
“Baby-nya nggak rewel selama maminya kesal, kan ?” tanya Arjuna sambil berjongkok dekat Cilla yang duduk di pinggir ranjang. Tangan Arjuna sempat mengusap perut Cilla.
Keduanya sudah kembali ke hotel dan masuk kamar yang sebelumnya ditempati Cilla seorang diri.
“Sedikit. Setiap kali Cilla keingetan sama Mas Juna, babynya bergerak aktif.”
“Itu artinya baby ikut mendukung rasa kangen maminya,” sahut Arjuna sambil terkekeh. Cilla hanya mencibir.
“Cilla mandi dulu, ya,” Cilla yang hendak beranjak bangun langsung dipegangi tangannya oleh Arjuna.
“Ini sudah hampir jam 10, nanti Cilla masuk angin. Cuci muka dan ganti baju aja, ya ?” Arjuna memegang kedua bahu Cilla saat posisi mereka berhadapan.
“Panas Mas Juna, malah nggak nyenyak nanti tidurnya.”
“Mau Mas Juna mandiin ?” Arjuna mengerlingkan matanya membuat Cilla tertawa.
“Kalau itu malah bisa bikin masuk angin.”
Arjuna ikut tertawa sambil mengangguk-angguk.
“Ya udah, mandi sekarang, pakai air hangat dan jangan terlalu lama, kalau perlu nggak usah keramas soalnya udah terlalu malam.”
“Pak Guru mendadak cerewet ya karena udah mau jadi papi sebentar lagi,” ledek Cilla sambil tertawa.
Cilla pun mengambil pakaian ganti di tasnya dan langsung masuk kamar mandi.
15 menit kemudian, Cilla keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar.
“Mas Juna gantian mandi, pakaiannya nanti Cilla siapkan.”
Arjuna menurut dan langsung masuk kamar mandi tanpa menguncinya.
Cilla sendiri buru-buru menghubungi pihak hotel untuk mengantar pesanannya dan meminta supaya jangan mengebel kamarnya, cukup mengetuk pintu saja.
Seperti pesan Cilla, Arjuna keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya mulai dari pinggang.
“Selamat ulangtahun Mas Juna tersayang.”
Cilla berdiri tidak jauh dari depan pintu kamar mandi dengan sepotong kue dan sebatang lilin kecil yang menyala.
Arjuna menatapnya terharu. Masih sempat-sempatnya Cilla memikirkan ulangtahunnya.
“Tahu aja Mas Juna belum tiup lilin.”
“Make a wish dulu sebelum tiup lilinnya,” ujar Cilla sambil tersenyum.
Arjuna menurut dan memejamkan matanya sebentar sebelum ia meniup lilin yang sudah disiapkan oleh Cilla.
“Untuk suami paling seksi, yang tiup lilinnya cuma pakai handuk doang.” Cilla langsung menyerahkan piring kuenya dan setelah berpindah tangan, Cilla pun menghambur dalam pelukan Arjuna.
“Semoga Mas Juna selalu diberi kesehatan dan harapan Mas Juna bisa jadi kenyataan,” ujar Cilla kembali dalam pelukan Arjuna.
“Semua mimpi Mas Juna sudah jadi kenyataan. Bisa memperistri Cilla dan sebentar lagi dikasih baby. Mas Juna berharap diberi kesehatan supaya bisa menjadi suami dan papi yang bertanggungjawab.”
“Duh terharu punya suami yang penuh cinta,” Cilla mendongak sambil terkekeh lalu berjinjit memberikan ciuman di bibir Arjuna.
Mendapat kesempatan untuk menyalurkan rasa rindu dan cintanya, Arjuna langsung menahan pinggang Cilla dengan satu tangannya dan membalas ciuman Cilla dengan ******* kasih sayang.
“Sebetulnya malam ini mau kasih hadiah yang lain, tapi Cilla kok berasa capek banget. Mungkin karena habis emosi terus sekarang bisa lepas jadi baru terasa capeknya.”
“Masih ada besok, Sayang. Kita pulangnya lusa aja. Malam ini kita bobo peluk aja. Mas Juna juga baru berasa capek. Senang bisa bertemu Cilla di hari spesial ini dan lega rasanya Cilla udah nggak marah lagi.”
“Kuenya harus dimakan besok pagi, ya !” tegas Cilla.
Arjuna mengangguk dan melepas pelukannya lalu meletakkan piring kue di meja lalu mengenakan pakaian yang disiapkan Cilla.
Begitu keduanya sudah berbaring di ranjang, tanpa ada yang memberi aba-aba, Cilla langsung masuk dalam pelukan Arjuna.
“Baby kangen tidur dipeluk sama papi,” ujar Cilla sambil tertawa.
“Maminya nggak ?” tanya Arjuna sambil mengusap kepala Cilla.
“Kalau yang itu nggak usah ditanya.”
“Papinya berkali-kali lipat kangennya dan menyesal udah berbohong sama mami.”
“Iihh aneh banget dengar Mas Juna panggil Cilla begitu. Berasanya kok tua banget, ya ?”
“Nggak terasa ya sebentar lagi kita akan jadi orang tua,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan. “Rasanya Mas Juna bahagia banget. Cilla bahagia nggak ?”
“Bahagia banget banget,” sahut Cilla sambil mendusel-dusel di dada Arjuna.
“Cilla, geli,” ujar Arjuna sambil tertawa.
“Wangi banget. Baru 2 hari nggak dipeluk rasanya kayak udah berbulan-bulan.”
“Nanti yang di bawah meronta-ronta nih,” ujar Arjuna saat Cilla mulai menciumi lehernya.
“Kasih pengertian kalau malam ini istirahat dulu.”
“Otomatis, susah disuruh diam aja,” sahut Arjuna sambil tertawa.
“Ya udah, kasihan nanti yang punya mesin kalau nyala otomatis.”
Arjuna tertawa lagi mendengar ucapan Cilla yang menghentikan aktivitasnya.
“Cilla, Mas Juna minta maaf banget ya karena sudah berbohong sama Cilla. Tapi demi apapun Mas Juna nggak ada maksud lain kecuali tidak ingin membuat emosi Cilla meningkat, apalagi kan saat ini Cilla sedang hamil.”
“Iya Cilla udah maafin, kok. Tapi awas kalau keterusan apalagi sering-sering, ya ! Bukan cuma ke Semarang Cilla kaburnya tapi langsung pindah planet.”
“Memangnya bisa ?” Ujar Arjuna sambil tergelak.
“Dibisain aja.”
“Ternyata hidup pernikahan itu tidak seindah upacara dan pestanya. Perjalanan dua pribadi untuk menjadi satu hati dan pemikiran banyak tantangannya. Sama seperti sekolah, setiap tahap ada ujiannya. Mas Juna berharap dan selalu berdoa supaya kita berdua bisa sama-sama melewati setiap tahap ujiannya dan menua bersama.”
“Iya, dan Cilla juga minta maaf sama Mas Juna karena setiap kali emosi tingkat tinggi, Cilla memilih lari dari kenyataan. Cilla masih harus membiasakan diri berani menghadapi kenyatan karena Cilla udah nggak sendirian lagi. Cilla akan punya keluarga kecil sendiri, ada Mas Juna, baby ini,” Cilla mengusap perutnya. “Dan kalau Tuhan kasih babies lainnya, Cilla nggak akan nolak.”
“Sebetulnya satu kondisi yang masih mengkhawatirkan Mas Juna dan sedikit membuat Mas Juna takut adalah saat Cilla masuk kuliah nanti. Cilla akan menemukan dunia baru sesuai usia Cilla. Mas Juna nggak keberatan sama sekali. Tapi Cilla juga akan menemui orang-orang baru. Mas Juna takut Cilla menyesal memutuskan menikah muda dan memilih Mas Juna yang posesif dan protektif ini. Cilla akan menemukan cowok-cowok baru yang pastinya akan ada yang lebih dari Mas Juna selain lebih muda.”
“Sama,” Cilla mendongak. “Saat ini pun Cilla sama takut dan khawatirnya kayak Mas Juna. Cilla suka merasa masih anak-anak banget, punya suami yang dewasa, keren, tampan dan mapan pula.
Jaman now banyak orang malah semakin merasa tertantang kalau bisa mengambil milik orang lain. Meski kadang tanpa cinta, mereka hanya ingin membuktikan diri demi perasaan sesaat saja.
Pasti Mas Juna juga banyak yang menggoda, apalagi Mas Juna masih kelihatan muda. Cilla kadang berasa khawatir. Takut Mas Juna berpaling dan capek punya istri yang belum bisa diajak diskusi soal pekerjaan dan kalau lagi ngambek pilih pergi menjauh dari Mas Juna.”
“Mas Juna berharap semua kekhawtiran kita ini membuat kita saling menjaga dengan rasa percaya satu sama lain. Maaf kalau Mas Juna sudah sempat membuat noda di atas kepercayaan Cilla.
Mas Juna akan lebih terbuka lagi sama Cilla dan jujur Mas Juna nggak menganggap Cilla anak-anak lagi meski umur Cilla baru akan 18 tahun.
Apa yang Cilla lakukan untuk Mas Juna benar-benar membuat Mas Juna kagum dan salut. Keberanian Cilla untuk menerima banyak hal termasuk kehamilan ini sungguh luar biasa di mata Mas Juna.”
“Mas Juna juga nggak boleh capek mengingatkan Cilla kalau lagi mode anak-anaknya keluar, ya. Cilla bahagia banget setiap kali mendapat nasehat dari Mas Juna.”
“Ngomong-ngomong, Cilla beneran tadi nongki bareng sama Glen di cafe ?”
“Nggak !” Cilla menggeleng sambil menatap Arjuna. “Cilla tuh kesal banget sama dia,” wajah Cillla terlihat kesal dan bibirnya mengerucut.
“Cilla tuh lagi menikmati es krim dan kue di cafe sambil melihat keramaian di Taman Srigunting, tahu-tahunya om itu main duduk aja di meja Cilla. Memang sempat ngomong tapi udah nggak dikasih ijin masih aja maksa.”
“Cilla tahu nggak kalau sekarang itu Cilla tambah cantik, tambah rnenarik dan seksi,” Arjuna berbisik dengan suara mendesah saat mengucapkan kata seksi.
“Pesona mama muda, ya ?” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Bukan gombalan, tapi beneran. Mas Juna makin sering melihat cowok-cowok seumuran Mas Juna suka melirik Cilla diam-diam. Apalagi melihat Cilla ramah dan mudah akrab dengan orang. Mereka seperti tertantang untuk mendapatkan peluang itu.”
“Cilla janji ke depannya nggak akan gampang tersenyum sama orang terutama kaum adam.”
Cilla mengangkat jari membentuk huruf V yang langsung ditangkup oleh jemari Arjuna.
“Bahkan tanpa senyum pun Cilla semakin menarik di mata kaum pria. Aura kecantikan Cilla makin bersinar, apalagi sejak hamil ini. Mas Juna yang posesif ini semakin khawatir sama Cilla apalagi kalau lagi jauh dari Mas Juna.”
“Mas Juna,” Cilla mengeratkan pelukannya. “Seperti yang Cilla bilang kalau saat kuliah nanti atau di waktu Cilla jauh dari Mas Juna, Cilla nggak bisa mencegah banyak orang untuk tidak menatap Cilla bahkan sampai menganggumi seperti yang Mas Juna takutkan. Begitu juga dengan ciwi-ciwi yang melihat Mas Juna terus jatuh cinta dan siap menggoda. Tapi Cilla sendiri bisa janji satu hal kalau Cilla akan menjaga hati ini hanya untuk Mas Juna seorang. Cilla akan terus mengingat bagaimana indahnya saat Cilla jatuh cinta pertama kali sama Mas Juna, perjuangan Cilla untuk bisa bersatu dengan Mas Juna dan kebahagiaan Cilla saat bersama dengan Mas Juna.
Semoga semuanya itu bisa semakin menambah Cinta Cilla setiap harinya sampai tidak akan bisa dihancurkan oleh badai, ombak ataupun hangus terbakar api.”
“Iya Mas Juna juga akan selalu mengingat bagaimana rasanya debaran hati ini saat memeluk Cilla supaya nggak ketabrak motor. Mas Juna nggak akan lupa gimana anak bebek kesayangan Mas Juna ini terus berceloteh soal hatinya yang jatuh cinta sama Pak Guru-nya,” Arjuna menjeda sejenak sambil tertawa.
“Mas Juna akan ingat bagaimana rasa sebalnya tapi sekaligus senang terus akhirnya kangen kalau nggak dengar kebawelan anak bebek Mas Juna ini.”
“Jadi kita sama-sama belajar dan akan sama-sama saling mengingatkan, ya ? Nggak boleh hanya menyimpannya dalam hati, tapi terbuka satu sama lain dan saling percaya. Hanya pengkhianatan yang bisa menghancurkan semuanya.”
Cilla mengangkat jari kelingkingnya yang langsung dibalas Arjuna hingga kedua jari mereka bertautan dan saling berjanji.
“Dan ke depannya, Cilla benar-benar hati-hati sama Glen, ya. Kok firasat Mas Juna agak nggak enak soal dia. Di depan Mas Juna aja dia berani terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Mas Juna hanya takut kalau Glen itu pria obsesi dan akhirnya berbuat yang nggak-nggak sama Cilla.”
“Iya, Cilla akan hati-hati. Cilla juga agak takut melihat cara dia menatap Cilla.”
Arjuna memeluk Cilla dan mempererat pelukannya, ingin memberikan kenyamanan dan rasa aman untuk Cilla.
Keduanya sempat terdiam dan tidak lama Arjuna merasakan nafas Cilla yang mulai teratur dan dengkuran halus keluar dari mulut Cilla.
“Anak bebek kesayangan Mas Juna benar-benar capek, ya ?” Arjuna bermonolog sambil membelai rambut Cilla.
”Pasti sempat susah tidur deh soalnya hatinya kesal banget,” lanjut Arjuna sambil terkekeh lalu mencium kening Cilla cukup lama.
“I love you so much, Cilla sayang. Semoga Mas Juna bisa menjadi suami yang membahagiakan Cilla dan papi yang membuat anak-anak kita bangga.”
Arjuna memejamkan mata dan ikut menyusul Cilla masuk ke dunia mimpi dengan perasaan yang tidak galau lagi.