MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Akhirnya Punya Kakak


“Tante sempat mendengar kalau papi kamu sudah menikah lagi,” ujar mami Siska sambil memberikan sepiring buah untuk Cilla.


 


Keduanya sudah menenangkan diri dan menghapus air mata yang sempat tidak tertahankan.


 


“Tidak sampai setahun, papi sudah menceraikannya lagi, Tante,” sahut Cilla dengan senyuman getir. Dia memasukan sepotong buah pir ke dalam mulutnya.


 


“Tante Sofi hanya menginginkan harta bukan cinta papi,” sambung Cilla lagi.


 


“Sofi ?” mami Siska mengerutkan dahinya. Theo sendiri sudah tidak ada di ruang keluarga karena harus mengurus beberapa pekerjaan kantor.


 


“Sofiana Susanti ? Seorang janda yang memiliki putri seusia Theo ?” tanya mami Siska masih dengan dahi berkerut.


 


“Iya betul, Tante. Apa tante mengenalnya ?”


 


“Sofi itu terkenal di kalangan pebisnis sebagai perempuan yang gila materi dan suka memanfaatkan pria-pria kaya yang butuh teman. Bagaimana bisa Rudi tertarik dengan perempuan semacam itu ?” mami Siska berdecih dengan wajah kesal. Cilla hanya mengangkat bahunya.


 


“Cilla tidak tahu bagaimana awalnya hubungan papi dengan tante Sofi karena masih terlalu kecil. Cilla hanya diberitahu Bik Mina saat tante Sofi datang ke rumah kalau dia adalah ibu sambung Cilla. Cilla masih bersyukur karena papi tidak sempat menikah secara hukum, Tante. Bik Mina juga pernah bercerita kalau Tante Sofi kesal karena papi mengulur-ulur waktu untuk meresmikan perkawinannya secara hukum di Indonesia, makanya Tante Sofi suka melampiaskannya pada Cilla.”


 


“Apa dia menyiksamu secara fisik, Cilla ?” tanya mami Siska khawatir  sambil memegang bahu Cilla. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum.


 


“Kalau tidak salah anaknya pernah satu sekolah dengan Theo. Tante sendiri tidak terlalu ingat karena saat itu Theo sering Tante tinggal untuk menemani Om. Untung saja sekarang ini usaha Om sudah mulai dipindahkan ke Indonesia. Capek bolak balik karena sudah berumur, Cilla,” mami Siska tertawa pelan.


 


“Kenapa tidak pindah dan menetap di London saja, Tante ?”


 


“Om Rio itu cinta Indonesia,” sahutnya sambil tertawa pelan. “Papinya Theo itu sudah memutuskan ingin menghabiskan masa tuanya di Indonesia. Biar bagaimana lebih enak tinggal di negeri sendiri daripada di negeri orang.”


 


“Wuuiihh keren,” Cilla tertawa sambil memberikan jempolnya.


 


“Papi kamu sendiri bagaimana kabarnya ?”


 


Cilla sempat terdiam saat pertanyaan seperti itu diajukan padanya. Ada keraguan untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Tapi Cilla berharap kalau mami Siska yang masih kakak kandung maminya, bisa menjadi teman bicara yang membantunya memberikan jalan keluar tentang hubungannya dengan sang papi. Akhirnya Cilla memberanikan diri bercerita dimulai sejak kejadian perceraian dengan Tante Sofi. Sejak itulah papi Rudi seperti menjaga jarak dengan Cilla. Hanya saat kelas 8 mereka sempat liburan berdua ke Jepang, namun seperti yang pernah dia ceritakan pada Arjuna kalau akhirnya Cilla dititipkan di rumah teman papi sampai akhirnya Cilla justru menghabiskan liburannya dengan keluarga teman papi.


 


“Tante yakin itu semua karena papi Rudi tidak mampu menghapus rasa bersalahnya karena berpikir kalau penyakit ginjal yang diderita mami Sylvia disebabkan pendonoran salah satu ginjalnya untuk papimu. Wajah kamu yang begitu mirip dengan Sylvia di masa mudanya, sangat mungkin membuat papi Rudi selalu mengingat mami Sylvia. Ditambah lagi, papi Rudi pasti merasa telah salah mengambil keputusan menjadikan wanita seperti Sofi sebagai ibu sambung kamu. Tetaplah bersabar menanti penjelasan dari papi Rudi,” ujar mami Siska sambil mengusap-usap punggung Cilla.


 


Cilla menelusupkan wajahnya ke dalam pelukan mami Siska. Disenderkan kepalanya di dada mami Siska. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan pelukan seorang ibu, sejak mami kritis sampai akhirnya meninggal.


 


“Cilla boleh sering-sering datang kemari, Tante ?” tanya Cilla masih memeluk mami Siska.


 


“Kapanpun kamu mau datang tidak perlu ijin. Kalau memang Theo tidak bisa mengantarmu, tante akan minta sopir untuk menjemputmu.”


 


“Nggak usah, Tante. Cilla bisa diantar Bang Dirman atau naik motor kesayangan,” Cilla memperlihatkan raut wajah bahagia saat ia sudah melerai pelukannya.


 


“Terima kasih karena Tante sudah menceritakan semuanya pada Cilla.” Gadis itu mengecup kedua pipi mami Siska dengan penuh rasa haru dan bahagia.


 


“Dan mulai sekarang, kamu harus memanggil Theo dengan sebutan kakak, tidak boleh om lagi,” ujar mami Siska sambil menoel ujung hidung Cilla.


 


‘Padahal lebih keren kalau dipanggil Om Theo daripada Kak Theo,” sahut Cilla tergelak.


 


“Sepertinya ada yang sebut-sebut nama aku, nih,” Theo yang baru saja datang langsung duduk di sofa seberang Cilla dan mami Siska.


 


“Mami bilang kalau mulai sekarang, Cilla nggak boleh lagi memanggil kamu dengan sebutan om, tapi kakak atau mas atau abang.”


 


“Yakin lidah kamu bisa, Cil ?” ledek Theo.


 


“Bisa dong, Om,” sahut Cilla dengan wajah bangga.


 


“Tuh kan, om lagi,” ejek Theo sambil tertawa.


 


 


“Sepertinya Theo harus ajak Cilla pulang sekarang, Mam. Ada pekerjaan yang harus diurus, jadi sekalian jalan keluar,” ujar Theo sambil menatap mami Siska.


 


“Nggak sampai makan malam di sini ?” tanya mami Siska dengan raut wajah sedih.


 


“Besok-besok Cilla pasti akan datang lagi, Tante. Sekarang Cilla pulang dulu sama Kak Theo. Besok juga masih jadwal sekolah,” sahut Cilla sambil merangkul mami Siska.


 


Setelah beberapa saat bernegosiasi, akhirnya mami Siska dengan setengah terpaksa membiarkan Theo mengantar keponakannya itu pulang, dengan catatan Cilla wajib mengunjunginya minimal seminggu sekali.


Perlahan mobil Theo meninggalkan halaman rumah mewah itu.


 


“Gimana rasanya ?” tanya Theo saat mobil sudah memasuki jalan raya.


 


“Rasa apanya ? Makanan tadi siang ? Enak semua.” Cilla sengaja bertanya balik dengan senyuman di wajahnya.


 


“Jadi nggak bahagia karena tahu masih punya keluarga lain selain papi Rudi ?”


 


“Bukan bahagia lagi. Pakai banget. Tapi nggak nyangka aja kalau kita itu saudara sepupuan,” Cilla terkekeh.


 


“Terus kalau bukan sepupu memangnya kamu mau punya pacar kayak aku,” tanya Theo sambil mencibir namun pandangannya tetap ke depan, fokus pada jalanan.


 


“Hufftt ternyata grup Lima Pandawa itu adalah cowok-cowok narsis yang akhirnya jadi jones,” ejek Cilla sambil mencibir.


 


“Bukannya jones, tapi pria-pria pemilih yang hati-hati milih pacar, kecuali idola kamu tuh,” Theo menoleh sekilas sambil mencebik. “Cuma dia pria bodoh yang bertahan dengan pacar seperti Luna. Sudah jelas-jelas dikuras habis uangnya, diselingkuhi di belakang, masih juga cinta setengah mati sama tuh ular beludak.”


 


“Memangnya sampai sekarang Pak Arjuna belum tahu kalau Kak Luna itu selingkuh ?” Cilla mengerutkan dahinya.


 


“Akhirnya dia tahu tanpa sengaja. Waktu itu kita janjian mau ketemu, nggak sengaja Arjuna berpapasan dengan Luna yang sedang jalan sama pacar lainnya. Patah hati lah dia.”


 


Bukannya kasihan, Cilla malah terbahak.


 


“Kamu senang ya kalau Arjuna putus dengan Luna ?” Theo mengangkat sebelah alisnya. “Jadi kamu ada kesempatan untuk mendapatkan cintanya Arjuna.”


 


“Bukannya itu, Kak. Membayangkan wajah sedihnya Pak Arjuna aku jadi ngakak. Lelaki songong begitu, kalau sedang sedih pasti mukanya jelek pakai banget,” ujar Cilla di sela-sela tawanya.


 


“Bener banget sih,” sahut Theo sambil tertawa,


 


“Kak Theo mau kemana dulu ?” tanya Cilla saat melihat Theo membelokkan mobil ke arah lain.


 


“Aku mau kasih dokumen dulu ke temanku. Cil. Biasa urusan pekerjaan. Sebentar doang. Kamu tunggu ya di mobil, habis itu kita makan.”


 


Cilla mengangguk. “ Lamaan juga nggak apa-apa asal nanti makannya boleh porsi dobel.”


 


“Mau triple juga boleh,” sahut Theo sambil tertawa.


 


Mobil pun memasuki area ruko-ruko 3 dan 4 lantai. Theo memarkir mobilnya di depan ruko dengan papan nama bertuliskan Notaris dan PPAT.


 


Cilla membuka handphonenya. Dahinya berkerut saat membuka aplikasi pesan dan mendapati nama Arjuna di barisan kelima. Rasanya dia sudah beberapa hari tidak berkirim pesan dengan gurunya itu, kenapa bisa nama Arjuna berada di baris kelima ?


 


Saat membuka nama Arjuna,  tertulis kalau pesan yang dikirim telah dihapus oleh pengirimnya. Rasa penasaran membuat Cilla ingin langsung menghubungi gurunya, tapi urung dilakukannya. Mau mengirim pesan, setelah mempertimbangkan, Cilla urung mengirimnya.


 


Seringai licik terbersit di bibirnya. Sepertinya ia harus bekerjasama dengan Theo untuk membuat Arjuna keluar dari tempurungnya. Cilla yakin kalau Theo belum memberitahu siapapun soal hubungannya dengan Cilla.