
Arjuna sedang merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar kostnya.
Masalah urusan nilai sudah dilaporkannya via email ke semua walikelas 12 siang tadi. Semoga tidak ada masalah dengan hasil penghitungannya.
Namun bukan masalah itu yang sekarang mengganggu pikirannya. Notifikasi agenda di handphonenya belum lama berbunyi, mengingatkan Arjuna akan hari ulangtahun mama Diva yang jatuh pada hari Minggu depan.
Arjuna menghela nafas panjang. Ingin rasanya datang dan merayakan ulangtahun mama Diva, sekaligus melepas rindu setelah 6 bulan lebih Arjuna pergi dari rumah.
Meski masih menjalin komunikasi dengan mama Diva dan Amanda lewat telepon atau pesan, namun rasanya berbeda bila bertemu dan bertatap muka langsung.
Entah papa Arman akan mengijinkan atau tidak jika Arjuna pulang untuk sekedar merayakan ulangtahun mama Diva. Arjuna ragu karena sejak kepergiannya, ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan papa Arman.
Tidak ingin larut dalam suasana melow, akhirnya Arjuna mengambil jaket, dompet dan handphonenya. Tujuannya tidak lain adalah pujasera langganan Arjuna dan Cilla. Mengingat nama itu, Arjuna merasa semakin jauh dari gadis cerewet itu.
Di sekolah, Arjuna masih bisa melihat dari kejauhan, saat Jovan memberinya hukuman karena terlambat datang. Namun Cilla tidak lagi mengganggunya atau mengajaknya debat jika mereka berpapasan. Kelakuannya sudah seperti siswi normal lainnya, bahkan bagi Arjuna, Cilla justru lebih sering menghindarinya.
Arjuna berjalan menuju meja yang biasa ia tempati, namun langkahnya terhenti saat melihat sepasang anak abege sudah duduk di sana. Arjuna memicingkan matanya, bahkan hanya melihat dari belakang, ia sudah tahu anak cewek yang duduk di sana, namun yang membuat dirinya penasaran adalah cowok seumuran Cilla yang duduk di seberangnya. Keduanya terlihat sedang asyik ngobrol sambil sesekali tertawa.
“Eehhheemm..” Arjuna sengaja berdehem cukup keras hingga membuat keduanya menoleh.
Bukannya terkejut mendapati Arjuna sudah berdiri di dekatnya, Cilla hanya mengangkat tangan sambil menganggukan kepalanya karena mulutnya masih mengunyah makanan. Cowok di seberangnya ikut tersenyum sambil menganggukan kepalanya pada Arjuna.
“Mau duduk juga, Om ?” cowok itu menggeser bokongnya supaya Arjuna bisa ikut duduk di sebelahnya.
Cilla hampir saja tersedak nasi goreng tektek yang masih tersisa di mulutnya. Dipandangnya wajah Arjuna yang ternyata sedang melotot menatapnya. Posisinya masih berdiri di samping bangku Cilla.
“Selamat malam Om Arjuna,” ledek Cilla sambil tertawa, setelah mulutnya sudah kosong.
Teman cowok yang duduk di seberangnya menatap Cilla dan Arjuna bergantian dengan wajah bingung tanpa berani ikut tertawa seperti Cilla.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Arjuna sengaja duduk di sebelah cowok itu, sambil menatap Cilla dengan wajah galaknya.
“Sudah pesan makan, Om ? Dilarang duduk di sini tanpa memesan makanan,” sindir Cilla sambil terkikik.
“Sejak kapan kamu jadi pelayan di sini ? Memangnya ada aturan tidak boleh duduk di tempat ini tanpa makan ?” Arjuna masih menatap Cilla dengan tajam.
“Kamu siapanya Cilla ?” tanya Arjuna dengan nada tegas dan menoleh menatap cowok di sebelahnya dengan wajah galak. Persis seperti seorang ayah yang sedang menginterogasi pacar putrinya yang baru datang pertama kali mengajak kencan.
“Dia pacar saya ! Bapak ngapain kepo sama urusan saya,” Cilla yang menjawab sambil gantian melotot menatap Arjuna. Posisi duduknya bergeser tepat di depan Arjuna.
“Kamu masih murid saya. Malam-malam begini keluar dengan cowok yang tidak dikenal, patut dipertanyakan. Tidak mungkin saya diam saja dan pura-pura tidak tahu, padahal saya menangkap basah kamu lagi duduk berduaan.”
“Yang nggak kenal sama Dimas kan Pak Arjuna, bukan saya,” Kirana mencebik. “Sejak kapan guru sekolah wajib bertanggungjawab masalah muridnya di luar sekolah ?”
Dimas, cowok yang diakui sebagai pacar Cilla itu semakin bingung dengan perdebatan kedua mahluk di depannya. Ia menghela nafas dan mulai pusing dibuatnya.
“Pris, gue cabut dulu aja, deh. Pusing,” Dimas beranjak bangun sambil menunjuk keningnya.
“Eh masa gue ditinggal sama guru kepo ini, “ kalaCilla menunjuk ke arah Arjuna. “Kan tadi kita datangnya bareng, ya pulangnya bareng juga, dong.”
Cilla yang sudah bangun dari kursinya ditahan oleh Arjuna. Gadis itu langsung menoleh dengan mata melotot menatap Arjuna.
“Bapak mau ngapain lagi ? Saya udah tobat, nggak niat mendebat Bapak terus.”
“Kamu kira saya biang dosa bikin kamu harus bertobat segala ?” Tangan Arjuna masih memegang lengan Cilla meski sudah beberapa kali Cilla memberi isyarat untuk melepaskannya.
“Dimas, tolongin gue , dong !” rengek Cilla saat Dimas mulai bersiap pergi.
“Kelamaan kalau harus nunggu satu ronde sampai debat elo selesai. Tami udah nungguin ini,” Dimas mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah Cilla.
“Beresin sampai tuntas masalah elo sama calon suami,” ledek Dimas sambil tertawa. “Males gue kelamaan main sandiwara kayak telenovela, nggak dibayar pula.”
“Dimas rese !” omel Cilla sambil berniat memukul bahu temannya. Dengan sigap Dimas menghindar sambil tertawa.
“Saya pamit dulu, Pak Guru. Jangan lupa muridnya dijagain, takut diculik orang. Susah carinya yang model beginian,” Dimas terkekeh sambil menunjuk Cilla yang sudah cemberut.
“Da dah pacar,” ledek Dimas sambil melambaikan tangannya dan menjauh.
“Dimas rese !” gerutu Cilla sambil menghentakkan satu kakinya ke tanah.
“Bapak juga sih, ganggu orang aja ! Lagi enak-enak pacaran malah dikepoin,” sungut Cilla sambil duduk kembali. Diambilnya botol air mineral miliknya dan ditenggak sampai habis.
“Kamu yakin pacaran sama cowok model begitu ?” Arjuna menangkat sebelah alisnya,
“Memangnya saya harus pacaran dengan cowok model apa ? Cowok kayak Pak Arjuna yang demennya bikin orang baper melulu tapi melarang keras orang jatuh cinta ?”
“Bukannya begitu. Kamu kenal Dimas dimana ? Jangan sembarangan jatuh cinta sama cowok, apalagi kamu belum berpengalaman.”
“Curhat, Pak ?” ledek Cilla sambil tertawa sinis. “Pengalaman habis ditipu sama pacar pertama ?”
Arjuna kembali melotot manatap Cilla, ditambah lagi melihat senyuman sinis Cilla membuat emosinya mendadak naik 3 oktaf. Mukanya memerah karena kesal.
Cilla mengabaikan tatapan Arjuna yang sudah sepeti harimau melihat daging ayam segar. Ia malah memanggil Mang Asep, tukang sekoteng langgananya
Dengan wajah sangar, guru matematika itu mengangguk juga saat Cilla menawarkan sekoteng. Semoga hatinya nggak tambah panas setelah menikmati sekoteng yang hangat plus tambahan jahenya. Cilla tertawa pelan saat posisi wajahnya membelakangi Arjuna, menertawakan pria itu yang suka banget bersikap jaim.
Selesai memesan, Cilla kembali pada posisi sebelumnya, berhadapan dengan Arjuna, Kali ini ia melipat kedua tangannya di atas meja.
“Bapak khusus datang kemari mau razia saya ?”
“Kamu kira saya polisi pakai razia kamu segala ? Saya juga nggak sengaja kemari. Bukan pertama kali juga saya datang kemari untuk makan malam-malam, kan ?”
“Habisnya Bapak pakai interogasi Dimas segala, udah kayak detektif aja. Tadi nggak tanya sekalian Dimas sudah punya KTP atau belum ? Nggak tanya sekolah dimana, hobinya apa, cita-citanya mau jadi apa, kalau perlu tanya kapan mau ajak saya nikah. Dasar polisi cinta amatiran,” gerutu Cilla sambil mencebik.
“Eh kamu bilang saya polisi cinta ? Kayak kurang kerjaan aja ngurusin percintaan kamu !” protes Arjuna dengan wajah kesal.
“Buktinya Bapak memang kepoin saya yang lagi asyik pacaran.”
Arjuna menghela nafas kesal. Sudah dua kali dia menjelaskan kalau tujuannya kemari bukan untuk mencari Cilla, tapi menghilangkan rasa gabut dan melownya dengan cemilan yang diperdagangkan di tenpat ini.
“Sekarang Bapak mau ngomong sama saya soal apa ?”
“Kamu tuh suka over pede, ya !” Arjuna menyentil kening Cilla, membuat gadis itu cemberut sambil mengusap jidatnya. “Tadi kan saya sudah bilang kalau saya mau cari makan di sini, bukan khusus cariin kamu.”
“Tapi saya tahu kalau beberapa hari ini, Bapak terlihat ragu-ragu mau bicara sama saya.”
“Ge-er banget kamu, ya ! Siapa juga yang ragu-ragu bicara sama kamu ?”
“Yakin ?” Cilla mendecih saat melihat Arjuna mengangguk.
“Saya tahu kok kalau Bapak suka berdiri di balkon lantai dua dan memperhatikan saya saat diomelin karean datang terlambat dan menerima hukuman dari Jovan,”
Blush !
Wajah Arjuna memerah seperti tertangkap basah sedang mencuri-curi pandang pada wanita pujaannya. Padahal Arjuna yakin kalau selama ini Cilla tidak pernah melihat ke arahnya karena pandangan mereka tidak pernah bertemu.
Wajah Cilla mendekat ke arah muka Arjuna, membuat Arjuna merasa semakin panas dan langsung menjauhkan mukanya dari Cilla.
“Bapak ngeliatin saya begitu sering karena kasihan atau KANGEN ?” Cilla menekan kata terakhirnya sambil tergelak. “Saya juga kangen kok sama Bapak.”
Wajah Arjuna kembali bersemu merah saat mendengar ungkapan hati Cilla yang diucapkan gadis itu tanpa malu namun dengan nada serius. Cilla sendiri masih tertawa sambil memperhatikan Arjuna yang salah tingkah karena digoda habis-habisan olehnya.
Selama 6 bulan Cilla menjadi teman debatnya, jarang-jarang Arjuna sampai terlihat malu-malu meong dengan wajah memerah.
“Siapa juga yang kangen sama kamu ? Lagian tiap hari bisa dilihat di sekolah, nggak penting banget pakai kangen segala,” ujar Arjuna setelah berhasil menguasai hatinya.
“Jadi Bapak senang melihat saya tiap hari di sekolah ?” Cilla mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum menggoda.
“Mana mungkin saya nggak lihat kamu kalau lagi ngajar di kelas,” Arjuna kembali menyentil kening Cilla. “ Semua juga saya pandangi satu-satu, jangan sampai ada yang tidur di kelas karena merasa sudah pintar,” sindir Arjuna sambil mencibir.
Tidak lama, Mang Asep mengantarkan sekoteng pesanan mereka.
“Saya mau putus hubungan sama Bapak. Nggak mau jadi teman makan Bapak lagi” ujar Cilla dengan santai sambil meniup sekotengnya yang masih mengepulkan asap.
“Kenapa ?” Arjuna tesenyum mengejek. “Sudah punya pacar jadi sudah ada teman makan, yang lama enaknya tinggal dibuang.” Arjuna mencibir
Cilla menggeleng dan meletakkan sendok sekotengnya di piring kecil yang dipakai sebagai tatakan.
“Karena saya nggak mau punya teman pembohong,. Sukanya berpura-pura di depan orang,” Cilla melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Arjuan dengan mata menyipit.
“Memangnya kapan saya membohongi kamu ?” Arjuna menautkan kedua alisnya.
Cilla menggeser sedikit mangkok sekotengnya dan mendekatkan wajahnya ke depan Arjuna yang sedang menyendok sekotengnya.
“Sejak anda berpura-pura hidup susah sebagai anak kost, Bapak Arjuna Hartono, CEO PT Indopangan Makmur, “ ujar Cilla dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Arjuna yang terkejut lagi-lagi menyemburkan kuah sekoteng yang ada di mulutnya.
“Pak Arjuna !!!” Pekik Cilla dengan kesal.
Arjuna masih terbatuk karena tersedak dan Cilla menggerutu karena lagi-lagi wajahnya terkena semburan sekotengnya ala Arjuna.