MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Rindu itu Indah


“Kayaknya baru hari pertama udah punya penggemar nih,” ledek Amanda saat keduanya berjalan meninggalkan kampus sekitar jam 4 sore.


“Bukan penggemar tapi senior gila,” gerutu Cilla. “Gue nggak sengaja ketemu tahun lalu pas urus administrasi bareng Lili dan Febi. Ketemulah dengan gerombolan senior kurang perhatian yang kerjaannya nongkrong cari calon mahasiswa baru.”


“Wuuiihh ternyata ya biar udah jadi emak-emak, penggemar malah berdatangan.”


“Ambil gih kalau mau. Tuh senior rada somplak. Udah gue bilang kalau status gue udah nikah malah udah kenalan sama Mas Juna, bisa-bisanya tadi pagi dia bilang gue bohong. Hans nggak percaya kalau Mas Juna itu laki gue, malah dia bilang Mas Juna itu pantasnya jadi om gue.”


“Wuih hafal nih namanya,” ledek Amanda.


“Namanya cuma 4 huruf, Manda, nggak kayak nama elo sama Mas Juna.”


Amanda langsung tergelak. Keduanya sudah sampai di lapangan parkir yang disediakan khusus selama masa ospek. Letaknya sekitar 200 meter dari gerbang kampus, persis di titik Arjuna berhenti tadi pagi.


“Mau bikin tugas bareng nggak di rumah ?” tanya Cilla saat keduanya sudah berdiri di mobil jemputan masing-masing.


“Yaahh telat ngomongnya, kasihan pak Iman udah jemput gue. Besok lah gue ke rumah elo sekalian mau ketemu si gemoi.”


“Jangan lupa bawa baju ganti. Nggak boleh pegang-pegang gemoi kalau nggak mandi.”


“Iya mami, besok mandi kembang dulu sebelum main sama gemoi,” Amanda terkekeh.


Keduanya langsung berpisah. Tubuh yang penat karena mengikuti aktivitas ospek yang lumayan menguras tenaga membuat Cilla langsung tertidur di mobil dan lupa memberi kabar pada Arjuna.


Mantan guru itu sempat dibuat tidak tenang, untung saja Dirman langsung mengangkat panggilan Arjuna dan memberi tahu kalau nona mudanya sedang tertidur pulas di kursi penumpang belakang.


Kalau di pagi hari Arjuna hanya membutuhkan waktu 25 menit mengantar Cilla ke kampus, sore ini 45 menit kemudian mobil yang dibawa Dirman baru sampai di halaman rumah keluarga Darmawan.


Suara tangisan Sean yang menunggunya di teras membuat Cilla langsung terbangun begitu mesin mobil dimatikan.


Cilla bergegas turun, lupa mengangkut barang bawaanya karena ingin melepas rindu pada bayi gemoinya yang sedang menangis.


“Sean sayang,” pekik Cilla sambil berlari kecil mendekati putranya namun tidak berani memeluk karena tubuhnya masih lengket dan kotor.


Sean menghentikan tangisannya, matanya mengerjap menatap Cilla dengan wajah bingung. Sisa-sisa dandanan menornya masih terlihat membuat Sean melongo dengan pipi yang basah dan semerah tomat.


“Mami mandi dulu, ya. Habis ini Sean boleh mimi sama mami,” Cilla terkekeh sambil menoel pipi Sean.


Cilla bergegas masuk ke kamarnya untuk membersihkan badan. Harum aroma Arjuna yang tercium hidungnya membuat Cilla langsung mengeluarkan handphone. Ia tersenyum saat melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Arjuna.


Tangannya langsung menekan nomor Arjuna sambil membersihkan wajahnya di depan meja rias. Panggilannya ditolak Arjuna dan tidak lama satu pesan masuk ke handphone Cilla.


Mas Juna lagi meeting sama papa. Selesai meeting Mas Juna telepon balik. (Arjuna)


Nggak usah, cepetan pulang aja. Cilla udah di rumah, udah kangen sama Mas Juna dan Sean 🥰🥰 (Cilla)


Di kantor Arjuna senyum-senyum sendiri membuat papa Arman mengerutkan dahi.


20 menit Cilla sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa segar. Tidak sabar ingin menggendong putranya, Cilla bergegas turun.


Rasanya sebahagia ini menjadi seorang istri dan ibu meski usia Cilla masih terbilang muda. Awalnya ia sempat takut karena sudah tidak memiliki mami yang meninggalkannya sejak usia Cilla 5 tahun dan kehilangan papi sejak 2 tahun lalu.


Cilla takut menghadapi masa kehamilan tanpa pendampingan seorang ibu. Untung saja mama Diva, mertua Cilla dan tante Siska banyak membantunya.Dan yang pasti Arjuna berperan besar sebagai seorang suami meski sempat banyak riak yang harus mereka lewati.


Bayi gemoi itu langsung melonjak kegirangan saat melihat maminya sudah tidak aneh lagi. Suster Imah yang menggendongnya sampai kewalahan.


“Minum susunya dulu, Noni. Sean nggak dapat gizi kalau maminya belum makan,” Bik Mina, pengasuh Cilla sejak kecil sangat menyayangi mama muda itu seperti seorang ibu pada anaknya.


Cilla pernah hidup sendirian tanpa kasih sayang seorang ayah yang sempat menghindarinya karena perasaan bersalah. Bik Mina, Pak Trimo, suami Bik Mina, Bang Dirman dan Bang Toga, para pekerja di rumah itu yang menjadi teman dan penyemangat Cilla hingga akhirnya ia bertemu dengan Arjuna, guru matematika di sekolahnya.


Pria yang kabur karena dijodohkan orangtuanya tanpa sadar malah lari mendekati calon istrinya.


Sean mendusel-dusel sumber kehidupannya. Hari ini Sean sedikit rewel karena belum terbiasa ditinggal terlalu lama oleh Cilla.


“Kangen mimi sama mami ya ?”


“Sean wangi banget cih,” Cilla menciumi putranya membuat Sean tertawa lalu menangis karena sudah ingin menyusu.


Cilla tertawa dan memberikan apa yang diinginkan Sean sambil tiduran di ranjang.


“Sean, pelan-pelan, dong, jangan digigit. Kamu kayak papi aja kalau lagi gemes,” Cilla terkikik sambil menoel-noel pipi gembul Sean.


Sean tidak peduli, ia menyesap dan satu tangannya mengusap lembut kulit Cilla yang terekspos.


Terlalu letih dengan kegiatan ospek dan Sean juga sudah kenyang menikmati sumber kehidupannya, keduanya tertidur dalam posisi berpelukan.


Sejam kemudian Arjuna yang baru tiba dari kantor, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istri dan anaknya tertidur pulas dengan posisi berpelukan dan mulut sedikit terbuka.


Arjuna pun merapikan pakaian Cilla yang masih terbuka dan mencium pipi Cilla kemudian bergeser ingin mencium Sean.


“Kangen,” Cilla langsung mengalungkan tangannya di leher Arjuna, hampir membuat pria itu terjatuh.


“Kok bangun ? Mas Juna udah pelan-pelan ciumnya.”


“Cium bau ketek Mas Juna jadi Cilla bangun,” sahutnya sambil terkekeh.


Arjuna melihat posisinya dan kepala Cilla memang persis di bawah ketiaknya saat posisi Arjuna mencium Sean.


“Kamu kan memang hobinya dusel-dusel di ketek Mas Juna kalau mau bobo.”


“Iya, udah kecanduan.” Cilla sengaja menarik Arjuna semakin mendekat dan langsung mencium bibir Arjuna.


Seperti kucing diberi ikan, Arjuna menyambut baik ciuman Cilla dan langsung **********.


“Jangan mancing-mancing nih, nanti Mas Juna suruh Cilla jadi anak koala.”


“Ayo aja,” Cilla malah mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


“Nanti kecapekan, kan besok sama lusa masih ospek. Selesai ospek baru Mas Juna bikin Cilla nggak bangun-bangun kecuali buat makan dan kasih mini Sean.”


“Iiihh kayak udah lama aja nggak dikasih jatah,” Cilla mencibir membuat Arjuna tertawa.


“Kan mau kejar target anak kedua setelah Sean 1 tahun.”


“Haiiss benar-benar nggak mau buang-buang waktu nih si om,” Cilla tertawa namun langsung dibungkam dengan bibir Arjuna.


“Cilla lupa kalau Sean lagi bobo ? Nanti rewel, Cilla nggak bisa buat bahan buat ospek besok.”


“Iya lupa. Kalau udah di dekat Arjuna bawaanya pengen dusel-dusel aja. Kangen banget.”


“Mas Juna mandi dulu, ya. Terus kita makan habis itu lanjut siapin bahan-bahan ospek Cilla biar nggak kemalaman.”


Cilla mengangguk dan ikut bangun untuk menyiapkan pakaian ganti Arjuna.


Cilla tersenyum memandangi wajah Sean yang masih tertidur pulas. Sama seperti dirinya yang kelelahan dengan aktivitas kampus, Sean juga kecapekan karena sering menangis padahal Bik Mina bilang mama Diva dan tante Siska datang menemani dari jam 9 hingga jam 3 sore.


Ternyata peran seorang ibu memang tidak bisa tergantikan oleh orang lain, sekalipun cinta penggantinya tidak kalah berlimpah.


Cilla menoleh saat pintu kamar mandi terbuka dan dilihatnya Arjuna keluar berbalut handuk di pinggangnya.


“Kangen banget,” Cilla langsung memeluk Arjuna membuat pria itu mengerutkan dahi tetapi tangannya balas memeluk Cilla.


Tidak biasanya Cilla seperti ini, sepertinya efek terlalu lama bersama-sama dengan Sean dan Arjuna.


“Ternyata rindu itu indah meski sering menyiksa ya,” ujar Cilla sambil mendongak dan memeluk Arjuna.


“Iya apalagi kalau disertai cinta,” sahut Arjuna tertawa lalu mencium kening Cilla.