MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 39 Ada Namaku Disebut


Cilla duduk di bangku semen yang ada di halaman belakang sekolah. Kedua tangannya bersedekap di dada. Matanya menatap cowok yang berdiri di depannya dengan wajah galak.


“Ngapain elo narik-narik gue ke sini ? Ganggu orang makan aja,” omel Cilla sambil mendengus.


“Kenapa nggak masuk kelas ? Masih senang bolos ? Gue kira elo udah berubah.”


“Kepo ! Nggak penting gue berubah atau nggak !”


Jovan mendekat dan berlutut di depan Cilla, menatap teman kecilnya itu dengan sendu.


“Mau ngapain elo begitu ?” Cilla mendorong bahu Jovan namun cowok itu bergeming di posisinya.


“Apa gue sebegitu jahatnya sama elo sampai rasanya susah buat elo menerima maaf gue ?”


Baru saja Jovan hendak menyentuh tangan Cilla, gadis itu sudah melotot dan siap-siap melawan.


“Selama tanda itu masih membekas di bahu gue, maka selama itu juga gue nggak bakal lupain perbuatan elo !”


“Mau gue minta mami bayarin oplas biar tanda itu hilang dari bahu elo ?” Jovan yang serius dengan ucapannya malah dikira meledek Cilla.


“Nggak usah kepo urusin luka gue. Sana jauh-jauh !” Cilla kembali mendorong bahu Jovan dan kali ini cowok itu jatuh terduduk di atas tumpukan daun kering.


“Nggak ada untungnya juga kita baikan, udah lewat masanya. Lebih baik elo urus tuh cabe-cabean elo yang mulutnya kayak ember pecah.”


“Gue belum punya pacar. Masih setia nunggu elo biar udah menanti sampai 9 tahun,” Jovan sudah berdiri dan memberikan senyuman manisnya.


“Gue nggak peduli sah atau nggaknya status mereka sebagai pacar elo, yang penting elo jangan deket-deket sama gue, biar hidup gue lebih tenang. Nggak dicariin masalah sama cabe-cabean elo !”


Cilla beranjak bangun dan hendak meninggalkan Jovan, namun lengannya ditahan oleh ketos tampan itu.


“Kalau begitu kita jadian beneran aja supaya mereka nggak berani ganggu elo,” Jovan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Bukan mereda, emosi Cilla malah terlontar naik hingga ke level tertinggi.


“Jovan Hambali !”Cilla kembali mendorong bahu Jovan. “Kalau halu nggak usah ketinggian ! Kalau mau mimpi nggak usah bangun lagi !”


“Barusan elo bilang apa ?” Jovan malah mendekatkan wajahnya dengan tangan masih memegang lengan Cilla sambil tersenyum bahagia. Cilla reflek menjauhkan wajahnya dari Jovan.


“Jangan pura-pura budek !” Omel Cilla.


“Gue bahagia banget saat ini,” Jovan kembali mendekatkan wajah Cilla yang menjauh. “Akhirnya mulut elo bisa mengucapkan nama gue lagi.”


Cilla mendengus kesal dan menoleh ke lain arah supaya tidak berhadapan dengan wajah Jovan yang cukup dekat.


“Lepasin nggak !” Cilla kembali meronta berusaha melepaskan lengannya yang dipegang Jovan.


“Nggak,” sahut Jovan dengan senyum manisnya. “Mau dengar elo menyebut nama gue lagi. Udah berapa lama mulut elo pantang menyebut nama gue.”


“Dasar ketos gila ! Lepasin nggak !”


“Nggak ! Nggak bakal gue lepasin elo, kalau perlu seumur hidup gue !” Jovan malah mempererat cekalannya.


“Sakit bege ! Lepasin gue Jovan Hambali !” Cilla mulai meninggikan suaranya dan terus meronta.


“Nggak bakal gue lepasin supaya gue tetap bisa mendengar nama gue disebut sama mulut elo yang pedes itu.”


Cilla tidak menyahut lagi. Tangannya yang bebas berusaha menyingkirkan tangan Jovan yang mencekal lengannya. Namun bukan mengendur, Jovan malah menggunakan tangannya yang lain untuk memegang tangan Cilla yang berusaha melepaskan lengannya. Posisi mereka yang saling berusaha melepas dan menjepit, bisa membuat orang yang melihat jadi salah paham.


“Kalian ngapain di sini ? Mau berbuat mesum ?”


Jovan yang terkejut mengendurkan pegangannya pada lengan Cilla dan tangan satunya tidak lagi menahan tangan Cilla yang lain.


“Tolong saya, Pak, “ujar Cilla sambil memiringkan badannya ke arah Arjuna yang baru datang.


“Kalian berbuat mesum ?” Arjuna memicingkan matanya.


“Nggak, Pak !”


“Iya, Pak !”


Jovan melotot menatap Cilla yang menjawab iya. Diliriknya Arjuna makin mendekati mereka dengan tatapan menelisik.


“Kamu mau apain Cilla ?”


“Tolongin saya, Pak,” Cilla langsung memasang wajah memelasnya.


Arjuna memberi isyarat pada Jovan supaya melepaskan tangannya dari lengan Cilla.


“Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Jovan,” tegas Arjuna dengan wajah galak.


“Dia maksa saya supaya jadi pacarnya, Pak,” Cilla langsung mengadu dengan mulut mnegerucut.


“Kamu sudah ganti nama jadi Jovan ?” Arjuna menatap Cilla sambil menaikan alisnya sebelah.


Cilla menghela nafas dengan wajah cemberut.


“Bohong, Pak ! Dia langsung culik saya dari kantin dan membawa paksa saya kemari,” protes Cilla dengan wajah sebal.


“Terus tadi ngapain pegang-pegangan segala ?” Arjuna masih menatap Jovan sambil mengernyit dan mengabaikan protes Cilla yang saat ini berdiri di antara mereka.


“Saya nggak kasih Cilla pergi sendirian. Saya…”


“Kamu paksa dia buat jadi pacar kamu ?” Tebak Aejuna dengan kedua tangannya di belakang.


“Iya, Pak,” Jovan mendongak sambil menatap Cilla dengan senyuman manisnya. “Kami sudah berjodoh sejak masih bayi, Pak.”


“Heh apa lo bilang ?” Cilla kembali mendekati Jovan dan mendorong bahu pria itu, namun tangannya justru ditangkap oleh Jovan dan digenggamnya.


“Dasar sinting ! Ketos gila ! Sejak kapan elo bisa nentuin siapa jodoh gue ! Dari masih bayi lagi elo bilang ! Lepasin nggak tangan gue !” Cilla melotot sambil memberi isyarat supaya Jovan melepaskan jemarinya.


Jovan malah menggeleng sambil tersenyum. Arjuna sendiri sempat senyum-senyum saat mendengar ucapan Jovan yang menyatakan kalau ia sudah berjodoh dengan Cilla sejak masih bayi.


Tanpa didiga, Cilla mendekati Jovan dan langsung menggigit tangan ketos itu kuat-kuat sampai Jovan memekik dan melepaskan genggamannya.


Cilla bergegas menjauh dan berdiri di belakang punggung Arjuna.


“Dasar ketos sinting ! Ketos gila ! Memang enak digigit,” Cilla mengomel sambil mencibir.


“Hukum ketos mesum itu, Pak. Laporin sama Bu Retno kalau ketos gila itu sudah berbuat mesum sama siswi lain.”


Arjuna yang masih berdiri dengan kedua tangan di belakang, menoleh menatap Cilla yang berdiri di belakangnya.


“Kenapa saya yang lapor ? Kan kamu korbannya. Kenapa bukan kamu yang lapor sendiri ?” Arjuna menautkan kedua alisnya.


“Tapi Bapak kan saksinya,” omel Cilla dengan bibir kembali mengerucut.


“Mana ada kejahatan dilaporkan sama saksi. Dimana-mana korban yang melapor, saksi yang membantu memberatkan atau meringankan.”


Cilla mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah karena kesal.


Lagi-lagi tanpa ada yang menduga, Cilla menendang mata kaki Arjuna hingga guru itu langsung meringis dan membungkuk.


“Dasar cowok-cowok gila ! Cowok sinting ! Rasain sakitnya digigit dan ditendang ,” gerutu Cilla sambil bergegas meninggalkan halaman belakang.


“Pricilla !” Panggil Arjuna dengan suara tinggi.


Cilla hanya berhenti sejenak, menoleh dan menjulurkan lidahnya kemudian meneruskan langkahnya.


Arjuna dan Jovan masih meringis mengusap bagian tubuh mereka yang terkena serangan Cilla. Sampai tanpa sadar, keduanya saling mendekat dan duduk bersama di bangku semen yang sempat diduduki oleh Cilla.


Sementara Cilla yang kembali memutar arah menuju kantin, bukan kembali ke kelas, mengambil handphonenya yang berbunyi dari saku roknya.


Ternyata notifikasi pesan masuk dari grup dengan kedua sahabatnya.


Febi ; Kemana lo ? Kok nggak balik-balik ke kelas ? Memangnya elo lanjut ke salon buat cuci rambut ?


Cilla : Habis diculik sama pangeran berkuda poni


Lili : Memang ada yang mau sama putri cebol ? 🤣🤣✌️✌️


Cilla : Eh lidi, memangnya cowok cuma sukanya sama cewek kutilang kayak elo 😡😡


Lili : Eh kutilang paan ? Emangnya gue termasuk hewan mamalia ?


Febi : Eh bege, oon jangan dipiara 😤😤 Biar kata bukan anak IPA, sejak kapan burung termasuk hewan mamalia ? Kalau elo mungkin bisa dikategorikan sebagai mahluk mamalia😝😜


Cilla : Lili lidi, kutilang itu singkatan kurus, tinggi, langsing… cocok kan buat elo mahluk mamalia 🤣🤣🤣


Lili : dasar putri cebol 😤😤😡


Cilla : Memang gue putri chaebol 😘😘 Kan yang punya sekolah ini papiku sayang


Lili : 🤮🤮 Bedain ya tulisannya, cebol Bahasa Indonesia sama chaebol ala Korea.


Febi : Udah cepetan balik kelas ! Barusan Bu Retno ngintip-ngintip cari elo.


Cilla : iihh ogah, bentaran lagi juga bel istirahat kedua. Gue tek tempat dulu di kantin buat dayang-dayangku tersayang.


Lili : n*jis disuruh jadi dayang elo !


Febi : Lili maunya jadi selir Jovan, Cil


Cilla : My pleasure, mon amie. Gue tunggu di kantin nggak pake lama ! 😘😘


Cilla memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku roknya dan berjalan menuju kantin.


Dari lantai dua, Pak Slamet sejak tadi memperhatikan tingkah Cilla sejak kembali dari halaman belakang. Ia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Sebagai kepala sekolah Cilla dan sahabat baik papinya , Pak Slamet berharap bisa mewujudkan permintaan Pak Darmawan yang baru saja menghubunginya.