
Cilla terkejut saat tangannya ditarik, menjauh dari Amanda dan 3 mabar lain yang baru dikenalnya saat ospek ini.
“Kak Hans ?”
Amanda langsung menyipitkan matanya, mempertegas wajah pria yang menarik tangan kakak iparnya. Tidak salah lagi kalau cowok itu adalah srnior tampan yang dibuat mabuk cinta oleh Cilla sejak pertama kali mereka bertemu.
Radar pengawas Amanda langsung muncul, ia akan membuat cowok itu menjauh dari Cilla karena bisa mengganggu ketenangan lahir batin rumahtangga kakak kesayangannya.
Sambil mengikuti langkah Hans, Cilla berusaha melepaskan tangan seniornya itu tapi cengkraman Hans cukup kuat. Bisa saja Cllla menghentak lebih kuat tapi akan semakin menarik perhatian orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.
Bukan cuma para mabar, tingkah Hans juga menarik perhatian para senior yang ada di dekat mereka dan kasak kusuk mulai terdengar meski tidak jelas kata-katanya.
“Temenin gue makan,” Hans menyuruh Cilla duuduk di undakan tangga.
Posisi mereka sedikit menjauh dari keramaian, tapi masih terlihat oleh Amanda yang sesekali mencuri pandang pada kedua mahluk itu.
Cilla menautkan alisnya, netranya melihat satu tangan Hans membawa kotak jatah makan siang untuk semua panitia ospek sementara para mabar wajib membawa bekal sendiri dengan menu yang sudah ditentukan oleh panitia.
“Saya bawa bekal sendiri,” Cilla mengangkat tas kain yang dipegangnya saat Hans menyodorkan satu kotak makanan.
Cilla baru sadar kalau Hans membawa 2 kotak dan salah satunya diberikan untuk Cilla.
“Rejeki tidak boleh ditolak,” tegas Hans.
“Lebih nggak boleh lagi membuang makanan yang sudah disiapkan dengan susah payah. Kakak bisa memberikan pada orang lain, satpam misalnya atau petugas kebersihan yang itu.”
Cilla menunjuk ke arah satpam dan petugas kebersihan kampus yang sedang berbincang di taman.
Hans menghela nafas panjang, sepertinya tidak mudah menaklukan gadis di depannya.
Akhirnya Hans mengalah dan duduk di sebelah Cilla, memperhatikan Cilla membuka bekal makanannya.
“Itu semua sudah sesuai aturan ?” tanya Hans sambil melirik.
“Sudah, tadi pagi sudah lolos pemeriksaaan,” sahut Cilla sambil memperlihatkan bekal yang dibawanya.
Cilla mulai menyendok makanannya, perutnya sudah lapar dan bertambah lapar saat mencium lauk tempe dan sayur yang dibawanya.
“Makannya pelan-pelan,” ujar Hans saat melihat Cilla makan dengan cepat.
“Harus begini kalau sudah punya anak, Kak,” sahut Cilla sambil terkekeh. “Kakak nggak makan ?”
Cilla mengernyit saat melihat kotak yang dipangku Hans masih tertutup.
“Lihat kamu makan udah bikin kenyang,” sahut Hans sambil tersenyum.
“‘Mana bisa begitu. Belum pernah ada cerita perut kenyang hanya dengan melihat orang makan.”
“Bisa, soalnya melihatnya dengan cinta,” sahut Hans sambil tertawa.
Cilla memutar bola matanya dengan mulut yang penuh sambil mengunyah. Masa bodoh dengan rayuan Hans, di hati Cilla hanya ada Arjuna.
“Setelah mengaku punya suami, sekarang mengaku punya anak juga,” ledek Hans sambil tertawa pelan.
“Bukan ngaku-ngaku tapi kenyataannya begitu,” sahut Cilla sambil merapikan kotak makannya.
“Ini namanya kakak yang menemani saya makan, bukan sebaliknya,” ujar Cilla sambil beranjak bangun.
“Mau kemana. ?” Hans menahan lengan Cilla. “Waktu istirahat belum berakhir.”
“Saya mau kembali ke teman-teman dulu, membahas persiapan untuk penutupan besok.”
Cilla tersenyum lalu menganggukan kepalanya, tapi Hans kembali menahan lengannya, malah pria itu langsung melepaskan jaket almamaternya dan menutupi badan Cilla.
“Baju kamu basah,” ujar Hans setengah berbisik.
“Eehh.. basah ? Perasaan tadi nggak ada yang tumpah,” gumam Cilla sambil melihat kaosnya.
Matanya langsung membola, bagian kedua sisi dadanya basah, penyerap asi yang dipakai Cilla sepertinya sudah penuh hingga merembes membahasi kaosnya.
Cilla sedikit panik, pasalnya ia tidak membawa pakaian ganti apalagi bra.
“Kamu tunggu di sini, aku ada kaos ganti.”
“Saya harus ke sana juga, ambil tas.”
Lagi-lagi Cilla tidak bisa melepaskan genggaman tangan Hans, namun kali ini ia menatap Amanda, memberi isyarat supaya adik iparnya itu mendekat.
Hans baru melepaskan tangannya saat Cilla harus ke arah yang berbeda mengambil tas ransel miliknya.
”Elo kenapa ?” tanya Amanda yang sudah berjalan bersamanya.
“Penahan asi gue udah kepenuhan jadi rembes ke baju. Baru ingat kalau tadi lagi bangun kesiangan, lupa pompa asi untuk Sean.”
“Terus sekarang gimana ?”
“Gue mau telepon Mas Juna biar datang kemari.”
“Bantuin elo pompa asi ?” Amanda menautkan alisnya membuat Cilla langsung melotot menatap adik iparnya.
“Ya nggak lah,” sahutnya sewot. “Memangnya Mas Juna bayi ?”
“Bayi gede,” ledek Amanda sambil terkekeh. Ia baru sadar kalau ucapannya diartikan berbeda oleh Cilla.
”Gue sengaja naro cadangan peralatannya di kantor Mas Juna. Jaga-jaga kalau ada tambahan kuliah sementara jarak dari kampus kan lebih dekat ke kantor daripada ke rumah.”
Cilla harus bernegosiasi dulu dengan panitia saat minta ijin mengambil tasnya. Dua orang senior perempuan yang bertugas menelisik penampilannhya yang memakai jaket almamater Hans.
Cilla pun membuka sedikit jaket itu dan memperlihatkan kaosnya yang basah di bagian dada.
“Memangnya kamu lagi menyusui ?” ledek salah satu senior sambil tertawa.
“Iya, Kak. Saya memang ibu menyusui,” sahut Cilla tanpa ragu membuat kedua senior itu tercengang.
Belum sempat melanjutkan pembicaraan, Hans sudah datang menghampiri mereka.
“Ayo ganti bajumu sekarang,” Hans menarik tangan Cilla namun kali ini Cilla bertahan.
“Saya butuh handphone, Kak. Saya harus menghubungi suami saya sekarang,” tegas Cilla.
Kedua senior perempuan itu makin melongo saat Cilla menyebut kata suami.
“Nanti pakai handphoneku. Ayo cepetan ! Kamu hanya dikasih waktu tambahan 15 menit.”
Tarikan tangan Hans yang cukup kuat membuat Cilla akhirnya ikut bergerak mengikuti Hans.
Amanda dilarang menemani dan disuruh kembali bergabung dengan kelompoknya.
“Memangnya kenapa baju kamu bisa basah di bagian situ ?” tanya Hans sambil menuntun Cilla menuju toilet yang berada dekat ruangan biro administrasi.
”Saya pinjam handphonenya, Kak,” Cilla mengulurkan tangannya tanpa berniat menjawab pertanyaan Hans.
“Mau telepon si om yang waktu itu ?” ledek Hans sambil memberikan handphonenya.
Lagi-lagi Cilla tidak menjawab, tangannya langsung menekan nomor Arjuna.
Tiga kali panggilan tidak dijawab hingga akhirnya Cilla memutuskan mengirimkan pesan memberitahu kalau dirinya meminjam handphone orang lain dan minta segera dihubungi.
Tidak lama handphone Hans berbunyi dan nomor Arjuna tertera di sana.
“Halo,” suara Arjuna terdengar ragu-ragu untuk bicara.
“Mas Juna, ini Cilla.”
Cilla pun berjalan menjauh dari Hans yang menatapnya sambil mengernyit. Tidak mengerti kenapa Cilla sampai harus menjauh darinya.
Tidak lama Cilla kembali sambil menyodorkan handphone pada Hans.
“Terima kasih,” ujar Cilla dengan senyum tulus. “Kakak tidak perlu menemani atau menunggu saya. Sepertinya saya agak lama dan tidak nyaman kalau ditungguin.”
“Kamu hanya diberi tambahan waktu 15 menit. Tinggal tukar kaos saja terus bisa kembali bergabung dengan kelompokmu.”
Cilla menghela nafas, sulit baginya untuk memberikan penjelasan pada Hans, karena selain bagi Cilla masalah ini sedikit pribadi, alasan lain karena Hans adalah cowok keras kepala yang tidak mau percaya kalau Cilla adalah wanita bersuami.
“Udah sana cepetan, jangan buang-buang waktu,” Hans malah mendorong bahu Cilla, menggiringnya masuk ke dalam toilet wanita.
Cilla menghela nafas dan langsung masuk ke dalam salah satu bilik. Tidak ada guna mengganti kaos dan penyerap asi karena bra-nya ikutan basah.
Cilla gelisah, menghitung waktu menanti Arjuna datang menemuinya.