MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Maksa Nikah


Waktu pun berlalu hingga sampai di ujung tahun. Papa Arman mengundang semua yang ikut ke Singapura untuk melewati malam pergantian tahun di rumahnya.


“Mas Juna masih belum pulang kerja, Ma ?” tanya Cilla saat baru saja tiba di rumah keluarga Hartono dan bertemu dengan calon mertuanya.


“Sudah dari jam 3,” mama Diva melirik jam dinding yang sudah menunjukan jam 5 sore. “Mungkin tertidur di kamarnya.”


“Amanda dimana, Ma ?” Cilla kembali bertanya.


“Tadi pamit mau ke supermarket, ada barang yang belum kebeli.”


Cilla mengangguk-angguk sambil tersenyum mendengar penjelasan mama Diva. Keduanya sedang berada di dapur sementara papi dan papa sedang berbincang di teras belakang.


“Kamu naik aja ke atas,” mama Diva tersenyum melihat kegelisahan calon menantunya. “Bangunin Arjuna dan suruh mandi. Dia sering tertidur saat pulang kerja tanpa mandi dulu.”


“Boleh, Ma ?” Wajah Cilla langsung berbinar. Mama Diva mengangguk.


“Kamar Juna ada di paling ujung.”


Cilla mengangguk dan bergegas naik ke lantai dua. Ia menyusuri lorong melewati tiga pintu kamar lainnya menuju pintu keempat yang letaknya paling ujung.


Perlahan ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Tirai kamar dalam keadaan terbuka dan terlihat Arjuna sedang tertidur sambil memeluk guling menghadap ke arah pintu.


Cilla tersenyum dan perlahan mendekati ranjang. Hatinya berdebar karena ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke kamar seorang pria. Cilla duduk di tepi ranjang, memperhatikan Arjuna yang masih tertidur pulas.


Ingin tangannya menyentuh wajah calon suaminya, tapi akhirnya Cilla malah memegang dadanya sendiri yang berdebar begitu kencang.


Entah sampai kapan Cilla akan merasakan debaran saat berada di dekat Arjuna, padahal status mereka sekarang sudah bertunangan bukan lagi pria dan wanita yang sedang dalam proses PDKT.


“Perlu nafas buatan ?”


Suara Arjuna yang masih memejamkan matanya membuat Cilla terkejut dan reflek bangun dari ranjang, namun tangan Arjuna menariknya hingga Cilla jatuh ke atas tubuh Arjuna.


Wajah Cilla memerah dengan detak jantung yang semakin tidak karuan.


“Masih juga suka cari kesempatan dalam kesempitan,” omel Cilla sambil menoleh ke arah lain.


“Lagian berani banget masuk ke sarang macan,” ledek Arjuna sambil mengacak poni Cilla.


“Iiihh katanya bapak bebek,” cebik Cilla. “Masa tahun baru ganti titisan ? Jadi bapak macan ?”


“Bikin gemes,” Arjuna mencubit kedua pipi Cilla. “Jadi pingin cepat-cepat dinikahin aja.”


Blush…


Wajah Cilla langsung memerah dan terasa panas.


“Udah siap beneran nikah sama Mas Juna, kan ? Mau nggak nikahnya pas Cilla ulangtahun ke-17 ? Jadi pestanya sekalian ?”


Wajah Cilla makin terasa panas saat tangan Arjuna membelai lembut pipinya.


“Yakin bisa terima Cilla yang masih abege begini ? Nggak malu punya istri masih unyu-unyu ?”


Arjuna tertawa dan beranjak bangun hingga posisinya duduk di atas ranjang.


“Kenapa harus malu ? Mas Juna justru bangga, di usia begini masih bisa mendapat istri anak abege.”


“Amanda bilang banyak cewek yang langsung ileran begitu Mas Juna lewat bahkan banyak emak-emak kepo mau jodohin anaknya sama Mas Juna,” Cilla mengomel dengan wajah cemberut.


“Dasar Amanda lebay,” Arjuna mencibir sambil tertawa. “Pada ngeliatin tapi nggak sampai ileran. Kalau emak-emak kepo ada aja, tapi lebih karena Mas Juna anaknya papa yang punya perusahaan.”


Cilla hanya tertawa pelan. Hatinya masih berdebar berada dalam posisi sedekat ini dengan Arjuna. Biarpun belum mandi, wangi tubuh Arjuna membuat Cilla betah lama-lama berada di dekatnya.


“Butuh nafas buatan sekarang ?” bisik Arjuna persis di teinga Cilla.


“Iihh apaan, sih !” Dengan wajah tersipu, Cilla mendorong dada Arjuna dan bergegas bangun sebelum tangan Arjuna menahannya lagi.


“Udah mandi dulu sana ! Cilla mau ke bawah, bantu mama siapin makanan.”


Tanpa menunggu jawaban dari Arjuna, Cilla bergegas keluar meninggalkan Arjuna yang tertawa di atas tempat tidur melihat tingkah calon istrinya yang ternyata makin sering malu-malu meong.


Sampai di depan pintu, Cilla berpapasan dengan Amanda yang memang berniat memanggilnya.


“Habis ngapain kalian ?” Mata Amanda memicing saat melihat wajah Cilla kemerahan dan keluar kamar sambil memegangi dadanya.


“Nggak ngapa-ngapain. Nethink aja,” sahut Cilla dengan nada sedikit sewot.


“Terus kalau nggak ngapa-ngapain, muka lo kenapa merah dan pegang-pegang dada begitu ?” Amanda mendekat dan mengendus-endus rambut serta bahu Cilla.


“Ngapain sih lo !” omel Cilla sambil menjauh dari Amanda.


“Kayaknya ada yang habis peluk-pelukan, bahkan lebih nih. Soalnya bau parfum Kak Juna nempel banget di rambut sama baju elo,” mata Amanda kembali memicing, menelisik wajah Cilla yang semakin memerah.


“Galau sama Jovan, jadi akhirnya gampang nethink,” Cilla bergegas meninggalkan Amanda dengan sedikit berlari. Sampai di ujung tangga, Cilla berhenti dan berbalik badan.


“Kalau keburu, nanti malam Jovan mau datang kemari sama Febi dan Lili,” ujar Cilla.


“Bukannya belum pulang dari Jepang ?” spontan Amanda menjawab, menanggapi pernyataan Cilla.


Cilla langsung terbahak dan memegangi perutnya.


”Katanya mau pikir-pikir dulu, tapi perhatiannya uluh-uluh…” ledek Cilla. “Jangan-jangan sampai jam pesawatnya Jovan, diam-diam elo tahu juga.”


”Jovan yang info lewat wa ke gue,” sahut Amanda dengan wajah jutek.


“Iya… iya… yang masih mau pikir-pikir. Awas kecolongan ! Menyesal selalu mangkalnya di ujung jalan dan nggak selalu kasih kesempatan buat putar balik. Akhirnya di ujung sana, elo cuma bisa gigit jari,” ledek Cilla.


“Bukan cuma dia satu-satunya cowok yang tersisa di muka bumi,” sahut Amanda dengan ketus.


”Tapi hanya Jovan seorang yang bisa bikin Amanda nggak bisa memejamkan mata,” Cilla tertawa sambil menjulurkan lidahnya.


Cilla hanya tertawa dan menuruni tangga setelah melambaikan tangan pada Amanda.


Amanda masih berdiri mematung di tempatnya, tidak jauh dari pintu kamar Arjuna. Kebiasaan Cilla mulai menular padanya. Hanya membicarakan tentang sosok Jovan membuat hatinya berdebar. Rasanya sulit terus menyangkal kalau Amanda memang menyimpan rasa pada Jovan.


Sejujurnya ingin menjawab iya pada ungkapan cinta Jovan, tapi ragu karena sempat mendengar cerita Febi dan Lili tentang bagaimana setianya Jovan menanti kata maaf dari Cilla. Apa mungkin pria setampan dan sepopuler Jovan mampu bertahan dalam penantian selama hampir 9 tahun kalau tidak memiliki perasaan khusus pada Cilla ?


Dan kalau mendengar ledekan Cilla belakangan ini, sepertinya Jovan cukup terbuka pada calon kakak iparnya itu.


Cilla bukan hanya tahu tentang liburan Jovan ke Jepang, bahkan dia tahu masalah penolakan Amanda dengan ungkapan cinta Jovan.


Amanda menghela nafas panjang. Melihat kelakuan Cilla yang memberikan dukungan pada Amanda untuk menerima Jovan, sepertinya Jovan memang tidak memiliki tempat khusus di hati Cilla, entah dengan Jovan.


Kalaupun Jovan menjadikan Cilla teman curhat, itu pun masih wajar karena mereka adalah sahabat sejak kecil. Ditambah lagi hubungan Cilla dengan Amanda sebagai calon ipar. Mungkin saja Jovan minta bantuan Cilla untuk meyakinkan hati Amanda kalau ungkapan cintanya bukan pelarian karena patah hati melihat Cilla memilih Arjuna.


“Ngapain kamu di situ ?” Arjuna yang baru keluar dari kamar mengerutkan dahi, memperhatikan Amanda yang mematung dekat pintu kamarnya.


“Mikirin Jovan lagi ?” Ledek Arjuna.


“Asal !” omel Amanda. “Tuh calon istri kakak yang bikin kesel. Nyebelin ! Bisanya ngeledek orang terus. Mentang-mentang statusnya sebagai kakak ipar, padahal umur cuma beda dua bulan.”


Arjuna tertawa mendengar omelan adiknya.


“Yah harus belajar terima calon istri kakak yang menggemaskan itu,” Arjuna mendekat dan mengacak rambut adiknya. “Kan waktu awal kamu adalah pendukung setia, bilangnya senang punya calon kakak ipar seumur, bisa diajak rusuh dan jadi teman gibah bareng-bareng.”


“Itu sebelum tahu kalau Cilla suka ngeselin,” gerutu Amanda sambil mencibir.


“Sayangnya yang ngeselin itu yang buat Kak Juna makin tambah cinta setiap harinya,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya.


“Asli geli,” Amanda mencebik. “Sejak kapan Kak Juna jadi cowok bucin begitu.”


Arjuna hanya tertawa dan melewati adiknya sambil menepuk bahu Amanda sekilas.


“Sepertinya hubungan Cilla dan Jovan sangat dekat,” pancing Amanda saat Arjuna hampir menuruni tangga. “Cilla tahu semua masalah Manda sama Jovan, bahkan Jovan laporan setiap detail kegiatan liburnya.”


“Jangan jadi provokator,” Arjuna berhenti dan membalikan badan mengarah ke Amanda. “Kakak malah menangkap ada bara api cemburu dalam ucapan kamu,” ledeknya sambil tertawa.


“Idih siapa juga yang cemburu ?” Amanda mencebik.


”Hati-hati banyak yang sudah menunggu Jovan, bahkan siap menikung. Kalau kamu ketinggalan akhirnya keduluan orang. Boleh dibilang kepopulerannya di sekolah sudah terkenal banget, meskipun belum bisa mengalahkan Kak Juna.”


“Over pede !” Amanda mencebik.


“Kenyataan,” Arjuna tertawa dengan wajah meledek adiknya. “Begini-begini kakak jadi guru idola baru di sekolah. Sudah ada buktinya di bawah. Cewek jutek yang sukanya menolak pernyataan cinta cowok bahkan dari cowok sepopuler Jovan, akhirnya takluk juga dengan kegantengan kakak. Bukan sekedar jadi pacar doang, tapi langsung jadi calon istri.”


“Itu takdir namanya. Untung aja jodoh yang papa pilihkan sama dengan cintanya Kak Juna. Udah pasti jadi cowok paling menyedihkan kalau ternyata keduanya orang yang berbeda.”


“Siapa tahu kamu juga takdirnya Jovan,” ledek Arjuna.


“Memangnya kakak rela kalau Jovan dekat-dekat dengan Cilla ? Nggak takut mendadak ditikung kalau kakak lengah sedikit aja ?” Amanda tertawa mengejek kakaknya.


“Kakak yakin banget kalau cintanya Cilla buat kakak doang,” sahut Arjuna dengan wajah pongah dan dada membusung.


“Over pede !” gerutu seseorang dari tengah tangga. “Cuma cintanya Cilla yang untuk Mas Juna seorang, tapi cintanya Mas Juna masih bisa terbagi-bagi sama yang lain.”


Arjuna menoleh dan mendapati calon istrinya sudah berdiri di tengah anak tangga dengan bibir mengerucut.


“Udah nggak bisa pindah ke lain hati, sayang,” rayu Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Geli !” Amanda dan Cilla memekik bersamaan sambil mencebik.


Arjuna senyum-senyum dan perlahan turun mendekati Cilla yang masih berdiri di tengah-tengah tangga.


“Mau bukti ?” bisik Arjuna sambil merangkul bahu Cilla dan mengajaknya turun. “Malam ini juga Mas Juna minta ijin sama papa dan papi untuk menikahi Cilla dua bulan lagi.”


“Nggak sesuai perjanjian ! Tunggu Cilla lulus SMA,” Cilla hendak menghindari Arjuna namun tangan calon suaminya lebih gesit menangkapnya dan menarik Cilla dalam pelukannya.


“Kelamaan,”bisik Arjuna.


Bulu kuduk Cilla meremang, masalahnya bisikan Arjuna disertai hembusan nafas terlalu dekat dengan tengkuknya. Belum lagi posisi kepala Cilla bersandar di dada Arjuna.


Cilla berusaha merenggangkan pelukan Arjuna karena debar jantungnya membuat tulang-tulangnya mulai lemas dan tangannya panas dingin.


Arjuna melerai pelukannya dan menangkup wajah Cilla hingga mendongak ke arahnya.


“Kali ini akan Mas Juna berikan nafas buatan.”


Tanpa menunggu persetujuan Cilla, Arjuna menempelkan bibirnya pada bibir Cilla. Hanya menempel, tidak lebih, tapi membuat Cilla makin panas dingin dan jantungnya serasa mau copot.


“Kak Juna !”


“Arjuna !”


Pekikan Amanda dari ujung tangga dan papa Arman yang baru saja masuk dari teras belakang bersama papi Rudi membuat mama Diva tergopoh muncul dari arah dapur.


Bukannya merasa canggung, Arjuna malah tertawa pelan sambil menatap Cilla yang tersipu dengan wajah memerah dan masih ditangkup oleh kedua tangan Arjuna.


“Sepertinya kamu nggak bisa lagi menolak untuk segera dinikahkan sama Mas Juna karena kita sudah tertangkap basah berciuman,” ujarnya sambil terkekeh.


Cilla langsung melotot. Dasar pria pemaksa dan guru mesum. Bisa-bisanya menyuruh Cilla menerima tawaran menikah cepat-cepat dengan cara ekstrim seperti ini.


Untung yang menangkap basah hanya orangtua dan saudara kandung, kalau hansip atau tetangga sebelah, nggak akan toleransi nunggu 2 bulan lagi, tapi sekarang juga disuruh nikah.


Arjuna hanya tertawa sambil menatap papa Arman dan papi Rudi yang geleng-geleng kepala. Mama Diva menghela nafas sambil ikut geleng-geleng kepala.


Amanda menuruni tangga sambil menghela nafas berkali-kali karena tidak habis pikir melihat kakaknya jadi pria bucin pada gadis yang seumur dengannya.