MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kegundahan Arjuna


Tidak sampai tigapuluh menit, Bang Dirman sudah menghentikan mobil di lobby PT Indopangan.


“Terima kasih, Dirman,” ucap Arjuna sesaat sebelum turun dari mobil.


“Sama-sama Pak Boss,” sahut Dirman sambil tertawa.


Seperti biasa Arjuna tidak banyak menghumbar senyum saat datang ke kantor. Bahkan pagi ini wajahnya terlihat lebih kusut saat masuk dalam ruangannya.


“Ada masalah apa lagi sama Cilla ?” tanya Tino yang pagi ini masuk ke ruangan Arjuna untuk mengingatkan jadwal kegiatan dan meminta tandatangan bossnya itu.


“Sotoy banget sih !” gerutu Arjuna sambil menghempaskan bokongnya di sofa.


“Muka seorang Arjuna nggak bakalan lecek kayak kertas diremas begini kalau bukan karena anak bebek kesayangannya.”


“Sebentar lagi Cilla kuliah,”’ujar Arjuna sambil menghela nafas panjang.


“Ya iya, masa elo mau dia SMA terus ? Badannya sih memang imut, tapi kan umur nggak bisa ditahan, jalan terus kayak argo taksi.”


“Belum juga kuliah, udah dideketin aja sama cowok-cowok, anggota BEM pula,” keluh Arjuna.


“Bangga dong istri elo ternyata calon cewek populer,” ledek Tino sambil tertawa.


“Bangga kepala lo !” Arjuna melotot. “Kalau sampai Cilla kecantol sama yang lebih muda dari gue gimana ? Bisa-bisa batal niatnya mau cetak anak sama gue.”


“Elo kira Cilla mesin cetak ? Bisa-bisanya pakai istilah cetak anak. Kalau begitu niatnya, ya nggak aneh kalau Cilla bakal cari yang mudaan dan gantengnya lebih dari elo.”


“Asem lo !” Arjuna melotot. “Bukannya menghibur atau memberi semangat, malah menjatuhkan mental gue.”


“Tumben banget sih seorang Arjuna mendadak melow dan kehilangan rasa percaya diri begini ? Nggak kepikiran kalau sampai Cilla ditikung orang, banyak cewek cantik yang antri nunggu dilamar sama duda ganteng kayak elo ?”


“Dasar sahabat laknat ! Doain gue jadi duda ? Kenapa ? Ada niat daftar jadi pebinor ?”


Tino terbahak sambil memegang perutnya karena menahan rasa geli melihat wajah Arjuna yang makin ditekuk.


“Ada stand up komedi apa lagi pagi-pagi ?” Luki dan Theo tampak masuk ke dalam ruangan Arjuna.


Pagi ini memang ada pertemuan dengan kedua sahabat Arjuna membahas soal pekerjaan.


“Tuh sahabat baik elo berdua lagi galau berat gara-gara istrinya baru aja digoda sama mahasiswa senior di kampusnya.”


“Aahhh semoga sepupu gue terbuka matanya bisa kuliah di tengah cowok-cowok tampan yang masih muda, nggak hanya terpaku sama mantan gurunya yang wajahnya paling mendingan di sekolah,” Theo mengangkat kedua tangannya, bersikap seperti orang berdoa.


“Eh ini lagi satu !” Arjuna kembali mengomel. “Malah ngedoain Cilla biar tergoda sama cowok lain. Dasar sepupu kurang ajar !”


Luki ikut tergelak seperti Tino melihat wajah Arjuna yang ditekuk dengan bibir makin manyun.


“Boleh ikut daftar, No ? Pakai isi formulir segala nggak ?” Luki ikut meledek Arjuna sambil tergelak.


“Elo semua memang satu frekuensi : JONES AKUT,” tegas Arjuna. “Sahabatnya lagi galau, malah kayak disumpahin biar jadi jones lagi.”


“Kalau elo bukan jones dong tapi duren alias duda keren,” ledek Tino.


“Memangnya kenapa lagi sih elo sama Cilla ? Baru beberapa hari lalu jadi pasangan vampir, hari ini melow galau begini ?” tanya Luki dengan dahi berkerut.


“Belum resmi jadi mahasiswa, Cilla udah dideketin sama cowok, anak BEM lagi. Dan gue yakin kalau tuh cowok lebih ganteng dari Juna, makanya boss gue galau semaput begini karena merasa ada kompetitor berat,” ujar Tino menjelaskan sambil tertawa-tawa.


“Sepupu gue memang pintar cari cadangan,” ledek Theo sambil mencibir kepada Arjuna.


“Mobil kali perlu ban cadangan,” timpal Tino.


“Elo mau gue pindahin apa langsung surat PHK ?” tanya Arjuna sambil menatap Tino dengan tajam yang masih tertawa.


“Elo kasih asisten lo itu surat nikah aja, Jun,” sahut Luki. “Siapa tahu Tino jadi lebih alim.”


“Eiittss pagi ini topiknya membahas kegalauan big boss sama istrinya, ya,” ujar Tino. “Tidak ada pengalihan isu membahas gue.”


“Memangnya itu anak BEM ngapain Cilla ?” tanya Theo dengan alis menaut.


“Ngajak kenalan,” sahut Arjuna masih dengan wajah kesal.


“Ya ampun Jun, baru juga ngajak kenalan belum pacaran,” cibir Theo.


“Iya awalnya ngajak kenalan, sendirian doang sementara teman-temannya cuma ngeliat dari jauh. Gue udah bilang kalau gue ini suaminya dan Cilla juga udah kasih lihat cicin kawinnya, eh tuh cowok malah ketawa, katanya kakak kamu protektif banget, ya.”


“Akhirnya ada yang ngeliat juga kalau elo itu kelihatan lebih tua dari Cilla,” ledek Theo lagi. “Udah bagus disangka kakaknya bukan bokapnya Cilla.”


“Dihh beneran nih sepupu satu ini !” Arjuna menatap Theo dengan wajah kesal dan sebal.


“Udah sih Jun, yang penting kan Cilla-nya nggak menanggapi. Itu artinya dia nggak ada niat mau selingkuh dari elo, jadi tenang aja sih,” nasehat Luki.


“Iya tapi kalau tuh cowok tetap nggak percaya dan terus mendekati Cilla dengan segala cara, bukan nggak mungkin kan Cilla bisa luluh juga. Apalagi mereka itu satu jurusan.”


“Jadi elo anggap sepupu gue cewek gampangan ?” omel Theo dengan wajah sebal. “Cilla itu cewek yang setia. Beruntung buat elo dapetin Cilla jadi istri, musibah buat Cilla punya suami model elo !”


“Ya ampun Theo, sebel banget sama Arjuna. Awas dapat pacar yang sifatnya semodel loh sama Juna cuma dalam versi ceweknya,” ledek Tino sambil tertawa.


“Dih amit-amit !” Theo dan Arjuna sama-sama mengetuk-ngetuk meja.


“Cie cie kompak bener,” ledek Luki.


“Biar elo tahu gimana perasaan Cilla saat ngeliat elo disosor sama Yola. Baru juga lihat ada cowok ganteng ngajak kenalan udah langsung panas, apalagi Cilla ngeliat elo ditempelin bibirnya sama cewek lain.”


“Sabar aja Jun, istri elo itu kan memang masih remaja dan kelhatan imut, jadi wajar kalo orang susah percaya pas bilang dia udah menikah. Nggak berarti karena statusnya udah istri elo, Cilla nggak boleh nambah teman, nambah relasi sama cowok lain. Kan baru kenalan doang Jun dan selama Cilla nggak menanggapi elo santuy aja. Gue setuju kok sama Theo, Cilla itu bukan cewek yang model gampangan jatuh cinta sama cowok. Elo lihat aja tuh si Jovan, padahal dia nggak kalah ganteng dan keren dari elo, tapi Cilla nggak gampang luluh, kan ?”


Arjuna hanya terdiam memikirkan ucapan Theo dan Luki barusan. Selama ini teman cowok yang dekat dengan Cilla memang hanya Dimas dan Jovan, keduanya memperlakukan Cilla hanya sebatas sahabat baik saja, tidak pernah bersikap berlebih pada istrinya itu.


Sementara di kampus, Cilla, Febi dan Lili yang baru saja selesai dengan urusan administrasi kampus, menyusuri lorong mencari kantin kampus.


“Halo para selir !” suara panggilan dengan kalimat khasnya membuat ketiga cewek ini saling memandang sambil mengerutkan dahinya.


“Ngapain elo kemari ? Cari cewek ?” ketus Febi.


“Menemui para selir tersayang,” sahut Jovan tersenyum genit sambil merentangkan tangannya.


“Elo udah susah diajak ngomong bahasa Indonesia ? Udah dibilang nggak ada satupun dari kita yang minat jadi selir elo,” cebik Lili.


“Udah sana samperin tuh pacar lo, bentaran lagi kan bakal LDR,” ujar Febi sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Jovan yang jalan di sebelah Cilla.


“Nggak jadi kuliah di Jepang,” ujar Jovan sambil senyum-senyum.


“Gue tetap masuk kedokteran dan udah jelasin ke papi mami kalau lebih baik kuliahnya di Indo dulu soalnya gue mau prakteknya di Indonesia. Nanti ambil spesialisnya baru di luar,” ujar Jovan.


“Bilang aja nggak mau LDR-an,” sindir Lili yang ikut berhenti bersama Febi berdiri menepi dekat Cilla dan Jovan.


“Itu alasan lainnya,” sahut Jovan tertawa.


“Jadi ini pacar kamu juga ?”


Keempat sahabat itu langsung menoleh ke arah sumber suara yang berdiri tidak jauh dari mereka.


“Bukan,” Cilla langsung menggeleng.


“Terus ngapain pegang-pegang tangan segala ?” tanya Hans sambil tersenyum tipis.


Cilla menoleh menatap tangannya yang masih memegang lengan Jovan.


“Mereka ini sahabat baik saya. Memangnya ada ketentuan kalau pegang cowok lain berarti pacar atau suami ?” tanya Cilla dengan alis menaut.


“Siapa, Cil ?” bisik Lili yang berdiri di sebelah kiri Cilla.


“Kenalin ini Kak Hans, senior di fakultas manajemen dan anggota BEM yang bakalan ospek kita,” sahut Cilla dengan suara lantang menjawab pertanyaan Lili.


Hans dan kedua temannya sempat saling tatap lalu melihat ke arah Cilla dan ketiga sahabatnya.


“Dua cewek ini juga calon mahasiswa baru dengan fakultas yang sama, kalau yang ini sahabat saya sejak kecil,” ujar Cilla menjawab tatapan bingung ketiga senior di depannya.


“Mau kenalan juga nggak ?” tanya Cilla menatap Hans dan kedua temannya.


“Kenalkan saya Priscilla, calon mahasiswa jurusan manajemen,” Cilla mengulurkan tangan di antara kedua teman Hans yang bengong diajak berkenalan dengan Cilla.


“Dio.”


“Ricky.”


Akhirnya kedua teman Hans menjabat tangan Cilla sekalian menyebut namanya.


Gantian Cilla memberi isyarat pada Lili dan Febi untuk berkenalan dengan tiga cowok senior ini.


“Gue masih nggak percaya kalau elo udah nikah. Kalau ngaku dia pacar elo, gue baru percaya,” ujar Hans. “Cowok yang tadi lebih cocok jadi kakak elo.”


Cilla menghela nafas panjang dengan wajah kesal.


“Maksud nih cowok siapa, Cil ? Pak Juna ?” bisik Lili dengan suara yang sangat pelan.


Cilla kembali menghela nafas dan menganggukan kepala.


“Ya ampun, nekad banget ya elo… Eh maksud saya kakak senior,” ujar Lili dengan nada nge-gasnya. Sahabat Cilla yang suka spontan ini tidak mampu lagi menahan dirinya.


“Cilla ini benar-benar sudah menikah, Kak. Jodoh dari kecil,” ujar Lili kembali.


Hans, Dio dan Ricky saling menatap dan tertawa membuat Lili dan Febi menjadi geram.


Febi dan Jovan memicingkan mata mengamati tiga cowok yang masih tertawa sementara Lili terlihat menggerutu kesal. Cilla sendiri terihat kesal dan menghela nafas berkali-kali.


“Nggak penting Kakak mau percaya atau nggak kalau saya sudah menikah atau masih single, nggak pengaruh juga dengan kuliah saya. Kami permisi dulu,” ujar Cilla dengan posisi sedikit lebih maju di antara Febi dan Lili.


“Yuk, balik dulu,” ajak Cilla pada ketiga sahabatnya yang langsung mengangguk.


Cilla pun hendak berlalu tapi langkahnya terhenti saat Hans memegang pergelangan tangannya.


“Gue masih nggak percaya kalau elo sudah menikah dan nggak akan berhenti hanya sampai di sini saja,” Hans berbisik dengan wajah yang hampir menempel di telinga Cilla membuat gadis itu reflek menjauhkan kepalanya hingga akhirnya perkataan Hans bisa terdengar oleh yang lainnya.


Wajah Cilla berubah kesal dan dengan sedikit kasar menghentakan tangannya hingga pegangan Hans terlepas.


Cilla hanya mendengus kesal dan segera meninggalkan Hans dan kedua temannya dengan perasaan sebal.


“Sepertinya kali ini elo yang bakal dikejar-kejar cowok, Cil,” ledek Jovan setelah agak jauh dari Hans.


“Nggak penting banget,” gerutu Cilla. “Cuma ngerepotin dan bikin kesel.”


“Dih kayak udah sering aja,” cibir Jovan.


“Nggak sering, udah pernah,” sahut Cilla sambil tersenyum sinis melirik Jovan. “Nggak inget kalau elo itu pelakunya ? Ngejar gue sampai bikin pengen muntah ?”


Jovan mendengus kesal membuat Febi dan Lili yang berjalan di belakang mereka tertawa.


“Tapi yang ini benar-benar nekat. Elo siap-siap aja pas ospek nanti,” ujar Jovan dengan tawa meledek.


“Ada baiknya elo ngomong sama Pak Juna, Cil,” ujar Lili seolah mengiyakan omongan Jovan.


“Ngomong apaan ? Minta dikasih bodyguard selama kuliah berlangsung ?”


“Kalau perlu,” sahut Jovan sambil terkekeh.


“Dih, kayak baru kemarin aja kenal gue !” omel Cilla sambil menyikut pinggang Jovan membuat cowok itu meringis.


“Setahu gue, pemilik kampus ini namanya mirip-mirip sama dokter pemilik rumah sakit tempat om Rudi dirawat sekarang. Ada Pratama gitu,” ujar Lili kembali.


“Selama masih bisa gue atasin, akan gue hadapi sendiri. Kasihan Mas Juna beban pekerjaannya udah banyak banget, belum lagi tanggungjawab sebagai suami.”


“Cie cie yang udah cinta berat lima kilo sama suaminya,” ledek Jovan.


“Dih, cinta gue lebih dari lima kilo ya,” sahut Cilla sambil melirik Jovan. “Udah cinta pakai banget sekali sama suami.”


“Lebay,” sungut Febi membuat Cilla tergelak mendapat cibiran para sahabatnya.


Sementara Arjuna yang tengah membahas pekerjaan dengan Luki dan Theo ditemani Tino mendadak terbatuk hingga wajahnya memerah.


“Kenapa Jun ? Kok mendadak batuk begitu ?” tanya Luki sambil menautkan alisnya.


“Nggak tahu, kuping gue mendadak panas dan leher gatal banget,” sahut Arjuna setelah menghabiskan segelas air putih hingga batuknya mereda.


“Jangan-jangan Cilla mulai luluh didekati kakak senior,” ledek Luki sambil terkekeh.


“Mulai deh !” gerutu Arjuna sambil melotot.


Tino dan Luki langsung tertawa dan Theo mencibir sambil geleng-geleng kepala.