
Meskipun perut sudah kenyang dengan menu sarapan pagi ini. Cilla masih saja panas dingin dalam genggaman Arjuna. Sementara pria yang menggenggamnya masih memasang wajah santai seolah biasa saja, meski ada sedikit debar di dadanya.
“Dia sama dengan Amanda, nggak ada bedanya. Jadi jantung yang berdetak terlalu kencang, tolong balik jadi normal. Cewek ini bukan siapa-siapa,” batin Arjuna terus menenangkan debar jantungnya.
Cilla sendiri mendadak jadi pendiam, matanya tidak fokus ke depan sampai akhirnya menabrak punggung Arjuna yang mendadak berhenti.
“Duh Pak Arjuna, kenapa berhenti nggak pakai sen dulu sih ?” omelnya sambil mengelus jidatnya yang sedikit sakit.
Pegangan mereka sudah terlepas. Arjuna menoleh sambil mengernyit lalu menggelengkan kepalanya.
“Kamu kira saya sama dengan mobil ? Aneh-aneh aja, manusia mana yang mau menghentikan langkahnya pakai sen atau pemberitahuan dulu ? Lagian kamu tuh jalan pakai mata dan kaki bukannya mata kaki,” sahut Arjuna sedikit mengomel.
“Iya.. iya… saya memang lagi nggak konsen cuma karena Bapak gandeng tangan saya. Gagal fokus. Jadi lebih baik nggak usah pakai gandengan segala. Repot kalau hati saya mau lagi dan lagi. Bakalan patah hati, soalnya udah pasti Bapak akan menolak dan mengomeli saya sepanjang kali lebar.”
Arjuna mendengus kesal mendengar ucapan Cilla yang sedikit nyeleneh. Ia pun berbalik dan kembali meneruskan langkahnya.
“Bapak sudah ada ide mau membelikan barang apa untuk Tante ?” tanya Cilla yang sekarang berjalan bersisian dengan Arjuna
“Sok kenal panggil Tante,” Arjuna mencibir.
“Habis repot kalau sebutnya mamanya Pak Arjuna, kepanjangan, jadinya nggak efisein dan efektif.”
“Susah memang ngomong sama anak IPS, suka diplomasi dan ekomonis. Tanyanya satu doang, jawabannya bisa lebih dari 3.”
“Pak boleh tanya ?” Cilla berkata dengan hati-hati.
“Soal apa lagi ?” tanya Arjuna dengan wajah jutek.
“Huufftt… susah memang ngomong sama om-om yang udah kena darah tinggi. Bawaanya emosi melulu,” Cilla mencibir.
Arjuna hanya mendengus sebal tanpa menanggapi perkataan Cilla.
“Saya tuh mau tanya, tapi Bapak jangan tersinggung,” Cilla menjeda sambil menunggu reaksi Arjuna yang ternyata diam saja. Dia yang masih berjalan beriringan menghela nafas, sedikit kesal karena Arjuna seperti tidak menanggapi ucapannya.
“Pak,” Cilla menahan lengan Arjuna membuat keduanya berhenti, dan Cila langsung melepaskan tangannya. “Saya mau tanya, budget Bapak untuk beli kado. Jadi saya bisa memberi saran barang yang bisa dibeli untuk mamanya Pak Arjuna.”
“Budgetnya tidak lebih dari 1 juta, apa bisa dapat barang yang bagus ?”
“Bisa banget, Pak” Cilla tersenyum. “Saya yakin kalau tante, maksud saya mamanya Pak Arjuna tidak akan melihat bagus tidaknya kado yang Bapak berikan karena harga. Tapi karena pemberian itu murni dari hasil keringat Pak Arjuna tanpa fasilitas dari orangtua.”
Arjuna tersenyum tipis. Anak bebek ini memang paling pintar kalau soal memberi nasehat. Meskipun kesannya sedikit berlebihan untuk anak seumurnya, entah kenapa hati Arjuna selalu menjadi tenang saat mendengar Cilla mulai berbicara kata-kata bijak.
Cilla memberi isyarat untuk mengikutinya. Ternyata anak itu membawa Arjuna memasuki sebuah toko jam tangan langganannya.
“Kamu yakin dengan uang segitu cukup untuk membeli barang bagus di toko ini ?” bisik Arjuna di samping Cilla.
“Saya kenal dengan pemiliknya, Pak. Sudah biasa memberi saya harga yang bagus, jadi Bapak tenang saja,” Cilla hanya tersenyum.
Cilla pun langsung menghampiri seorang pria paruh baya dan menyapanya. Ternyata memang benar apa yang dikatakan gadis itu, pemilik toko langsung memanggil Cilla dengan nama dan berbincang layaknya kenalan lama.
Arjuna akhirnya memilih salah satu dari 5 pilihan jam tangan dengan merk cukup ternama yang harganya sedikit lebih tinggi dari budget Arjuna, namun pria itu tidak keberatan. Arjuna sempat merasa ragu-ragu karena mengingat koleksi jam tangan mama Diva lebih bagus dan jauh lebih mahal dibandingkan dengan barang yang akan dibelinya. Namun Cilla meyakinkan kembali, kalau mama Diva pasti akan sangat bahagia menerimanya bukan karena harga tapi karena pemberian Arjuna.
“Pak, jam tangan itu akan selalu mengingatkan Tante pada Bapak, putra sulungnya, setiap kali melihat waktu yang ada di situ. Mengingatkan betapa berharganya waktu yang beliau miliki bersama dengan Bapak. Jadi jangan khawatir masalah harga yang di jauh bawah koleksi Tante.”
“Iya bawel,” sahut Arjuna sambil tertawa dan membuat Cilla langsung cemberut. “Ngomong-ngomong kamu kok tahu kalau saya anak sulung ?” tanya Arjuna sambil menautkan kedua alisnya.
“Selama ini yang Bapak sebut hanya nama Amanda sebagai adik Bapak. Jadi saya yakin kalau Bapak hanya memiliki satu saudara dan Bapak adalah anak sulung.”
Arjuna mengangguk. Dia mengakui kalau otak Cilla termasuk cerdas dan kritis. Ia selalu menganalisa hal-hal yang didengarnya dan membuat kesimpulan yang cukup baik.
Selesai melakukan transaksi, Cilla yang bukan hanya kenal dengan pemilik toko tapi juga para pegawai di sana langsung pamit dan meninggalkan toko bersama Arjuna.
“Sekarang Bapak mau kemana ?”
“Pak Arjuna,” Cilla memanggil sekali lagi dengan posisi mulutnya lebih dekat ke telinga gurunya. “Sekarang Bapak mau kemana lagi ?” Cilla mengulang pertanyaannya.
“Terserah kamu saja. Kan saya sudah bilang kalau hari ini saya kasih bonus jadi teman kencan sehari,” sahut Arjuna masih dengan senyuman tampan di wajahnya.
“Beneran ? Bapak serius rela jadi teman kencan seharinya saya ?” tanya Cilla dengan wajah berbinar. Arjuna menggangguk.
“Bapak sudah lapar ?” Cllla melihat jam tangannya, sudah hampir jam setengah satu.
“Saya masih agak kenyang, kamu sendiri sudah lapar ?” Cilla menjawab dengan gelengan.
“Bapak mau temani saya nonton bioskop ? Saya ingin merasakan nonton berdua dengan pacar, meski hanya pacar sehari,” ujar Cilla sambil tergelak.
Arjuna yang sedang merasa senang bisa mendapatkan kado untuk mama Diva pun mengangguk. Setidaknya sebagai pria yang tahu balas budi, tidak ada salahnya menyenangkan bocah SMA ini untuk memenuhi impiannya.
Cilla pun semakin tersenyum bahagia. Ia menarik Arjuna supaya mempercepat langkahnya menuju bioskop yang ada di lantai 5 mal tersebut. Sampai di sana, Arjuna memberikan kebebasan Cilla untuk memilih jenis film yang akan mereka tonton.
Ternyata film yang sedang diminati saat ini bertema action. Rasanya tidak pas memilih tema itu sebagai tontonan orang yang sedang berpacaran. Akhirnya ia memilih film asing dengan tema komedi romantis.
Sampai di depan loket, Arjuna mengeluarkan kartu ATM-nya namun ditolak oleh Cilla.
“Nanti saja untuk traktir saya makan siang yang enak dan mahal,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Asal jangan bikin dompet saya bolong,” sahut Arjuna ikut tertawa pelan.
Cilla hanya tertawa. Tidak lama mereka masuk ke dalam studio karema film yang mereka pilih sudah hampir dimulai.
Sebetulnya bukan hanya Cilla yang merasa grogi berada di dalam kegelapan berdua dengan cowok yang mengaku sebagai pacarnya, Arjuna pun merasa sedikit grogi meski tidak sampai panas dingin. Sudah lama dia tidak pernah “berkencan” dengan nonton bioskop seperti ini. Bahkan saat masih berpacaran dengan Luna, mungkin hanya dua atau tiga kali saja. Luna tidak terlalu suka nonton film apalagi sampai harus ke bioskop, berbeda dengan Arjuna yang memang hobi nonton film terutama di bioskop.
Sekitar jam 3 sore keduanya keluar dari bioskop. Arjuna masih memperhatikan mata Cilla yang masih terlihat sembab. Gadis itu sempat menangis di beberapa adegan film. Ternyata anak bebek yang cerewet ini memliki hati yang sensitif. Ini bukan pertama kalinya Arjuna mendapati Cilla menangis karena sesuatu hal yang tidak mau diungkapkannya.
“Kamu sudah lapar ?” tanya Arjuna saat mereka sudah kembali ada di keramaian mal.
“Iya sudah jam 3 juga, Pak. Mau makan di luar atau di sini ?” Cilla balik bertanya.
“Sesuai janji saya kalau hari ini akan mentraktir kamu makanan yang berbeda dari yang biasa kita makan di pujasera,” sahut Arjuna dengan senyuman manisnya.
Cilla langsung menoleh ke arah lain. Urusan pegangan tangan lalu nonton bioskop belum bisa membuat hatinya normal, ditambah lagi melihat senyuman Arjuna yang boleh dibilang langka.
“Kita makan di sini saja. Kamu sukanya makanan apa ? Mau steak atau makanan Jepang ?” tanya Arjuna kembali sambil menepi, melihat-lihat restoran yang ada di mal melalui raling kaca yang menjadi pembatas setiap lantai di mal.
“Hmmm.. boleh pilih yang lain ? Saya lagi suka makanan Korea,” jawab Cilla dengan hati-hati dan malu-malu.
Arjuna tergelak lalu menyentil kening Cilla.
“Dasar abege jaman now, korban drama Korea. Sampai makanan aja berubah ke lidah orang Korea.”
“Eiittss bukan korban drakor, Pak. Saya jarang banget nonton drakor, kecuali sedang kumpul sama Febi atau Lili. Mereka memang pecinta para oppa ganteng,” sahut Cilla dengan ekspresi yang terlihat lucu.
“Saya suka makanan Korea karena rasanya manis, pedas, asam gitu, ditambah lagi banyak side dish nya yang dikasih gratis dan boleh nambah pula.”
“Kamu tuh anak orang kaya, tapi kelakuan kayak orang susah makan di restoran. Bangga benar bisa refill side dish gratis,” Arjuna tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Yang kaya papi, Pak. Saya cuma anaknya yang masih hidup mengandalkan uang jajan dari orangtua,” sahut Cilla sambil ikut tertawa.
Arjuna pun menyuruh Cilla memilih restoran Korea yang disukainya, karena ia sempat melihat ada beberpa pilihan di mal. Cilla pun mengajak Arjuna ke restoran Korea yang ada di lantai 3.
Sampai di tempat, seorang pelayan mengantar mereka ke salah satu meja kosong. Namun saat melewati beberapa meja yang sudah ada pengunjungnya, seseorang memanggil keduanya. Arjuna menoleh ke arah suara yang ternyata ada di samping kirinya.
Arjuna terbelalak saat melihat orang yang menyapanya sedang duduk dengan serorang wanita baya yang cukup dikenalnya. Cilla yang ikut menoleh langsung melebarkan senyumnya.
“Apa kabar, Om ?” sapa Cilla sambil tersenyum ramah.