
Cilla baru saja selesai menyuapi papi makan pagi saat Arjuna mendekat dan mengajaknya keluar sebentar dengan alasan ingin mencari kopi.
Selain om Rio dan keluarganya, papa Arman dan mama Diva juga sudah datang ke rumah sakit.
“Mas Juna ngantuk sampai harus cari kopi ?” tanya Cilla saat keduanya masuk ke dalam lift.
“Om Raymond tadi mengirim pesan ke Mas Juna. Mau ketemu sekalian video call dengan dokter Lee. Dokter Handoyo juga sudah menunggu kita.”
Cilla hanya mengangguk-angguk dan membiarkan Arjuna menggandengnya menuju ruangan dokter Raymond di lantai 3
Arjuna mengetuk pintu dan setelah mendapat jawaban, tangannya membuka pintu ruangan dokter Raymond.
Terlihat sudah ada dokter Raymond, dokter Handoyo dan dokter Krisna dan sebuah laptop dengan tampilan wajah seorang pria paruh baya memakai snelli di layarnya. Meskinpun belum pernah bertemu langsung, namun Cilla dan Arjuna yakin kalau yang terlihat itu adalah dokter Lee.
“Ini anak dan menantu Mr Darmawan,” ujar dokter Raymond memperkenalkan Cilla dan Arjuna pada dokter Lee.
“Saya dokter Lee,” ujar pria di layar monitor sambil menganggukan kepala menyapa Cilla dan Arjuna dengan logat Melayu.
“Dokter Lee bisa mengerti bahasa Indonesia, mungkin hanya beberapa istilah saja yang berbeda dengan bahasa Melayu,” ujar dokter Raymond menjelaskan.
“Nice to meet yoi, dokter Lee,” Arjuna balas menyapa. “Saya Arjuna dan ini Priscilla, putri Mr. Darmawan.”
Perkenalan singkat itu dilanjutkan dengan pembicaraan serius membahas penyakit papi. Ternyata selama papi menjalankan pengobatan di Indonesia, dokter Lee dan dokter Raymond menjalin komunikasi yang sangat baik mengenai obat-obatan dan rekomendasi tindakan sampai perkembangan penyakit papi Rudi.
“Sayangnya dalam dua bulan terakhir ini penyebaran bibit kanker itu sangat cepat menyerang organ tubuh lainnya,” ujar dokter Raymond.
“Bukannya papi sempat menjalankan radioterapi, Om ?” tanya Cilla dengan dahi berkerut.
“Pak Rudi sudah menjalankannya selama 4 kali, tapi sepertinya tubuhnya tidak terlalu kuat. Selain kelelahan, efek samping pada kulit seperti ruam dan gatal-gatal membuat Pak Rudi sulit tidur,” ujar dokter Handoyo menjelaskan.
“Bibit kanker itu bahkan sudah ada di salah satu ginjal papi kamu, Cilla,” terlihat dokter Raymond menghela nafas panjang.
“Apa ada pengobatan lain yang bisa dilakukan, Om ? Paling tidak untuk mengurangi rasa sakit yang papi alami saat ini,” ujar Cilla dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca.
“Sepertinya agak sulit, Priscilla,” ujar dokter Lee dengan bahasa Melayu. “Cara imunoterapi juga sulit dilakukan karena penyebaran kanker sudah mencapai ke bagian organ vital.”
“Kami tetap memberikan obat untuk membantu papi kamu hanya saja dalam dosis yang lebih ringan dari yang seharusnya, Cilla. Dan sebagai dokter, maaf kalau Om harus menyampaikan kondisi papi kamu apa adanya. Secara medis penyakit papi kamu saat ini sudah sulit diobati. Semua hanya bisa berpasrah pada kehendak Tuhan.”
Cilla menunduk, mencoba menahan kesedihannya. Arjuna langsung memeluk Cilla dan mengelus punggung istrinya.
“Belajarlah untuk ikhlas menerima semuanya Cilla,” ujar dokter Raymond. “Hanya rasa iklhas yang bisa memberikan jalan keluar terbaik untuk papimu agar tidak ada beban lagi yang mengganjal dalam hidupnya.”
“You adalah miliknya yang terbaik dan luar biasa,” ujar dokter Lee. “Bisa kembali menjadi seorang daddy untuk putri tunggalnya yang bisa memaafkannya adalah obat terbaik yang didapat Mr Darmawan dalam perjuangannya melawan cancer. Jangan bersedih, Priscilla, keberadaan you di sampingnya sudah menjadi obat untuk Mr Darmawan dalam mngatasi rasa sakitnya.”
“Papi kamu tidak pernah berhenti mengungkapkan kebanggaannya padamu,” lanjut dokter Raymond dengan senyum mengembang.
“Sampai kadang-kadang Om berpikir untuk menjodohkan kamu dengan Steven,” lanjut dokter Raymond sambil tertawa dan melirik Arjuna. “Tapi sayangnya cintamu hanya untuk Arjuna dan Steven sendiri terikat dengan anaknya sekarang.”
Arjuna mengambil tisu dan menghapus airmata Cilla yang mulai mereda tangisnya.
“Untungnya saya nggak keduluan ya, Om,” sahut Arjuna sambil ikut tertawa.
“Apa sementara ini papi harus dirawat di rumah sakit, Om ?” mata Cilla mengerjap, menatap dokter Raymond, dokter Lee dan dokter Handoyo bergantian.
“Akan lebih baik begitu,” sahut dokter Lee.
“Rudi paling tidak suka terlalu lama di rumah sakit,” ujar dokter Raymond sambil tertawa pelan. “Jadi akan kita bicarakan padanya terlebih dahulu. Setidaknya kalau di rumah sakit, lebih mudah memberikan pertolongan yang maksimal saat kondisinya sedang drop. Tapi kalau memang terlalu lama berada di rumah sakit malah membuatnya drop, akan kita pikirkan cara yang terbaik.”
“Cilla akan coba bicara sama papi,” ujar Cilla dengan senyuman tipis.
Selesai berbincang dengan tim dokter, Arjuna dan Cilla berpamitan kembali ke ruang rawat papi.
“Mau cari snack dulu ?” ajak Arjuna saat mereka berdiri di depan lift.
“Boleh,” sahut Cilla dengan wajah sedih
“Mas Juna wa-in Theo biar tunggu sebentar,” sahut Arjuna sambil tersenyum. Tangannya langsung merengkuh bahu Cilla masuk ke dalam lift.
Arjuna langsung membawa Cilla ke cafe yang ada di rumah sakit. Tidak terlalu ramai, mungkin karena hari Minggu.
“Mau cokelat atau strawberry ?”
“Hari ini boleh es krim ? Cokelat dan strawberry ?”
“Boleh,” Arjuna mengangguk,
Cilla mencari tempat terlebih dahulu sementara Arjuna masih memesan dan membayar pesanan.
“Mas Juna,” lirih Cilla saat Arjuna sudah duduk berhadapan dengannya. “Cilla nggak mau kehilangan papi tapi juga nggak mau lihat papi kesakitan terus kayak sekarang, Cilla bingung mau gimana.”
“Cilla banyak berdoa dan pasrahkan semuanya pada rencana Tuhan,” sahut Ar
Arjuna tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang terlihat sedih sekaligus bingung. Antara sedih namun juga lucu dan menggemaskan.
“Doa itu adalah waktu dimana manusia bisa mengungkapkan isi hatinya pada Tuhan. Cilla boleh meminta apapun tapi jangan memaksa melainkan pasrah. Sebagai manusia kita cenderung meminta apa yang kita inginkan bukan apa yang kita butuhkan. Tuhan itu selalu memberi yang terbaik untuk manusia jadi Cilla harus percaya saat keinginan Cilla tidak terwujud meski Cilla sudah memohon dan berusaha, bukan berarti Tuhan nggak sayang sama Cilla, justru Tuhan itu sayang banget sama Cilla dan tahu kalau yang Cilla minta itu bukan yang terbaik.”
“Apa Cilla boleh kecewa kalau sampai permohonan Cilla tidak dikabulkan sama Tuhan ?”
Arjuna mendekatkan mangkuk es krim yang baru saja diantar oleh pelayan ke depan Cilla.
“Ada Mas Juna di samping Cilla, jangan menutupi apapun yang Cilla rasakan,” Arjuna menyendok es krim dan menyuapi Cilla. “Tapi di depan papi, Cilla harus terlihat biasa saja supaya suasana hati papi lebih baik dan tenang karena melihat anak kesayangannya tetap menjadi gadis yang kuat dan tegar.”
“Mas Juna nggak akan bosan kalau Cilla jadikan tempat curhat setiap hari ?” mata Cilla yang kembali berkaca-kaca mengerjap.
“Masih belum percaya kalau Mas Juna ini suami Cilla yang sayang banget sama istrinya ?” ujar Arjuna tertawa pelan dan mengusap wajah Cilla.
“Tuh orang-orang aja pada iri melihat Cilla dari tadi disuapin sama suaminya,” lanjut Arjuna masih dengan tawanya.
“Mereka pasti nyangka kalau Mas Juna itu kakak Cilla,” gerutunya dengan bibir sedikit manyun.
“Kok begitu ?” Arjuna menautkan kedua alisnya dan mengedarkan pandangan.
Terlihat beberapa pasang mata memang sedang mencuri pandang ke arah mereka termasuk beberapa karyawan yang berdiri dekat meja kasir.
“Tatapan cewek-cewek itu bukan sekedar kagum tapi juga mendamba,” ujar Cilla masih dengan nada menggerutu. “Kelihatan banget kalau yang jadi pusat perhatian mereka tuh Mas Juna, bukan Cilla.”
Arjuna tergelak dan mencubit sebelah pipi Cilla.
“Akan Mas Juna buat mereka nggak lagi berpikiran kalau Mas Juna ini bukan lagi menghibur adiknya tapi istrinya.”
“Gimana ? Mau teriak biar semua tahu kalau kita ini pasangan suami istri bukan kakak adik ? Jangan mendadak gila, deh.”
Arjuna menggeleng masih sambil tertawa. Arjuna bangun dari kursinya dan mencondongkan tubuhnya mendekati Cilla dengan satu tangan memegang wajah Cilla.
Bukan sekedar kecupan sekilas di bibir Cilla tapi ciuman panjang meski tanpa *******.
“Mas Juna, ih,” Cilla tersipu dengan wajah menoleh ke arah luar jendela. Wajahnya bersemu merona dan terasa panas.
“Tidak ada kakak adik yang ciuman kayak tadi,” ujar Arjuna tersenyum dan sudah kembali dalam posisi duduk.
“Iya tapi tetap dilihatin orang tuh.”
“Biar mereka iri melihat cowok seumuran Mas Juna punya istri yang imut dan menggemaskan. Iri juga melihat istri yang diperlakukan manis banget sama suaminya.”
“Memang susah punya suami ganteng, dimana-mana jadi perhatian orang,” gerutu Cilla dengan suara pelan tapi masih bisa didengar oleh Arjuna.
Arjuna tertawa dan sesekali masih menyuapi Cilla hingga 30 menit kemudian keduanya keluar dari cafe.
“Habis ini Mas Juna pulang dulu, ya. Mau ambil baju, laptop dan tas kerja, jadi besok berangkat ke kantor dari rumah sakit.”
“Kalau gitu langsung aja dari sini, nggak usah naik ke kamar lagi. Nanti Cilla yang bilang sama papi dan yang lainnya.”
“Nggak apa-apa, Mas Juna mau anterin Cilla dulu.”
”Cilla mau cari angin sebentar di taman rumah sakit. Mas Juna tinggal aja, Cilla panggilin Bang Dirman ya ?”
“Ya udah, jangan lama-lama di tamannya. Jangan nangis sendirian juga di sana, ya, nanti ada cowok yang nawarin bahunya untuk tempat bersandar, Mas Juna nggak bakalan rela.”
Cilla terkekeh dan merangkul lengan Arjuna dengan sikap manja.
”Punya suami banyak diincar orang masih niat mau cari selingkuhan,” cibir Cilla. “Yang ada belum juga selingkuh, suami udah ditikung orang.”
“Cie cie suami nih,” ledek Arjuna sambil senyum-senyum. “Rasanya adem banget kalau dipanggil suami sama Cilla.”
“Dih gombal,” cebik Cilla dengan wajah malu-malu bahagia.
Tidak lama mereka berdiri di lobby, Bang Dirman menghentikan mobil di lobby juga.
“Ada request mau dibawain baju yang mana nggak ?” tanya Arjuna sebelum masuk ke mobil.
“Nggak ada, Mas Juna aja yang pilihin. Asal jangan baju dinas malam,” bisik Cilla di akhir kalimatnya sambil terkekeh.
“Sepertinya ide yang bagus nyoba di rumah sakit,” Arjuna menyentuh dagunya dengan telunjuk sambil memasang wajah berpikir.
“Ogah banget,” Cilla langsung menggeleng sambil bergidik. “Takut disamperin suster ngesot.”
Arjuna tertawa dan mencium pipi Cilla sekilas.
“Lagian kalau pertama kali nggak boleh buru-buru, pemanasannya harus bener dulu biar nggak terlalu sakit,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan.
“Apaan sih Mas Juna. Udah sana cepetan pulang dan cepat balik lagi, ya. Tapi mau bobo dulu juga boleh deh, buat nebus kurang tidur yang semalam,” ujar Cilla sambil mendorong pelan badan Arjuna supaya masuk ke dalam mobil.
“Iya sayang, ingat juga pesan Mas Juna, ya ! Ke taman jangan lama-lama dan bukan cuci mata. Cukup cari angin aja !”
“Iya bawel,” cebik Cilla sambil menutup pintu mobil penumpang belakang.
Bang Dirman terlihat senyum-senyum dari balik setir. Tidak lupa ia pamit pada Cilla sebelum melajukan mobil meninggalkan rumah sakit.
“Bawa mobilnya jangan ngebut, Bang. Ada properti langka punya Cilla yang susah dicari gantinya,” pesan Cilla sambil terkekeh saat Bang Dirman pamitan.
“Beres Non,” Bang Dirman tertawa sambil mengacungkan jempolnya.
Arjuna mencibir dengan mulut manyun mendengar Cilla menyebutnya barang langka namun akhirnya tersenyum saat Cilla menyempatkan mengecup bibir Arjuna sebelum mobil melaju.