MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Tembok Cinta


Mata Febi langsung membelalak bukan karena adegan cium tangan Jovan dan Amanda yang terpampang di depannya, tapi sama seperti Cilla, khawatir kalau Lili langsung patah hati melihat cowok incarannya ternyata jadian dengan cewek lain di depan matanya.


 


Begitu menoleh, lagi-lagi Febi dibuat tercengang sama seperti Cilla. Dua orang yang berdiri di belakangnya berdiri terpaku dalam posisi yang cowok hanya melirik-lirik dengan tampang sok coolnya dan yang cewek tersipu-sipu bikin Febi menghela nafas panjang  tapi untung saja tidak lupa menghembuskannya perlahan.


 


“Jadi hari ini kita ditraktir sama elo berdua ?” todong Cilla saat mereka berempat sudah bergabung dengan Jovan dan Amanda.


 


“Gue sih nggak ulangtahun hari ini,” sahut Amanda pura-pura tidak tahu dengan maksud Cilla.


 


Cilla melirik ke arah Lili yang duduk di seberangnya bersebelahan dengan Febi sementara di sebelah Cilla sudah duduk Dimas yang juga pura-pura sibuk dengan handphonenya karena merasa jengah dilirik-lirik Lili sejak tadi.


 


Hanya Febi yang memasang wajah cemberut karena melihat ulah Lili. Sahabatnya yang suka bersikap absurd ini memang termasuk mahluk yang tidak bisa terduga.


Bisa-bisanya beberapa kali memasang wajah melow saat mendengar Jovan menyebut-nyebut nama Amanda bahkan tadi melihat Jovan membonceng Amanda, Febi masih sempat menangkap tatapan iri di wajah Lili.


Sekarang dengan santainya mengabaikan Jovan yang tertangkap basah sedang menggenggam jemari Amanda dan bermain mata dengan pria yang baru saja ditemuinya.


 


Febi menggerutu dan mendengus kesal membuat Cilla menahan tawanya hanya dengan senyuman.


 


“Jangan pura-pura ogeb deh,” omel Cilla. “Udah ketangkep basah, masih juga mau mengelak.”


 


“Eh kenalin dulu simpanan elo ini dong, Cil,” Lili menatap Cilla sambil melirik ke Dimas.


 


“Ah iya gue sampai lupa, sepertinya cuma Jovan udah pernah kenalan sama Dimas.” Cila menepuk tangan sekali.


“Sobat semuanya, kenalin ini Dimas, sahabat gue juga tapi udah bukan lagi anak SMA. Cowok ganteng ini udah mahasiswa tapi statusnya masih jomblo dan membuka lowongan buat cewek-cewek yang mau jadi pacarnya.”


 


Cilla sengaja mengerling ke arah Febi dan Lili. Dengan semangat empatlima, Lili langsung mengulurkan tangannya.


 


“Gue Lili, sahabatnya Cilla yang paling imut,” ujar Lili sambil mengerjap-ngerjap.


 


Dimas hanya tersenyum tipis dan membalas uluran tangan Lili langsung menjabatnya.


 


“Gue Dimas dan gue bukan penghuni celengan kodoknya Cilla, apalagi jadi cowok simpanan nih cewek satu,” Dimas menyenggol bahu Cilla dengan sikunya sambil melotot pada Cilla yang hanya tertawa.


 


Dimas pun lanjut berkenalan dengan Febi dan Amanda , sementara dengan Jovan keduanya hanya bersalaman tanpa menyebutkan nama lagi karena memang sudah saling kenal meski jarang bertemu apalagi ngobrol bareng.


 


“Nggak pesan makanan dulu, nih ? Gue udah lapar banget,” ujar Febi dengan wajah kesal karena sudah sejak pulang sekolah, perutnya minta diisi.


 


Mereka pun memesan makanan dan melanjutkan obrolan santai tanpa menyinggung apapun soal hubungan Cilla dan Arjuna yang sementara ini putus di tengah jalan.


Sebetulnya Jovan, Febi dan Lili sudah merencanakan ingin memberi hadiah kejutan untuk Cilla dan Arjuna, tapi siapa sangka kalau rencana manusia belum sejalan dengan kehendak Yang Kuasa.


 


“Jadi ceritanya kalian udah resmi jadian ?” Cilla kembali bertanya sambil menikmati pesanan makanannya.


 


“Jadi hari ini kita makan gratis ?” tanpa nada sedih apalagi kecewa, Lili ikut menimpali. “Kalau pajak jadian boleh sepuasnya, dong !”


 


Febi dan Cilla saling pandang dengan alis menaut. Kenapa Lili bisa berubah jadi biasa-biasa saja ? Seolah-olah tidak pernah ada rekam jejak pernah nguber-nguber Jovan sejak awal SMA.


 


“Boleh,” Jovan menyahut. Sebetulnya cowok ini sempat tidak percaya juga melihat sikap Lili yang tidak terlihat melow-melownya.


 


Jovan menggeleng, pengaruh Dimas ikut makan siang ini ternyata begitu besar untuk Lili.


Kecewa ? Jovan tidak merasakan kecewa karena kehilangan satu penggemarnya. Justru hari ini Jovan bahagia karena akhirnya Amanda tidak lagi menggantung perasaannya. Masalah mami yang masih getol menginginkan Cilla jadi menantu mereka, jadi urusan berikutnya yang harus Jovan selesaikan.


“Dari tadi pertanyaan gue belum dijawab, ya !” Cilla sengaja melotot menatap Amanda dan Jovan yang sedari tadi tidak memberikan jawaban apapun.


“Tadi udah gue jawab,” tukas Jovan.


“Gue nggak suka jawaban yang ambigu,” protes Cilla. “Elo cuma mengiyakan mau traktir kita makan, tapi nggak jelas buat apanya.”


“Ternyata mantan ketos kita nyalinya segitu doang, Cil,” cibir Febi sambil tersenyum mengejek.


Cilla mengangguk mengiyakan lalu melakukan tos dengan Febi.


“Amanda ini adiknya Pak Juna,” Cilla menerangkan pada Dimas yang sedikit bingung mendengar percakapan mereka.


“Ooo..” Dimas hanya ber-oo ria sambil manggut-manggut.


“Kalau saya muridnya Pak Juna,” celetuk Lili sambil senyum-senyum.


Dimas mengerutkan dahi sambil menatap Lili. Sepertinya candaan Lili masih sedikit aneh di telinga Dimas.


“Eh ogeb !” Febi menoyor pelipis Lili. “Dimas ini udah tahu elo muridnya Pak Juna. Nggak nyadar kalau seragam yang elo pake kembaran sama gue dan Cilla ?” Febi melotot dengan raut wajah kesal.


“Ya dimaafin aja napa, Feb, namanya juga grogi lagi berhadapan sama cogan,” sahut Lili dengan santai.


Febi cuma mendengus dan menggerutu kesal.


“Udah deh Li, hari ini bintang utamanya Jovan sama Amanda,” Cilla kembali fokus menatap Jovan dan Amanda “Jadi elo berdua jangan pura-pura nggak ada apa-apa deh !”


“Nggak, gue nggak pura-pura kok,” sahut Jovan sambil senyum-senyum. “Cuma dimaklumin aja kalau pacar gue masih malu-malu. Baru juga jadian.”


Amanda hanya tersipu dengan wajah merona mendengar Jovan beberapa kali menyebutnya pacar.


“Jadi elo udah nggak ragu lagi terima Jovan ?” Cilla sampai memiringkan posisi duduknya menghadap ke Amanda.


Amanda menunduk dengan wajah yang masih merona, ia tidak menyangka kalau Cilla akan terang-terangan bertanya seperti ini di depan banyak orang.


“Eh bocil, tega amat elo nanya begitu sama pacar gue !” protes Jovan dengan wajah kesal.


“Baru jadi pacar belum suami,” cebik Cilla. Febi ikut tertawa sambil mencibir.


“Perlu banget apa gue ditanya begini ?” Amanda menatap Cilla dengan wajah cemberut.


”Elo itu calon adik ipar gue dan dia ini mantan sahabat gue yang pernah berkhianat, jadi ya demi keamanan dan kebahagiaan elo, gue perlu memastikan.”


Amanda melongo, begitu juga dengan Jovan, Febi dan Lili bahkan Dimas langsung menatap Cilla dengan wajah tidak percaya.


Merasa aneh dengan suasana yang mendadak tenang dan semua mata melihat ke arahnya dengan tatapan aneh, Cilla langsung mengernyit.


“Elo semua kenapa sih begini ? Memangnya ngeliat apa di muka gue sampai mendadak pada melongo ?”


“Elo nggak sadar dengan ucapan elo barusan ?” Tanya Jovan masih dengan wajah tercengang.


”Kenapa ? Ada yang aneh ? Elo tersinggung kalau gue nanya-nanya Amanda ?” Cilla menatap Jovan dengan wajah galak.


“Barusan elo bilang kalau gue ini calon adik ipar elo,” sahut Amanda.


Cilla terkejut dan mendadak diam, wajahnya mulai merona menahan malu.


“Sorry kebablasan,” Cilla tersenyum kikuk.


“Mulut gue lupa belok, maunya lurus terus,” Cilla memukul-mukul mulutnya sendiri sambil tertawa canggung.


“Gue nggak masalah kalau memang elo mau balik lagi sama kak Juna,” ucap Amanda kembali.


Cilla tertawa kikuk mendengar ucapan Amanda. Melihat teman-temannya masih menatap ke arahnya, Cilla buru-buru bangun dari kursinya.


“Gue ke toilet dulu.”


Cilla meninggalkan bangkunya menuju ke toilet dengan langkah tergesa, menggumam sendiri dan sekali-sekali memukul bibirnya.


Bruk !


Cilla mengusap keningnya yang terasa lumayan sakit karena tidak sengaja menabrak seseorang di depan pintu toilet.


“Maaf. Maaf,” ucap Cilla sambil mengusap keningnya.


Cilla mendongak saat tubuh sosok di depannya bergeming. Matanya langsung membelalak. Rupanya indera penciumannya masih bagus.


Aroma tubuh pria yang ditabraknya seolah menjadi penggerak otomatis debar jantungnya yang langsung naik dua kali lipat.


“Mas Juna,” desis Cilla.


Mulutnya kembali reflek mengucapkan panggilan yang sudah terbiasa diberikan untuk Arjuna. Padahal sudah seminggu lebih Cilla berhasil memanggil mantan calon suaminya itu dengan sebutan Balpak.


Mata Cilla seolah tersihir dengan pemandangan di depannya. Pria yang sehari-hari tampil dengan kemeja dan celana panjang saat mengajar sekarang mengenakan setelan jas warna biru tua dan memakai kacamata. Entah minus atau bukan, Cilla belum pernah melihat Arjuna memakainya.


Arjuna bersikap datar tanpa senyuman menatap Cilla sekilas. Hati Arjuna berteriak bahagia karena bisa bertemu Cilla sedekat ini, meski untuk itu, Arjuna harus berusaha sekuat tenaga menahan gejolak hatinya yang ingin memeluk tubuh mungil di depannya. Gadis yang dirindukannya dan terus mengisi mimpi-mimpinya seminggu terakhir ini dan membuatnya terjaga setiap jam 3 subuh.


Desakan dari dalam dirinya semakin kuat untuk memeluk Cilla. Akhirnya Arjuna memilih untuk cepat pergi dan melewati Cilla keluar dari area toilet tanpa bicara apa-apa.


Keduanya merasakan sakit yang teramat sangat karena harus membuang jauh-jauh keinginan untuk melepas kerinduan yang terpendam.


“Cilla,” Amanda menyentuh bahunya dan membuyarkan lamunan Cilla yang masih bergeming di depan pintu masuk toilet pria.


Cilla tergagap, mengusap sudut matanya yang sempat basah meski tidak sampai menetes ke pipi.


“Gue ke toilet dulu,” ujar Cilla tanpa menoleh ke arah Amanda, hanya melirik mantan calon adik iparnya itu dari pantulan cermin yang ada di samping mereka.


Amanda menghela nafas panjang. Ia sengaja menyusul Cilla untuk membantu menenangkan gadis itu.


Amanda sempat melihat saat kakaknya dan Cilla saling berhadapan tanpa suara dan tanpa berani saling memandang. Amanda sengaja membiarkan keduanya berada dalam situasi tadi, karena ia tahu kalau Arjuna dan Cilla sedang berusaha meninggikan tembok pembatas di antara kedua hati mereka.


Semoga tembok itu bisa runtuh dengan sendirinya karena kekuatan cinta mereka.


Sementara di luar, Tino yang baru kembali ke mobil dengan dua gelas kopi tampak mengerutkan dahinya saat melihat Arjuna dengan nafas terengah berpegangan pada sisi pintu dan tangan lainnya memegang dada dengan posisi sedikit membungkuk.


”Jun, elo kenapa ?”


Tino meletakan dua gelas kopinya dan atas kap mesin dan menyentuh bahu boss nya dengan rasa cemas.


“Kalau elo sakit, gue akan minta jadwal meeting kita diundur,” ujar Tino lagi.


”Nggak usah,” Arjuna menggeleng dan menegakan badannya. Nafasnya sudah sedikit lebih baik.


”Apa elo sempat melihat sesuatu di toilet tadi ?”


Arjuna tidak menjawab, hanya memberi kode supaya Tino membuka pintu mobil dengan remote di tangannya.


Tino pun ikut masuk ke dalam mobil di kursi pengemudi setah mengambil dua gelas kopi yang ditaruh ya di atas kap mesin.


“Yakin kita pergi ke Bandung sekarang ?” Tino kembali menegaskan yang dijawab dengan anggukan.


“Punya lo,” Tino menyodorkan gelas minuman berisi pesanan Arjuna.


“Thanks,” ucap Arjuna sambil menerima gelas minumannya dan mulai meneguknya perlahan.


Tino melirik Arjuna dengan dahi berkerut sambil perlahan mengemudikan mobil meninggalkan cafe.


Tadi ia sengaja menjemput Arjuna di sekolah karena ada meeting penting di Bandung jam 6 sore ini. Awalnya Tino merencanakan untuk menginap semalam tapi Arjuna menolak dan meminta Tino tetap pulang dengan alasan tidak bisa bolos mengajar di minggu ini karena sedang membantu persiapan anak-anak kelas 12 menghadapi tryout pertama.


Arjuna menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dan menopang tangannya di pinggir jendela sambil memandang ke samping.


Tino masih bertanya-tanya dengan sikap Arjuna yang terlihat sedikit aneh, namun hatinya yakin kalau ini semua tidak jauh-jauh hubungannya dengan Cilla.


Gadis kecil itu benar-benar sudah mengacaukan hidup Arjuna beberapa hari ini. Cilla sudah berhasil menjungkirbalikan Arjuna yang biasanya penuh percaya diri menjadi lelaki yang melow dan sering ragu-ragu.


Namun Tino yakin itu semua karena Cilla sudah benar-benar menjadi bagian terpenting dalam hidup Arjuna, hingga saat jauh, Arjuna seperi kehilangan separuh jiwanya.