
“Jadi Mas Juna sengaja jadi dosen karena nggak percaya kalau Cilla bisa jaga diri dan mengatasi Glen ?” cecar Cilla sesudah meletakkan Sean di dalam ranjang bayinya.
“Bukan nggak percaya tapi ada kalanya kita harus mendatangi sarang musuh untuk menyelesaikan perang,” sahut Arjuna kalem di meja kerja yang ada di dalam kamar.
“Musuh yang mana ? Glen atau Susan ?” tanya Cilla dengan suara masih emosi dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Mas Juna beresin jawab email ini dulu, sesudah itu kita bisa ngobrol tenang di ranjang.”
“Hanya ngobrol, nggak boleh tambah yang lain karena tadi siang udah diambil jatahnya.”
Arjuna tertawa sambil mengangguk-angguk. Tatapannya kembali fokus menatap ke layar laptop.
Cilla sedang asyik membalas pesan Febi, Lili dan Jovan yang membahas soal Arjuna, dosen baru yang jadi trending topik di kampus.
“Lihat nih !” ujar Cilla memperlihatkan layar handphonenya.
”Mas Juna dibahas banyak mahasiswi, belum lagi foto papparazi yang beredar,” gerutu Cilla kesal.
“Iya… iya.. Mas Juna paham konsekuensinya dan Mas Juna akan menghindari semua gangguan di kampus. Satu hal yang Mas Juna khawatirkan karena Glen nggak mau melepaskan Cilla.”
“Sudah tahu inti masalahnya ?”
“Sudah, ini soal adiknya Glen yang bunuh diri saat baru kelas 1 SMA. Dia berpikir kalau Mas Juna penyebabnya karena menemukan surat cinta untuk Mas Juna di selipan buku hariannya.”
“Jadi Mas Juna pernah terlibat masalah cinta dengan adiknya Glen ?”
“Nggak pernah. Seperti Cilla tahu dari cerita Mimi kalau selama SMA, Mas Juna hanya menyukai Luna dan akhirnya kehilangan percaya diri saat Luna menolak dengan kata-kata pedas yang sedikit menyakitkan.
“Tapi mau aja diterima jadi pacar setelah ketemu lagi,” gerutu Cilla sambil mencebik.
“Mas Juna yakin nggak pernah menerima surat cinta dari Gina ?”
“Yakin banget ! Dan sekarang yang membuat Mas Juna khawatir adalah obsesi Glen sama Cilla. Dia menyukai Cilla bahkan sebelum tahu kalau Cilla adalah istri Mas Juna. Glen menyukai Cilla saat pertama kalian bertemu di kafe yang ada di kota tua. Cilla ingat kan ?” Cilla mengangguk.
“Terus sampai kapan Mas Juna akan berusaha melindungi Cilla dari Glen ?”
“Bukan sekedar melindungi Cilla, tapi Mas Juna akan mencoba menjalin hubungan lagi dengan Glen. Beberapa hari lalu Mas Juna minta tolong Tino mencari tahu keberadaan ibunya Glen, sayangnya beliau sudah pindah. Mas Juna akan menemui langsung ibunya Glen untuk minta maaf dan memastikan semua cerita Glen.”
“Ada yang bisa Cilla lakukan untuk membantu Mas Juna ?”
“Jangan memberi Glen kesempatan untuk mendekati Cilla, bukan sekedar karena Mas Juna cemburu, tapi orang yang terobsesi bisa melakukan segalanya. Mas Juna tidak ingin terjadi sesuatu pada Cilla.”
“Cilla akan lebih waspada.”
Cilla memeluk Arjuna dan tidur berbantalkan lengan Arjuna.
“Maaf karena Mas Juna harus membuat Cilla masuk dalam sistuasi seperti ini.”
“Bukan Mas Juna yang menarik Cilla tapi sudah takdirnya begini. Ingat ucapan Mas Juna yang bilang kalau Glen suka pada Cilla sebelum dia tahu soal siapa Cilla ? Mungkin pertemuan itu hanyalah awal mula untuk menyelesaikan kesalahpahaman Glen yang sudah berlangsung bertahun-tahun.”
Arjuna memeluk Cilla dan mencium kening istrinya. Tubuhnya baru terasa lelah dan akhirnya ia hanya memejamkan mata sambil memeluk Cilla.
*****
Atas undangan Arjuna, keempat sahabat itu kembali berkumpul di kafe langganan mereka tanpa istri atau kekasih mereka. Arjuna ingin memastikan soal surat cinta yang pernah diperlihatkan oleh Glen karena Arjuna tidak berhasil mengingat apapun soal surat Gina itu.
“Jadi surat ini yang bikin Glen berpikir kalau elo Gina patah hati karena ditolak cintanya sama elo ?”
“Hmmm.”
“Gue ingat kalau surat ini memang pernah elo terima tapi nggak sempat dibaca,” ujar Boni.
“Surat itu salah satu dari sekian surat yang elo terima pada saat ospek siswa baru. Gue ingat banget soalnya warna kertasnya beda sendiri dan cukup menarik perhatian tapi elo nggak tertarik sedikitpun untuk membacanya.”
Arjuna mengerutkan dahi mencoba mengingat ucapan Boni tapi sayang ia tetap tidak mengingat kejadian itu sama sekali.
“Terus kenapa surat ini bisa kembali ada di tangan Gina ?”
“Waktu itu gue sempat iseng ingin membacakan surat-surat ini sebagai lucu-lucuan tapi Juna melarangnya dan surat ini dia rebut terus diremas dan dibuang ke tomg sampah.”
“Berarti Gina ada di dekat situ pas kita kumpul,” ujar Luki.
“Dia nggak pernah ngomong langsung sama elo, Jun ?” tanya Theo.
“Nggak pernah, Bro. Elo tahu sendiri kan tiap kali Gina datang membawa sesuatu dia selalu bilang untuk semua tim basket. Elo kan ada di situ juga.”
“Maksud gue apa Gina pernah minta waktu khusus untuk ketemu elo dan bilang kalau dia suka sama elo ?”
“Nggak pernah,” Arjuna langsung menggeleng.
“Terus setelah masuk ke sarang musuh elo mau ngapain ? Tetap aja ada celah buat Glen melakukan sesuatu sama Cilla.”
“Tujuan gue bukan sekedar jagain Cilla karena kalau hanya itu gue akan bayar pengawal pribadi untuk Cilla. Gue mau mendekati Glen untuk meyakinkan dia kalau gue masih Arjuna, teman tim basketnya. Gue mau ketemu sama nyokapnya yang sekarang nggak tahu tinggal dimana. Gue udah minta bantuan Tino untuk mencari tahu keberadaan nyokapnya. Firasat gue semua ini ada hubunganya dengan kondisi bokapnya yang nggak lama meninggal juga.”
“Yang penting elo selalu terbuka sama Cilla supaya nggak ada kesalahpahaman lagi. Hati-bati sama Susan, dia bisa mengacaukan semua rencana lo,” pesan Theo dengan tegas.
“Jun, Jun, pernikahan elo sama Cilla nggak jauh-jauh dari masalah orang ketiga. Dari belum nikah sampai punya anak satu,” ujar Luki sambil tertawa pelan..
“Setiap pernikahan pasti ada masalah sendiri, Bro,” Boni yang menyahut.
“Kalau nggak begitu, suami istri nggak bisa saling mengenal satu sama lain dan saling menerima kekurangan juga kelebihan pasangan. Beda dengan waktu pacaran, Bro. Gue makin sering bertengkar sama Mimi apalagi sejak punya anak, tapi nggak berarti cinta kita makin berkurang.”
“Jangan bikin Theo jadi ragu-ragu lagi buat melamar Yola,” ledek Arjuna sambil tertawa.
“Memang kapan Theo nggak ragu-ragu. Makanya dia selalu keduluan cowok lain kalau suka sama cewek,” timpal Luki ikut tertawa.
“Heh ingat ya, hari ini kumpul di sini untuk membahas masalah Arjuna bukan ngurusin hidup gue,” gerutu Theo.
“Masalah Arjuna udah beres, Yo. Dia udah ketemu jawaban kapan tuh surat cinta diberikan sama Gina, tinggal cari tahu apa gara-gara surat itu Gina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
“Jadi kapan elo mau melamar Yola, Yo ?” ledek Luki sambil menaik turunkan alisnya.
”Nunggu elo dapat pacar,” cibir Theo.
“Hati-hati ucapan itu doa, Bro,” ujar Boni.
“Jangan sampai elo ditinggalin Yola gara-gara nggak dilamar. Kalau beda umurmya kayak Juna dan Cilla, nggak masalah elo tunda 3-4 tahun lagi,” timpal Luki.
“Tenang, Theo nggak akan nunggu sampai anak gue yang kedua lahir,” ujar Arjuna sambil tertawa.
“Memangnya Cilla lagi hamil lagi ?” tanya Theo dengan mata membelalak.
“Kenapa ? Sepupu elo nggak keberatan hamil anak kedua,” sahut Arjuna sambil tertawa meledek Theo yang sedikit posesif pada Cilla.
“Awas aja kalau sampai Cilla dibikin kehilangan masa mudanya gara-gara elo suruh punya anak terus,” tegas Theo dengan wajah juteknya, membuat ketiga sahabatnya malah tertawa.