MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Liburan atau Bulan Madu ?


“Mas Juna jadi ajak Cilla liburan nggak ?” Cilla merangkul bahu Arjuna yang duduk di sofa sambil memangku laptop,


Sudah seminggu ini, sejak kembali dari Yogyakarta, Arjuna mengajak Cilla tinggal di apartemen.


Pekerjaannya yang sering pulang malam membuat Arjuna lebih nyaman tinggal di sana karena letaknya tidak jauh dari kantor PT Jndopangan.


“Jadi, dong tapi dua mingguan lagi, ya.”Arjuna mengusap tangan Cilla yang memeluknya. “Mas Juna udah minta Tino aturin jadwal, papa juga udah oke Mas Juna ajak Cilla bulan madu.”


“Cie..cie… bulan madu beneran nih ?” Cilla menciumi pipi Arjuna bertubi-tubi.


“Jadi udah nggak butuh lagi bulan madu ?” Arjuna terkekeh karena kegelian diciumi Cilla yang berpindah sampai ke leher-lehernya. “Mentang-mentang udah dijebol gawangnya ?”


“Mau dibilang liburan atau bulan madu nggak masalah, yang penting Cilla jalan-jalan berduaan sama cowok.”


“Sama suami maksudnya ?” Arjuna mengangkat sebelah alisnya.


”Cilla itu pengen banget ngerasain punya pacar beneran. Sama Mas Juna pacarannya kan sembunyi-sembunyi. Pergi nonton dan makan aja deg deg kannya dobel karena ada tambahan takut ketahuan pas status kita masih guru sama murid.”


”Jadi yang kencan naik motor sama ke mal nggak masuk hitungan ?” Arjuna yang sudah kehilangan niat untuk bekerja memberi isyarat pada Cilla untuk duduk di dekatnya.


“Ya masuk, tapi liburan ke tempat romantis sama pacar kan belum pernah. Pas di Semarang biar ke cafe berdua, pikiran Mas Juna masih ke Luna.”


“Kalau sama pacar nggak boleh liburan ke tempat romantis, yang ada bukan liburan malah bikin dosa,”


Arjuna mencubit kedua pipi Cilla dengan gemas.


“Pokoknya Cilla mau bisa pergi sama Mas Juna ke tempat yang romantis gitu,” Cilla mengalungkan tangannya di leher Arjuna.


“Cilla maunya kemana ? Dalam negeri atau luar negeri ?”


“Kemana aja asal Mas Juna nggak rempong sama urusan kerjaan. Tiga hari tanpa handphone, tanpa ngurusin kerjaan apapun. Nanti Cilla akan ngomong sama papa supaya Mas Juna dikasih cuti total selama tiga hari.”


“Banyak persyaratannya,” Arjuna tertawa sambil menempelkan kedua hidung mereka. “Sebagai gantinya Mas Juna mau bikin Cilla nggak bisa tidur malam ini.”


“Siapa takut ?” tantang Cilla balik. Posisinya berbalik berhadapan dengan Arjuna seperti anak koala.


“Di sini ?” mata Arjuna membesar saat tangan Cilla mulai memegang ujung kaos Arjuna.


“Mumpung hanya berdua, kita coba gaya baru. Gaya anak koala,” bisik Cilla dengan suara dibuat mendesah di telinga Arjuna.


“As you wish, Baby,” Arjuna ingin tertawa mendengar ucapan Cilla namun ditahannya karena bisa merusak mood istrinya .


Tanpa menunggu lagi, Arjuna langsung mencium bibir Cilla dengan penuh semangat, mengimbangi anak bebeknya yang semakin pintar membuat kejutan-kejutan baru di malam-malam panas mereka.


“Anak bebek kesayangan Mas Juna tambah nakal dan pintar,” bisik Arjuna di sela-sela ciumannya yang semakin menjelajah di tubuh Cilla.


“Belajar sama guru matematikanya,” sahut Cilla tersenyum manja.


Gelora cinta Arjuna dan Cilla terus berpadu melewati malam panjang yang akhirnya membawa keduanya melayang hingga langit ketujuh dan terhempas di atas ranjang dengan posisi berpelukan dan tertidur dengan senyum mengembang di bibir keduanya.


🍀🍀


”Memang ini pertama kalinya Cilla ke Bali ?” tanya Arjuna saat keduanya berjalan di antar petugas hotel menuju kamar mereka.


Takut anak bebek kesayangannya ngambek dan setelah mendapat dukungan penuh dari papa untuk meninggalkan kerjaan kantor, akhirnya Sabtu pagi, Arjuna mengajak Cilla ke Bali. Hanya 4 hari dan hari Selasa, keduanya sudah balik ke Jakarta.


“Iya, kan Cilla udah bilang kalau selama ini hanya liburan ke Semarang dan sekitarnya. Sekali diajak papi ke Jepang pas kelas 8, ujung-ujungnya hanya nebeng sama keluarga orang.”


“Terima kasih,” Arjuna memberikan tips sambil menutup pintu kamar mereka setelah bellboy tadi selesai membawakan koper Arjuna dan Cilla.


Cilla langsung keluar ke balkon dan menghirup dalam-dalam udara laut yang membuat hatinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


“Rasanya tiga hari nggak bakalan cukup kalau memang Cilla belum pernah kemari,” ujar Arjuna sambil memeluk pinggang Cilla dari belakang.


“Memangnya Mas Juna bisa ninggalin kantor lebih dari 4 hari ?” Cilla memiringkan kepalanya dan hanya melirik pada Arjuna yang meletakkan kepala di pundak istrinya.


“Bisa, Mas Juna langsung hubungin Tino sekarang.” Arjuna melepaskan pelukan dan kembali masuk ke dalam mengambil handphone yang diletakkan di atas nakas.


Cilla sendiri masih berdiri di balkon, mengedarkan pandangan ke arah pantai yang menjadi pemandangan kamar mereka. Sesekali matanya memejam, menikmati hawa laut yang memenuhi rongga penciumannya.


“Mama telepon,” Arjuna menyodorkan handphone milik Cilla yang bergetar dan terlihat kata Mama di layarnya.


Arjuna masuk kembali karena masih meneruskan perbincangannya dengan Tino.


“Sudah sampai di hotel ?” wajah mama Diva yang melakukan panggilan vc langsung terpampang di layar begitu Cilla menekan tombol hijau.


“Sudah, Ma, baru aja nih masuk kamar. Tempatnya keren banget, Ma.”


“Syukurlah kalau kamu senang. Mama juga senang soalnya Arjuna bisa lepas sejenak dari pekerjaannya.”


“Papa ada di situ, Ma ?”


“Ada, sebentar nih,” mama Diva memberikan handphonenya pada papa Arman yang rupanya sedang duduk santai di teras belakang.


Biasanya hari Sabtu begini, papa Arman bermain golf dengan teman-temannya, tapi hari ini beliau memilih di rumah, menemani mama Diva karena Amanda sedang pergi ke Singapura dengan teman-teman sekolahnya.


“Siang, Pa,” sapa Cilla dengan senyuman sambil melambaikan tangan.


“Lagi ngomong sama Tino, Pa.”


“Marahin aja suami kamu kalau masih sibuk dengan urusan pekerjannya. Papa udah bilang jangan pusing dengan kerjaan dulu, ada papa, Tino dan Budi di Jakarta.”


“Nah masalah urusan kantor, Cilla mau minta sesuatu sama Papa. Boleh ?”


“Masalah apa ?” papa Arman mengerutkan dahinya.


“Kalau boleh, cuti Mas Juna diperpanjang. Cilla dan Mas Juna nggak jadi pulang hari Selasa, tapi hari Sabtu atau Minggu depan. Boleh nggak, Pa ?”


Wajah Cilla terlihat sungkan saat bicara dengan papa Arman membuat mertuanya itu langsung tergelak. Terdengar suara tawa mama Diva di sebelah papa.


“Mau cuti dua minggu juga boleh. Lanjut mau liburan ke luar negeri juga boleh. Nikmati bulan madunya, larang Arjuna pikirin soal bisnis dulu.”


“Beneran, Pa ?” wajah Cilla berbinar.


Mama Diva menggeser duduknya dan bergabung dengan papa Arman di dalam satu frame.


“Kalau memang sudah siap, sekalian produksi cucu buat papa dan mama,” ujar mama Diva sambil tertawa.


“Kalau soal itu sepertinya harus menunggu tahun depan, Ma,” sahut Cilla malu-malu. “Cilla mau merasakan jadi mahasiswa dulu.”


“Kayaknya ada yang udah laporan aja nih sama mertua,” ledek Arjuna yang ikut bergabung satu layar dengan Cilla.


“Papa sudah approved permintaan Cilla untuk memperpanjang liburan kalian sampai minggu depan. Nggak usah pikiran kerjaan, masih ada papa dan om


Budi di Jakarta,” ujar papa Arman.


“Waahh mertua baik banget,” ledek Arjuna sambil terkekeh. “Menantu minta apapun langsung approved.”


“Jangan lupa oleh-oleh khususnya,” ledek mama Diva.


“Kalau Juna sih oke aja, Ma, tergantung menantu kesayangan Mama, nih. Katanya mau jadi mahasiswa yang bisa tebar pesona dulu di kampus.”


“Iihh Mas Juna jangan nambahin, deh !” Cilla cemberut sambil memukul bahu suaminya pelan. “Siapa juga yang mau tebar pesona.”


“Udah ada yang deketin tuh, Ma. Anak pengusaha juga, idola kampus lagi,” ledek Arjuna.


“Nggak apa-apa, Cilla. Nikmati aja semuanya. Banyak yang terpesona nggak apa-apa asal kamu jangan tergoda. Tuh Arjuna sama aja, banyak cewek yang deketin, tapi awas aja sampai tega mengkhianati istri,” mama Diva menatap galak putranya.


“Kenapa cuma Juna yang dipesankan begitu ? Mama nggak takut kalau menantu mama ini tergoda sama pria mapan yang lebih muda ?” Arjuna melirik Cilla sambil mencibir.


”Biasanya yang suka jajan itu kaum adam,” ujar mama Diva sambil melirik papa Arman. “Apalagi pria berkantong tebal, ditempelin cewek muda yang butuhnya uang aja bukan cinta, langsung klepek-klepek, alasannnya kasihan atau khilaf.”


”Pengalaman pribadi, Ma ?” ledek Arjuna sambil tertawa melihat papa Arman balas melihat ke mama dengan dahi berkerut.


“Iya, pengalaman sama kamu juga, Jun. Awas aja kalian pada kasih kesempatan para ulat bulu pada nempel,” tegas mama Diva dengan wajah galaknya.


“Kok papa kebagian juga ?” tanya papa Arman sambil mengerutkan dahinya.


“Kalau begitu papa sama mama beresin dulu, ya, mau diselesaikan di kamar juga boleh, tapi jangan kasih Juna sama Manda adik lagi. Tunggu cucu aja dari Juna sama Cilla,” ledek Arjuna sambil tergelak.


“Siapa juga yang mau punya bayi lagi,” sahut mama Diva dengan nada ketus, membuat Cilla tertawa pelan.


“Dadah mama, papa. Awas jangan sampai rumah kena gempa lokal,” ledek Arjuna yang langsung menutup panggilan teleponnya.


“Dasar anak kurang ajar nih,” gerutu mama Diva. “Habis ngeledek orangtua langsung ditutup aja.”


”Lagian mama kenapa tiba-tiba jadi bete begitu ?” papa Arman menahan lengan mama Diva yang sudah beranjak dari kursi.


“Tau ah,” sahut mama Diva dengan kesal.


“Ahh papa tahu, deh. Arjuna memang paling mengerti kalau soal ini,” papa Arman ikut bangun dan menarik lengan mama. “Kayaknya udah lima hari kita nggak bikin gempa. Mumpung anak-anak nggak ada yang di rumah, mama boleh agak berteriak,” bisik papa Arman dengan mesra.


“Papa apaan sih ?” mama Diva memukul bahu suaminya yang tertawa.


“Nggak ada salahnya kita ikutan Arjuna dan Cilla,” papa Arman senyum-senyum lalu mengedipkan sebelah matanya membuat mama Diva akhirnya tersenyum.


Sementara di kamar hotel, Arjuna langsung menarik Cilla masuk dan menutup tirai pintu balkon.


“Mas Juna mau ngapain ? Kok pakai tutup tirai segala ?”


”Mau honeymoon, Sayang. Sesuai janji 3 hari ini Mas Juna nggak boleh angkat telepon soal kerjaan, jadi sebagai gantinya Cilla harus buat Mas Juna nggak bosan tiga hari ini.”


“Iya tapi ini masih siang dan Cilla…”


“Short time, Baby,” bisik Arjuna dengan suara mesra dan menciumi leher Cilla yang terekspos karena hanya mengenakan dress bertali kecil tanpa kardigan.


“Beneran short time ?” ujar Cilla tersendat bercampur ******* karena tangan Arjuna mulai merambah kemana-mana.


”Nggak janji, Sayang,” sahut Arjuna yang langsung mencium bibir Cilla dan membawanya perlahan ke atas ranjang.


Sama seperrti Arjuna yang tidak akan pernah berhenti lagi setelah memulainya dengan Cilla, anak bebek kesayangan Arjuna ini pun menikmati sentuhan dan sensasi yang diberikan Arjuna di setiap kesempatan percintaan mereka.


Bukan hanya Arjuna yang penuh semangat dengan suasana kamar bulan madu ini, Cilla pun semakin mahir memberikan kenikmatan surga dunia hingga Arjuna tersenyum puas dan ingin lagi dan lagi.