MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Perang Dingin


Sudah beberapa hari ini Cilla menghindari Arjuna. Kebetulan juga beberapa terakhir sejak pertengkaran di kantor, Arjuna selalu pulang di atas jam 9 malam.


Awalnya ada rasa khawatir dalam hati Cilla, namun Tino dengan setia melaporkan secara diam-diam semua kegiatan Arjuna, hingga membuat hati Cilla tenang. Bahkan saat di akhir pekan Arjuna harus bekerja, Tino dengan setia menemani demi menjaga perasaan hati boss sekaligus sahabatnya supaya tidak melenceng kemana-mana.


Mama Diva mulai membujuk Cilla untuk tinggal bersama mereka namun sementara ini ditolak oleh Cilla dengan alasan masih mengurus barang-barang papi. Cilla tidak ingin kedua mertuanya tahu masalah perang dingin yang sedang terjadi di antara Cilla dan Arjuna.


“Besok mama meminta kita datang dan menginap semalam di sana,” ujar Cilla mendekati Arjuna yang sedang sibuk di ruang kerjanya.


Jam 4 sore tadi Tino sudah mengantar Arjuna balik ke rumah. Arjuna sempat tertidur sesudah mandi dan tidak bisa dihindari kalau malam ini, ia harus makan malam semeja dengan Cilla.


“Nggak bisa nginap. Senin pagi Mas Juna harus ke Batang meninjau proyek. Papa pasti tahu juga masalah itu.”


“Mas Juna nggak pergi sama papa ?” tanya Cilla dengan nada pelan dan sedikit kecewa karena selama percakapan, Arjuna hanya menatap laptop di depannya.


“Nggak, pergi sama Sebastian Pratama.”


“Om Tino nggak ikut ?”


“Nggak, kemungkinan Luki yang akan ikut.”


“Kenapa Om Luki ?” Cilla menautkan alisnya. Hatinya berdebar takut salah mengajukan pertanyaan.


“Pabrik yang di Batang akan mempergunakan sistem keuangan yang dimiliki oleh perusahaan tempat Luki bekerja.”


“Ooo oke,” Cilla mengangguk-angguk lalu kembali menghela nafas karena Arjuna masih belum menatapnya.


“Mas Juna masih marah soal Hotel Prisma ?” tanya Cilla takut-takut.


“Nggak !”


“Kalau Mas Juna masih kayak begini lebih baik permintaan mama Cilla tolak,” sahut Cilla dengan nada mulai kesal.


“Kenapa ? Sengaja nggak mau ketemu orangtua Mas Juna ?” Arjuna mendongak dan menatap tajam ke arah Cilla.


Cilla mengepalkan kedua tangannya di samping dan menggigit bibirnya berusaha menahan emosi.


“Susah banget ngomong sama Mas Juna. Cilla mau banget ketemu papa, mama dan Amanda, tapi nggak dalam keadaan kita seperti ini.”


Arjuna hanya terdiam dan menghela nafas panjang sambil memandang ke lain arah.


“Tanah makam papi masih basah karena belum sampai 40 hari papi meninggalkan Cilla. Kalau Cilla bisa membeli waktu, Cilla akan minta papi mengubah semua rencana papi. Cilla kecewa banget sama Mas Juna karena mempermasalahkan hal yang tidak mungkin dirubah karena papi sudah tidak ada. Cilla sedih banget Mas Juna tidak bisa menerima keputusan papi yang udah nggak bisa diapa-apain lagi. Maaf kalau papi dan Cilla udah mengecewakan Mas Juna.”


Cilla langsung berlari keluar dengan deraian air mata dan menutup pintu ruang kerja dengan cukup keras.


Arjuna menarik nafas panjang dan menutup laptopnya sambil memikirkan ucapan Tino dan Theo yang banyak memberikannya nasehat. Semua ini memang bukan salah Cilla dan entah kenapa Arjuna masih saja terbawa emosi setiap bicara dengan Cilla.


“Den Juna,” suara Bik Mina disertai ketukan pintu membuat Arjuna bergegas bangun. Belum sampai Arjuna membuka pintu, Bik Mina lebih dulu membuka pintu dengan wajah cemas.


“Non Cilla baru aja pergi naik motornya. Toga udah berusaha mencegah, tapi Non Cilla tetap nekad pergi.”


Arjuna melihat jam dinding yang tergantung di ruangan. Jam sembilan lewat lima. Arjuna menghela nafas. Sepertinya kemarahannya memang sudah kelewat batas hingga Cilla tidak tahan lagi. Selama Arjuna jarang bicara, Cilla masih tetap di rumah menjalankan tugasnya sebagai istri.


“Minta Dirman menemani saya cari Cilla, Bik.”


Bik Mina mengangguk dan langsung memanggil Bang Dirman dan Bang Toga sementara Arjuna naik ke lantai dua untuk berganti pakaian.


“Tolong kabarkan saya diam-diam kalau Cilla sudah pulang. Saya sama Dirman cari Cilla dulu,” ujar Arjuna sebelum masuk ke dalam mobil yang disetiri Bang Dirman.


Sejak tadi panggilan telepon Arjuna tidak diangkat, bahkan satu menit terakhir, Cilla menonaktifkan handphonenya hingga Arjuna sulit melacak keberadaan Cilla.


☘️☘️☘️


“Tolong jangan bilang Mas Juna kalau Cilla ada di sini,” kedua tangan Cilla mengatup memohon pada Theo yang mendapat panggilan telepon dari Cilla.


Keduanya bertemu di salah satu cafe yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka dan belum pernah didatangi Arjuna bersama teman-temannya.


“Kenapa Jun ?” ujar Theo saat menerima panggilan Arjuna.


“Gue nggak tahu dia dimana. Cilla memang sepupu gue, tapi kan dia istri elo, seharusnya elo yang lebih tahu dimana tuh bocah.”


“Elo dimana ?”


“Gue masih meeting sama klien di dekat kantor.”


“Bisa shareloc ? Ada yang mau gue omongin.”


“Nggak bisa Jun, gue lagi meeting penting. Bukan cuma membahas masa depan perusahaan, tapi juga masa depan gue. Udah deh jangan ganggu.”


Theo langsung menutup sambungan teleponnya dengan Arjuna dan menatap Cilla yang duduk di aeberangnya.


“Ini apaan ?” dahi Theo menaut saat Cilla menyodorkan satu amplop coklat berukuran folio ke hadapan Theo.


“Cilla titip aja sama Kak Theo, tolong jangan banyak tanya. Kasih kepada yang berkepentingan kalau sampai ada apa-apa sama Cilla.”


“Kamu ngomong apaan sih ?” Theo menjawab dengan wajah kesal dan nada gusar. “Jangan bilang kamu ada niat mau bunuh diri segala.”


“Duh amit-amit deh, Kak Theo,” Cilla mengetuk-ngetuk meja di depannya. “Jauh-jauh dari pikiran yang satu itu. Bunuh diri itu adalah dosa paling besar dan susah diampuni.”


“Terus ini kapan diperlukan ?”


“Kan Cilla titip kalau diperlukan aja baru Kak Theo kasih ke orangnya.”


“Kalau kondisi Arjuna masih up and down kayak gini, kenapa nggak kamu tinggal sementara dulu aja dengan sekolah di UK. Sayang kan kamu udah dapat beasiswa di sana,” ujar Theo.


“Lari dari masalah itu bukan jalan keluar terbaik, Kak Theo. Kalau status Cilla masih sekedar pacarnya Mas Juna mungkin akan Cilla pertimbangkan. Tapi Cilla ini sudah istrinya Mas Juna jadi Cilla harus bertanggungjawab dengan keputusan Cilla sendiri dan belajar menjadi istri yang baik.”


“Terus kamu di sini bukannya melarikan diri juga ?”


“Ya nggak lah, ini namanya mencari ketenangan diri dulu biar nanti pas pulang udah nggak emosi lagi menghadapi Mas Juna yang masih uring-uringan.”


“Suami kamu tuh ya.. udah umur segitu masih aja suka up and down. Gampang emosi, posesif dan kalau udah ngambek susah banget ademnya.”


“Mungkin karena itu kita cocok sampai sekarang,” sahut Theo ikut tertawa. “Benar juga sih kata kamu. Memang awalnya grup kita tuh cuma aku, Arjuna, Luki dan Boni.”


“Tuh bener, kan ?” Cilla mencibir sambil tertawa.


“Ya udah, terus kamu mau balik jam berapa ? Udah mau jam setengah sebelas. Kak Theo ngantuk nih.”


“Dih kalau sama Cilla aja ngantuk. Kalau nanti punya pacar, disuruh nonton pentas wayang orang semalaman pasti dipaksa-paksa melek.”


“Ya bedalah Cilla,” Theo melotot sambil mencubit salah satu pipi Cilla membuat gadis itu meringis. “Kalau pacar kan bisa ayang-ayangan, peluk-peluk, nah kalau sama kamu kan mana bisa. Baru ngerangkul bahu aja, mata Arjuna udah melotot lebih dari ikan koi.”


“Kalau dipikir-pikir, Cilla kasihan sama Mas Juna. Kelihatan cukup stres dengan pekerjaannya cuma suka ditutupin aja. Mas Juna berusaha biasa-biasa aja di depan Cilla. Ngerti juga sih kalau Mas Juna kecewa, udah belajar capek-capek masalah perhotelan, eh tahu-tahunya tugasnya dialihkan ke Kak Theo.”


“Dasar bucin Arjuna. Dibuat sakit hati tapi masih kasihan. Aku tuh udah jelasin ke Arjuna kenapa om Rudi ganti surat kuasanya pindah ke aku. Itu semua demi membuat Arjuna nyaman dan nggak pusing menghadapi om Eka dan Riana yang terlalu agresif. Seharusnya Juna bersyukur karena beban soal Riana bisa disingkirkan dalam hidup kalian. Lagipula cukup dengan melihat kelakuan Riana di pesta pernikahan kalian, om Rudi sudah bisa membaca gelagat Riana.”


“Kak Theo udah bilang begitu sama Mas Juna ?”


“Udah,” Theo mengangguk. “Arjuna aja yang masih kayak cewek pms, sensi dan baper.”


“Makasih ya udah bantuin ngomong sama Mas Juna,” sahut Cilla dengan senyum mengembang.


“Jadi udah nggak mau mewek lagi ?” ledek Theo.


“Dih namanya juga emosi,” wajah Cilla langsung cemberut.


“Ayo aku antar pulang,” Theo beranjak bangun dan langsung ke kasir membayar pesanan mereka.


“Kak Theo nggak usah antar Cilla, Cilla bawa motor kok. Belum jam 12, jadi aman pulang sendirian.”


“Nggak bisa ! Bukan karena takut Arjuna marah tapi aku bakalan menyesal seumur hidup kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, bocil.” Theo mengacak-acak rambut Cilla.


“Cilla bisa sendiri. Bye,” Cilla bergegas meninggalkan Theo tapi tangan Theo lebih cepat terulur menahan penutup hoodie yang dipakai Cilla.


“Nggak bisa. Pilihannya aku antar atau Arjuna jemput,” tegas Theo dengan mata melotot.


“Nggak dua-duanya karena kalau begitu Mas Juna akan tahu Cilla ketemu sama Kak Theo.”


“Kalau nggak mau, amplop ini aku kasih Juna sekarang aja, ya,” Theo memperlihatkan amplop yang diberikan oleh Cilla.


“Eh jangan !” Cilla langsung mengangkat tangannya lalu menangkupnya, memohon pada Theo.


“Kalau gitu nurut aja !”


Cilla menghela nafas dengan wajah cemberut dan membiarkan Theo menuntunnya ke dalam mobil yang dibawa Theo.


“Kok nggak jalan-jalan ?” Cilla menautkan alisnya saat Theo malah duduk terdiam setelah menyalakan mesin mobil.


“Sebentar, Kak Theo ngantuk banget, mau merem sebentar aja.”


“Kalau gitu Cilla aja yang setir sampai ke rumah dan kak Theo tidur aja. Habis dari rumah Cilla kan udah nggak jauh ke rumah Kak Theo, pasti udah segar juga.”


Theo mengabaikan omongan Cilla, malah merebahkan kursi pengemudi yang didudukinya dan mulai merebahkan tubuhnya.


Cilla hanya menarik nafas dengan mulut yang kembali cemberut. Kalau tahu begini lebih baik Cilla pulang naik motor, gerutunya dalam hati.


Cilla tampak terkejut saat kaca di sebelahnya diketuk saat Cilla baru saja menyalakan kembali handphonenya.


Theo yang ternyata tidak tidur langsung membuka kunci pintu mobil dan sosok Arjuna langsung membuka pintu sisi tempat Cilla duduk.


“Kak Theo, iihh !” Cilla memukul bahu sepupunya.


“Lebih baik kamu pulang sama Arjuna, aku lebih tenang dan menghemat waktu juga. Udah ngantuk berat nih.”


Cilla menghela nafas panjang dan tidak memberontak saat Arjuna menggandeng tangannya untuk turun dari mobil.


“Thanks Yo,” ujar Arjuna dari sisi yang diduduki Cilla


“Untung gue yang nemuin bukan sama cowok lain,” ledek Theo sambil mencibir.


“Iya, thankyou so much,” Arjuna tersenyum di balik jendela yang terbuka sementara pintu mobil Theo sudah tertutup rapat.


“Kak Theo terima kasih.”


Theo hanya melambaikan tangan dan menjalankan mobilnya meninggalkan Cilla dan Arjuna.


“Kunci motor Cilla dimana ? Biar Bang Dirman yang bawa motor Cilla, kita pulang naik mobil.”


“Nggak usah ! Kasihan Bang Dirman nggak bawa jaket dan helm. Tadi Cilla udah titip juga sama pemilik cafe, katanya nggak apa-apa diambil besok.”


“Boleh minta kunci motornya, Non ?” Bang Dirman sudah turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada Arjuna.


Cilla mengernyit saat mendapati Bang Dirman sudah memakai jaket dan membawa helm.


“Udah jaga-jaga kalau sampai ketemu Non Cilla, Bang Dirman yang bawa pulang motor biar Non Cilla pulangnya sama Den Juna.”


Cilla menghela nafas dan dengan sedikit tidak rela, ia mengeluarkan kunci motornya dari dalam tas lalu menyerahkannya pada Bang Dirman.


“Bang Dirman hati-hati soalnya udah malam,” pesan Cilla.


“Siap non !”


Cilla tertawa saat Bang Dirman memberi hormat padanya.


Arjuna tersenyum melihatnya. Ternyata sudah beberapa minggu Arjuna tidak pernah lagi mendengar Cilla tertawa lepas seperti itu.


“Mas Juna apa-apaan sih !” Cilla memberontak berusaha melepaskan diri dari Arjuna yang semakin erat memeluknya.


“Maaf,” ujar Arjuna. “Maaf atas sikap Mas Juna belakangan ini. Seharusnya Mas Juna lebih banyak memeluk Cilla daripada membiarkan rasa kesal tetap bersarang di hati Mas Juna. Rasanya semua rasa capek Mas Juna langsung hilang memeluk Cilla seperti ini.”


Cilla hanya tersenyum getir di dalam pelukan Arjuna tanpa bicara apapun.