MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Penyelesaian


“Ron, emak lo tuh,” Nico menyenggol lengan Aron yang duduk persis di sebelahnya.


“Duh mau ngapain lagi pakai acara berdiri segala,” Aron menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Selamat pagi, nama saya Neno, orangtua Aron kelas XII IPS-1. Saya hanya ingin menyampaikan kenapa bapak ibu harus repot mengurusi hidup orang lain. Apa yang terjadi antara Cilla dengan mantan gurunya bukanlah aib karena dilakukan atas dasar cinta dan restu orangtua, bukan karena perbuatan khilaf yang melanggar norma.


Saya sempat mendengar pembicaraan Aron dengan beberapa temannya saat kumpul di rumah dan semuanya tidak masalah dengan pernikahan Cilla dan Pak Arjuna, karena menurut mereka keduanya cukup serasi untuk menjadi pasangan halal. Tidak pernah menunjukan sikap yang berlebihan dan tidak ada tanda-tanda memaksa atau terpaksa.


Saya yakin kalau kehadiran kedua keluarga saat ini adalah gambaran bagaimana pernikahan Cilla dan Pak Arjuna bukan sekedar sandiwara saja. Lebih baik fokus pada anak sendiri, yang belum tentu hidupnya lebih baik dari Cilla.”


“Hidup Tante Neno !” celetuk Nico yang membuat suasana langsung gaduh, hingga akhirnya Nico sedikit malu karena ternyata suaranya cukup keras.


“Setuju Tante Neno !” Nino, ketua kelas XII IPS-1 berdiri dan berucap dengan cukup lantang, mengimbangi celetukan Nico.


“Kami teman-teman sekelas Cilla tidak melihat kalau pernikahan Cilla merusak nama baik sekolah atau mengganggu jalannya pembelajaran yang akan berakhir sebentar lagi.” lanjut Nino.


“Malah kami yang memprovokasi Cilla supaya menerima Pak Arjuna jadi suaminya kalau sampai di lamar,” Mira ikut berdiri.


”Lagipula sebelum diajar sama Pak Juna, Cilla memang udah pinter bingit soal matematika,” Reina menyusul berdiri.


“Malah kadang-kadang Cilla itu lebih pintar dari Pak Arjuna,” celetuk Nico lagi yang langsung disambut tawa teman-temannya. Sementara mata Arjuna melotot menatap teman-teman sekelas Cilla.


“Iya, soalnya Cilla itu bisa memberikan solusi dan jalan keluar dari berbagai soal alias contekan. Kalau Pak Arjuna malah menyodorkan soal yang bikin pusing dan belum tentu ketemu jawabannya. Jadi menurut kami Cilla itu lebih pintar dari Pak Arjuna.”


“Huuuuu….” sahut siswa yang lain membuat suasana mendadak riuh dan penuh gelak tawa.


“Om jangan lupa nama saya Nino, saya ketua kelasnya Cilla. Siapa tahu butuh koordinator undangan buat bagi-bagi ke teman sekelasnya Cilla. Tapi khusus kelas kami, satu undangan untuk semuanya nggak masalah, asal jangan pas pestanya disuruh makan satu piring buat sekelas, Om.”


“Soalnya kita ini remaja masih dalam masa pertumbuhan, Om,” timpal Aron..


“Sepertinya kamu harus minta undangannya sama Cilla atau Pak Arjuna langsung,” sahut papi Rudi dengan senyumannya.


“Dih kalian ge-er banget ya. Yakin banget bakalan diundang ke pesta gue sama Pak Juna,” Cilla mendekati tempat duduk teman-teman kelasnya dan berdiri sambil bertolak pinggang.


Arjuna geleng-geleng kepala melihat istrinya mulai terpancing menanggapi ledekan teman-teman sekelasnya.


“Diundang apa nggak, tanpa ragu dan malu-malu kita pasti datang, Cil. Soalnya kasihan kalau pesta elo sama Pak Juna nggak berkesan tanpa kehadiran kami semua,” ledek Nino yang langsung disambut tepukan tangan teman-teman sekelasnya.


Akhirnya pertemuan hari itu diakhiri dengan kelegaan karena papi merasa sudah menjalankan tugasnya sebagai orangtua yang wajib menjaga nama baik putrinya.


Beberapa teman Cilla mendekati gadis itu bermaksud memberikan ucapan selamat namun ditolak.


“Nggak ada kasih selamat sekarang,” Cilla mengibaskan tangannya. “Kalau maksa, gue nggak jadi undang nih ke pestanya.”


“Kan udah dibilang, diundang apa nggak kita tetap datang,” cibir Aron.


“Awas kalau nggak bawa kado !” ancam Cilla dengan muka galaknya.


“Cewek matere !” cebik Nino. “Udah anak orang kaya, punya suami tajir, masih nggak tahu malu minta kado.”


“Eh memangnya siapin makan nggak pake duit ? Elo pada tau kan kalau makanan di pesta itu hitungannya per piring. Awas aja kalau pada sering-sering ganti piring malah nggak bawa kado juga.”


“Dasar pelit !” cebik Aron.


“Jadi kalian maksa minta diundang ?” Arjuna mendekati Cilla dan teman-temannya. Ternyata Dono ikut juga di belakang mereka sementara Theo bergabung dengan orangtuanya dan papa mama Arjuna.


“Sesuai janji, Pak,” sahut Mira. “PJ nya kan belum dijalankan, langsung udah nikah aja. Jadi dengan senang hati kami terima traktiran dobel.”


“Kalau begitu minggu depan selesai ujian sekolah saya traktir kalian sekelas. Tempatnya nanti Cilla yang info.”


“Beneran, Pak ?” Reina meyakinkan ucapan Arjuna.


“Jangan lupa walikelas diajak. Biar ijin kalian keluar dengan lancar,” ujar Dono di belakang Arjuna.


“Tuh sekalian minta traktir Pak Dono yang baru punya momongan,” ledek Arjuna.


Teman-teman sekelas Cilla langsung heboh dan memberikan selamat pada Dono.


“Jadi ceritanya undangan makan siang sampai makan malam nih, Pak Juna ? Pak Dono ?” tanya Mira.


“Bangkrut saya kalau traktir kalian sekelas, bisa-bisa popok anak saya nggak kebeli,” sahut Dono. “Seperti biasa, saya bagian singkong rebusnya aja.”


“Asal jangan hasil nyolong dari kebun tetangga, Pak,” ledek Aron.


“Kalian tuh ya, mentang-mentang sebentar lagi lulus, berani sama wali kelas. Ingat ya, saya masih punya peranan nih untuk menentukan nilai kalian,” oceh Dono dengan wajah dibuat galak dan berwibawa.


Murid-muridnya hanya tertawa melihat ekspresi Dono yang malah terlihat lucu. Mereka menghormati dan bersyukur memiliki Dono sebagai walikelas mereka.


Sementara di bagian depan, hanya tante Dinda yang terlihat menghindar dan berdiri jauh-jauh sementara tiga anggota komite lainnya bersalaman dengan papi Rudi dan para guru juga berkenalan dengan keluarga Arjuna.


“Maafkan istri saya yang sudah menyusahkan menantu Pak Arman,” om Ramon menghampiri papa Arman dan menyalaminya.


“Baik Pak. Saya benar-benar minta maaf. Selama ini urusan anak, saya percayakan pada keputusan istri. Saya ikut kemari juga karena percaya kalau istri saya memang membutuhkan pandangan hukum masalah di sekolah. Kalau saya tahu…”


“Biar jadi pengalaman,” tegas papi Rudi yang ikut bergabung. “Anda tentu lebih mengenal kami, Pak Ramon.”


Tidak lama suasana aula kembali sepi. Febi dan Lili langsung pulang dengan orangtua mereka sementara Jovan masih betah mengikuti Amanda dan membiarkan maminya pulang dengan sopir.


Papi langsung lanjut ke ruangan Pak Slamet membahas masalah-masalah sekolah sementara Cilla dan Arjuna mengajak keluarga yang datang berkeliling sekolah Guna Bangsa.


“Di bawah pohon mangga itu pertama kali Juna bertemu Cilla, Ma, Pa,” Arjuna menunjuk ke arah pohon mangga yang terlihat dari depan bangunan kantin.


“Kok mojok begitu, Jun ? Lagi ngapain elo di sana ?” ledek Theo.


“Ketemu monyet cantik habis lompat dari tembok demi menghindari hukuman gara-gara terlambat,” sahut Arjuna sambil tergelak.


“Dih Mas Juna aja yang kurang kerjaan. Mau wawancara kerjaan malah ke tempat-tempat tersembunyi di sekolah. Kebiasaan jaman sekolah cari tempat buat mesum, ya ?”


“Juna itu nggak mesum, Cil. Cuma bandelnya ampun deh,” ledek Dono yang ternyata ikut bergabung juga. “Saya ini salah satu korbannya yang disuruh berbohong demi menghindari hukuman.”


“Sekarang ngerasain bagaimana jadi papa dan mama kan, Jun ?” ledek mama Diva. “Sampai dikasih ketemu calon istri di bawah pohon mangga. Untung yang keluar Cilla, kalau yang nggak berpijak tanah gimana ?”


“Juna kabur, Ma. Ngeliat cewek model begini aja Juna udah mau kabur, takut mahluk jadi-jadian.”


”Iya nanti malam bisa berubah. Mas Juna hati-hati aja,” mata Cilla mendelik membuat Arjuna malah tertawa.


“Berubah jadi singa betina. Aaauumm…” ledek Theo.


“Kak Theo apaan, sih ? Ngakunya jomblo, pengalaman sama singa betina udah sering ya ?” cebik Cilla.


“Pengalaman riil-nya belum, Cil, cuma koleksi ilmunya banyak,” sahut Dono.


“Kan biasa gue bagi-bagi sama elo, makanya tuh Wiwik langsung hamidun aja,” sahut Theo santai.


“Mas Juna ngapain sih ?” Cilla menggerakan kepalanya saat kedua tangan Arjuna menutup telinganya.


“Jangan kebanyakan mendengarkan dukun yang ilmunya tanggung-tanggung, malah nanti kamu tersesat,” ujar Arjuna masih menutup telinga Cilla.


“Dihh kayak yang ngomong udah tinggi aja. Baru berhasil cup cup di leher doang berani nyombong,” sindir Theo.


“Mendingan daripada elo cuma dalam khayalan,” sahut Arjuna dengan wajah pongah.


“Gara-gara papanya dan Amanda ganggu tuh, Theo. Gagal deh Arjuna program cucu buat tante sama om,” ledek mama Diva.


“Mama,” Arjuna dan Cilla berbarengan memanggil mama Diva membuat yang lainnya tertawa.


“Ooo jadi gara-gara Amanda,” Theo mencibir sambil manggut-manggut. Amanda sendiri entah kemana bersama Jovan. Dono tertawa melihat wajah Cilla yang memerah dan Arjuna sedikit manyun.


**


Berbeda dengan keluarga Darmawan dan Hartono yang boleh bernafas lega, Sherly dan tante Dinda sedang dimarahi oleh om Ramon.


“Buat apa kamu memperpanjang urusan anak Pak Darmawan dengan Pak Arman ?” cecar om Ramon saat mereka sudah di mobil.


“Tentu saja sekolah akan menanggung akibatnya kalau sampai ketahuan murid menikah dengan gurunya.”


“Apa kalian sudah menyelidiki dengan benar siapa yang kalian hadapi ?”


“Pa, jangan menyalahkan kami aja dong,” protes Sherly. “Apa yang dilakukan Cilla dan Pak Arjuna kan memang kan tidak etis.”


“Kapan kalian bisa membuang rasa iri dan dengki dalam otak kalian ? Apakah kelimpahan materi yang Papa berikan masih belum cukup juga ?”


“Pa, kok malah menyinggung ke sana ?” protes tante Dinda.


“Pak Arman dan Pak Darmawan bukan orang sembarangan. Sebelum mengambil tindakan atau keputusan, mereka pasti sudah mempertimbangkannya secara matang dari semua sisi, apalagi kalau meyangkut soal hukum. Pernikahan anak mereka pasti juga sudah melalui proses yang panjang.”


“Tapi tetap saja akan menjadi contoh yang tidak baik di kalangan siswa termasuk adik kelas mereka.”


“Kalau saja kamu Sherly, tidak menghumbarnya di hadapan umum, belum tentu satu sekolah tahu masalah ini. Ditambah lagi kamu berani-beraninya membawa masalah pribadi ke depan publik, di acara resmi sekolah !” Om Ramon melotot menatap istrinya.


“Itu sudah tugasku sebagai komite sekolah.”


“Kamu itu baru komite sekolah, Dinda. Kamu pun harus menjadi contoh dan panutan buat orangtua yang lain, bukan malah jadi provokator !”


Tante Dinda dan Sherly diam sejenak, bukan karena menerima omongan om Ramon tapi untuk meedakan emosi pria itu.


“Supaya kalian tahu kalau kalau selama ini Papa bekerja dengan keluarga Hartono sebagai tim penasehat hukum mereka. Jangan sampai kelakuan kalian membuar Pak Arman marah dan menyulitkan pekerjaan papa. Kalau sudah begitu, jangan harap bisa ke salon atau mengikuti trend hidup. Bisa makan nasi dan lauk pun kalian harus bersyukur.”


Tante Dinda dan Sherly tampak terkejut mendengar penjelasan om Ramon. Apalagi mengetahui kalau keluarga Arjuna lah yang memberikan pekerjaan untuk om Ramon.