MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Perasaan yang Tidak Enak


Hari kedua sekolah, Cilla sengaja datang lebih pagi lagi. Diantar oleh Bang Dirman, Cilla sudah sampai di sekolah jam 5.30 dan duduk diam di bangku dekat parkiran motor. Meski tahu Arjuna tidak pernah naik motor ke sekolah, tapi dari tempatnya duduk, Cilla bisa melihat ke arah gerbang sekolah dengan jelas.


 


Jovan yang sampai di parkiran sekitar jam 6 terlihat bingung melihat Cilla sedang duduk sendirian dengan pandangan ke arah gerbang.


 


“Elo ngapain di sini ?” Jovan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Cilla karena terlihat kalau sahabatnya itu tidak begitu memperhatikan orang-orang yang datang memarkir motor di dekat situ.


 


“Nungguin calon suami,” sahut Cilla dengan sedikit ketus.


 


 Hatinya memang mulai kesal karena tidak ada tanda-tanda kedatangan Arjuna. Bahkan saat Cilla kembali memeriksa handphone, posisi pesannya masih centang satu.


 


“Kenapa elo nggak ketemuin Pak Slamet aja dan tanya langsung ? Gue yakin kalau kemarin pagi Pak Juna datang langsung menemui Pak Slamet untuk minta ijin.”


 


“Tumben elo pinter hari ini ?” Cilla tersenyum, wajahnya sedikit lebih cerah.


 


“Ya ampun bocil, kalau gue kagak pinter mana bisa masuk IPA dan jadi ketos plus pria idaman para wanita,” sahut Jovan dengan wajah menyombong. Cilla hanya mencebik dan tersenyum mengejek.


 


Tanpa pamit pada Jovan, Cilla pun bergegas menuju ruangan Pak Slamet. Sayangnya kepala sekolah yang ingin ditemuinya itu baru datang sesudah makan siang karena ada rapat di Diknas dari jam 8 pagi.


 


Dengan sedikit penasaran, perlahan Cilla masuk ke ruangan Pak Slamet yang memang tidak terkunci. Rencananya ingin mencari-cari surat ijin Arjuna yang bisa memberikannya informasi berapa hari calon suaminya itu tidak masuk mengajar.


 


Matanya memicing saat melihat sebuah amplop di antara tumpukan map di sisi kanan meja Pak Slamet. Amplop dengan tulisan tangan Arjuna di depannya langsung menarik perhatian Cilla karena berada di paling atas.


 


Dengan sedikit nekat, Cilla pun membuka amplop dan membaca isi suratnya. Matanya sedikit membelalak karena ternyata isi surat itu menyatakan pengunduran diri Arjuna sebagai guru dan komitmennya untuk membayar ganti rugi karena telah melanggar perjanjian kerja.


 


Cilla yang sudah tahu kalau Arjuna akan berhenti menjadi guru karena memutuskan untuk menikahinya bulan depan merasakan sedikit kecewa.


Bukan karena Arjuna tetap memilih berhenti bekerja sebagai guru, tapi keputusan mengirimkan surat pengunduran diri secepat ini dan tidak dibicarakan dengannya. Paling tidak Arjuna bisa memberitahu terlebih dahulu kalau ia akan menemui Pak Slamet kemarin untuk menyampaikan maksudnya.


 


Cilla menghela nafas dan meletakan kembali amplop beserta surat yang sudah dimasukan kembal ke tempat semula. Dengan langkah gontai ia pun keluar meninggalkan ruangan Pak Slamet.


Meskipun beberapa guru sempat melihatnya, tidak ada satupun yang menegornya. Cilla sudah terbiasa bolak balik ke ruangan Pak Slamet. Bukan datang ke sana sebagai siswa bermasalah tapi hanya berbincang dengan Pak Slamet yang merupakan sahabat papi Rudi.


 


Sampai di kelas, Cilla banyak diam. Dono yang sempat mengajar di dua jam pelajaran pertama membiarkannya karena mengerti dengan kegalauan calon istri sahabatnya itu. Begitu juga dengan Febi dan Lili yang tidak ingin mengganggu Cilla.


 


Dan ternyata, sekolah dipulangkan lebih awal lagi. Hanya sampai jam isitrahat pertama sekitar jam 10, siswa diperbolehkan pulang karena guru-guru akan mengadakan rapat.


 


Jovan yang penasaran dengan kelanjutan masalah Cilla setelah mendatangi kantor Pak Slamet langsung berdiri di depan pintu kelas XII IPS-1. Dia menunggu ketiga sahabat itu keluar kelas.


 


“Coba gue lihat handphone elo, jangan-jangan masalah kirim pesan ke Pak Juna bukan karena gangguan sinyal, tapi handphone elo bermasalah,” Jovan menjulurkan tangannya meminta handphone milik Cilla untuk dilihatnya.


 


“Tapi semalam gue masih chatting sama Febi dan Lili, nggak ada masalah. Hanya kiriman pesan ke Amanda sama Mas Juna aja yang nggak bisa,” keluh Cilla.


 


Jovan meminta Cilla membuka kunci handphonenya dan langsung masuk ke aplikasi pesan.


 


“Pesan elo udah dibalas nih sama Amanda, tapi yang ke Pak Juna masih centang satu,” ujar Jovan saat membuka sejarah pesan di aplikasi Cilla.


 


Cilla menautkan alisnya begitu juga dengan Febi dan Lili. Tidak lama Jovan memperlihatkan layar handphone ke hadapan wajah Cilla.


 


“Sampai akhir jaman pesan elo udah pasti nggak terkirim. Status nomor elo diblokir sama Pak Juna. Profil Pak Juna aja udah nggak bisa dilihat.”


 


“Eh kok diblokir ?” Lili yang langsung nyeletuk dengan alis menaut.


 


“Mana gue tahu, kan nggak ada pemberitahuan apapun,” sahut Jovan.


 


Cilla menghela nafas dan raut wajahnya terlihat kesal.


 


“Bisa minta tolong ?” Cilla menatap Jovan dengan wajah memohon.


 


“Asal nggak melanggar hukum,” sahut Jovan asal.


 


“Anterin gue ke kantornya Mas Juna,” Cilla langsung menarik lengan kemeja Jovan menuju tangga turun.


 


“Eh iya gue anterin, tapi jangan ditarik begini. Kalau sobek, mami nggak bakal beliin lagi soalnya udah mau lulus.”


 


“Dasar orang kaya pelit !” cebik Febi dari belakang mereka.


 


“Bukan pelit, “ sahut Jovan sambil merapikan kerah kemejanya yang ikut tertarik oleh Cilla. “Tapi penghematan. Dan elo tahu kan kalau hemat itu pangkal kaya,”


 


“Udah cepetan !” omel Cilla saat mendengar Jovan masih mengoceh dengan dua sahabatnya.


 


 


Dan akhirnya dengan sedikit pemaksaan, Cilla yang akhirnya memutuskan membeli celana olahraga baru di koperasi plus helm di dekat sekolah, diantar juga oleh Jovan ke kantornya Arjuna juga papa Arman. Soal posisi gedung kantornya, Cilla menggunakan aplikasi peta yang ada di handphone. Tidak sulit mencari alamat dan lokasi kantor PT Indopangan.


 


Sekitar jam 10.30, motor sport Jovan berhenti di depan lobby. Hanya Cilla yang turun duluan, sementara Jovan masih di atas motor dan hanya membuka kaca helmnya.


 


“Gue tunggu di lobby aja, ya. Nanti malah gue ngiler kalau lihat elo peluk-pelukan sama Pak Juna,” ujar Jovan. “Terus kalau gue nggak perlu nunggu, jangan lupa kabarin juga.”


 


“Ya udah,” Cilla menyerahkan helmnya pada Jovan. Ia sempat merapikan pakaiannya. Beberapa orang yang lalu lalang di situ sempat memperhatikan gadis berpakaian SMA belapis celana olahraga berdiri di depan lobby perusahaan besar ini.


 


Cilla memegang dadanya yang berdebar. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke kantor milik calon mertuanya. Cilla sempat melirik beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.


 


“Mau cari siapa, dek ?” seorang petugas keamanan mendekat saat Cilla tampak bingung harus menemui siapa dulu di sini.


 


“Saya mau ketemu dengan Pak Arjuna, Pak,” sahut Cilla sambil tersenyum kikuk.


 


 


“Kalau untuk keperluan magang, biasanya cukup bertemu dengan Bu Resti dan nggak perlu sampai menemui Pak Arjuna.”


 


Meski masih dengan nada sopan namun ucapan petugas keamanan itu membuat Cilla memutar bola matanya. Bukan karena merasa disepelekan sebagai calon istrinya Arjuna, tapi mana mungkin juga anak SMA yang mau magang penampilannya seperti kondisi Cilla sekarang.


 


“Saya bukan mau magang, Pak,” sahut Cilla kalem dengan senyuman. “Saya masih kerabatnya Pak Arjuna.”


 


Perasaan Cilla mulai tidak nyaman saat petugas tadi dengan dahi berkerut meneilsiknya dari atas ke bawah. Tidak lama seorang petugas lainnya datang mendekat dan bertanya pada temannya yang sedang berhadapan dengan Cilla.


 


Meski suara mereka tidak terdengar, tapi Cilla sudah bisa menduga kalau keduanya sedang membicarakan dirinya yang pasti dianggap aneh.


 


“Sebetulnya keperluan adek datang kemari untuk apa ?” petugas yang baru datang mendekati Cilla dengan senyuman yang terlihat palsu di mata Cilla.


 


Cilla kembali memutar bola matanya, meski ia mengerti kalau Arjuna bukanlah orang sembarangan yang bisa ditemuinya, tapi jangan juga memperlakukan orang lain dengan tatapan yang menjengkelkan itu.


 


“Saya ini…”


 


“Cilla !” panggilan dari dalam gedung membuat ketiga orang yang berdiri di pintu lobby menoleh.


 


“Om Tino !” wajah Cilla langsung sumringah mendapati orang yang mengenalnya ada di dekat situ.


 


“Kok tumben datang kemari ? Kangen sama Pak Juna, ya ?” ledek Tino.


 


Cilla hanya senyum-senyum tanpa memberikan jawaban apapun.


 


“Cilla mau kasih kejutan. Om Tino jangan kasih tahu Mas Juna kalau Cilla kemari, ya,” Cilla mendekati Tino dan berbisik pelan. Tidak lama Jovan ternyata sudah menyusulnya ke lobby.


 


“Kok nggak masuk. Cil ?” tanya Jovan. Tino menautkan alisnya saat melihat Jovan masih mengenakan seraham SMA juga.


 


“Kenalin ini Jovan, sahabat aku dan murid kesayangannya Mas Juna. Dan ini Om Tino, asisten kesayangannya Mas Juna.”


 


Cilla memperkenalkan kedua pria itu yang langsung bersalaman. Akhirnya tanpa banyak basa-basi, Tino langsung mengajak keduanya masuk ke dalam gedung. Kedua petugas keamanan tadi terlihat bengong dan wajah mereka berubah menjadi tidak enak.


 


“Harap dihafal wajahnya gadis itu,” ujar Tino pada kedua petugas tadi. Cilla dan Jovan sudah jalan terlebih dahulu. “Itu calon istriya boss,” lanjut Tino.


 


Kedua petugas keamanan tadi langsung tercengang, tidak menyangka kalau calon istri boss mereka adalah anak SMA dengan tubuh mungil seperti Cilla.



Akhirnya hanya Cilla yang ikut Tino naik ke atas menuju ruangan Arjuna. Jovan tetap kekeuh menunggu di lobby saja. Tino sempat meminta reseprionis untuk menyediakan minuman dan berpesan kalau Jovan adalah tamu penting Arjuna dan Pak Arman pemilik perusahaan.


 


“Om Tino beneran nggak kasih tahu Mas Juna, kan ?” Cilla memastikan pada asisten Arjuna itu saat mereka sudah sampai di lantai 10, dimana ruangan Arjuna dan papa Arman berada.


 


“Memangnya dalam rangka apa mau kasih kejutan buat Juna ?” ledek Tino.


 


“RAHASIA !” ujar Cilla penuh penekanan sambil terkekeh.


 


Sampai di depan ruangan Arjuna, Tino sempat mengernyit karena tidak menemukan Yola, sekretaris yang membantu tugas-tugas adiministrasi di depan ruangan Arjuna. Namun berpikir mungkin saja sedang ke pantri atau toliet, Tino hanya diam saja.


 


 Cilla meletakan telunjuk di bibirnya supaya Tino juga jangan bersuara, bahkan ia melarang Tino mengetuk pintu ruangan Arjuna dengan alasan kejutan tadi.


 


Tino tersenyum dan mengangguk. Perlahan tangannya memegang handel pintu dan Cilla mulai berhitung, Tepat hitungan ketiga, Tino membukakan pintu untuk Cilla.


 


Mata Cilla langsung membelalak mendapati pemandangan di depannya. Terlihat Arjuna sedang berciuman dengan seorang wanita dengan posisinya sedikit membungkuk ke arah wanita itu. Tidak tanggung -tanggung, ciumannya di bibir bukan pipi atau kening.


 


Cilla menutup mulutnya. Hatinya yang sudah berdebar tidak menentu sejak tahu nomornya diblokir oleh Arjuna semakin tidak menentu. Tubuhnya bergetar dan tangannya langsung panas dingin.


 


“Juna ! Yola !” teriak Tino yang ikut menyaksikannya di belakang Cilla.


 


Arjuna menoleh dan matanya terkejut menatap Cilla ada di pintu. Reflek tangannya mendorong wanita di depannya saat melihat Cilla berlari menjauh dari pintu ruangannya.


 


“Jam berapa meeting hari ini ?” Arjuna sempat berhenti di depan Tino.


 


“Bukan meeting yang perlu elo pikirin sekarang, tapi masa depan elo !” seru Tino dengan wajah kesal. Arjuna menghela nafas dan bergegas keluar.  


 


Cilla yang sudah sampai di depan lift masih sempat berpikir kalau dirinya tidak akan mampu menghindar dari Arjuna kalau harus menunggu lift. Otak warasnya masih mampu berpikir dan pandangannya langsung  beredar.


 


Matanya menangkap ada pintu darurat yang tidak jauh dari lift. Melihat sosok Arjuna mulai terlihat sedikit di lorong, Cilla mendekati pintu darurat. Dia menunggu beberapa saat lalu membuka pintu itu.


 


Arjuna yang tiba di situ ikut membuka pintu darurat karena yakin kalau calon istrinya memilih turun lewat jalan itu.


 


Cilla yang ternyata bersembunyi, bergegas menutup rapat pintu darurat dan menguncinya dari dalam, lalu ia berlari menuju lift yang baru saja tiba di lantai 10 dan langsung terbuka pintunya.


 


Sementara di ruangan tangga darurat, Arjuna menyadari kalau Cilla baru saja mengerjainya karena saat matanya melongok ke bawah, tidak ada suara kaki menuruni tangga atau tanda-tanda Cilla ada di sana.


 


“Sh**t” makinya pada diri sendiri. Ia pun balik menaiki tangga menuju lantai 10.


 


Matanya membelalak saat tidak mendapati handel pintu dari sisi tempatnya berdiri. Arjuna lupa kalau kondisi pintunya memang dibuat demikian supaya tidak sembarangan orang bisa masuk ke lantai 10 lewat pintu darurat.


 


Arjuna menggedor-gedor pintu tebal dan berharap Tino sadar kalau bossnya sedang terjebak di sini. Arjuna merogoh kantong celananya dan kembali memaki sendiri. Ia lupa kalau handphonenya jatuh di lantai karena terlalu terkejut saat Yola menarik dasinya dan tanpa permisi mencium bibir Arjuna.