MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Melakukan yang Terbaik


Cilla baru saja memasuki lobby PT Indopangan Makmur saat dilihatnya Arjuna sedang bediri di sisi kanannya sedang berbincang dengan Tino dan dua orang lain yang tidak dikenalnya.


“Cilla !” Arjuna memanggilnya sambil melambaikan tangan memberi isyarat supaya Cilla menghampirinya.


Penampilan Cilla memang menarik perhatian karena masih memakai seragam SMA. Hari ini jadwal sekolahnya hanya sampai jam 10 dan Arjuna yang memintanya datang ke kantornya diantar oleh Bang Dirman.


“Selamat siang,” sapa Cilla sambil menganggukan kepala pada kedua tamu Arjuna saat posisinya sudah berdiri dekat Arjuna.


“Siang Om Tino,” sapa Cilla dengan suara sedikit pelan pada asisten suaminya itu.


“Halo Nyonya Arjuna,” ledek Tino sambil terkekeh. Suaranya ikutan pelan juga.


“Jadi ini istrinya Arjuna yang membuatnya sombong bukan main ?” Pria dengan perawakan tinggi dan berwajah tampan itu mengulurkan tangannya pada Cillaz


“Sebastian.”


“Cilla. Priscilla.” Cilla pun langsung menyambut tangan pria itu hingga keduanya saling menggenggam.


“Tidak disangka kalau Arjuna jadi sugar daddy,” ledek pria yang bernama Sebastian itu sambil tertawa.


Cilla ikut tertawa pelan dan mngalihkan tangannya pada pria yang satu lagi. Cilla mengernyit saat pria yang berdiri di belakang Sebastan itu tampak ragu membalas uluran tangan Cilla sambil menengok ke arah Sebastian dan Arjuna.


Melihat pria itu terihat ragu akhrnya Cilla menarik tangannya.


“Dia asisten Sebastian, namanya Dion,” ujar Arjuna menjelaskan pada istrinya. Cilla hanya mengangguk-angguk.


“Dan gue bukan sugar daddy, Bro. Kayak istri elo nggak muda aja,” gerutu Arjuna.


“Istri gue bukan anak SMA, Bro,” sahut Sebastian sambil tertawa. “Beda umur hanya 7 tahun sama gue. Nah elo ? 10 tahun hitungannya.”


“Om siapanya dokter Steven ?” tanya Cilla dengan mata menyipit. “Wajahnya mirip-mirip.”


“Masih keingetan aja sama dokter itu ?” gerutu Arjuna dengan wajah kesal. Cilla mengernyit sementara tiga pria di depannya tertawa.


”Gara-gara lihat muka Pak Sebastian yang sepertinya ada mirip-mirip sama dokter Steven,” sahut Cilla sambil menatap Arjuna.


“Kami sepupuan,” sahut Sebastian di sela tawanya. “Kamu salah satu fans-nya ?”


“Nggak. Bukan member fans club-nya, Om. Selera saya bapak guru bukan dokter,” Cilla melirik Arjuna.


“Gombal !” gerutu Arjuna dengan wajah masam.


“Kamu yang sabar punya suami kayak Arjuna, ya. Tampangnya gagah, kelakuannya anak remaja,” nasehat Sebastian.


“Sotoy !” Arjuna mencibir pada Sebastian.


“Udah bawaan dari lahir,” celetuk Tino sambil terkekeh.


“Udah bosan kerja ?” Arjuna melotot pada asistennya yang hanya tertawa.


“Jangan cemberut,” Cilla merangkul lengan Arjuna. “Nanti malah kelihatan lebih tua dari Om Bastian.”


“Loh kok Om ? Umur saya hanya beda 2 tahu. lebih loh sama Arjuna.”


“Kebiasan Om, semuanya temannya Mas Juna memang saya panggil om.”


“Sadar sebentar lagi udah jadi daddy, maunya dianggap muda aja. Lupa kalau di rumah istri lagi hamil gede ?” ledek Arjuna sambil tertawa.


“Udah senang lagi ?” sahut Sebastian sambil mencibir.


“Udah. Dan waktunya elo pulang karena urusan bisnis udah selesai. Gue mau pacaran dulu sama bini.”


Arjuna mengibaskan tangannya pada Sebastian dan Dion, seolah mengusir mereka keluar gedung.


“Gue mau ikutan juga, dong,” ledek Sebastian mensejajarkan langkahnya dengan Arjuna yang sedang menggandeng Cilla.


“Pulang sana, siapa tahu Kirana mendadak minta dianter ke rumah sakit. Nanti malah Steven yang ngaku-ngaku jadi suaminya,” sahut Arjuna balas meledek Sebastian.


“Eh si**lan nih mantan preman,” Sebastian merangkul leher Arjuna seperti kebiasaan anak-anak SMA.


“Wooii inget udah bukan anak seragam putih abu-abu lagi,” Arjuna berusaha melepaskan tangan Sebastian sementara Cilla hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan.


Tidak disangka kedua pewaris perusahaan multinasional yang statusnya sudah menikah bisa bertingkah kayak anak remaja.


Kelakuan keduanya sempat menarik perhatian karyawan yang ada di dekatnya.


Sebastian menertawakan Arjuna yang masih cemberut setelah ia melepaskan rangkulannya.


“Udah sana cepetan pulang !” Arjuna kembali mengibas-ibaskan tangannya menyuruh Sebastian masuk ke dalam mobilnya yang sudah terpakir di lobby persis di belakang mobil Arjuna.


“Sampai besok, sayang,” ledek Sebastian.


“Geli !” cebik Arjuna yang langsung berakting orang muntah, membuat Cllla, Tino dan Dion hanya bisa tertawa.


Kedua pewaris itu pernah satu sekolah sejak SMP dan SMA, namun tidak satu angkatan. Arjuna adalah adik kelas dua tahun di bawah Sebastian.


Entah bagaimana awalnya seorang Sebastian yang pendiam cenderung kutu buku bisa berteman dengan Arjuna anak setengah preman yang sering bikin masalah di sekolah. Meski anak setengah preman, otak Arjuna lumayan encer dan cara berpikirnya pun jauh ke depan hingga Sebastian merasa cocok berbincang dengan Arjuna.


Ditambah lagi kedua ayah mereka memiliki hubungan bisnis yang membuat Arjuna dan Sebastian sering bertemu dalam acara-acara undangan bisnis.


Keduanya terpisah saat kuliah di tenpat yang berbeda dan bertemu lagi setelah empat tahun mereka putus hubungan.


Setelah tamunya pulang, Arjuna pun bersiap membukakan pintu untuk Cilla.


“Gue titip kantor 3 hari ke depan, No.”


“Istri elo perlu dititipin juga nggak ?” ledek Tino membuat mata Arjuna langsung melotot.


“Yah siapa tahu selama dititip bisa jadi sumber inspirasi gue mencari cinta, biar nggak gagal melulu kalau lagi deketin cewek.”


“Cari psikiater atau dokter cinta sana ! Istri gue nggak boleh diganggu gugat.”


Tino tertawa, ia memang senang menggoda teman sekaligus bossnya yang mendadak menjadi pria posesif sejak jatuh cinta pada muridnya sendiri.


Sangat berbeda saat masih berstatus kekasih Luna, Saat itu Arjuna terlihat lebih dewasa dan waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengurus perusahaan papa Arman daripada memusingkan Luna.


“Mas Juna nggak balik kantor ? Kok nitip urusan kantor sama Om Tino. ?” tanya Cilla saat mobil Arjuna perlahan meninggalkan kantor PT Indopangan.


“Mas Juna mau ke Semarang besok. Berangkat sama papa, papi dan timnya Bastian juga. Pembangunan pabrik di Batang akan diteruskan.”


“Kok mendadak ? Memangnya nggak ada jadwal rencana atau gimana gitu ?”


“Senin kemarin papi baru ngajak Mas Juna dan papa ketemuan, minta supaya pembangunan pabrik di Batang diteruskan lagi, tapi belum ada omongan kalau harus kunjungan ke sana.”


“Berapa lama ?” wajah Cilla mulai ditekuk.


“Kalau semua lancar, Sabtu sore udah balik ke Jakarta, paling telat Minggu pagi.”


“Boleh ikut ?” Cilla mengerjap dengan puppy eyesnya.


“Nggak boleh !” tegas Arjuna. “Senin depan kan kamu ada PAS 3 hari. Minggu depannya lagi udah ujian sekolah, fokus belajar di rumah.”


“Dih pelit amat sih suami,” gerutu Cilla dengan bibir mengerucut.


“Pabriknya tuh masih lahan tanah, Cilla. Bangunan aja masih bentuk bedeng-bedeng, WC susah apalagi wifi. Lagian semuanya yang kerja laki-laki. Mas Juna nggak rela kalau istri Mas kebanyakan dilirik sama cowok lain.”


“Cemburu ?”


“Nggak cemburu tapi nggak suka aja.”


“Terus Cilla sendirian di apartemen ? Katanya mau quality time berdua biar lebih kenal. Baru juga lima hari udah mau ditinggal.”


“Kamu tinggal di rumah papa sama mama dulu ya. Soalnya papi minta dipercepat proses pembangunannya.”


“Apa ada hubungannya dengan masalah penyakit papi ? Kok Mas Juna nggak cerita,”tanya Cilla dengan wajah khawatir.


“Ini Mas Juna mau ajak Cilla ketemu papi di rumah sakit. Rencananya hari ini papi baru mau mulai kemo, tapi bagaimana perkembangannya kita langsung ke sana aja, biar dapat penjelasan langsung dari dokter. Lagipula kasihan juga kalau papi hanya sendirian ke sananya.”


“Apa nggak masalah kalau hari ini papi kemo, besok berangkat ke luar kota ?”


“Nah itu Mas Juna juga mau pastiin dulu sama dokter. Kalau sudah jelas semuanya, kita bisa ajak papi tukar pikiran.”


Cilla terdiam dan mengalihkan pandangannya ke jendela samping.


“Cilla, jangan lupa kalau sekarang sudah ada Mas Juna di samping Cilla. Kita akan menghadapinya sama-sama dan berdoa yang terbaik untuk papi. Dan jangan memikirikan sesuatu yang belum tentu terjadi. BE POSITIVE. Berikan papi hal-hal yang indah hingga hati papi senang dan bahagia. Mungkin itu obat yang paling ampuh. Siapa tahu Cilla bisa kasih papi dan Mas Juna hadiah jadi lulusan terbaik.”


“Cilla takut kalau sudah bicara soal sakitnya papi.”


“Mas Juna juga khawatir kok, Mas Juna nggak mau pura-pura baik-baik saja,” Arjuna menggenggam jemari Cilla .”Tapi kalau kita kasih lihat semua kecemasan kita, papi malah kepikiran. Papi butuh semangat Cilla, butuh keberanian yang Cilla punya dalam menjalankan hidup selama ini. Papi pasti butuh sikap optimis dan pantang menyerah Cilla yang akhirnya buat Mas Juna benar-benar menyerah untuk melawan rasa cinta Mas Juna sama Cilla,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan dan mempererat genggamannya.


“Gombal banget, sih ! Alay,” Cilla mencebik namun bibirnya perlahan tersenyum.


“Haiiss dari dulu kamu kan selalu bilang Mas Juna suka alay, tapi hati kamu tetap aja nggak bisa move on.”


“Narsisnya suamiku,” cebik Cilla. Arjuna tertawa dan mengacak poni Cilla membuat istrinya kembali.


“Senangnya disebut suamiku,” ujar Arjuna dengan wajah berbinar, Cilla hanya senyum-senyum melihat tingkah Arjuna.


Tidak lama mobil Arjuna memasuki area parkiran runah sakit. Arjuna kembali menggandeng tangan Cilla saat keduanya masuk ke rumah sakit menuju ruangan dokter Handoyo.


Ternyata mereka ditunggu di ruangan lantai 3 yang pernah digunakan untuk berbincang saat papi Rudi masuk ICU.


“Kok kemari, Mas bukan ke ruang praktek ?”


“Sepertinya bukan hanya dokter Handoyo yang mau ketemu,” ujar Arjuna menenangkan Cilla.


Keduanya pun langsung masuk ke ruangan yang dimaksud. Cilla mengernyit karena tidak melihat papi Rudi ada di sana.


”Papi kamu sudah pulang, Cilla. Silakan duduk dulu,” ujar dokter Raymond seolah menjawab tatapan Cilla.


Tanpa sadar Cilla meremas tangan Arjuna yang menggandengnya membuat pria itu menoleh dan tersenyum untuk menenangkan istri kecilnya.


Keduanya duduk berdampingan dan mendengarkan penjelasan dokter Handoyo sebagai penanggungjawab langsung pengobatan papi Rudi.


“Jadi kapan papi bisa memulai program kemoterapinya, Dok ?” tanya Cilla pada dokter Handoyo.


“Untuk proses kemoterapi sedikit berat Cilla karena ginjal papi kamu kondisinya kurang bagus. Kemarin sempat dicoba dalam dosis yang minimal, tapi efeknya kurang baik untuk organ yang lain. Akan dicoba dengan cara imunoterapi dan alternatif lain seperti terapi target*. Semuanya akan dicoba dan dilihat mana yang bisa diterima oleh kondisi tubuh Pak Rudi.”


“Saya mohon bantuannya dokter, apapun yang terbsik untuk kesembuhan papi.”


“Maaf kalau saya bicara apa adanya. Secara medis rasanya agak sulit mengharapkan kesembuhan total. Namun tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Saat ini tolong berikan support untuk Pak Rudi supaya selalu semangat dan berpikir positif, jangan terlalu stress karena itulah yang akan membuat daya tahan tubuhnya mudah drop.”


“Untuk masalah itu kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk papi, Dok. Terima kasih karena sudah memberitahu kondisi papi apa adanya.” Arjuna menanggapi penjelasan dokter Handoyo karena Cilla lebih memilih diam.


Arjuna mempererat genggamannya hingga Cilla menoleh dan menatap suaminya dengan wajah sendu.


“Kita akan selalu mendoakan yang terbaik untuk papi, kan ? Hati yang bahagia adalah obat yang terbaik. Dan kebahagiaan papi saat ini adalah Cilla.”


Arjuna membelai lembut wajah Cilla dengan senyuman.


Cilla mengangguk perlahan. Arjuna memeluk Cilla dan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang, seolah ingin menarik sebagian beban yang ada di hati Cilla menjadi bagian hatinya juga.