MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ulangtahun Mama Diva


Perlahan Arjuna membawa mobil Cilla memasuki halaman rumah orangtuanya. Cilla menegakkan duduknya dan memicingkan mata saat melihat mobil yang pernah menjemput Amanda saat mereka bertemu di café, terparkir apik di depan.


 


“Itu ada mobil, Manda. Kenapa tadi nggak suruh jemput elo lagi ke café ?” tanya Cilla sambil menatap Amanda dengan kedua alis menaut.


 


“Eh… gue nggak tahu kalau sopir selesai secepat itu,” Amanda menjawab dengan sedikit gugup melihat Cilla yang menatapnya curiga.


 


“Udah, nggak ada gunanya juga berdebat. Kamu sudah sampai juga di rumah,” ujar Arjuna setelah mematikan mesin mobil.


 


“Gue mau pulang,” ujar Cilla dengan ketus. Tangannya sudah memegang handel pintu siap membukanya.


 


“Eh jangan dong,” cegah Amanda. “Gue udah janji mau ajak elo kemari sesuai permintaan mama.”


 


“Jadi ini semua cuma alasan elo biar gue datang ke sini,” Cilla menatap Amanda dengan wajah cemberut.


 


“Sorry,” Amanda tersenyum kikuk.


 


Cilla buru-buru keluar dengan perasaan kesal. Dia segera menghampiri Arjuna yang sudah berdiri di samping pintu mobil.


 


“Mana kunci mobil saya ?” Cilla menyodorkan telapak tangannya ke arah Arjuna. “Saya mau pulang. Orangtua Bapak punya sopir, jadi nanti minta sopir aja yang antar pulang.”


 


Arjuna menggeleng dan memasukkan kunci mobil ke saku celana jeansnya yang agak sempit.


 


“Memangnya saya jelangkung ? Datang dijemput, pulang dibiarkan sendiri ? Lagian kalau memang mau ambil kunci mobil, ambil sendiri nih,” Arjuna tersenyum meledek dan menunjuk saku celananya.


 


“Sengaja minta dipegang-pegang ?” omel Cilla sambil melotot.


 


“Udah terlanjur kamu meper ingus ke baju saya,” Arjuna menunjuk lengan kanan kemejanya. “Siapa tahu kamu juga mau yang lebih,” cebik Arjuna sambil tertawa mengejek.


 


“Dasar lelaki songong, mesum, rese !” omel Cila sambil memukul-mukul bahu Arjuna. Pria itu hanya meringis karena memang pukulan Cilla tidak terlalu menyakitkan.


 


“Cilla ya ?” sapaan seorang wanita paruh baya menghentikan tangan Cilla yang tadi memukul-mukul Arjuna.


 


Cilla sedikit gugup, bukan karena bertemu mamanya Arjuna, tapi sudah pasti kalau mama Diva mengenalinya sebagai putri Rudi Darmawan. Sementara sampai tadi di mobil, Amanda sempat mengirim pesan padanya supaya tetap merahasiakan diri Cilla dari Arjuna. Semua itu atas permintaan papa Arman. Jadi Cilla harus berpura-pura untuk tidak mengenal orangtua Arjuna dan Amanda.


 


“Eh iya Tante, saya dengan Cilla,” sahut Cilla gugup dan sedikit terbata.


 


Arjuna tersenyum melihat sikap Cilla, dipikirnya gadis itu pasti gugup karena bertemu dengan mama Diva, mama dari pria yang disukainya. Pikiran Arjuna, pasti Cilla kikuk seperti kekasih dipertemukan dengan calon mertua.


 


“Rambut kamu kenapa ?” mama Diva mengerutkan dahi saat melihat sebagian rambut Cilla yang gimbal karena masih lengket.


 


“Kelakuan Kak Luna, Ma,” sahut Amanda dengan wajah kesal. “Korban Kak Luna.”


 


“Memangnya kalian ketemu Luna ?” tanya mama Diva masih mengerutkan dahinya.


 


“Sudah nggak usah dibahas soal Luna, Ma,” Arjuna mendekat dan merangkul bahu mamanya. “Yang penting sekarang dia bukan calon menantu Mama lagi. Juna sudah putus beberapa minggu lalu dengan Luna.”


 


Mama Diva menghela nafas dan wajahnya terlihat lega. Hati kecilnya memang tidak terlalu menyukai Luna, gadis sombong yang memang materialistis.


 


“Kalau begitu kamu mandi dulu, ya,” mama Diva mendekati Cilla dan menyentuh bahu gadis itu sambil tersenyum. “Bisa pinjam pakaian Amanda. Sepertinya ukuran badan kalian sama.”


 


“Nggg… nggak usah pinjam baju Manda, Tante. Saya bawa ganti. Saya numpang mandi saja kalau boleh.”


 


“Memangnya elo bawa baju ganti, Cil ?” tanya Amanda.  Cilla mengangguk dan mengulurkan tangannya meminta kunci mobil dari Arjuna.


 


Arjuna hanya tersenyum, tangannya ia masukan ke dalam saku dan menekan remote mobil tanpa mengeluarkannya. Ia tidak akan membiarkan Cilla yang memegang kunci mobil. Bukan karena takut ditinggal, tapi tidak akan membiarkan gadis itu kabur dari rumah orangtuanya.


 


Cilla pun mengambil tas ransel yang tidak terlalu besar ukurannya. Ia memang terbiasa membawa pakaian ganti di mobil atau saat bepergian, karena proyek yang sedang dikerjakannya bersama Dimas terkadang harus ke tempat-tempat yang agak kotor.


 


Arjuna yang memperhatikan Cilla sempat menautkan alisnya melihat gadis itu membawa tas ransel di bagasi mobil. Pikiran Arjuna lebih ke arah negatif. Tidak biasa seorang anak remaja selalu siap tas pakaian yang berisi lebih dari sepotong atau satu stel pakaian. Apa mungkin Cilla bersiap-siap kabur kalau memang diperlukan


Cilla pun diajak Amanda ke kamarnya yang ada di lantai dua. Letaknya sejajar dengan kamar Arjuna namun dibatasi oleh tangga. Kedua kamar itu memiliki jendela menghadap ke halaman belakang.


 


Hanya butuh waktu duapuluh menit bagi Cilla untuk menyelesaikan mandi dan berpakaian. Ia sendiri tidak terlalu ribet seperti perempuan umumnya. Terbiasa hidup dan dewasa sendiri, membuat Cilla lebih memusatkan hidupnya pada hal-hal lain daripada perawatan diri yang berlebihan.


 


Satu jam kemudian, Amanda mengajak Cilla ke teras belakang, dimana sudah ada papa Arman dan mama Diva duduk di sana. Cilla sempat terpaku berdiri di dekat pintu saat melihat Amanda mendekati kedua orangtuanya dan merengek manja pada papanya. Cilla hanya tersenyum miris. Situasi yang tidak pernah ia dapatkan sejak kematian mama Sylvia.


 


“Kamu nggak apa-apa ?” Arjuna yang baru saja datang menyentuh bahu Cilla dari arah belakang. Dilihatnya gadis itu terdiam berdiri dekat pintu.


 


“Saya aman, Pak,” sahut Cilla tanpa menoleh ke arah Arjuna. “Tapi belum bisa hilangin rasa kesal sama maling mesum,” gerutunya dengan wajah kesal.


 


Arjuna tertawa dan mengacak-acak rambut Cilla yang masih agak basah.


 


“Maling mesum yang sebentar lagi akan jadi pacar kamu,” ledek Arjuna.


 


“Dasar tukang PHP, sukanya gombalin anak orang terus. Bukannya Bapak sudah pernah bilang kalau saya tidak akan pernah masuk dalam daftar pilihan Bapak ? Mentang-mentang saya belum pernah pacaran, seenaknya aja Bapak mengikrarkan diri jadi calon suami , pakai acara nyosor pula,” ujar Cilla dengan nada ketus.


 


“Katanya anak bebek bukan anak orang ?” Arjuna masih melanjutkan gurauannya.


 


 


Arjuna tersenyum memandangi Cilla dari pintu. Sepertinya tindakan mencium Cilla memang diluar rencananya, tapi Arjuna tidak menyesal. Saat melihat Luna dan Cilla bersamaan, ternyata hatinya telah menentukan pilihannya sendiri. Ciuman yang diberikan pada Cilla bukan karena ingin gaya-gayaan di depan Luna atau desakan nafsu semata, tapi lebih kepada ingin bicara tentang isi hati Arjuna yang sebenarnya.


 


Cilla lebih banyak diam saat makan malam dan hanya sesekali menjawab atau ikut tertawa. Sebenarnya ia tidak terlalu nyaman berada di tengah-tengah keluarga semacam ini, karena membuat hatinya semakin sakit mengingat papi Rudi yang sudah bertahun-tahun jauh darinya.


 


“Cilla boleh sering-sering main kemari kan, Ma ? “ tanya Amanda di sela-sela perbincangan mereka yang masih di meja makan.


 


“Boleh banget, dong,” sahut mama Diva sambil tersenyum. “Papa juga pasti setuju Manda dapat teman seperti Cilla kan, Pa ?”


 


“Iya, boleh. Sering-seringlah temani Amanda, biar dia nggak berisik merengek minta diberikan adik terus,” ledek papa Arman sambil tertawa.


 


“Terima kasih tawarannya Om, Tante, tapi maaf sepertinya saya belum bisa dalam waktu dekat ini,” sahut Cilla sambil menatap papa Arman dan mama Diva bergantian.


 


Pasangan suami istri itu langsung mengerutkan dahinya, bingung dengan tanggapan Cilla.


 


“Saya bersedia main kemari kalau Pak Arjuna sudah bertobat dan mau kembali tinggal di sini dengan orangtuanya,” sindir Cilla sambil melirik ke arah Arjuna yang sedang melotot kepadanya.


 


“Memangnya kamu sudah siap kehilangan guru matematika yang paling ganteng ini ?” balas Arjuna sambil tersenyum mengejek.


 


“Kalau Bapak pulang ke sini, saya jadi ada alasan main kemari untuk ketemu Bapak. Minimal nggak jadi guru di sekolah, Pak Arjuna bisa jadi guru privat saya,” sahut Cilla santai.


 


Amanda yang mendengarnya langsung tergelak, sementara mama Diva tertawa pelan dan papa Arman tersenyum tipis.


 


“Ogah banget saya punya murid les kayak kamu. Bisa-bisa bukannya belajar, malah saya dibuat pusing kareng diajak berantem terus,” gerutu Arjuna.


 


“Ah itu kan karena Bapak terlalu baper. Padahal diam-diam Pak Arjuna pasti kangen kalau nggak ada yang bawelin Bapak kayak saya. Buktinya tadi main nyosor aja dan ngaku-ngaku kalau saya ini calon istri Bapak,” Cilla mencebik.


 


“Nyosor ?” Papa Arman bertanya dengan mata membelalak.


 


“Maksud kamu Arjuna..”  papa Arman menempelkan ujung-ujung jarinya yang dikuncupkan.


 


“Cilla !” pekik Arjuna sambil melotot.


 


“Eehhh… “ Cilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf Om, Tante, mulut saya memang kurang pakem remnya,” ujarnya sambil tertawa kikuk.


 


Mama Diva tampak senyum-senyum dan Amanda kembali tergelak.


 


“Bener banget tuh, Pa,” timpal Amanda. “Kak Juna ngaku-ngaku kalau Cilla ini calon istrinya di depan Kak Luna, pakai acara…”


 


“Amanda Hartono !” potong Arjuna gantian melotot pada adiknya yang tertawa.


 


“Jadi kamu sudah bersedia mempunyai istri anak SMA, Arjuna ?” tanya papa Arman dengan suara tegas dan tatapan tajam.


 


“Nggg… ngggg…  Kalau soal anaknya teman papa, Juna nggak keberatan diajak ketemu dulu, tapi tolong jangan bicarakan soal perjodohan.”


 


“Kamu tuh aneh, kalau sudah bersedia ketemu, berarti kamu juga sudah menerima perjodohan itu, bagaimanapun keadaan putri teman papa itu,” ujar papa Arman kembali dengan suara tegas dan galak.


 


Suasana mendadak kembali jadi canggung. Sama seperti tadi siang.


 


“Maksud Juna, biar Juna berkenalan dan mencoba dekat dengan anak teman Papa itu. Kalau memang kami cocok, baru bicara soal perjodohan,” sahut Arjuna untuk menenangkan hati papanya.


 


“Teman papa butuh kepastian secepatnya, tidak ada waktu lagi baginya untuk menunggu kalian pedekatan, penjajakan atau apapun itu. Kalau kamu mau, harus menikah dulu, pacaran urusan belakangan.”


 


“Maksud Om  kenapa tidak ada waktu lagi ?” kini Cilla yang bertanya sambil menautkan alisnya. Papa Arman yang sadar dengan ucapannya mengambil gelas minumnya tanpa menjawab pertanyaan Cilla.


 


“Kenapa semua harus dipastikan secepatnya, Om ? Apa masalahnya sampai tidak ada waktu lagi ? Apa teman Om itu ingin membuang anaknya secepat mungkin dari kehidupannya ?” tanya Cilla kembali dengan raut wajah sedih dan menuntut jawaban dari papa Arman.


 


Arjuna menautkan alisnya saat mendengar pertanyaan Cilla yang seperti mencecar papa Arman. Kenapa masalah perjodohannya malah membuat Cilla jadi penasaran ? Namun lagi-lagi Arjuna melihat luka itu di bias mata Cilla, saat mata itu mengerjap beberapa kali.


 


Percakapan di meja makan pun tidak diselesaikan dengan tuntas. Cilla sendiri sudah tidak terlalu banyak bertanya dan bicara. Mereka pindah ke ruang keluarga dan memulai acara tiup lilin untuk mama Diva.


 


“Loh ini sudah ada kue, Manda ?” tanya Arjuna saat melihat kue lain ditaruh di atas meja.


 


“Ini kiriman dari anaknya teman papa yang mau dipertemukan dengan Kak Juna,” sahut Amanda.


 


Arjuna hanya mengangguk dan melirik Cilla yang berbincang dengan mama Diva sambil memasang lilin di atas kuenya.


Terlihat tingkah Cilla sudah kembali normal dengan segala kebawelan dan gurauannya. Bahkan papa Arman yang sedikit kaku, ikut tertawa dan menikmati kehadiran Cilla di tengah-tengah mereka.


 


Arjuna tersenyum tipis, masih saja gadis itu menyimpan sendiri beban hidupnya dan menutupi dengan kebawelan dan gelak tawanya. Arjuna berdoa dalam hati, semoga ia bisa mendekatinya dan menjadi lebih sekedar sahabat untuk Cilla.