MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kejutan Berlanjut


“Jadi Mas Juna bakal pulang malam lagi hari ini ?” tanya Cilla dengan nada ketus saat Arjuna mengabarkan kalau hari ini mendadak Sebastian Pratama ingin mengajak bertemu, membahas soal pekerjaan pabrik di Batang.


”Nggak sampai malam banget, tapi nggak keburu pulang pas jam makan malam. Cilla makan dulu ya, nanti malam pas Mas Juna pulang kita makan lagi.”


“Mas Juna mau bikin Cilla kayak karung beras ?” suara Cilla masih dalam mode ketus.


“Nggak sayang, Cilla kan lagi hamil, jadi jatah makannya harus untuk dua orang,” bujuk Arjuna.


“Pokoknya Cilla kesal sama Mas Juna. Ini sudah hari ketiga Mas Juna melanggar janji untuk makan malam bersama. Bahkan untuk malam ini Cilla sudah khusus masak makanan kesukaan Mas Juna,” omel Cilla dengan suara yang mulai terdengar sengau, seperti orang mulai menangis.


“Iya Mas Juna minta maaf. Besok Mas Juna janji…”


Belum sempat Arjuna menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon sudah ditutup oleh Cilla.


“Kenapa ? Ada masalah ?” tanya Sebastian sambil mengangkat alisnya sebelah saat melihat wajah Arjuna mendadak lecek.


“Biasa, Cilla ngambek. Sudah 3 hari ini aku salah janji. Mau makan malam bersama di rumah, tapi karena pekerjaan lagi banyak banget aku jadi membatalkan janjiku terus sama Cilla.”


Sebastian hanya tertawa pelan tanpa berkomentar membiarkan Arjuna mengetik pesan di handphone miliknya.


Dion dan sopir duduk di depan, mengantar mereka menuju Hotel Pratama.


Sampai di hotel, ternyata Sebastian tidak langsung mengajak Arjuna ke restoran atau cafe hotel.


“Sebentar kita ke ballroom dulu,” ujar Sebastian sambil terus berjalan yang diikuti oleh Arjuna.


Tepat saat di depan pintu salah satu ruangan, handphone Sebastian berbunyi.


“Jun, elo masuk dulu aja, lihat-lihat dulu. Siapa tahu ada minat mau bikin acara tujuh bulanan Cilla di hotel,” ledek Sebastian lalu menjauh.


Arjuna hanya tertawa pelan dan memikirkan ucapan Sebastian. Perlahan ia membuka pintu ruangan yang ada di dekatnya dengan melongkok ke dalam.


Gelap. Tidak biasanya ruangan ballroom hotel dibuat gelap begini. Belum sempat Arjuna mundur, tubuhnya seperti didorong paksa masuk ke dalam tanpa sempat Arjuna mengetahui siapa yang melakukannya.


Terdengar suara pintu terkunci dan Arjuna merasakan kalau ada tangan yang menyentuh tubuhnya, bahkan memeluknya !


Bulu kuduk Arjuna langsung meremang, ingin bergerak seperti ada yang menghimpitnya dan ada hembusan udara menerpa lehernya.


Arjuna diam sejenak, jantungnya berdegup tidak karuan namun sesaat dia merasakan bukan hawa dingin yang menyentuh kulitnya namun hembusan hangat.


Arjuna pun hendak mengambil handphone di saku celananya untuk menyalakan penerang. Baru saja tangannya masuk ke dalam saku, lampu ballroom menyala membuat Arjuna sempat mengernyit, menyesuaikan cahaya yang ditangkap matanya.


“Selamat ulangtahun Mas Juna sayang”, ucapan itu langsung membuat Arjuna menunduk, menatap wajah Cilla yang tengah menatapnya sambil memeluk tubuh Arjuna.


Arjuna langsung tercengang, masalahnya bukan hanya keluarganya dan keluarga Cilla yang ada di situ tapi ada juga para sahabat, keluarga Pratama bahkan teman-teman SMA Arjuna yang sudah lama tidak pernah dilihatnya.


“Kejutan yang tertunda,” ujar Cilla kembali. “Tadinya mau dibatalin aja, tapi udah sampai ke pemilik hotel, uang yang sudah disetor tidak bisa ditarik kembali, kalau maksa bisa tapi kena potongan 50%.”


Arjuna tertawa mendengar celoteh Cilla yang diucapkan dengan wajah menggemaskan.


“Nggak apa-apa, ini benar-benar kejutan. Mas Juna aja nggak kepikiran kalau Cilla akan membuat acara ini. Terima kasih, anak bebek kesayangan Mas Juna.”


Arjuna langsung memeluk Cilla dengan erat bahkan tanpa malu-malu di depan semua yang hadir, Arjuna langsung mencium kening lanjut ke bibir Cilla yang selalu terlihat menggoda di mata Arjuna.


“Juna, ingat tempat,” ujar mama Diva dengan suara sedikit keras membuat yang lainnya tertawa.


Tidak lama seorang pelayan hotel membawa kue yang disiapkan oleh Cilla dan menyerahkan pada istri Arjuna itu.


“Selamat ulangtahun Arjuna Hartono. Semoga selalu berbahagia, diberikan kesehatan lahir dan batin serta menjadi ayah dan suami yang luar biasa.”


Arjuna tersenyum dan langsung meniup lilin angka 2 dan 8 yang menyala.


Tepukan riuh langsung bergema saat Arjuna selesai meniup lilinnya. Arjuna langsung menggandeng Cilla saat kue sudah diambil kembali oleh pelayan hotel. Arjuna langsung mengajak Cilla menuju panggung kecil yang ada di sudut ruangan dan berbicara di depan sana.


“Terima kasih untuk kehadiran semuanya di sini demi memenuhi undangan bumil cantik kesayangan saya ini,” Arjuna menatap Cilla yang langsung tersipu berdiri di sebelah pria itu.


“Seharusnya acara ini memang diadakan minggu lalu, tapi karena ada sedikit kesalahan teknis, acara yang saya kira sudah dibatalkan tetap dijalankan oleh istri saya ini.


Rasanya bahagia banget malam ini bisa berkumpul dengan keluarga, kolega, para sahabat dan teman-teman lama semuanya. Dan yang paling membahagiakan kalau sekarang saya tidak lagi sendirian, karena saya sudah memiliki istri yang luar biasa ini dan menanti kelahiran buah cinta kami.


Terima kasih atas segala doa dan dukungan semua yang hadir di sini untuk keluarga kecil saya. Dan silakan menikmati acara malam ini.”


“Banyak yang patah hati nih, Jun,” ledek Reksi, salah satu teman Arjuna. “Datang kemari berharap elo masih jomblo urakan kayak waktu SMA.”


Ruangan kembali ramai dengan sahutan dan tawa mendengar celetukan Reksi. Memang ada betulnya kalau ada yang masih berharap Arjuna adalah pria single seperti Theo, Luki dan beberapa temannya karena saat pernikahan Arjuna dan Cilla, tidak aemua teman-teman SMA Arjuna diundang.


“Bukan cuma sudah punya istri, Rek, sebentar lagi udah jadi papi juga nih,” sahut Arjuna sambil merangkul Cilla dan tersenyum bahagia.


“Kayaknya istri elo masih muda banget tuh, Jun. Lebih cocok jadi adik daripada istri,” Norman, teman Arjuna yang lain ikut berkomentar.


“Iya memang masih unyu-unyu,” sahut Arjuna bangga. “Mantan murid tersayang, jodoh dari kecil dan baru calon mahasiswa.”


Wajah Cilla memerah di tengah hatinya yang bahagia. Ia tidak mempedulikan kasak kusuk teman-teman Arjuna khususnya kaum hawa yang mendengar ucapan Arjuna barusan.


“Sekarang, silakan nikmati dulu pestanya,” ujar Arjuna lalu mengajak Cilla turun.


Beberapa teman perempuan Arjuna menatap iri ke arah Cilla. Meski Arjuna termasuk cowok tengil yang sering bermasalah dengan ruang BK, namun daya tariknya membuat banyak mata kaum hawa melirik padanya.


Arjuna pun langsung membawa Cilla bertemu keluarga mereka dulu termasuk keluarga Pratama yang sedang berkumpul bersama.


Sebastian ternyata salah satu aktor yang diminta bantuannya oleh Cilla, datang bersama Kirana dan anak kembar mereka.


Om Richard dan Tante Amelia, Om Raymond dan Tante Rosa dengan cucu mereka Raven.


“Steven sedang tugas di Papua dan Shera sibuk,” bisik Cilla saat melihat tatapan Arjuna seperti sedang mengabsen keluarga Pratama.


“Ternyata kalau soal dokter yang satu itu, Cilla selalu update ya,” sindir Arjuna sambil mencibir.


“Duh bahagianya dicemburui suami,” Cilla malah balik cekikikan melihat wajah Arjuna. “Udah basi cemburunya. Kalau Cilla nggak cinta mati sama Mas Juna, nggak ada baby di perut Cilla.”


Arjuna langsung menarik kedua sudut bibirnya apalagi Cilla langsung bergelayut manja di lengannya.


“Kayaknya baru tahun lalu pas Juna ulangtahun kalian tunangan, tahu-tahu perut Cilla udah melendung aja,” ledek Erwin sambil melirik perut Cilla.


“Setidaknya Mas Juna ada kemajuan, daripada Om Erwin, Om Luki dan Kak Theo masih gitu-gitu aja, jones ngenes,” Cilla yang menyahut membalas ledekan Erwin.


“Ma**us lo, Win, nggak boleh ngelawan sama bumil,” ledek Boni sambil tertawa.


“Elo samanya, Bro, dari dulu sampai sekarang statusnya pacaran doang sama Mimi. Nggak panas tuh kuping ditanyain Kapan Nikah ? Kapan Kawin ?” Erwin membalas ledekan Boni.


“Nggak panas soalnya bulan depan udah fixes gue sama Mimi naik pelaminan.”


“Seriusan Om ?” mata Cilla membelalak. “Kok nggak undang-undang kita pas lamaran atau tunangannya.”


“Dia mau ngundang kamu pas malam pengantin, Cil,” celetuk Lucky. “Boni berguru sama Juna, Mimi belajar sama kamu biar bisa cepat melendung juga.”


“Kalau itu sih nggak perlu berguru bisa pintar dengan sendirinya,” sahut Cilla.


“Belajar atur volume suara,” ledek Erwin membuat yang lainnya langsung terbahak.


“Kalau soal volume agak susah, Om. Soalnya…”


“Sayang,” Arjuna menatap Cilla yang sedang tertawa pelan. “Mereka itu cuma mancing-mancing Cilla cerita. Jangan biarkan mereka tahu rahasia kita.”


“Diihh pelitnya,” ledek Boni.


“Baru tahu kalau Arjuna pelit segala-galanya ?” sindir Theo sambil mencibir.


“‘Mulai deh perang saudara,” ledek Lucky.


“Mas Juna nggak pelit kok, apalagi kalau soal cinta,” Cilla melirik suaminya yang langsung memasang wajah pongah.


“Saking terlalu royal soal cinta, sampai bikin cewek-cewek salah tingkah dan salah paham,” lanjut Cilla membuat yang lainnya langsung terbahak.


“Cilla sayang kok ngomongnya begitu,” wajah Arjuna langsung cemberut.


“Memang iya, buktinya ulat bulu yang mau nempel sama Mas Juna masih banyak aja,” sahut Cilla santai.


“Mati loh, Jun !” ledek Theo sambil tertawa.


Arjuna hanya cemberut dan tidak berniat menyahuti Cilla seperti biasanya karena takut mendadak mood bumil ini kacau lagi.


Arjuna pun mengajak Cilla menemui teman-teman sekelas Arjuna yang diundang malam ini. Terlihat Arjuna bangga mengenalkan Cilla sebagai istrinya meski beberapa temannya meledek Arjuna sukanya nggak tanggung-tanggung sama daun yang masih pucuk.


“Kamu nggak undang Riana dan Luna, kan ?” bisik Arjuna saat bergabung dengan teman-teman SMA-nya itu.


“Yang atur semuanya ini Om Lucky dan Kak Theo, jadi Cilla nggak tahu. Tapi kalau diundang pun nggak apa-apa, yang penting awas aja kalau Mas Juna masih berani lirik-lirik.”


Arjuna tertawa pelan mendengar omelan Cilla.


“Mereka seksi dan cantik karena campur oplas dan polesan make up. Beda sama anak bebek Mas Juna ini yang cantiknya alami.”


“Gombal,” cebik Cilla yang langsung dijawab dengan kecupan Arjuna di pipinya.


Cilla pun meninggalkan Arjuna dan hendak menghampiri ketiga sahabatnya, Dimas dan Tami yang datang juga malam ini.


“Kamu beneran mantan muridnya Arjuna ?” beberapa orang perempuan yang berkumpul menanyakan Cilla yang sedang berjalan di depan mereka.


“Eh maaf, tante sedang bicara sama saya ?” tanya Cilla sambil menunjuk dirinya.


“Kamu merasa istrinya Arjuna, kan ?” ujar wanita yang lain.


“Dan kita belum tua-tua amat untuk dipanggil tante,” gerutu wanita yang lain.


“Oh maaf, saya terbiasa memanggil teman-teman Mas Juna dengan sebutan om dan tante,” sahut Cilla dengan sopan, mengabaikan tatapan sinis kelima wanita di depannya.


“Memangnya Arjuna pernah jadi guru ?” tanya wanita yang pertama bersuara.


“Iya Mas Juna pernah jadi guru matematika di SMA saya, tapi hanya setahun,” sahut Cilla masih dengan senyuman mengembang.


“Waahh pintar juga jadi murid ngincar guru ganteng dan kaya pula,” sindir wanita lainnya.


”Iya sampai baru lulus SMA aja mau diajak nikah dan langsung hamil.”


Cilla menghela nafas namun tetap memperlihatkan senyumannya.


“Mas Juna itu terkenal banget ya pas lagi SMA ? Apa karena Mas Juna tampan dan mapan ?”


Cilla mengedarkan pandangannya menatap satu per satu wanita di depannya.


“Sepertinya kamu lebih tahu soal Arjuna sebelum memutuskan menikah muda dengannya. Jaman sekarang anak SMA mau langsung diajak nikah sama pria beda usia biasanya karena faktor ini,” sindir salah satu wanita sambil menggerakan jarinya yang dipahami artinya uang.


“Saya rasa tante-tante akan mencari calon suami yang beruang juga, biar hidup tenang dan shopping juga lancar,” sahut Cilla dengan nada santai dan tertawa pelan.


“Tapi nggak sampai kayak kamu juga sampai rela menikah dengan status baru lulusan SMA,” wanita yang paling ketus itu buka suara lagi.


“Cilla cewek materialistis maksud elo ?” Theo sudah berdiri di samping Cilla dan merangkul bahu istri Arjuna ini.


“Buang jauh-jauh nethink kalian deh soal sepupu gue ini,” Theo melirik Cilla. “Nggak dengar tadi Arjuna bilang kalau mereka memang sudah berjodoh dari kecil ? Lagipula sepupu gue ini nggak pusing soal uang. Dia bahkan yang bayar gaji elo berdua, Tina dan Susi,” Theo menatap dua wanita yang disebutnya bergantian.


“Supaya elo semua tahu kalau sepupu gue ini pemilik Darmawan Grup, pewaris tunggal setelah Pak Rudi Darmawan meninggal,” lanjut Theo.


Tina dan Susi tercengang mendengar ucapan Theo sementara yang lainnya terdiam tanpa berani menatap Cilla.


“Siap-siap aja dapat SP atau surat PHK,” ejek Theo sambil tersenyum sinis.


“Udah sih Kak Theo, kita lagi hepi-hepi. Silakan dinimati makanannya ya, saya ke sana dulu,” ujar Cilla sambil tersenyum.


“Ternyata sepuluh tahun tidak bisa merubah kebiasaan kalian untuk jadi grup tukang gibah,” cibir Theo sambil tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan kelima wanita itu yang terlihat malu dan salah tingkah.