Cilla sambil tertawa canggung.
“Jadi kamu mahasiswa di sini ?” tanya Susan dengan senyuman sinis.
Kalau tidak ingat dirinya maba dan wanita di depannya adalah tampang-tampang dosen, sudah pasti Cilla akan berdiri tegak di depannya sambil bertolak pinggang.
“Iya Bu, saya maba di sini.”
“Kurang bahagia jadi istri Arjuna makanya perlu kuliah lagi ?” ejeknya dengan senyuman sinis.
“Justru demi membahagiakan suami, Bu. Suami saya juga yang mendorong saya untuk terus belajar,” sahut Cilla sengaja memasang wajah tersipu-sipu membuat Fino, Dita dan Hilda saling memandang
“Udah nggak jaman istri hanya diam di rumah, Bu, duduk manis menikmati kartu platinum dari suami, soalnya banyak pelakor bertebaran dimana-mana. Apalagi Ibu pasti paham kalau pria seperti suami saya sering menjadi incaran para wanita meski tahu kalau dia sudah menikah,” lanjut Cilla dengan semangat yang berbeda.
“Kamu bilang kamu maba tapi kok udah punya suami ?” kakak senior di sebelah Susan bertanya dengan tatapan menyelidik.
“Iya saya sudah menikah, Kak dan sudah punya anak juga,” sahut Cilla dengan sopan namun penuh percaya diri.
Kakak senior itu semakin membelalakan matanya karena Cilla bicara tanpa malu-malu.
“Kami tidak ingin mengganggu waktu Ibu lama-lama. Silakan Bu kalau mau duluan, maaf karena tadi saya tidak sengaja menabrak Ibu.”
Cilla menepu dan mempesilakan Susan lewat. Susan melengos kesal dan berjalan melewati Cilla beserta ketiga temannya.
“Elo kenal juga sama dosen tadi ?” tanya Hilda saat melanjutkan langkah mereka menuju kantin.
“Kenal, teman sekolah suami,” sahut Cilla sambil mengangguk.
“Jangan bilang kalau dia pernah suka sama suami elo,” ledek Fino.
“Kelihatan banget ya bibit pelakornya,” ujar Cilla dengan suara berbisik sambil cekikikan.
“Iya dari kejutekannya begitu melihat muka elo. Udah bisa ditebak kalau dia nggak suka sama elo dan pas si Ibu nyebut nama suami elo, ada bau-bau cemburu gitu,” Dita menjelaskan panjang lebar.
“Sotoy !” Fino menoyor kening Dita yang suka lebay mirip Lili.
Hilda dan Cilla tertawa melihat Fino yang sering adu mulut dengan Dita.
“Awas lama-lama jatuh cinta,” ledek Cilla.
“Pengalaman pribadi ?” sindir Dita dengan wajah ditekuk. Hilda hanya geleng-geleng kepala.
Cilla menungu di meja setelah memesan makanan lewat Dita karena sudah waktunya menghubungi Bik Mina, menanyakan kabar soal Sean.
Baru saja Cilla hendak menekan nomor Bik Mina, satu pesan masuk dari Arjuna muncul di layar handphonenya.
ARJUNA
Sayang, Mas Juna sudah selesai meeting dekat kampus Cilla, mau nemenin Mas Juna makan siang ?
CILLA
Boleh. Untung Cilla belum sempat makan. Cilla tunggu di halte depan kampus ya ?
ARJUNA
Tunggu di dalam aja, nanti Mas Juna minta sopir masuk ke parkiran.
CILLA
Ya udah, Cilla ke parkiran sekarang, nunggu dekat-dekat sana biar cepat.
Ketiga temannya baru saja kembali ke meja dengan nampan makanan, Cilla malah beranjak bangun.
“Sorry guys, gue nggak jadi maksi bareng. Biasa ada panggilan cinta,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Bakso elo gimana ?” tanya Dita.
“Bagi-bagi aja.”
“Kenapa nggak ajak laki elo makan di si sini aja, sekalian kenalan sama besties istrinya,” ledek Hilda.
“Nggak mau, banyak ulet keket. Rempong kalau banyak yang melehoy melihat laki gue yang aura ketampanannya mumpuni.”
“Dih lebay !” Fino mencebik.
“Udah ya, gue jalan dulu. Jangan lupa siapin satu bangku buat gue, Dit.”
“Ya ampun bocil, elo mau makan siang dimana ? Bogor ? Cari yang dekat aja biar nggak telat. Elo nggak lupa kan kalau habis ini jadwalnya Pak Glen ?”
Cilla menepuk jidatnya. Rasanya malas banget mengikuti kelas Glen, tapi nggak mungkin juga menolak program kampus apalagi demo sendirian minta Glen diganti dengan dosen lain, bukannya didukung malah bisa jadi bumerang.
Sampai di dekat parkiran, Cilla duduk di bangku yang ada di situ.
“Ngapain elo sendirian di sini ?” kakak senior tampan yang tadi ditanyakan Hilda duduk di samping Cilla yang asyik bermain handphone.
Cilla menoleh ke kiri dan kanan seolah mencari sesuatu membuat Hans mengerutkan dahinya.
“Memangnya ada larangan mahasiswa duduk sendirian ?” tanya Cilla santai, hanya melirik Hans sekilas dan kembali fokus pada handphonenya.
“Nggak ada sih,” Hans mengusap tengkuknya. “Tapi biasanya kan elo selalu ramean, kayak rombongan sirkus.”
“Terima kasih atas perhatian kakak senior,” Cilla menoleh sekilas sambil mengangguk.
“Makan siang yuk,” Hans berdiri sambil menarik tangan Cilla yang langsung digenggamnya.
“Lepasin Kak,” pinta Cilla dengan mata melotot karena terkejut dan tidak suka dengan perlakuan Hans yang main pegang-pegang sembarangan.
“Mau saya bikin tumbang kayak wakru itu ?” tanya Cilla dengan nada galak.
“Kali ini elo pasti nggak akan gampang menjatuhkan gue,” sahut Hans dengan penuh percaya diri enggan melepaskan tangan Cilla.
“Kak…”
“Kalian ngapaian ?” Cilla dan Hans langsung menoleh ke arah pemilik suara.
Cilla langsung menggerutu dalam hati karena di depannya berdiri pria yang tidak diharapkannya.
Melihat Hans sedikit lengah karena kedatangan Glen, Cilla pun menghetakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Hans.
“Saya dari tadi menghubungi kamu, tapi tidak diangkat. Jadi kan kita makan siang bareng ?” pertanyaan Glen membuat mata Cilla membola.
Tidak ada satu panggilan pun masuk ke handphonenya dalam beberapa jam terakhir ini. Makan siang bareng ? Sejak kapan Cilla mengiyakan ajakan dosen menyebalkan ini untuk makan siang.
“Mobil saya di sana, saya mau ajak kamu ke tempat yang agak jauh.”
Cilla menghela nafas, tidak dipedulikannya tatapan Hans yang menuntut penjelasan.
“Jadi selingkuhnya nggak mau mahasiswa tapi langsung dosen ?” sindir Hans sambil tersenyum mengejek.
“Siapa yang berselingkuh ?” suara pria kesayangan Cilla terdengar begitu merdu di telinga Cilla.
“Mas Juna,” dengan wajah sumringah Cilla mendekati Arjuna dan langsung menggamit lengan suaminya.
“Suami saya sudah jemput, kami permisi dulu. Kak Hans dan Pak Glen kan sama-sama mencari teman makan siang, sepertinya ide yang bagus untuk makan siang berdua,” ujar Cilla sambil tersenyum.
Cilla memberi isyarat pada suaminya untuk meninggalkan Hans dan Glen. Arjuna melepaskan tangan Cilla dan menggandengnya menuju mobil.
Untung saja Arjuna tidak melepas kacamata hitamnya, kalau tidak bisa-bisa Cilla jadi raket nyamuk demi menghalau tatapan mahasiswi yang berdecak melihat pria bertubuh tinggi dan proposional itu sedang menggandeng maba di kampus itu.
”Kok mereka bisa ada di situ ?” tanya Arjuna dengan nada sedikit ketus saat keduanya sudah di dalam mobil.
“Mas Juna,” panggil Cilla pelan namun sedikit menekankan ucapannya.
“Mas Juna hanya ingin tahu gimama ceritanya mereka bisa bareng begitu.”
Arjuna yang sadar dengan teguran Cilla merubah intonasi suaranya.
“Cilla juga nggak tahu dan nggak bisa melarang karena yang satu statusnya mahasiswa dan yang satunya lagi dosen,” sahut Cilla sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Awas jangan sampai tergoda apalagi terjebak sama salah satu apalagi dua-duanya.”
Cilla tertawa dan bergelayut manja lalu menyenderkan kepalanya di bahu Arjuna.
“Selama suami tampan Cilla tidak selingkuh, rasanya nggak akan mudah hati ini tergoda sama pria lain. Apalagi kalau ingat dapatnya susah-susah gampang.”
“Mulai pintar gombal,” cibir Arjuna yang akhirnya tertawa bahagia.
Arjuna mengerutkan dahi saat Cilla tiba-tiba menegakkan posisi duduknya lalu miring ke arah Arjuna.
“Mas Juna pasti udah tahu,” ujar Cilla dengan mata memicing.
“Tahu apa ?” Arjuna mengerutkan dahinya.
“Di kampus ini bukan hanya ada Om Glen, tapi juga Tante Susan.”
Bibir Cilla langsung mengerucut saat melihat Arjuna menganggukan kepala.
“Jadi Mas Juna sudah tahu dari awal kalau Tante Susan dosen di sini ?” tanya Cilla dengan nada kesal.
“Belum lama ini anak bebek kesayangan Mas Juna,”
Arjuna merangkul istrinya penuh kasih sayang.
“Waktu Tino mencari tahu kemungkinan orang yang mengirimkan foto-foto ke handphone Mas Juna, nama Susan muncul dalam daftar nama staf dan dosen di kampus.”
“Mas Juna beneran udah nggak suka sama dia kan ?” tanya Cilla sambil menyandarkan kembali kepalanya di di dada bidang suaminya.
“Nggak, malah Mas Juna lupa pernah suka sama Susan,” sahut Arjuna sambil mengeratkan pelukannya.
Arjuna mengecup kening istrinya saat merasakan Cilla menarik nafas panjang.
“Jangan khawatir, kan kita udah sepakat akan menghadapi semuanya berdua,” ujar Arjuna sambil menciumi kepala Cilla dan mengusap punggung istrinya.
“Kita berdua sedangkan mereka bertiga,” gumam Cilla dengan nada kesal membuat Arjuna malah tertawa.
“Mas Juna kok malah ketawa ?” Cilla melepaskan pelukan Arjuna dan menatap suaminya dengan wajah cemberut.
“Habisnya Cilla menggemaskan,” Arjuna mencubit pipi istri kecilnya.
“Mau mereka bertiga, berempat atau berlima tetap nggak akan bisa membuat kita berpisah kalau kita menghadapinya sama-sama. Kita lebih kuat karena berasal dari 2 kekuatan yang bergabung menjadi satu. Jadi Mas Juna dan Cilla bukan lagi dua melainkan satu kekuatan.”
Cilla hanya mencebik dan bibirnya kembali mengerucut.
Arjuna menarik tengkuk Cilla dan memberikan ciuman lembut di bibir istrinya.
“Mas Juna iihh, malu tuh ada Mang Idi di depan,” bisik Cilla setelah lepas dari ciuman Arjuna.
“Nggak apa-apa, Mang Idi sudah biasa sama papa dan mama,” sahut Arjuna sambil terkekeh.
Mata Cilla membola dan Arjuna kembali merangkul istrinya sambil tertawa-tawa.