MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pertemuan Keluarga


Cilla mengernyit saat mobil Theo membawanya ke arah lain, bukan jalan menuju rumah Tante Siska. Apalagi akhirnya masuk pelataran parkir sebuah restoran.


“Loh katanya mau ketemu Tante Siska ?” Cilla mengernyit dengan wajah bingung menatap Theo.


“Iya ini mau ketemu mami. Memangnya nggak boleh kalau ketemuannya di restoran ?”


“Boleh-boleh aja…. Tapi Cilla sudah membayangkan makan siang dengan menu masakan Tante Siska.”


“Sama enaknya, yang penting perut kenyang,” sahut Theo sambil tertawa.


Keduanya memasuki restoran yang belum pernah didatangi Cilla. Seorang pelayan mengantar mereka menuju satu ruangan VIP yang ternyata sudah dipesan oleh Theo.


“Papi !” pekik Cilla saat melihat papi Rudi sudah duduk berhadapan dengan Tante Siska dan seorang pria asing sambil mengobrol.


“Hai sayang,” Tante Siska langsung menghampiri Cilla dan memeluk gadis itu. “Apa kabarnya ?”


“Cilla baik, Tante,” sahutnya sambil tersenyum.


Berdua mereka mendekati meja diikuti Theo di belakangnya.


“Kenalkan ini papinya Theo,” Tante Siska memperkenalkan Cilla pada pria yang masih asing untuk Cilla.


“Apa kabar Om Rio ?” Sapa Cilla sambil tersenyum.


“Wah ternyata kamu sudah tahu nama Om padahal kita belum pernah bertemu,” sahut Om Rio sambil tertawa dan membalas uluran tangan Cilla.


Mereka pun duduk satu meja dengan formasi Cilla di sebelah Tante Siska dan Theo di sebelah papi Rudi, sementara Om Rio duduk di ujung meja.


“Jadi papi sudah lama tahu kalau Tante Siska sudah kembali ke Jakarta ?”


“Belum,” papi Rudi menggeleng. “Baru beberapa hari yang lalu Theo menemui papi di kantor dan menjelaskan semuanya. Kebetulan salah satu proyek papi menggunakan jasa konstruksi milik Om Rio.”


“Jadi papi sudah kenal Kak Theo tapi nggak tahu kalau cowok keren ini anaknya Tante Siska.”


“Wuuihhh ngaku juga kalau aku ini cowok keren, bukan Arjuna aja yang keren,” ledek Theo.


“Iihh siapa yang bilang kalau Mas Juna….eeehh…” Cilla tertawa kikuk sambil menatap papinya. “Maksud Cilla Pak Arjuna.”


Theo langsung tergelak meihat sikap canggung Cilla di depan papinya.


“Nggak apa-apa mau nyebut guru kamu itu dengan sebutan Mas Juna. Papi juga nggak melarang kamu pacaran sama dia, tapi biar Arjuna selesaikan dulu masalahnya dengan papanya bahkan kalau perlu sampai Arjuna mau balik kembali ke rumah orangtuanya,” ujar papi Rudi untuk menenangkan hati Cilla.


“Mas Juna lagi nyebelin banget,Pi,” sungut Cilla dengan wajah cemberut. “Malah hari Rabu kemarin marah-marah sama Cilla di depan kelas.”


Theo semakin tertawa melihat wajah adik sepupunya itu.


“Sejak kapan kamu panggil Arjuna dengan sebutan Mas Juna ? Udah siap dikawinin ?” ledek Theo.


“Gara-gara guru galak itu marah-marah pas Cilla lagi ketemu teman cowok. Padahal ngobrol juga di tempat umum, terbuka dan ramai pula. Diledekin sama teman Cilla langsung kabur. Memang hobinya lari dari kenyataan.”


“Kamu sih kenyataannya… Cewek bawel, pendek, jelek, hidup lagi,” ledek Theo.


“Diihh berani ngatain Cilla di depan papi. Omelin Kak Theo tuh, Pi !”


Para orangtua hanya ikut tertawa melihat percakapan kedua saudara sepupu itu.


“Kalau Arjuna cemburu, berarti dia sayang banget sama kamu, Cilla,” nasehat Tante Siska sambil menepuk-nepuk tangan Cilla.


“Malah setahu Tante, selama pacaran sama Luna belum pernah lIhat Juna ngambek gara-gara cemburu. Benar kan, Theo ?”


Theo mengangguk sambil tertawa.


“Sepertinya cuma kamu yang bisa buat Arjuna sampai manyun dan cemberut, Cil. Luna membuatnya marah karena sering mengabaikan Juna, tapi nggak sampai buat Arjuna menekukkan wajahnya persis seperti baju belum disetrika.”


“Beneran, Kak ?” tanya Cilla sambil mengangkat alisnya.


“Jangan terlalu lama menyembunyikan kebenaran darinya, nanti keburu Arjuna nya menyerah dan memadamkan cintanya sama kamu,” nasehat Tante Siska.


“Duuhh, jangan sampai dong Tante, Cilla jadi deg deg kan nih. Kalau masalah sandiwara di depan Mas Juna, Cilla tergantung papi sama Om Arman.”


“Papi juga tergantung Om Arman, Cilla. On Arman sendiri yang meminta papi supaya jangan memberitahukan Arjuna saat ini,” jelas papi Rudi.


Tidak lama pelayan membawakan pesanan mereka. Topik pembicaraan pun beralih ke masalah internal keluarga mereka.


Tante Siska menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya sama seperti yang sudah pernah Cilla dengar saat pertama kali dipertemukan dengan Tante Siska.


“Maafkan aku karena terlalu keras pada Sylvia, Rudi. Mungkin kalau aku masih membuka komunikasi dengan Sylvia, adikku tidak akan pergi secepat ini,” ujar Tante Siska dengan nada sedih dan wajah sendu.


“Aku juga minta maaf karena menerima pemberian ginjal Sylvia. Dan terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan aku yang telah merampas Sylvia dari hidupmu.”


“Setidaknya Sylvia bahagia hidup denganmu, apalagi sampai memiliki putri yang begitu mirip dengannya.”


“Ya, setiap kali melihat Cilla, rasanya aku seperti melihat Sylvia saat pertemuan pertama kami,” ujar papi Rudi dengan senyum bahagia.


“Semula aku pikir kalau Cilla bukanlah anak Sylvia, karena aku dengar kalau adikku itu sempat susah punya anak dan orangtuamu menyarankan untuk membeli rahim,” ujar Tante Siska dengan wajah sendu.


“Tentu saja aku tidak mau Sis,” sahut papi Rudi cepat. “Aku benar-benar mencintai Sylvia, bukan hanya karena ia sudah mendonorkan ginjalnya. Aku tidak akan pernah mengkhianati apalagi menduakannya. Saat itu aku rela meninggalkan rumah dan berusaha sendiri.”


“Bagaimana mungkin bisa menyangkal kalau Cilla adalah anak Sylvia. Mereka seperti bayangan cermin, sampai tinggi badan mereka juga sama. Jadi saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku yakin kalau Cilla adalah anak kandung Sylvia.”


“Apa mami begitu mirip dengan Cilla saat SMA, Tante ?”


“Secara fisik mirip,” sahut Tante Siska sambil mengangguk. “Tapi kalau bawelnya nggak ada miripnya sama sekali,” lanjutnya sambil tertawa pelan.


“Papi juga bingung kamu bisa bawel begitu. Entah menurun dari siapa sifatmu itu,” timpal papi Rudi sambil tertawa.


“Makanya Cilla dapat sebutan anak bebek dari Arjuna, Om,” ledek Theo.


“Itu sih bisa-bisanya Mas Juna aja,” ujar Cilla dengan wajah cemberut. “Awalnya maksud Mas Juna itu aku ini anak bebek di cerita Ugly Duckling.”


Semuanya tertawa melihat reaksi Cilla, membuat gadis itu malah merasa bahagia karena punya keluarga kembali.


Bahagianya jika hidup mampu memaafkan dan menjauhkan hati dari perasaan dendam dan benci. Cilla berharap hubungannya dengan papi Rudi bisa semakin baik dan tidak lagi saling menjauh.


Sekitar jam setengah enam sore acara peremuan keluarga itu berakhir. Cilla memeluk satu persatu yang ada di situ kecuali papi Rudi.


Sifat manja Cilla sebagai gadis remaja dan anak tunggal mulai terlihat saat berkumpul dengan keluarga yang sempat hilang dalam hidupnya.


“Jangan lupa sering-sering main ke rumah, apalagi kalau papi kamu sedang keluar kota,” pesan Tante Siska sebelum mereka berpisah.


“Siap-siap masak yang banyak kalau Cilla datang, Tan,” seloroh Cilla sambil tertawa.


“Tenang aja Cil,” Theo yang menyahut. “Mami pasti sediakan dari makan pagi sampai makan malam.”


Ketiganya tergelak sementara papi Rudi dan om Rio sedang terlibat dalam pembicaraan yang sepertinya cukup serius.


Selesai saling berpamitan, Theo yang membawa mobil sendiri, mengantar Cilla sampai ke mobil papi Rudi. Sementara om Rio dan Tante Siska sudah meninggalkan restoran dengan mobil yang dibawa oleh sopir.


“Kak Theo,” panggil Cilla sebelum masuk ke dalam mobil. Theo tidak menjawab hanya mengangkat alisnya.


“Cilla mau minta tolong. Selama om Arman belum kasih lampu hijau soal hubungan Cilla dengan Mas Juna, tolong jangan panggil papi dengan nama Rudi, tapi Pak Darmawan. Karena setahu Cilla, om Arman memberitahu nama sahabatnya itu Rudi. Nanti Mas Juna malah curiga.”


“Oke ! Aku akan ingat-ingat soal ini,” sahut Theo sambil tersenyum. Ia menutupkan pintu mobil untuk Cilla setelah gadis itu duduk di dalamnya.


Theo melambaikan tangannya saat mobil papi Rudi perlahan meninggalkan restoran.


Theo sempat memeriksa handphonenya sebelum melajukan mobil. Pesan yang dikirim untuk Arjuna sudah terbaca tapi tidak ada balasan.


Theo tersenyum, ia yakin kalau Arjuna tidak akan melewatkan kesempatan yang diberikan olehnya.