
Cilla baru saja keluar kamar mandi saat Arjuna masuk ke dalam ruangan. Terlihat kalau keduanya masih merasa canggung dengan kejadian semalam.
Atas seijin dokter Raymond, Cilla ditemani Arjuna menempati ruangan yang dipakai untuk berkumpul kemarin siang sebagai ruang istirahat mereka. Tidak ada tempat tidur di sana, hanya ada satu sofa bed yang cukup untuk dua orang.
Awalnya Arjuna memilih tidur di sofa panjang yang ternyata tetap kecil untuk ukuran badannya dan Cilla menempati sofa bed. Melihat posisi Arjuna yang jauh dari kata nyaman, akhirnya Cilla mengajak Arjuna untuk berbagi tempat tidur dengannya.
Dengan semangat empat lima Arjuna menerima tawaran Cilla dan merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Namun kenyataannya, keberanian Arjuna tidaklah sebesar semangatnya. Keduanya merasa canggung saat harus berbagi tempat tidur dan akhirya memilih posisi saling memunggungi.
Entah karena udara terlalu dingin dan hanya ada satu selimut yang dibawakan oleh Bik Mina untuk mereka berdua, jam 5 subuh, saat Cilla terbangun karena ingin ke kamar mandi, tubuhnya sudah berada dalam pelukan Arjuna. Dan yang membuat Cilla bertambah malu, posisinya juga memeluk Arjuna.
Merasakan ada pergerakan di dekatnya, Arjuna pun membuka mata dan langsung membelalak saat menyadari kalau ia sedang memeluk Cilla begitu dekat, hingga keduanya bisa merasakan hangatnya hembusan nafas masing-masing.
“Kita makan dulu, ya. Mas Juna belikan bubur ayam. Kalau nunggu Mas Juna mandi dulu, takut buburnya keburu dingin,” ucapan Arjuna membuyarkan lamunan Cilla tentang kondisi mereka tadi pagi.
“Boleh,” sahut Cilla singkat sambil merapikan pakaian kotornya ke dalam tas ransel yang dibawakan oleh Pak Imron, sopir mama Diva dan Amanda.
Isi tas nya tentu saja pakaian dan perlengkapan milik Cilla pribadi yang disiapkan oleh Bik Mina dan diambil oleh Pak Imron, termasuk satu selimut yang semalam dipakai berdua dengan Arjuna.
Arjuna melipat selimut dan mengembalikan posisi sofa bed seperti semula lalu menyiapkan bubur yang dibelinya dekat rumah sakit.
“Makan dulu, hati-hati panas,’ Arjuna memberikan satu paper bowl yang berisi bubur untuk Cilla lengkap dengan sendoknya.
Keduanya terdiam, debaran di hati mereka belum bisa diajak kompromi. Kehangatan tidur berpelukan masih membayangi pikiran keduanya. Apalagi rasa malu Cilla belum hilang karena sengaja dicium Arjuna di depan keluarga mereka.
“Biar Cilla yang beresin,” ujar Cilla saat Arjuna mulai merapikan plastik pembungkus sisa sarapan mereka. “Mas Juna mandi aja, nanti Cilla yang rapikan.”
“Mulai belajar jadi istri yang melayani suami ?” ledek Arjuna sambil terkekeh. Ia sendri terus mencoba menghalau debaran di dadanya yang masih belum mau pergi-pergi.
“Nggak takut jadi suami yang banyak tanggungjawabnya kalau sampai menikah dengan anak kecil ?” balas Cilla dengan nada meledek juga.
“Lebih takut kalau harus kehilangan calon istri yang imut dan bawel ini, anak bebek kesayangan Mas Juna.”
Cilla tidak sadar kalau Arjuna ternyata mendekatinya dan akhirnya mencuri ciuman di pipinya membuat wajah Cilla merona malu dan jantungnya makin tidak karuan.
“Mas Juna !” omel Cilla dengan wajah kesal sementara pria itu sudah berlari ke depan pintu kamar mandi.
“Kata orang morning kiss penting banget buat kasih semangat,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa melihat wajah Cilla yang cemberut.
“Tapi kita belum baikan, belum jadi pacar apalagi calon suami istri,”gerutu Cilla kesal.
“Nggak usah pakai status pacaran atau tunangan, kalau papi sudah sadar, Mas Juna akan minta restunya langsung jadi suami. Terlalu banyak resiko kalau pakai tunangan ulang.”
Arjuna tertawa dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa memperpanjang debatannya dengan Cilla.
Di dalam kamar mandi, Arjuna senyum-senyum sendiri, membayangkan kalau mereka resmi menikah, Arjuna akan melihat Cilla setiap mau tidur dan saat membuka mata seperti kejadian semalam dan subuh tadi.
Sekitar jam 9 pagi keduanya sudah rapi dan duduk di deretan kursi tunggu dekat ruang ICU, menunggu kedatangan dokter.
Beberapa orang yang ada di sana terlihat saling berbincang sambil menikmati makan pagi mereka.
“Sudah sarapan, Neng ?” seorang Ibu yang duduk di belakang mereka menyapa Cilla yang sedang fokus dengan handphonenya.
“Sudah, Bu,” Cilla menoleh sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Kakak gantengnya mau sarapan ?” Gantian Arjuna yang ditawarkan satu kotak pisang goreng.
“Saya sudah sarapan, Bu. Terima kasih,” Arjuna ikut menoleh dan tersenyum pada ibu itu.
“Adiknya imut, kakaknya ganteng dan tinggi,” ujar ibu itu sambil tertawa pelan.
“Calon istri, Bu, bukan adik saya,” sahut Arjuna sambil menatap Cilla dengan senyuman.
Wajah Cilla langsung merona dan tersipu saat Arjuna sudah berani mempublikasikan kalau Cilla calon istrinya padahal restu dari papi saja belum jelas.
“Wah, nggak sangka. Kayaknya Neng- nya masih muda banget.” si ibu tertawa pelan sambil melirik ke arah perut Cilla.
“Bukan kecelakaan atau dp dulu, Bu. Memang sudah dijodohkan sejak kecil,” ujar Arjuna yang mengerti arti tatapan ibu itu.
Cilla menatap Arjuna sambil mengernyit, sementara si ibu itu merasa tidak enak karena Arjuna bisa membaca pikirannya.
Belum sempat Arjuna menjelaskan, dokter Raymond terlihat keluar dari lift bersama dua dokter lainnya.
“Kami permisi dulu, Bu. Mau bertemu dokter,” pamit Arjuna sambil menganggukan kepala.
“Selamat pagi Om Raymond,” sapa Arjuna mewakili keduanya.
Dokter Raymond, dokter Handoyo dan dokter lainnya yang belum mereka kenal langsung menoleh dan menganggukan kepala.
“Bisa tidur semalam ?” tanya dokter Raymond sambil menatap Cilla..
“Bisa, Om,” sahut Cilla sambil tersenyum.
“Sepertinya papi kamu sudah sadar. Sebentar om masuk dulu untuk memastikan kondisinya.”
Cilla mengangguk dan berdiri sambil bersender di tembok dekat pintu masuk, sementara Arjuna berdiri di hadapannya.
“Memangnya maksud ibu tadi gjmana sampai Mas Juna menjawab begitu ?” tanya Cilla dengan alis menaut.
“Si Ibu pikir kita menikah karena Cilla hamidun, soalnya masih muda udah punya suami.”
“Pasti banyak orang berpikir begitu. Baru tujuhbelas tahun udah menikah. Antara ganjen, gatel atau hamidun,” cibir Cilla.
“Biar aja orang mau omongin Cilla, yang penting orangtua kita merestui dan Mas Juna cinta mati sama Cilla. Kalau masalah ganjen, gatel atau hamidun dulu, orang bisa melihatnya setelah kita menikah tadi. Yang penting hasilnya, masalah prosesnya biar jadi rahasia perusahaan,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan.
“Mentang-mentang Bapak guru matematika, satu soal boleh dikerjakan dengan beberapa cara asal hasilnya sesuai,” ledek Cilla sambil tertawa.
”Berani panggil Mas Juna dengan sebutan bapak di luar sekolah, bukan cuma salam tempel bibir doang ya, Mas Juna akan lakukan lebih biar langsung dinikahkan.”
“Memangnya kita udah balik pacaran lagi ? Cilla aja belum iya-in permintaannya Mas Juna.”
“Jadi beneran nih masih menolak balik jadi pacarnya Mas Juna sebelum jadi istri ? Yakin ? Nggak boleh marah kalau Mas Juna nyosor sama yang lain, ya ?”
Cilla terdiam dan menatap Arjuna dengan wajah ragu-ragu. Biasanya pria di depannya akan ngotot memaksa Cilla mengiyakan permintaannya. Hati Cilla jadi ketar ketir saat Arjuna malah balik memastikan sesuatu yang berlawanan.
“Nggak boleh nyosor sana sini,” akhirnya ucapan itu yang keluar dari mulut Cilla. Sadar kalau sekarang dirinya sama posesifnya dengan Arjuna, Cilla menutup mulutnya sendiri dengan wajah merona.
Arjuna tertawa dan langsung memeluk Cilla dengan teramat sayang. Arjuna bahkan meletakkan kepalanya di atas kepala Cilla yang bersandar di dadanya.
”Mas Juna benar-benar sadar begitu sayang sama Cilla dan hidup mendadak sesak saat jauh dari Cilla. Seperti yang Mas Juna bilang kalau lebih menakutkan melepaskan Cilla dari hidup Mas Juna daripada menerima tanggungjawab yang papi berikan. Jangan pernah melepaskan diri dari Mas Juna lagi.”
Arjuna mengeratkan pelukannya dan akhirnya Cilla juga memeluk pinggang Arjuna, lalu perlahan mendongak dan mengerjapkan matanya.
“Beneran cinta mati sama Cilla ? Nggak pengen coba-coba dicium cewek lain lagi ?” tanya Cilla sambil menyipitkan matanya.
“Nggak… sama sekali nggak pengen sekalipun itu nggak disengaja,” Arjuna mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Cilla tersenyum dan menyenderkan kembali kepalanya di dada bidang Arjuna.
Keduanya melerai pelukan mereka saat mendengar pintu ruang ICU terbuka. Terlihat hanya dokter Raymond yang keluar dari situ.
“Papi kamu sudah sadar meski belum sepenuhnya. Om sudah minta supaya suster mengatur kepindahan papi kamu ke ruang rawat biasa. Dan untuk masalah kanker nya, dokter Handoyo dan beberapa dokter spesialis di sini akan melakukan observasi kembali.”
“Cilla minta tolong, Om. Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan papi.”
“Om dan semua dokter di sini pasti akan mencari jalan pengobatan yang terbaik.” Dokter Raymond tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Cilla.
“Terima kasih, Om,” ujar Cilla sambil menangkup kedua tangannya di depan wajah.
“Om tinggal dulu. Dokter Handoyo akan menjelaskan detailnya pada kalian.”
Cilla dan Arjuna mengangguk dan membungkukan badannya saat dokter Raymond kembali meninggalkan ruang ICU.
Sekitar duapuluh menit kemudian dokter Handoyo keluar bersama dokter lain dikenalkan pada Cilla Arjuna. Dokter Roland, spesialis penyakit dalam sama seperti dokter Handoyo.
“Pak Rudi sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Sepertinya dokter Raymond sudah minta suster untuk menyiapkannya. Saya tinggal dulu untuk kunjungan ke pasien lain dan kebetulan ada operasi juga siang ini. Nanti dokter Roland akan memastikan pemasangan alat yang dibutuhkan saat Pak Rudi sudah pindah ke ruang rawat biasa.”
“Terima kasih, dok,” Cilla tersenyum sambil menganggukan kepalanya kepada dua dokter di hadapannya.
“Sama-sama,” sahut dokter Handoyo balas tersenyum pada Cilla dan Arjuna.
Keduanya pun pamit dan meninggalkan ruang ICU menuju lift.
“Mau lihat papi di dalam ?” Arjuna merengkuh bahu Cilla saat dilihatnya gadis itu masih terpaku di tempatnya.
Cilla langsung menggeleng dan menghambur ke dalam pelukan Arjuna.
“Cilla nggak mau masuk ke dalam, masih takut. Cilla takut mendengar bunyi alat-alat di dalam.”
“Nggak apa-apa, sebentar lagi kan papi akan pindah ke kamar biasa juga. Nanti Cilla bisa temani papi di sana,” ujar Arjuna sambil mengusap-usap punggung Cilla untuk menenangkannya.
Arjuna mengerutkan dahi saat merasa bajunya basah dan bahu Cilla bergerak naik turun. Ia mencoba merenggangkan pelukannya tetapi Cilla malah mengeratkan pelukannya di pinggang Arjuna.
“Cilla takut, takut banget. Cilla takut akan sendirian lagi kalau sampai papi nggak sembuh. Cilla benar-benar akan sendirian kalau sampai papi harus pergi meninggalkan Cilla.”
Arjuna memeluk gadis itu dengan perasaan yang sama sedihnya dan khawatir seperti Cilla.
“Kita doakan yang terbaik untuk papi. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan dalam hidup ini, tapi sekalipun tidak sesuai dengan harapan dan impian kita, tetap kehendak Tuhan adalah yang terbaik. Lagipula Cilla sudah nggak sendirian lagi. Cilla sudah menemukan tante Siska, om Rio dan Theo sebagai bagian dari keluarga Cilla. Dan Mas Juna juga janji sama Cilla, selama Tuhan masih memberikan nafas untuk Mas Juna, selama itu pula Mas Juna akan selalu ada untuk Cilla dan menemani Cilla melewati semuanya.”
Cilla merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap Arjuna.
“Mas Juna benar-benar nggak menyesal memilih Cilla yang masih kecil ini untuk menjadi pendamping hidup ? Di luar sana…”
Arjuna menempelkan telunjuknya di bibir Cilla sambil tersenyum.
“Sekalipun di luar sana banyak wanita yang lebih daripada Cilla, tapi hanya ada satu anak bebek kesayangan Mas Juna. Bahkan saat Mas Juna lari menjauh dari perjodohan yang papa siapkan, akhirnya tetap bertemu dengan anak bebek yang satu ini,” Arjuna mencubit hidung Cilla dengan gemas.
“Cilla juga harus janji kalau hanya Mas Juna yang jadi kolam kesayangan Cilla tempat Cilla bermain air dan berenang di sana. Tempat Cilla menghabiskan waktu dalam keadaan sedih ataupun senang. Nggak boleh ada yang lain !” tegas Arjuna sambil menggerakan telunjuknya di depan wajah Cilla.
Cilla mulai tertawa pelan dan mengangguk. Arjuna mengeluarkan saputangannya dan mulai membersihkan wajah Cilla yang basah karena airmata.
“Janji ?” Arjuna menjulurkan kelingkingnya yang langsung dibalas oleh Cilla.
“Janji !” tegas Cilla dengan mantap sambil tersenyum.
Arjuna tertawa dan mengacak poni Cilla dengan gemas. Cilla hanya bisa cemberut meski dalam hatinya merasa bahagia.
“Cilla !” panggilan itu menghentikan tawa keduanya.
Mata Cilla langsung berbinar sementara Arjuna memicing, mencoba mengenali sosok yang baru saja memanggil anak bebek kesayangannya.
“Sepertinya Cilla sudah menemukan target untuk melakukan uji coba ciuman biar skor kita sama,” Cilla menatap Arjuna dengan mata menyipit dan senyuman smirk di wajahnya.
“Cilla !” Arjuna langsung melotot menatap Cilla yang masih senyum-senyum.
Entah apa yang membuat anak bebek kesayangannya ini tetap bertahan ingin menyamakan skor ciuman bibirnya hingga mencapai angka yang sama dengan Arjuna.
Cilla tergelak melihat wajah Arjuna langsung ditekuk dengan mulut manyun dan menggerutu tidak jelas. Cilla selalu bahagia saat melihat ekspresi Arjuna sedang kesal seperti ini, karena bagi Cilla saat itulah Arjuna menunjukkan betapa pria itu begitu mencintainya.