MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Membesuk


“Jangan bilang kalau kamu ada hati sama dokter muda itu,” gerutu Arjuna saat keduanya baru saja keluar lift di lantai 5.


“Dokter Steven memang keren dengan snelli-nya, senyumannya juga manis, tapi sayangnya Cilla lebih suka cowok di sebelah ini yang suka ngambek. Gantengnya poll kalau lagi pakai seragam olahraga di sekolah,” ujar Cilla tertawa sambil mengangkat kedua tangan mereka yang saling menggenggam.


“Gombal,”Arjuna mencibir namun tersenyum juga. “Jadi kalau lagi pakai kemeja doang, gantengnya setengah doang ?”


“Tetap ganteng dan bikin jantung berdebar-debar. Lgipula yang single, cakep dan keren udah di depan mata, buat apa ngejar-ngejar calon suami orang,” cebik Cilla.


“Awas kalau cuma gombal dan berani dekat-dekat sama tuh dokter !” ancam Arjuna sambil menoel hidung Cilla dengan mata melotot.


“Mendadak nggak pede, Mas ?” ujar Cilla tertawa sambil bergelayut manja di lengan Arjuna.


“Eheemm” deheman papa Arman di depan pintu kamar papi Rudi membuat Cilla terkejut dan langsung melepaskan tangannya yang bergelayut pada Arjuna.


“Sore Om, Tante,” sapa Cilla sambil menganggukan kepalanya dengan wajah merona karena malu.


“Kakak ipar !” Amanda mendekat lalu memeluk Cilla sementara yang dipeluk malah tercengang mendengar panggilan adik Arjuna itu.


“Semoga elo tetap kuat, ya,” ujar Amanda setelah melepaskan pelukannya.


Cilla masih melongo dan hanya mengangguk. Hatinya masih merasa tidak enak dipanggil kakak ipar oleh Amanda padahal Cilla sendiri yang memutuskan Arjuna.


“Papa kamu gimana ?” Mama Diva berusaha menghilangkan sikap canggung Cilla.


”Sudah sadar dan bisa duduk di ranjang, Tante. Tadi juga sudah mulai makan sedikit.”


“Syukurlah kalau makin membaik,” mama Diva mengusap bahu Cilla sambil tersenyum.


Cilla membukakan pintu ruangan diikuti oleh Amanda, papa Arman dan mama Diva, Arjuna berada di paling belakang.


Semuanya saling menyapa dan ternyata Theo sudah ada di dalam sedang duduk bersama dengan Om Rio dan Tante Siska sementara papi Rudi sedang rebahan di atas ranjangnya.


Gantian Arjuna yang merasa sedikit canggung saat mendekati papi Rudi mengikuti papa Arman. Cilla sendiri berdiri jauh-jauh di ujung ranjang dekat kaki papi Rudi.


“Apa kabar, Om ?” sapa Arjuna dengan senyum kikuk.


“Sementara baik, Juna. Terima kasih sudah menemani Cilla menjaga Om sejak kemarin.”


Arjuna tercengang dan langsung menoleh ke arah Cilla yang mengangguk pelan.


“Sudah pasti papamu dan Pak Slamet yang menyuruh kamu supaya menemani anak Om,” ujar papi Rudi dengan wajah datar, menjawab kebingungan Arjuna.


“Maaf Om, bukan bermaksud menentang permintaan Om. Kemarin situasi memang sedikit mendadak dan…”


“Terima kasih sudah datang Man, Diva,” papi Rudi langsung menyela dan menatap ke arah papa Arman dan mama Diva.


Arjuna hanya bisa tersenyum kecut, bahkan melirik Cilla pun tidak berani. Cilla sendiri hanya bisa menghela nafas panjang.


Situasinya memang serba salah, dan Cilla merasa kalau dialah sumber dari semuanya. Kalau saja Cilla bisa bersikap lebih dewasa dan mengambil langkah menemui Arjuna dulu untuk memastikan, mungkin papi Rudi tidak akan berkeras hati melarang hubungan Cilla dengan Arjuna.


”Biarpun batal jadi besan, kamu tetap sahabatku, Rudi. Anggap saja kalau anak-anak kita memang tidak berjodoh,” ucap papa Arman untuk menengahi kecanggungan Arjuna dan Cilla.


“Sepupu, temani aku makan dulu, yuk,” Theo mendekat dan langsung merangkul bahu Cilla, menbuat Arjuna sempat melirik dan menatap Theo sambil menahan kesal.


“Mumpung banyak yang temani Om Rudi. Aku lapar banget nih, belum sempat makan siang di kantor. Kami pamit dulu Om, Tante,” Theo megaggukan kepala pada papi Rudi, papa Arman dan mama Diva.


Tanpa minta persetujuan Cilla apalagi Arjuna, Theo langsung menggandeng Cilla dan membawanya keluar ruangan.


Arjuna mengepalkan sebelah tangannya. Seharusnya dia berterima kasih karena Theo berusaha membantu Cilla dan Arjuna yang serba salah dan canggung, tapi tidak perlu juga main rangkul dan gandengan tangan segala.


Amanda yang melihat wajah Arjuna berubah kesal bahkan tangannya sampai mengepal, pura-pura terbatuk dan senyum-senyum. Tadinya Amanda ingin ikut Theo dan Cilla, tapi tidak enak juga meninggalkan ruangan karena tujuannya kemari ingin menjenguk papi Rudi.


Akhirnya Arjuna memilih duduk di sofa ngobrol dengan om Rio. Selain merasa bingung menghadapi sikap papi Rudi, Arjuna masih menyimpan kesal dengan kelakuan Theo yang terlihat memang disengaja.


Sementara di lantai dasar Cilla sedang menemani Theo yang mulai menikmati makan sorenya.


“Kamu yakin masih mau sama Arjuna ?” tanya Theo di sela-sela makannya.


“Apa masalah banget kalau Cilla balik sama Mas Juna ?” Cilla menautkan alisnya.


“Dasar abebil ! Dengar calon suami ngomong yang nggak enak di hati langsung minta putus, lalu dalam hitungan jari, hati kamu sudah balik lagi maunya sama Arjuna. Apa nggak ada cowok ganteng di sekolah yang bisa kamu jadikan pacar ?” ledek Theo sambil tertawa mengejek.


“Namanya juga cinta, mana boleh sebentar-sebentar pindah ke lain hati,” cibir Cilla. “Dasar jones sih Kak Theo, jadi belum paham banget rasanya cinta setengah mati.”


”Dan setengahnya hdup ?” ledek Theo sambil tertawa.


“Memangnya Kak Theo nggak setuju kalau Cilla baikan lagi sama Mas Juna ?” nada dan wajah serius dari gadis yang tidak mau kalah ini membuat Theo menautkan kedua alisnya.


“Memangnya kalau Kak Theo nggak setuju sama seperti Om Rudi, kamu bisa meninggalkan Arjuna ?”


Cilla terdiam, memusatkan pandangannya pada gelas berisi milk shake strawberry miliknya.


“Saat ini yang penting adalah membuat hati papi kamu tenang dan tidak stress, salah satunya menuruti perintahnya. Arjuna pasti udah ngomong sama kamu kalau om Rudi minta Arjuna melepaskanmu dan tidak lagi menjalin hubungan apapun denganmu, selain sebagai guru dan murid.


Keputusan ada di tanganmu. Memaksa papi kamu merestui hubunganmu dengan Arjuna saat ini juga atau membuat kesehatan om Rudi pulih dulu baru bicara soal hubungan kalian.”


“Kak Theo ada saran bagaimana buat papi supaya merestui hubungan Cilla dengan Mas Juna ?”


Theo meneguk habis es lemon tea-nya dan mengusap perutnya yang sudah kenyang.


”Kan tadi kamu yang bilang sendiri kalau Kak Theo ini jones, jadi belum punya pengalaman soal membujuk rayu orangtua apalagi calon mertua. Kamu jalani dulu aja dan lihat bagaimana perkembangan om Rudi. Kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.”


“Jadi Cilla harus backstreet dulu dong sama Mas Juna,” ujar Cilla dengan wajah cemberut.


Theo menyentil kening Cilla sambil tertawa, membuat gadis itu tambah mengerucutkan bibirnya.


“Ternyata kamu sama bucinnya kayak Arjuna, ya. Hanya saja Arjuna lebih ekspresif sementara kamu masih jaim-jaim dikit. Makanya lain kali kalau udah tahu bucin jangan asal minta putus, kalau orangtua jadi ragu-ragu sama keseriusan kalian berdua kan repot.”


“Eheemm…”


“Mas Juna !” Mata Cilla langsung berbinar sementara Theo mencibir dan memutar bola matanya.


Cilla menunjuk kursi di sebelahnya mengajak Arjuna duduk. Pria itu menuruti Cilla dan menarik kursinya.


”Tangan dikondisikan !” Arjuna melotot ke arah Theo dengan wajah super galak membuat Cilla cekikikan.


“Dasar posesif !” Theo mencebik.


“Ingat ya, sepupu sih sepupu, tangan nggak boleh sembarangan pegang-pegang sama calon istri orang, apalagi calon istri sahabat sendiri.”


“Kamu yakin masih mau sama cowok posesif begini, Cil ? Bisa-bisa pas kamu jadi mahasiswi, Juna alih profesi jadi dosen.”


“Kepo ! Kebiasaan suka provokasi,” omel Arjuna dengan tatapan masih fokus menatap Theo.


“Kalau beneran Mas Juna jadi dosen Cilla bukan lagi guruku pacarku tapi dosenku suamiku, dong,” sahut Cilla sambil tertawa senang.


Cilla kembali bergelayut di lengan Arjuna dan menyenderkan kepalanya di bahu Arjuna.


“Kak Theo cepetan cari pacar, deh. Cilla yakin kalau bucinnya Kak Theo bakal sebelas duabelas sama Mas Juna,” ucap Cilla sambil terkekeh.


“Nggak bakalan !” tukas Theo cepat. “Kak Theo nggak bakalan kayak guru kamu ini .Bucin akut susah disembuhkan.”


”Gue akan jadi orang pertama yang akan ngetawain elo kalo sama posesifnya kayak gue,” ejek Arjuna.


“Biasanya begitu,” sindir Cilla. “Apalagi cowok udah ada umur baru dapat cewek muda kayak Cilla.”


“Doain yang bagus-bagus napa ?” gerutu Theo.


Cilla tertawa dan tangannya masih memegang lengan Arjuna. Pria itu mengambil gelas minuman Cilla dan meneguknya sedikit untuk menenangkan hatinya.


“Mas Juna udah makan ?” tanya Cilla.


“Udah siang tadi, tapi…”


“ARJUNA !”


Suara papa Arman yang cukup keras membuat Arjuna sampai tersedak minuman. Cilla menepuk-nepuk punggung Arjuna dan menyodorkan botol air mineral.


Arjuna tersenyum kikuk saat papa Arman sudah berdiri di samping meja mereka. Mama Diva dan Amanda menyusul tidak lama kemudian.


“Sejak kapan toilet pindah ke sini ?” tanya papa Arman sambil bertolak pinggang.


”Sorry, Pa,” Arjuna masih tertawa canggung dan mengusap tengkuknya


“Mulai bohong ?” papa Arman masih melotot. Cilla mengerutkan dahinya dan menatap Arjuna menunggu penjelasan.


“Kamu juga Cilla !” Cilla terkejut saat papa Arman beralih menatapnya dengan tajam.


“Kamu sendiri yang memutuskan hubunganmu dengan Juna dan yakin tidak akan berubah. Kenapa sekarang malah kamu yang nempel-nempel kayak cicak di dinding ?”


Theo hampir terbahak mendengar ucapan papa Arman namun ditahannya dengan membuang muka ke lain arah.


Amanda yang hampir tidak bisa menahan diri untuk terbahak dan berkomentar berjalan menjauh. Bisa-bisa kena hukuman kalau berani melakukannya di depan papa Arman.


Mama Diva pun urung mendekati suaminya dengan niat meredakan emosi suaminya. Mama Diva tahu kalau papa Arman tidak marah sungguhan, malah sebetulnya sebagai orangtua Arjuna, mereka bahagia kalau Cilla mau kembali lagi dengan putra sulung mereka.


Hanya saja papa Arman ingin membuat Cilla belajar meyakinkan dirinya dalam mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya, meskipun Papa Arman dan mama Diva paham akan sifat labil Cilla karena usianya masih cukup muda, sementara banyak keputusan-keputusan penting harus diambil Cilla tanpa pendampingan orang tua.


“Kalau Cilla cicak, terus Juna jadi dindingnya ?” tanya Arjuna dengan wajah datar.


“Memang kamu mau jadi tembok ?” tanya papa Arman yang mulai menyadari ucapannya yang asal-asalan.


“Kan tadi Papa bilang kalau Cilla itu kayak cicak nempel di dinding. Cilla nempel-nempelnya sama Juna, jadi Juna ini sama aja dengan dinding tempat cicak nemplok.”


Papa Arman mendengus kesal dan menghembuskan nafas dengan sedikit kasar lalu berjalan meninggalkan meja.


Mama Diva geleng-geleng kepala sambil senyum pada Arjuna dan Cilla lalu berjalan menyusul papa Arman.


Theo langsung tergelak melihat adegan drama episode baru di depannya.


“Mas Juna ih, kenapa om Arman lagi marah-marah ditanggapi kayak begitu,” ujar Cilla sambil memukul bahu Arjuna. “Udah sana cepetan pulang sama om Arman daripada nanti makin susah dapat restu.”


Arjuna mengangguk dan beranjak bangun. Namun sebelum melangkah, ia berhenti dan menatap Theo dengan tajam.


“Ingat lo !” tangannya menunjuk ke wajah Theo. “Tangan dikondisiin.”


Theo hanya tertawa dan mencibir.


Sementara di luar, mama Diva yang sudah berjalan berdampingan dengan papa Arman hanya mendengarkan curahan hati suaminya.


“Bingung Papa sama Juna, kenapa bukan dia yang membuat Cilla jadi dewasa malah Juna yang ikutan kayak anak kecil. Belum nikah aja udah saling menularkan. Nggak kebayang pusingnya orang menghadapi mereka berdua kalau lagi kompak.”


Mama Diva tersenyum tipis mendengar keluh kesah papa Arman dan membenarkan ucapan suaminya. Arjuna yang akan berusia 27 tahun justru sering bersikap seperti anak abege seperti calon istrinya.


“Lebih baik Arjuna kekanakan dan kompak sama Cilla atau dapat calon istri kayak pacar sebelumnya ?” ledek mama Diva sambil tertawa pelan.


“Kalau itu kamu sudah tahu jawabnya. Tapi kalau mereka beneran sampai menikah, sepertinya papa harus sering-sering cek tekanan darah dan beli obat penyubur rambut.”


Mama Diva menautkan alisnya mendengar ucapan papa Arman.


“Apa hubungannya dengan obat penyubur rambut ?”


“Terlalu sering dibuat garuk-garuk kepala kalau berhadapan sama mereka berdua. Bisa-bisa rambut papa cepat rontok dan menipis kalau nggak dikasih vitamin.”


Amanda yang sudah mendekat ke sisi kedua orangtuanya tidak lagi menahan tawanya mendengar gerutuan papa Arman.


“Nggak perlu pusing sama tekanan darah dan penumbuh rambut, Pa, cukup belajar jadi seperti Cilla dan Kak Juna. Dijamin semuanya aman dan rambut nggak bakal menipis,” ujar Amanda sambil tertawa pelan.


Papa Arman hanya mendengus kesal dan masuk ke dalam kursi penumpang di barisan belakang. Arjuna sendiri mempercepat langkahnya supaya tidak ditinggal orangtuanya.


Hari ini Arjuna sengaja tidak membawa mobil karena sudah janjian ingin bareng membesuk papi Rudi. Dia langsung membuka pintu depan di samping pengemudi dan membiarkan Pak Imron melajukan mobil menuju rumah mereka.