MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


“Nggak bisa nunggu Mas Juna aja ke makam papinya ? Bukannya nggak mau menemani Cilla, tapi jadwal hari ini padat banget. Kalau Sabtu aja gimana ?”


Pagi ini usai mandi, Cilla mendadak bilang ingin nyekar ke makam papi karena semalam bermimpi bertemu papi memanggil-manggil namanya. Sudah 4 bulan lebih Cilla tidak mengunjungi makam papi dan mami yang bersebelahan, padahal selama ini ia rutin datang ke sana setiap 2 bulan sekali.


“Cilla sebentar aja kok, habis itu langsung ke kampus, ada kuliah jam 11 nanti. Nggak akan lama.”


“Sean mau dibawa juga ?” tanya Arjuna yang akhirnya mengalah dengan keinginan istrinya.


“Badannya agak sumeng karena kemarin habis vaksin jadi pagi ini biar istirshat dulu. Kalau nanti sore Sean udah baikan, Cilla mau ajak ke belanja ke supermarket dan Mas Juna nyusul buat makan malam gimana ?”


“Nanti Mas Juna kabarin soal makan malam, ya. Kalau nggak salah ada meeting sore di jam 5 an, takut nggak keburu kalau nyusul untuk makan malam. Tapi untuk pastinya, Mas Juna akan kasih kabar begitu sampai kantor.”


Cilla mengangguk dan ikut beranjak saat Arjuna buru-buru bangun usai menyelesaikan sarapannya. Hari ini keduanya bangun kesiangan gara-gara semalam Arjuna tidak mampu menahan godaan istrinya yang selalu bikin gairahnya di puncak tertinggi.


“Glen masih suka bikin masalah ?” tanya Arjuna setelah mencium kening Cilla yang mengantarnya sampai teras depan.


“Aman. Sejauh ini Glen nggak cari gara-gara juga di kelas.”


Arjuna mengacungkan jempol sambil tersenyum dan bergegas masuk ke mobil. Suara handphonenya sudah berbunyi lagi, pasti dari Tino yang kembali mengingatkan supaya Arjuna tidak terlambat datang ke rapat direksi pagi ini.


***


Cilla duduk di pinggir makam yang disemen. Senyuman tipis mengembang di wajahnya setelah ia selesai menaburkan bunga di atas makam papi dan mami.


Ditinggal pergi oleh mami sejak kecil karena sakit dan diabaikan papi yang hidup dalam penyesalan membuat Cilla tumbuh dalam rasa sepi yang mendalam.


“Cilla sekarang bahagia banget Mi, Pi. Sean makin menggemaskan dan cinta Mas Juna terus bertambah setiap harinya. Semoga di alam sana, papi dan mami bisa bersatu kembali. Cilla pamit dulu, berikutnya Cilla akan datang lagi sama Mas Juna dan Sean.”


Cilla beranjak bangun, menyusuri jalan setapak di antara makam. Matanya menyipit saat melihat sosok yang dikenalnya. Langkahnya terhenti, sejenak Cilla berpikir untuk tetap lanjut atau menghampiri Glen yang sedang menabur bunga di atas makam.


Akhirnya langkah kaki Cilla membawanya mendekati pria itu.


“Pak Glen,” sapa Cilla membuat pria yang sedang membungkuk itu menoleh.


“Priscilla, kamu ke makam siapa ?” Glen menghentikan aktivitasnya dan menegakkan kembali tubuhnya.


“Orangtua saya, Pak. Di sebelah sana,” Cilla menubjuk ke arah makan mami dan papi.


“Begitu banyak kebetulan dalam hidup kita berdua,” ujar Glen sambil tersenyum tipis yang dibalas Cilla dengan senyuman tipis juga.


“Jadi Kak Gina dimakamkan di sini juga ?” Cilla melirik nisan yang ada di belakang Glen.


“Ya, Gina adik saya satu-satunya.”


“Boleh saya berdoa di makamnya ?”


Glen mengangguk sambil menepi, memberi ruang untuk Cilla mendekat. Suasana hening saat Cilla menutup mata dan menundukkan kepalanya, berdoa untuk ketenangan jiwa Gina dan berharap Gina bisa membantu membuka kebenaran tentang alasannya mengakhiri hidup dengan cara mengenaskan seperti itu.


“Semoga jiwa Kak Gina bisa tenang di alam sana, Pak. Saya pamit dulu mau ke kampus.”


“Priscilla !”


Baru 4 langkah Cilla menjauh, Glen memanggil namanya. Ia menoleh dan menautkan alisnya.


“Jam berapa kamu kuliah ? Bisa kita sarapan sebentar sebagai teman bukan dosen dan mahasiswa ?”


Cilla terdiam, ia meihat jam tangannya. Masih ada 1 jam 45 menit sebelum kelasnya dimulai. Perjalanan dari sini menuju kampus sekitar 20-30 menit, berarti masih cukup panjang waktu untuk sekedar sarapan.


Rasa penasaran tentang Gina membuat akhirya Cilla menganggukan kepala.


“Dekat-dekat sini aja, Pak.”


Cilla tidak mau acara sarapannya dengan Glen menjadi santapan para papparazi dadakan kalau di dekat kampus.


”Saya tahu tempat yang enak dekat sini. Kamu ikuti mobil saya.”


Cilla mengangguk dan berjalan duluan menuju parkiran, menunggu Glen masuk ke dalam mobilnya.


Glen sedang berbincang pada 2 anak berusia sekitar 7-8 tahun dan entah apa hubungan kedua anak kecil itu. Mereka berbincang cukup akrab dan sesekali tertawa bahkan Cilla sempat melihat Glen mengeluarkan 2 bungkusan dari dalam mobilnya dan memberi kedua anak itu lembaran uang kertas yang entah berapa nilainya.


Perlahan Cilla mengikuti mobil Glen yang bergerak meninggalkan pemakaman. Hanya 10 menit, mobil Glen kembali masuk ke area parkiran.


Bangunan bernuansa tradisional itu terlihat cozy dan hanya ada 2 mobil parkir di depan bangunan.


“Sering kemari, Pak ?” tanya Cilla saat Glen membawanya ke area belakang dimana pengunjung bisa duduk di dekat taman terbuka.


“Aku sering mampir saat nyekar ke makam Gina.”


Cila mengangguk-angguk dan mengedarkan pandangan, merekam suasana yang ada di sekitarnya.


Seorang pelayan mengantarkan 2 buku menu dan Glen mulai menjelaskan menu-menu andalan di situ. Cilla memesan segelas cokelat panas karena sudah sarapan dengan Arjuna sebelum ke makam.


“Boleh saya mendengar cerita soal Kak Gina versi Pak Glen ? Siapa tahu saya bisa membantu Mas Juna menggali ingatannya.”


Glen tersenyum tipis mendengar pertanyaan Cilla.


“Saya yakin Mas Juna tidak akan keberatan untuk minta maaf pada Pak Glen dan keluarga kalau memang ia bersalah.”


Glen menatap Cilla lekat-lekat. Ia paling suka melihat mata Cilla mengerjap saat bicara.


Tanpa menunggu Cilla mengulang pertanyaannya, Glen mulai menceritakan soal Gina mulai dari kepribadiannya sampai bagaimana Glen menyesal karena merasa tidak peka menangkap perasaan Gina yang menyukai Arjuna sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP.


Glen menjeda sejenak saat pelayan mengantar pesanan mereka. Sesudahnya ia kembali menceritakan bagaimana orangtuanya terpukul saat mendapati Gina sudah tidak bernyawa di kamarnya dan ditemukan diary serta selipan surat untuk Arjuna di antara lembaran diary itu.


“Mas Juna tidak tahu kalau Gina mengirimkan surat padanya saat ospek karena Mas Juna bukan anggota OSIS dan tidak ada satu pun surat dari siswa baru itu dibacanya.”


“Tapi surat Gina bukan hanya tidak dibaca tapi diremas dan langsung dibuang ke tong sampah.”


“Darimana Pak Glen tahu ?”


“Aku tidak sengaja melihat Gina dari lantai 2. Dia sedang bersembunyi di balik tembok dan aku lihat Gina sedang memperhatikan Arjuna dengan Luki, Boni dan Theo. Mereka tertawa-tawa saat Boni mengangkat surat merah jambu milik Gina dan tidak lama Arjuna merampasnya dari tangan Boni lalu meremasnya dan langsung membuangnya ke tong sampah.”


Cilla tidak ingin membantah cerita Glen dengan versi Arjuna karena saat ini posisinya ingin mendengar cerita Glen soal adiknya itu.


Tidak lama pelayan kembali mengantar makanan kecil yang tidak dipesan oleh Cilla.


“Kamu harus coba menu tempe ini, sangat enak, jauh lebih enak daripada yang pernah kamu makan di Semarang.”


Cilla tertawa pelan dan tanpa ragu tangannya mengambil satu potongan tempe mendoan dengan bumbu tabur di atasnya, memang terlihat agak berbeda dari menu tempe mendoan yang pernah dimakannya.


Cilla kembali mendengarkan cerita Glen sambil menikmati makanan dan minumannya sampai akhirnya Cilla melirik tangannya karena merasa sudah cukup banyak mendengarkan cerita Glen.


“Terima kasih buat traktiran dan kepercayaan Bapak yang sudah menceritakan soal Kak Gina,” ujar Cilla saat keduanya sudah berdiri dekat mobil mereka yang berdekatan.


Cilla tersenyum namun tidak lama dahinya langsung berkerut. Perutnya bergejolak, bukan mulas tapi mual hingga kepalanya pusing.


Glen menarik satu sudut bibirnya dan langsung menahan tubuh Cilla yang perlahan lunglai lalu menggendongnya.


“Ada yang bisa dibantu, Pak ?” seorang Satpam bergegas menghampiri Glen yang sudah membawa Cilla dalam gendongannya.


“Bisa tolong bukakan pintu mobil saya, Pak,” Glen memberi isyarat pada tangannya yang ada di bawah tubuh Cilla, tengah memegang kunci mobil.


“Apa nona ini mau dibawa ke dalam dulu, Pak ?”


“Tidak usah, dia istri saya dan sedang hamil muda. Sudah beberapa kali begini, biar saya langsung bawa ke rumah sakit. Saya titip mobilnya dulu, nanti saya minta karyawan ambil kemari.”


Meski sedikit bingung, satpam tadi membantu membukakan pintu mobil dan menerima kunci mobil Cilla yang Glen berikan padanya.


”Saya titip, Pak. Karyawan saya yang akan mengambil namanya Arjuna atau Tino, tolong nanti dikasih saja Pak.”


Glen tergesa masuk ke dalam mobil dengan wajah yang kelihatan panik membuat satpam hanya mengangguk-angguk dan baru teringat kalau ia lupa menanyakan nama tamunya dan mencatat plat nomor mobil milik Glen.


Setelah 100 meter meninggalkan kafe, Glen langsung mengambil handphone Cilla dan mencabut baterainya lalu memutar mobil ke arah yang berlawanan.